Emang kalo lagi deg-deg gitu artinya apa ya?
--------------------------------
Tidak ada hal yang menarik menurut Alena siang ini selain memandangi seorang cowok dari balik pintu kelas. Niatnya hanya lewat saja karena ini jam istirahat. Namun bukan Alena jika tidak di manjakan oleh rasa penasaran apa lagi yang menjadi objek itu adalah Sosok Alfi yang sedang menyendiri di dalam kelas.
Di sana lah cowok itu duduk sambil membaca buku, ketampanan Alfi memang tak bisa diragukan, selalu menarik perhatian siapa saja, dia memiliki bentuk wajah baby face, kulitnya putih mulus, tak ada jerawat satu pun, hidungnya mancung, dan garis bibir yang ketika tersenyum akan terlihat manis. Tapi sayang sangat langka melihat Alfi tersenyum.yang paling favorit adalah bagian matanya. bulat dan bulu matanya yang lentik, setiap kali ia mengerjapkan mata. Alena selalu terpana dengan tatapan Alfi, meskipun selalu menyorotkan kegelapan, namun itu yang membuat Hati Alena bergetar aneh.
Tak hanya wajahnya saja yang nampak istimewa. Dari segi penampilan Alfi selalu menjadi yang terdepan. dia punya postur tubuh tinggi bak seorang model papan atas. penampilannya juga selalu rapi dan selalu mengenakan pakaian branded.
Potongan rambutnya di model two block , jika kalian tidak tau itu adalah model rambut yang dipopulerkan cowok korea yang saat ini sangat menjadi trend cowok-cowok indonesia termasuk Alfi. Modelnya itu dibuat tipis di bagian tengkuk sampai ke atas telinga, dan dari bagian atas dibuat panjang hingga bagian poni. Dengan warna rambut hitam kecoklatan, membuatnya seperti cowok korea yang setip malam Alena tonton di drakor.
"Ganteng banget ya tuhan!"
Tanpa sadar Alena tengah mengagumi ketampanan Alfi, dan saat ini dia sedang senyum-senyum sendiri seperti orang gila.
Alena sangat berharap Alfi bisa balas menatap dirinya, karena setiap kali berpapasan di jalan Alfi tidak pernah menatap balik dirinya. Tatapan tajam serta wajahnya yang selalu serius terkadang Membuat Alena mengurungkan niat untuk berbicara dengan cowok itu.
Ya, jika sudah seperti itu Alena hanya bisa menyimpan perasaannya dalam hati. Meski Sisil sahabatnya sudah berkali-kali melarang untuk tidak mendekati cowok itu, namun Alena nampaknya keras kepala. Dia sudah tergila-gila dengan Alfi.
"Sil, kenapa ya gue tuh selalu penasaran sama Alfi? dia tuh buat gue deg-degan mulu Sil, "
"Mungkin lo sakit Al, sakit cinta! "
"Hum...Mungkin. "
Alena belum tau apa dirinya sedang mengalami sakit cinta, yang jelas jantungnya juga mengalami perubahan tiap kali memandang Alfi, selalu berdetak cepat dan tidak bisa di kontrol.
Alena ikut tersenyum saat cowok itu juga tersenyum. Ya meskipun senyum itu bukan di tujukan untuk dirinya. Alena menggigit bibirnya tak bisa menahan betapa senangnya memandangi Alfi di balik pintu kelas.
"Ya tuhan Alena lihat pangeran tampan!"
Alen menahan pekikan saking gemasnya. Dan sekarang ia memperhatikan Alfi tengah kesusahan meneliti bukunya.
"Huuft!"
Alfi duduk menyandar di bangku dengan earphone putih menyumpal di telinganya. cowok ganteng itu nampaknya sibuk dengan buku-buku mate-matika di depannya. Kembali Alfi fokus dan mencoret-coret kertas, matanya berpindah-pindah dari buku satu ke buku satunya lagi. Alisnya tebalnya kerap kali terangkat ketika ia bingung dengan jawabnya sendiri.
