Tidak ada seorang pun yang bercita-cita menjadi pembunuh.Arya pun tidak.
Ia hanya seorang lelaki miskin yang terlalu lama hidup dalam hinaan. Terlalu sering menundukkan kepala. Terlalu lama bermimpi keluar dari hidup yang sempit dan tak pernah memberinya pilihan. Setiap pagi, ia mengenakan kemeja lusuh, menyetir mobil mewah milik orang lain, dan pulang ke rumah kontrakan yang dindingnya retak oleh usia dan hujan.
Pagi itu, Arya menyalakan mesin sedan hitam milik Nyonya Elisabet—istri sah Tuan Sebastian, salah satu konglomerat terbesar di kota itu.
“Kita ke rumah Selatan,” kata Elisabet dingin dari kursi belakang.
Arya mengangguk tanpa bertanya. Ia sudah hafal rumah itu. Rumah yang tak pernah disebut sebagai milik Tuan Sebastian, tetapi selalu menjadi sumber amarah terbesar Nyonya Elisabet.
Rumah Anjani.
Istri simpanan yang muda, cantik, dan kejam dengan caranya sendiri. Wanita yang merebut suami orang, lalu menikmati hasilnya tanpa rasa bersalah. Dan yang paling menyakitkan—Anjani memiliki seorang anak laki-laki berusia dua tahun.
Alfian.
Anak itu adalah satu-satunya pewaris sah Tuan Sebastian.
Mobil berhenti. Arya membukakan pintu. Elisabet turun dengan wajah kaku, dagu terangkat tinggi, seolah dunia wajib tunduk padanya. Arya berdiri di dekat pintu ruang tamu, seperti biasa—mendengar tanpa boleh bicara.
“Aku istri sah!” suara Elisabet bergetar menahan emosi. “Aku punya hak!”
Anjani tertawa kecil sambil menggendong Alfian. “Hak tanpa anak laki-laki itu kosong, Bu Elisabet.”
Arya menunduk. Kata-kata itu seperti pisau.
“Lihat,” lanjut Anjani, mencium kepala Alfian. “Pewaris keluarga Sebastian. Kau punya apa? Rahim kosong setelah belasan tahun menikah.”
Wajah Elisabet memucat. Tangannya mengepal. Arya bisa merasakan udara di ruangan itu berubah—panas, berat, penuh kebencian.
“Kau hanya menunggu waktu,” kata Anjani santai. “Suatu hari aku bisa menggantikan posisimu.”
Saat itulah Arya melihat sesuatu yang berbeda di mata Elisabet. Bukan lagi air mata. Bukan lagi luka.
Itu adalah niat.
Mereka pulang tanpa sepatah kata pun. Di mobil, Elisabet menatap lurus ke depan. Rahangnya mengeras. Arya tahu—sesuatu akan terjadi.
Malam itu, ponsel Arya bergetar.
“Ke garasi belakang. Sekarang.”
Garasi itu sepi. Lampu temaram. Elisabet berdiri sendirian, membawa sebuah tas cokelat.
“Arya,” katanya pelan. “Aku tahu hidupmu susah.”
Arya terdiam.
“Aku tahu kau ingin sukses. Aku tahu kau muak menjadi sopir selamanya.”
Tas itu dibuka. Di dalamnya, ikatan uang tersusun rapi.
“Seratus juta,” kata Elisabet. “Tunai.”
Jantung Arya berdentum keras.
“Apa yang harus saya lakukan, Nyonya…?” suaranya gemetar.
Elisabet menatapnya lurus. “Bunuh Anjani.”
Dunia Arya runtuh dalam satu kalimat.
“Dia punya anak kecil…” bisiknya.
“Elisabet menukas cepat, “Alfian bukan urusanmu. Dia hasil pengkhianatan.”
Arya menunduk. Bayangan hidupnya yang gagal, kemiskinan, dan mimpi menjadi orang berhasil bertabrakan dengan suara nurani.
“Aku tidak mau mati sebagai orang miskin,” katanya akhirnya.
Elisabet mendorong tas itu ke arahnya.“Kau lakukan besok malam. Buat terlihat seperti kecelakaan.”
Arya menerima tas itu. Dan bersamaan dengan itu, ia menerima takdir berdarahnya.
----
Malam berikutnya, Arya berdiri di depan rumah Anjani. Langit gelap, jalan sepi. Tangannya dingin saat membuka pintu samping rumah yang tidak terkunci rapat.
