Loyalitas Ban Antik dan Misi Penyamaran
Telepon dari Luna itu seperti bel tanda bahaya bagi Trio Sakti. Ban mobil antik di gudang ibu Luna yang tak bisa dipompa sama sekali? Ini bukan lagi sekadar ban kempes biasa. Ini adalah misteri loyalitas yang perlu dipecahkan.
"Sudah kuduga," kata Rio, matanya terpejam seolah sedang menerima channeling dari dunia lain. "Kakekmu itu sangat setia pada mobilnya. Dia tidak mau mobil itu dikendarai orang lain selain dirinya. Jadi, dia 'mengunci' energi ban!"
Herman, yang sudah siap dengan clipboard dan segudang alat ukur, mengernyit. "Mengunci energi ban? Itu tidak ada dalam parameter fisika, Rio. Tapi memang, secara aneh, ban-ban mobil antik seringkali sulit dipompa jika sudah terlalu lama diam."
Apri menghela napas. "Baiklah, kita butuh strategi. Kalau roh kakek Luna terlalu loyal, kita harus 'menghadirkan' kembali kakek Luna."
Luna yang mendengarkan, langsung membelalak. "Menghadirkan kembali kakek saya? Maksudnya?"
Rio tersenyum misterius. "Bukan arwahnya, Mbak Luna. Tapi esensinya. Kita harus membuat roh kakekmu merasa bahwa dia yang mengendarai mobil itu lagi."
Misi Penyamaran Dukun dan Tukang Tambal Ban
Maka, rencana gila pun disusun. Mereka memutuskan untuk datang ke gudang ibu Luna pada sore hari. Apri dan Rio akan menyamar sebagai 'kembaran' kakek Luna, sementara Herman akan jadi 'penasihat teknis'.
"Apri, kamu harus pakai pakaian jadul. Aku juga akan pakai kacamata tua dan mungkin peci," kata Rio. "Kita akan menirukan gaya kakekmu saat muda."
Apri menelan ludah. "Pakaian jadul? Kayak mau main ketoprak, Yo."
Herman, yang selalu praktis, menyela. "Probabilitas keberhasilan penyamaran ini sangat rendah. Roh tidak memiliki penglihatan visual seperti manusia."
"Ini bukan soal penglihatan, Man, tapi soal energi dan rasa!" Rio bersikeras.
Tibalah mereka di gudang belakang rumah Luna. Gudang itu gelap, berdebu, dan di tengahnya berdiri sebuah mobil antik tua yang gagah, namun ban-bannya terlihat sangat kempes.
Ibu Luna menyambut mereka dengan tatapan curiga pada penampilan Apri dan Rio yang agak aneh. Apri memakai kemeja batik lawas dan celana bahan gombrong, sementara Rio memakai kemeja putih kerah shanghai, peci, dan kacamata bulat. Herman tetap dengan kemeja rapi dan clipboard-nya.
"Ma, ini teman-teman saya. Mereka mau coba bantu mobil antik Kakek," Luna menjelaskan.
Ibu Luna hanya mengangguk pelan, masih bingung.
Apri dan Rio segera beraksi. Apri mendekati mobil, menyentuh bannya dengan lembut, seolah sedang berkomunikasi dengan ban itu. "Wahai ban yang setia, ini aku, 'Kakekmu' yang kembali. Janganlah kau mengunci diri. Aku ingin kau kembali mengaspal bersamaku."
Rio berdiri di samping Apri, memejamkan mata, dan mulai merapalkan mantra, tangannya melayang di atas ban. "Wahai roh setia! Izinkan ban ini kembali merasakan sentuhan 'tuannya'! Biarkan ia kembali bergerak di jalanan!"
Herman mengamati dengan thermal imager-nya. "Tidak ada perubahan suhu signifikan pada ban. Probabilitas efek dari mantra ini 0%."
Mereka terus melakukan ritual aneh ini. Apri bahkan mencoba berjongkok dan memompa ban itu. Anehnya, ban itu tetap diam, tak ada angin yang masuk.
"Gagal, Yo," bisik Apri.
Rio membuka matanya. "Tunggu. Ada energi lain yang mengunci. Ada sesuatu yang lebih kuat daripada loyalitas. Ada... keinginan."
"Keinginan apa?" tanya Luna penasaran.
"Roh kakekmu itu ingin... mobil ini bergerak! Tapi dia tidak ingin orang lain mengendarainya. Dia ingin 'merasakan' sendiri sensasinya," jelas Rio.
Perjalanan Virtual dan Kencan yang Semakin Aneh
Tiba-tiba, Apri mendapat ide. "Bagaimana kalau kita 'mengajak' roh kakek Luna jalan-jalan? Secara virtual?"
Rio bersorak. "Ide bagus, Pr! Kita akan bawa dia nostalgia!"
Maka, mereka menyiapkan sebuah tablet dengan aplikasi simulasi mengemudi mobil klasik. Apri akan 'mengendarai' mobil antik di dalam simulasi itu, sementara Rio merapalkan mantra, dan Herman akan menganalisis reaksi energi dari ban.
Mereka meletakkan tablet itu di dasbor mobil antik. Rio memegang tasbih, dan Apri mulai memainkan simulasi mengemudi. Ia mengarahkan mobil virtual itu melewati jalanan kota yang disukai kakek Luna dulu.
"Wahai roh kakek! Rasakan angin! Rasakan getaran mesin! Rasakan aspal di bawah banmu! Kau bebas mengaspal sekarang!" Rio berseru, suaranya dramatis.
Apri dengan serius mengendarai mobil virtual itu, berbelok, ngebut, bahkan sesekali nge-drift virtual. Luna dan ibunya hanya bisa menyaksikan pemandangan absurd ini dengan kebingungan.
Tiba-tiba, sebuah suara aneh terdengar dari ban mobil antik. Suara desisan halus, seolah-olah angin mulai masuk. Apri segera mengambil pompa dan mencoba memompa ban itu lagi. Kali ini, angin benar-benar masuk! Ban itu mulai mengembang!
"Berhasil!" seru Apri dan Rio bersamaan.
Herman segera memeriksa dengan alatnya. "Tekanan ban meningkat 5 PSI per menit. Tidak ada kebocoran. Fenomena yang tidak dapat dijelaskan secara rasional."
Ibu Luna terkejut dan sangat senang. "Ya ampun! Mobil ini akhirnya bisa dipompa lagi!"
Setelah semua ban terisi angin, mobil antik itu tampak gagah kembali. Ibu Luna sangat berterima kasih kepada Trio Sakti.
"Terima kasih banyak ya, Mas-mas. Kalian memang luar biasa!" kata Ibu Luna, senyumnya tidak judes lagi.
Rio tersenyum penuh kemenangan. "Kakekmu sudah tenang, Bu. Dia sudah bisa bernostalgia dengan mobilnya."
Apri melirik Luna, yang juga tersenyum padanya. Ada percikan yang semakin jelas di antara mereka.
Namun, saat mereka hendak pulang, ponsel Apri berdering. Itu telepon dari salah satu klien lama Apri.
"Halo, Pr? Ban gerobak es krim saya kok kempes terus ya? Padahal sudah saya tambal sendiri berkali-kali. Rasanya seperti ada yang tidak ikhlas..."
Apri, Rio, dan Herman saling pandang. Kisah mereka dengan ban-ban yang punya masalah psikologis sepertinya masih jauh dari kata selesai. Apri hanya bisa tersenyum masam pada Luna. Kencan mereka memang sering kali berakhir dengan panggilan darurat yang absurd.