Ia tidak sadar sejak tadi ada yang memperhatikannya di depan pintu kelas. Gadis itu nampak malu-malu, berkali-kali ia mengintip kedaam kelas untuk melihat Alfi. tapi sepertinya Alfi sanagt serius sehingga ia tidak melihat Gadis itu.
"Aduh, Alena kok lo jadi gini sih!" ucap batin Alena yang semakin geregetan.
"Kalau gue samperin dia marah gak ya?"
Alena kembali berbicara pada dirinya, ia menatap Alfi yang sangat sibuk belajar, Alena takut mengganggu cowok itu. Fokus mata Alena hanya pada Alfi hingga tak sadar seorang cowok memakai baju basket warna merah berdiri tepat di belakangnya dengan tatapan sisnis.
"Hei, hei, hei!"
Cowok itu menepuk punggung Alena, namun gadis itu mengedikkan bahunya tak mau di ganggu, dia belum menyadari bahwa orang di belakangnya telah memergoki dirinya yang memandangi Alfi di dalam Kelas.
"Nih cewek, gila apa gimana?" ucap cowok itu dalah hati.
Cowok berambut ikal itu menggeleng melihat kelakuan Alena yang senyum-senyum sendiri. tiba-tiba sebuah ide muncul di pikiran cowok itu. lantas ia mendekati tengkuk Alena, mengulum senyum licik dan dalam hitungan ketiga cowok itu menepuk kedua bahu Alena dengan keras.
"BOOM!!"
"NAH LOH! kaget kan lo!"
Alena tersentak merasakan jantungnya hampir copot. kepala Alena langsung pusing, alih-alih menatap cowok itu Alena mengelus dadanya perlahan berusaha mengembalikan kembali nyawanya yang hampir melayang akibat cowok yang mengagekatkan dirinya.
"Hayo lo ngapain disini?" tunjuk Dion tepan di depan muka Alena. "Lo pasti ngintipin Alfi lagi, iya kan?"
Alena menggeleng sambil menatap jelas cowok yang sedang berdiri di sampingnya. Alena sudah seperti pencuri yang tertangkap basah. dan dia hanya bisa menundukkan kepalanya karena malu.
Sementara Alfi juga ikut terkejut mendengar suara cowok itu, ia menoleh mendapati dua orang murid yang sedang berdiri di pintu kelas. Melihat Dion dan juga Alena bibirnya tertarik mengulas senyum. Alfi tau kemana Arah situasi ini akan berlalu.
"Ayo ngaku, lo ngintipin Alfi lagi kan?" cowok yang ternyata bernama Dion itu terus memojokkan Alena yang sudah di selimuti rasa gugup dan malu.
"Nggak, gue gak ngintip kok, " ucap alena mengeratkan buku novel di genggamannya melihat tatapan tidak percaya dari Dion.
"Orang gue cuma lewat doang." Sangkal Alena.
"Iya gue tau lo cuma lewat doang, tapi lo singgah di kelas gue, terus gitu ngintipin Alfi lagi belajar kan, ngaku aja lah!"
"Iya kalau itu memang benar, gue lagi natap dia!" Alena menunjuk Alfi. "Emang salah?"
Alfi yang di tunjuk pura-pura menatap ke arah lain sambilmenggaruk tengkuknya yang sama sekali tak gatal. Alfi hanya mencoba menghindar. dia memelilih untuk tidakikut campur dengan mereka berdua.
Dion berkacak pinggang menatap Alena seperti ingin menelan. Cowok itu menatap mata sembari menarik nafas lalu membuangnya kasar.
"Nah bener kan, ngeles aja lo ah!" kesal Dion.
"Terus apa urusannya sama lo?" Ucap Alena, suaranya sangat kecil, namun itu tak membuat Dion lepas menatap dirinya dengan tatapan tajam.