Aroma bunga dan s**u bayi menyambutnya.
Di ruang tengah, Alfian tertidur di sofa, memeluk boneka beruang. Dadanya naik turun pelan. Arya berhenti lama menatap anak itu.
“Maafkan aku…” bisiknya.
Suara air terdengar dari kamar mandi. Anjani sedang mandi.
Arya melangkah ke dapur. Lantai masih basah. Pikirannya berputar cepat. Kecelakaan. Itu yang diminta Elisabet.
Pintu kamar mandi terbuka. Anjani keluar dengan rambut basah.
“Kamu?” ia menyeringai. “Elisabet suruh kamu ngapain lagi?”
Ia berjalan ke dapur sambil tertawa kecil. “Kasihan ya, istri sah tapi mandul.”
Kalimat itu menjadi pemicu terakhir.
Anjani terpeleset.
Tubuhnya terhuyung. Kepalanya menghantam sudut meja dapur dengan suara tumpul yang mengerikan. Ia jatuh terkapar. Darah mengalir.
Arya membeku. Napas Anjani tersengal.
“Tolong…” bibirnya bergerak.
Arya berlutut. Tangannya gemetar. Jika ia berhenti sekarang, semua akan berakhir. Tapi wajah Elisabet, tas uang, dan mimpi keluar dari kemiskinan mendorongnya.
Ia menekan.
Beberapa detik kemudian, napas itu berhenti.
Sunyi.
Dari ruang tengah, Alfian bergerak kecil dalam tidurnya. Arya menoleh cepat. Anak itu tetap tidur.
Arya merapikan tempat kejadian. Air. Posisi tubuh. Jendela sedikit terbuka. Semuanya harus tampak seperti kecelakaan.
Ia pergi tanpa menoleh lagi.
Di garasi belakang, Elisabet menunggu.
“Sudah?” tanyanya.
Arya mengangguk.
Tas cokelat berpindah tangan.“Mulai sekarang, kita tidak saling mengenal,” kata Elisabet dingin.
Keesokan pagi, berita muncul:
Anjani ditemukan meninggal akibat kecelakaan. Anak korban, Alfian, selamat.
Arya membaca berita itu dengan tangan gemetar.
Uang seratus juta kini ada di tangannya.Dan darah… ada di takdirnya.
-----
Uang memang tidak pernah berbau darah.
Yang berbau darah adalah tangan orang yang memegangnya.
Arya duduk di lantai kamar kontrakannya yang sempit, menatap tas cokelat di hadapannya. Lampu bohlam menggantung redup di langit-langit, berayun pelan setiap kali angin malam menyusup lewat celah jendela. Di luar, suara motor melintas, disusul tawa orang-orang yang pulang dengan hidup mereka masing-masing—hidup yang terasa begitu jauh darinya.
Ia membuka tas itu perlahan.
Ikatan uang seratus ribuan tersusun rapi. Terlalu rapi untuk uang yang berasal dari kematian seseorang. Arya menghela napas panjang, lalu mulai menghitung. Satu ikat. Dua. Tiga. Tangannya berhenti di ikatan terakhir.
**Seratus juta.**
Angka yang selama ini hanya hadir dalam mimpinya—mimpi yang selalu kandas oleh kenyataan pahit. Kini angka itu ada di depannya, nyata, bisa disentuh. Tapi bersamaan dengan itu, bayangan lantai dapur yang basah, kepala Anjani yang terantuk, dan darah yang merembes pelan kembali memenuhi pikirannya.
Arya menutup tas itu cepat-cepat.
“Aku harus berubah,” gumamnya. “Aku tidak boleh menyia-nyiakan ini.”
Ia bangkit, berjalan mondar-mandir di kamar sempit itu. Dinding retak, lemari reyot, kasur tipis yang sudah lama tak empuk—semua itu adalah pengingat bahwa hidupnya selama ini hanyalah penantian panjang tanpa hasil. Uang ini, apa pun asalnya, adalah tiket keluar.
Keesokan paginya, Arya mengundurkan diri.
Ia datang ke rumah besar Nyonya Elisabet untuk terakhir kalinya, mengenakan kemeja yang sama seperti hari-hari sebelumnya. Bedanya, kali ini punggungnya tidak lagi terlalu membungkuk. Elisabet menandatangani surat pengunduran dirinya tanpa banyak bicara, wajahnya tetap dingin, seolah Arya hanyalah perabot yang tak lagi dibutuhkan.
