Ramalan Rio dan Ban Kempes di Tengah Badai
Mentari pagi di Surabaya masih malu-malu mengintip, tapi di dalam workshop kecil Apri, semangat sudah membara. Apri, dengan jersey Persebaya yang sedikit berminyak, sedang asyik memutar ban motor drag race yang botak. Tangannya lincah mencari sumber kebocoran, mirip seorang detektif yang sedang menyelidiki kasus serius.
"Ini nih, penyakit ban balap. Dikit-dikit kempes, Mas. Kayak hati yang lagi galau, butuh diisi lagi," celetuk Apri pada pemilik motor yang manggut-manggut. Filosofi ban kempesnya memang sudah jadi ciri khas.
Tak jauh dari situ, di "klinik spiritual" Rio yang berjarak dua blok, suasana tak kalah ramai. Rio, si dukun modern dengan kacamata hipster bertengger di hidung mancungnya, sedang komat-kamit di depan laptop seorang gamer yang wajahnya pucat pasi. Asap diffuser aromaterapi beraroma lavender memenuhi ruangan, bercampur bau kopi hitam dari cangkir di samping keyboard.
"Energi laptopmu ini terdistorsi, Nak. Terlalu banyak ghosting di dalam game sampai ether internetmu ikut keruh," ucap Rio serius, sambil mengelus-elus casing laptop. "Akan kubersihkan dengan mantra anti-lag dan reboot jiwa processor-mu!"
Di sisi lain kota, di gedung BMKG yang megah, Herman sedang menatap layar monitor dengan mata nyalang. Grafik dan angka-angka berderet memenuhi pandangannya. Jemarinya sibuk menari di atas keyboard, memproses data-data cuaca dari berbagai penjuru.
"Angin berkecepatan 15 knot dari barat daya... kelembaban 85%... suhu 28 derajat Celcius..." gumam Herman, nyaris seperti robot. "Prediksi saya, hari ini cerah berawan dengan potensi gerimis ringan di sore hari. Tapi..." matanya menyipit. "Ada anomali kecil di tekanan udara... ini menarik."
Siang harinya, trio sahabat itu berkumpul di warung kopi langganan mereka, dekat workshop Apri. Rio baru saja selesai "meruwat" seorang ibu-ibu yang hape-nya sering hang, sementara Apri baru saja menambal ban bus Trans Surabaya yang super jumbo. Herman, seperti biasa, datang membawa clipboard dan pena.
"Gila, clientku hari ini lagi kena wabah ghosting semua," keluh Rio sambil menyeruput es kopi. "Sampai laptop si gamer itu ikut-ikutan ghosting. Jangan-jangan ada influencer baru yang promosikan ilmu menghilang."
Apri tertawa terbahak-bahak. "Itu mah laptopnya memang sudah tua, Yo. Kebanyakan main game berat. Butuh upgrade komponen, bukan upgrade spiritual."
"Ah, kau ini materialistis sekali," balas Rio dengan nada bercanda. "Ngomong-ngomong, Ap, tadi pagi aku dapat vision pas lagi meditasi. Kayaknya besok ada badai besar lho. Badai yang bisa bawa jodoh buat kamu!" Rio mengedipkan mata.
Wajah Apri langsung memerah. "Jodoh apaan, Yo? Yang ada besok paling banter badai ban kempes massal."
Herman yang sedari tadi diam, tiba-tiba tersedak kopi. "Badai? Badai apa, Rio? Data saya tidak menunjukkan adanya potensi badai dalam 24 jam ke depan. Palingan cuma gerimis manja. Ramalanmu ini bisa mengacaukan prediksi resmi BMKG!" Herman menunjuk-nunjuk clipboard-nya.
Rio mengangkat bahu cuek. "Namanya juga vision, Man. Kadang agak abstrak. Tapi percayalah, ini badai yang spesial. Badai yang akan membawa... seseorang."
Flashback:
Di sebuah warung kopi klasik dengan aroma kopi yang kuat, Rio muda dengan rambut gondrong sebahu sedang menatap cemas sebuah mesin espresso yang mampet. Ia sudah mencoba segala cara, dari mengocok-ngocok sampai memukul-mukul, tapi mesin itu tetap diam membisu.
"Sudah coba diajak ngobrol, Mas?" suara seorang pria kekar dengan tangan penuh oli tiba-tiba menyahut dari meja sebelah. Itu Apri, yang sedang menyeruput kopi sambil menunggu ban mobilnya selesai ditambal.
Rio menoleh. "Apanya yang diajak ngobrol?"
"Mesinnya. Kadang benda mati itu butuh sentuhan batin juga. Nanti kalau sudah ngobrol, baru diservis. Sama kayak ban. Kalau sudah bocor parah, dia sudah protes duluan lewat bannya yang kempes. Kita tinggal dengarkan saja."
Rio tertegun. Ada benarnya juga. Sejak saat itu, Rio mulai mencoba "berkomunikasi" dengan benda-benda, dan perlahan menemukan "bakatnya" untuk "meruwat" berbagai benda dan jiwa yang bermasalah. Pertemuan itu menjadi awal persahabatannya yang unik dengan Apri.
Keesokan harinya, ramalan Rio tentang "badai" itu terbukti, meskipun dengan cara yang sangat berbeda. Hujan deras tiba-tiba mengguyur Surabaya sejak pagi, bukan badai topan seperti yang dibayangkan Herman, tapi lebih seperti "badai" air yang tumpah dari langit. Jalanan langsung terendam, menyebabkan kemacetan parah dan... tentu saja, banyak ban kempes.
Telepon Apri tak berhenti berdering. Satu per satu pelanggan mengeluh bannya bocor karena menerobos genangan air yang dipenuhi lubang tak terlihat. Apri, dengan sigap dan basah kuyup, meluncur ke berbagai lokasi. Di sebuah persimpangan yang macet parah, ia menemukan sebuah mobil sedan mewah berwarna putih dengan ban depan yang kempes total. Pengemudinya seorang wanita muda nan cantik, dengan rambut panjang tergerai dan wajah panik.
"Ya ampun, Mas! Gimana ini? Saya harus buru-buru ke acara penting!" seru wanita itu dengan nada cemas.
Apri mendekat, senyumnya ramah. "Tenang, Mbak. Ini bukan masalah. Ban kempes itu ibarat cobaan hidup, Mbak. Kalau kita sabar, pasti ada jalan keluarnya." Ia mulai menyiapkan peralatannya.
Wanita itu hanya bisa menghela napas, setengah lega setengah putus asa. Sementara Apri dengan cekatan mulai menambal ban, ia melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Rio benar, ada badai. Badai yang membawa seseorang. Apakah ini "jodoh" yang dimaksud Rio?
Tiba-tiba, sebuah scooter matic berhenti mendadak di samping mobil itu. Herman, dengan jas hujan tebal dan clipboard di tangan, turun dari motornya. Wajahnya datar, pandangannya lurus ke depan.
"Data saya menunjukkan..." Herman memulai, suaranya sedikit tenggelam oleh deru hujan. "Badai sebenarnya baru akan datang malam nanti."
Apri dan wanita cantik itu saling pandang, bingung. Badai? Malam nanti? Hujan yang mengguyur mereka sekarang ini apa namanya?