Hujan turun tipis di atas atap seng bengkel tua milik Reza, mengetuk pelan seperti jari-jari yang tidak sabar. Bengkel itu sebenarnya cuma kedok. Di balik tumpukan ban bekas dan kaleng oli, Reza menyimpan masa lalunya: satu set kunci sungkup, obeng presisi, dan sebuah brankas kecil yang dulu pernah ia bobol dalam empat puluh dua detik. Sekarang brankas itu cuma dipakai menyimpan akta tanah dan foto ibunya.
Reza menyeka tangannya yang berlumur gemuk mesin ke lap kotor. Empat puluh satu tahun, punggung mulai protes kalau jongkok terlalu lama, dan mata yang dulu bisa membaca gerigi kunci dalam gelap kini butuh kacamata baca. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dan pada makam ibunya, bahwa ia berhenti. Mobil orang ia perbaiki dengan jujur. Uangnya kecil, tapi tidurnya nyenyak. Itu sudah lebih dari cukup.
Lonceng kecil di pintu bengkel berdenting. Reza mendongak, mengira itu pelanggan dengan radiator bocor. Tapi orang yang masuk memakai jas hujan mahal yang tidak cocok dengan gang sempit ini. Sepatunya kulit, bersih, tanpa noda lumpur. Orang seperti ini tidak nyasar. Orang seperti ini datang dengan tujuan.
"Reza," kata laki-laki itu, melepas tudung. Wajahnya asing, tapi caranya berdiri tidak. Tegak, tenang, mata yang menghitung. "Atau aku harus panggil dengan nama yang dulu? Si Tangan Sunyi."
Reza meletakkan obengnya pelan-pelan. Nama itu sudah lama ia kubur. "Orang yang kamu cari sudah mati. Aku cuma montir sekarang."
"Montir yang masih menyimpan brankas Diebold di gudang belakang." Laki-laki itu tersenyum tipis. "Aku bukan polisi, kalau itu yang kamu pikirkan. Aku diutus. Tuanku punya satu pekerjaan. Satu saja. Setelah itu kamu boleh pensiun beneran, dengan uang yang cukup buat tidak pernah menyentuh obeng lagi seumur hidup."
"Aku sudah pensiun."
"Tiga miliar," kata laki-laki itu, seolah Reza tidak bicara. "Bagianmu saja. Bukan total."
Angka itu menggantung di udara lembap bengkel, lebih berat dari bau oli. Reza tahu trik ini. Angka besar dilempar untuk membuat akal sehat goyah. Ia sudah cukup tua untuk tidak goyah. Tapi ia juga cukup tua untuk tahu bahwa orang yang berani menyebut tiga miliar sebagai "bagian" punya sesuatu yang nilainya jauh lebih besar, dan tidak akan menerima penolakan dengan sopan.
"Aku tidak kenal tuanmu," kata Reza.
"Tidak ada yang kenal. Kami memanggilnya Tuan B." Laki-laki itu meletakkan sebuah amplop cokelat di atas meja kerja, di samping kunci inggris. "Di dalam ada alamat dan waktu. Datang besok, dengarkan, lalu putuskan. Kalau kamu tidak datang, tidak apa-apa. Tapi aku jujur sama kamu, Reza, karena kamu pantas dapat kejujuran: orang yang menolak sebelum mendengar biasanya menyesal lebih lama daripada orang yang mendengar lalu menolak."
Reza tidak menyentuh amplop itu. "Kenapa aku?"
"Karena brankas yang mau kami buka tidak bisa dibobol oleh orang yang masih punya ambisi. Anak-anak muda terlalu serakah, terlalu cepat. Kami butuh tangan yang tenang. Tangan yang sudah tidak punya apa-apa untuk dibuktikan." Ia memasang lagi tudungnya. "Tangan orang yang ingin berhenti."
Pintu berdenting lagi, dan laki-laki itu lenyap ke dalam hujan secepat ia datang.
Reza berdiri sendirian cukup lama. Di luar, lalu lintas kota mendesah pelan, klakson sesekali memecah, lampu neon warung seberang berkedip merah-hijau. Hidup normal yang sudah ia bangun dengan susah payah, batu demi batu. Ia melirik foto ibunya di atas brankas. Ibunya yang menungguinya pulang dari penjara lima tahun lalu dengan air mata, bukan amarah. Ibunya yang bilang, "Tangan yang sama bisa mencuri atau memperbaiki, Za. Tinggal kamu pilih mana yang kamu pegang sampai mati."
Ia tahu ia harus membakar amplop itu. Tangan yang benar tahu jawabannya.
Tapi malam itu, setelah menutup bengkel, ia tidak tidur. Ia duduk di tepi ranjang sempitnya, dan amplop cokelat itu ada di pangkuannya. Tiga miliar bukan soal serakah. Tiga miliar adalah rumah kecil di pinggir kota untuk adiknya yang sakit. Tiga miliar adalah biaya cuci darah yang selama ini ia tutup dengan utang. Tiga miliar adalah berhenti yang sesungguhnya, bukan berhenti yang setiap bulan diintai tagihan.
Reza membuka amplop. Selembar kertas, satu alamat di kawasan pergudangan utara, satu waktu: besok, jam tiga sore. Dan di bawahnya, ditulis tangan dengan tinta hitam tegas, satu kalimat yang membuat tengkuknya dingin:
"Kami tahu kamu akan datang. Kami selalu tahu."
Ia melipat kertas itu. Di luar jendela, hujan akhirnya berhenti, menyisakan kota yang basah dan berkilau seperti sesuatu yang baru dicuci untuk dijual lagi. Satu pekerjaan terakhir. Reza menutup mata. Setiap pencuri yang pernah ia kenal mengucapkan kalimat itu sebelum mereka mati atau dipenjara. Satu pekerjaan terakhir. Tidak pernah ada yang benar-benar terakhir.
Besok ia akan datang. Bukan untuk mengiyakan. Hanya untuk mendengar. Itu yang ia katakan pada dirinya sendiri, dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, ia tahu ia sedang berbohong.