Malam itu gemuruh badai turun dengan lebat, desertai kilatan cahaya petir yang mengelegar membelah langit malam. semua itu jauh dati kata cukup untuk membuat Intan sulit untuk memejamkan matanya. meski, alasan utama ia susahbtidur bukan gemuruh badai diluar sana. hatinya gelisah nan kacau lebih kacau dari langit badai malam itu. kalimat yang barusan sang kakak sampaikan sore tadi kepadanya terus terngian-ngiang di kepalanya.
"aku belum siap pergi jauh dari ayah bunda kak," ucapnya tertunduk setelah mendengarkan keputusan kudua orang tua dan kakaknya.
Pintu kamar Intan dibuka berdiri di sana sang ibu yang membuat terperanjat dari lamunannya, "kok belum tidur?" tanya sang ibu. intan menjawab hanya diam. langkah sang ibu perlanan mendekati sang putri kandungnya lalu duduk tepat di sampingnya. lengan nya mengelus lembut rambut hitamnya. "ada apa sayang?" masih sama dengan sebelumnya, hanya diam yang Intan berikan sembari tertunduk. "masih soal yang tadi sore?" kepala gadis di sampingnya mendingak memandangnya dengan pandangan penuh tanda tanya, tanpa perlu sang putri mengeluarkan suara pun dirinya sudah tahu. "sebenarnya ibu juga pengen kamu di sini nemenin ibu, ibu juga gak mau kesepian di sini."
"kalua ibu berpikir gitu kenapa ibu mengiyakan ayah."
"kok masih belum tidur?" tiba-tiba sang ayah berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
"masih kepikiran sama yang tadi sore," jawab sang ibu singkat. segera sang ayah bergabung dengan mereka berdua, sama seperti apa yang ibu lakukan sebelumnya mengelus lembut rambut sang putri lembut.
"kamu tau sungai sayang?" tanya sang ayah dengansuara serak namun lembut. masih enggan untuk berbicara hatinya seperti enggan berbicara dengan pria yang duduk disampingnya. jadi, hanya anggukan yang bisa ia berikan sebagai jawaban. " indah bukan?"Intan menganguk lagi. "imam syafii pernah bilang tentang orang berilmu yang beliau analogikan sebagai sebuah sungai yang indah karena terus mengalir." Intan masih terdiam memandang ayahnya dengan penuh tanda tanya
secara bersamaan ayah dan ibu gadis itu merangkul Intan. "kamu lihat hujan diluar sana sayang?" tanya sang ibu. "kalau kamu kesepian bebicaralah kepada siapa langit menangis," lanjutnya
"kenapa?"
"karena dikala itulah sang langit sedang merangkul tuhanya sembari menagis, titipkan seribu pesan untuk rabbmu nak sebanyak banyaknya." timpal sang ayah sanbil menegelus lembut rambutnya