“Kau bebas,” kata wanita itu singkat.
Arya mengangguk. Ia tidak mengucapkan terima kasih. Kata itu terasa tidak pantas di antara mereka.
Hari itu juga, Arya pindah. Ia meninggalkan kontrakan lamanya dan menyewa kamar kecil di pinggiran kota—lebih bersih, lebih tenang, dan jauh dari bayangan kehidupan lamanya sebagai sopir. Ia sengaja memilih tempat yang tak mengenal siapa dirinya, tempat di mana masa lalu tidak bertanya.
Malam-malamnya kini diisi dengan rencana.
Ia mencatat di buku kecil: **usaha apa yang bisa dimulai dengan seratus juta**. Warung makan. Toko kelontong. Bengkel kecil. Semua terlihat menjanjikan di atas kertas. Tapi setiap kali ia hendak mengambil keputusan, tangannya gemetar. Ia takut gagal. Ia takut uang itu habis dan yang tersisa hanyalah dosa tanpa hasil.
Akhirnya, ia memilih yang paling ia pahami: **berdagang kecil-kecilan**.
Arya membeli gerobak, menyewa tempat di pinggir jalan, dan mulai berjualan makanan sederhana. Hari-hari pertama berjalan cukup baik. Orang-orang datang, membeli, tersenyum. Untuk pertama kalinya, Arya merasa hidupnya bergerak maju.
Namun hidup tidak pernah semurah itu.
Hujan datang bertubi-tubi. Dagangannya sepi. Bahan baku rusak. Modal terkikis pelan tapi pasti. Setiap malam, Arya menghitung uang dengan dahi berkerut, mencoba meyakinkan diri bahwa semua ini hanyalah ujian awal.
“Tenang,” katanya pada bayangannya sendiri di cermin. “Semua orang sukses pasti jatuh dulu.”
Tapi jatuh itu ternyata lebih dalam dari yang ia bayangkan.
Bulan ketiga, ia terpaksa menutup gerobaknya. Modal menyusut hampir separuh. Arya duduk di trotoar tempat ia biasa berjualan, menatap lampu jalan dengan mata kosong. Uang darah itu berkurang—dan bersamaan dengan itu, rasa bersalah yang sempat ia tekan mulai naik ke permukaan.
Malam itu, ia bermimpi.
Ia melihat Anjani berdiri di dapur, rambutnya basah, wajahnya pucat. Di belakangnya, Alfian berdiri sambil menatap Arya dengan mata yang terlalu dewasa untuk anak seusianya.
“Uangmu habis,” kata Anjani pelan. “Apa gunanya kematianku?”
Arya terbangun dengan napas terengah, tubuhnya basah oleh keringat. Ia duduk lama di tepi kasur, memeluk kepalanya. Untuk pertama kalinya sejak malam pembunuhan itu, ia merasa benar-benar takut.
Bukan pada hukum.
Bukan pada Elisabet.
Tapi pada **takdir**.
Hari-hari berikutnya, Arya mencoba bangkit lagi. Ia membuka usaha lain. Gagal lagi. Ia mencoba lagi. Jatuh lagi. Seolah setiap langkahnya selalu diimbangi oleh bayangan dosa yang menarik kakinya ke bawah.
Uang itu kini tinggal separuh dari jumlah semula.
Suatu sore, saat matahari condong ke barat dan kantongnya semakin menipis, Arya duduk sendirian di bangku taman kota. Di seberangnya, anak-anak bermain—tertawa, berlarian, tanpa tahu betapa mahalnya harga kehidupan.
Pandangan Arya tertumbuk pada seorang bocah laki-laki yang digandeng ibunya. Usianya sekitar dua tahun. Rambutnya hitam. Tawanya renyah.
Dada Arya terasa sesak.
“Alfian…” nama itu meluncur begitu saja dari bibirnya.
Ia menunduk cepat, menepuk-nepuk wajahnya sendiri. “Hentikan,” bisiknya. “Kau harus fokus ke depan.”
Namun jauh di lubuk hatinya, sebuah kebenaran pahit mulai ia sadari:
**uang itu memang membuka pintu, tapi tidak pernah memberi kedamaian.**
Dan ketika sisa uangnya terus menipis, Arya tidak tahu bahwa hidupnya sedang diarahkan menuju titik terendah—tempat di mana ia akan bertemu sesuatu yang kecil, sederhana, dan tampak sepele…
namun kelak akan mengubah segalanya.