Hai, aku Andara. Tahun ini aku mulai masuk kuliah. New place, new classmatte dan tentunya new story.
Semenjak ibu meninggal 12 tahun yang lalu, aku hanya tinggal dengan ayahku. Dia seorang seniman lukis yang sempat vacum beberapa tahun karena berduka atas kematian ibu. Ayah merasa seolah dunianya hancur dan hampir putus asa, karena ibu pergi dengan meninggalkan tanggung jawab besar, yaitu aku, gadis kecil yang saat itu masih berusia 6 tahun. Beruntung kami berada di circle yang tepat. Ada banyak sekali kerabat yang peduli.
Tapi tetap saja, duka yang dirasakan ayah sangat mendalam. Kehilangan wanita yang mendampinginya mulai dari nol. Tentu dia tidak pernah menyangka kalau ibu akan pergi secepat itu. Ibu mengalami kecelakaan saat akan menjemput ayah dari galeri seni di kota sebelah. Sehingga semenjak itu, ayah berjanji hanya akan melukis dan menggelar acara pameran di dalam kota saja, agar dia tetap bisa bekerja sambil menjagaku.
Meskipun begitu, ayah adalah pria yang lumayan sibuk, aku sering sendirian di rumah. Eh, enggak. Aku enggak sendiri, ada Mbak Ina. Tetangga sebelah rumah yang sehari - hari membantu ayah menjagaku. Mbak Ina sudah menikah 4 tahun, tapi belum memiliki anak. Suaminya, Mas Trisno, bekerja serabutan. Mereka berasal dari desa. Rajin, lucu dan selalu mesra sama istrinya. Mas Trisno multitalenta, apa aja bisa dikerjain. Dia berbakat menjadi tukang kebun, tukang kayu, tukang sumur dan jadi supir.
Kadang juga jadi "kompor" kalau Mbak Ina lagi berantem sama tetangganya. Menurutnya, itu seru dan membuatnya b*******h saat melihat mulut istrinya mencla mencle ngomel sama tetangganya. Namanya juga suami sayang istri, apapun yang dilakukan istrinya, pasti akan tetap terlihat sexy di mata dia.
Ternyata, bagaimanapun juga, tumbuh bersama seorang pria, tetap akan membuat perubahan pada seorang gadis. Penampilan, kebiasaan dan cara berbicara. Ya beginilah aku sekarang. Tomboy. Ayah bertanggung jawab atas tumbuh kembangku di saat dia tidak tau bagaimana seharusnya menjadi seorang ayah untuk anak perempuan. Dia tidak banyak mencari tau bagaimana seharusnya memperlakukan anak perempuan, penampilan, baju, aksesoris dan semua tentang anak perempuan. Ayah hanya memberiku apa yang menurutnya terbaik dan aman, meskipun itu sebenarnya untuk anak laki - laki. Tapi selama ini, ayah tidak pernah kasar, ayah tidak pernah berteriak dan memukulku. Ayah benar - benar menjagaku dengan sangat baik.
Tentu saja aku juga bukan tipe perempuan yang digilai laki - laki jaman now. No make up, no parfume and say big no buat rok selutut.
Lucunya, meski tomboy tapi aku masih percaya dengan ramalan cinta. Ada salah satu ramalan yang sampai sekarang aku percaya dan paling percaya, yaitu tentang ramalan tali sepatu. Katanya, jika kau berjalan atau berlari dengan tali sepatu yang tidak diikat tapi kau tetap bisa melaju kencang, berarti saat itu hatimu bebas, masih kosong dan belum menemukan seseorang yang tepat.
Mungkin karena percaya atau tersugesti, tapi memang benar, selama ini aku tidak pernah terjatuh meskipun tali sepatuku tidak terikat dengan benar.
Oh iya, aku suka warna hitam, kaos oblong, jaket hoodie dan musik. Aku juga suka sepatu sneaker, sepatu olahraga, sandal japit atau apapun itu yang tidak merepotkan aku.
Meskipun secara tampilan terlihat tomboy, ceria dan tegar tapi sebenernya aku adalah cewek melankolis. Hatiku perasa dan sangat peka. Masalah sedikit saja, air mataku langsung jatuh. Entahlah, ada apa dengan aku ini.
Salam kenal.