"Gak ada." Dion mengangkat bahu.
"Terus?" Alena menatap Dion jengah.
"Terus, terus, terus! Sekarang gue tanya deh, kenapa lo ngintipin Alfi? lo stalker yang mau nyelakain sahabat gue ya," tuduh Dion.
"Enak aja! jangan suka fitnah Yon. fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan." ucap Alena membela diri.
"Terus ngapain lo bisa di sini kalau bukan ngestalk sahabat gue hem?" Dion melipat kedua tangannya di d**a. "Lo bisa jelasin gak?!"
"Ya udah gue ceritain yang sebenarnya deh, biar lo gak salah paham." kata Alena memilih mengalah.
Alena tidak ingin ribut dengan siapapun apalagi di depan orang yang dia suka. Alena harus tetap menjaga imagenya
Dion mengangkat dagu dengan angkuh menatap Alena dengan sorot mata yang tajam.
"Jadi gini." Alena mulai menjelaskan.
"Pegangin novel gue dulu, boleh?" Alena menyodorkan novel di tangannya yang langsung di tolak mentah-mentah oleh Dion.
"Lo ngejelasin pake mulut kan, bukan pake tangan."
Alena mencebikkan bibirnya, dia merasa b**o di depan cowok ini. Tapi memang sih, Alena selalu terlihat bodoh jika sudah kebingungan.
"Ya udah!" Alena memeluk novelnya lalu menatap kesal Dion di depannya.
"Jadi gini, tadi kan gue mau ke perpus ceritanya, nah gak sengaja gue lewat sini, terus gue liat Alfi dalam kelas sendirian, gue berhenti dong, terus gue dalam hati bilang. Kok Alfi ganteng banget mamanya makan apa pas hamil gitu aja Yon, gak maksud apa-apa!" jujur Alena secara tidak sadar langsung menutup mulutnya.
Alfi yang begitu jelas mendengar, hanya bisa menahan diri untuk tidak tertawa saat ini. Perkataan gadis itu benar-benar membuat dirinya ingin tertawa.
Dion menarik nafas lalu menghembuskannya dengan kasar. "Lo suka sama Alfi?"
"Enggak." Pelas Alena dengan cepat.
Dion melangkahkan kaki mendekat , mendelikan mata elangnya. Alena mendadak kikuk menarik kepalanya ke belakang. mata kebiruan cowok itu menusuk retina Alena.
"Di-dion lo mau ngapain? mau nyium Gue ya?" Alena menatap jijik. "Ihh gak mau gue."
Pletak!
"Siapa juga yang mau nyium cewek gila kayak lo!"
"Aduhh!" pekik Alena mengelus jidatnya. "Dion Sakit tau! tega Banget sih!"
Alena mengusap-ngusap jidatnya yang di sentil oleh cowok menyebalkan di depannya. Alena menatap kesal Dion.
"Kasar banget." Alena memasang muka sedih yang di buat-buat.
"Gak peduli gue sama cewek kaya lo, sekarang lo ikut gue!" sergah Dion langsung menarik tangan Alena membawanya masuk ke kelas.
"Ihh Dion lepasin!" Alena berusaha melepaskan tangannya.
Dion menggeleng. "Gak bakal gue lepasin!"
Dion menyeret paksa gadis itu masuk ke kelas. "Lo kalo di biarin lama-lama bisa jadi Pedovil tau gak."
"Lepasin gue Dion!"
Ucap Alena saat sudah berada di depan meja cowok yang masih pura-pura tidak melihat. dia sengaja membaca buku dengan tenang.
"Fi, jangan kasih ampun fi!"
Alfi mengangkat kepala mengalihkan perhatiannya dari buku paketnya. Alfi mengerutkan alisnya menatap bergantian Dion dan juga Alena. dia bingung dengan perkataan Dion. Alena sendiri langsung menunduk malu saat tatapannya bertemu dengan Alfi.
"Kenapa bengong? Jelasin ke Alfi kalau barusan lo ngintipin dia, bilang juga kalau lo suka sama dia " suruh Dion memaksa.
Alena menoleh kesal pada Dion dan cowok itu hanya mengangkat dagu.
"Cepat Jelasin!" suruhnya.
Alfi hanya diam sambil menatap dua orang yang tengah bersiteru di depan mejanya.
"Hah apa? " bingung Alena harus menjelaskan apa. lantas iya menatap Alfi lalu dengan polosnya ia mengangkat bahu bak orang yang tak tau apa-apa.
"Yeee malah diam doang ni cewek kupret." Dion mendorong bahu Alena agar gadis itu menjelaskan pada Alfi tentang mengapa dirinya bisa ada di sini.
Alena menoleh pelan pada Dion dengan ekspresi super polos miliknya. "Gak mau."
Dion mendesah berat lelah melihat Alena
"Udah cepetan ngomong, dari pada gue kasih tau semua orang di sekolah ini, kalo lo penguntit yang suka ngintipin cowok-cowok di sekolah kita. lo mau gitu?"
"Gak mau."
"Ya udah cepat jelasin, kebetulan orangnya udah di deppan lo nih,"
"Iya, iya deh."
Alena langsung takut mendengar ancaman itu, dan dengan terpaksa ia menghadap Alfi, dia mulai merasakan gugup ketika Alfi menatapnya serius. Alena menggigit bibirnya saat Alfi melepas headsetnya mulai tidak nyaman dengan situasi ini.
"Alfi maaf gue gak sengaja lihat Lo lagi belajar," ucap Alena langsung menunduk malu. Debaran jantungnya bertambah ketika Alfi mengeluarkan napas dari hidung. dan itu artinya Alfi juga menahan diri untuk marah.
"Itu doag? Alasan basi, bilang aja lo emang sengaja mau ngintipin Alfi. Mentang-mentang semua orang lagi di Lab biologi, lo jadi mengambil kesempatan dalam kesempitan." Dion menimpali.
"Ini cowok, emang benci Banget ya sama gue." bantin Alena melirik Dion di sampingnya.
"Iya Gue salah, Gue ngintipin Alfi."
Alfi menatap seragam yang Alena pakai, mata cowok itu berhenti pada name tag cewek itu.
"Alena."
"Gue gak pernah lihat lo sebelumnya, anak baru? " tanya Alfi.
Brakk!
"Sumpah lo gak tau Fi? " cerocos Dion, refleks menggebrak meja Alfi.
"Gak usah nyonsor juga loh! " Alfi menggeplak wajah Dion menggunakan buku tulisnya saat itu juga Dion menghindar dan menggeleng tidak percaya.
"Makanya jangan dalem kelas aja kerjaan lo, sekali-kali keliling sekolah kita biar lo tau kalo di sekolah kita itu banyak cewek cantiknya. jangan baca buku mulu. tuh buku-buku pada capek di jamah tiap hari sama lo."
Alfi diam saja mendengar Dion yang terus berceloteh meceramahi dirinya.
"Nie cewek pindahan SMA satu, lo tau Bu Teten kan?" Tanya Dion
"Ah guru Bahasa Indonesia?" Tebak Alfi.
"Nah, iya. Dia ini keponakan bu Teten fi," jelas Dion menunjuk Alena yang nampak malu-malu.
"Lo anak Ips kan?" tanya Dion.
"Iya anak IPS 1." jawab Alena.
Alfi menatap Alena, dan seketika Alena memberikan senyuman tipis, namun di respon dingin oleh Alfi.
"Masalahnya gini fi, dia ini tiga kali gue pergokin lagi ngintipin lo. kemarin di perpus di kantin juga! Udah gak bisa di biarin fi, kita gak tau niat cewek ini apa."
"Gak usah berlebihan yon, lo buat anak orang takut." ucap Alfi melihat wajah Alena berubah pucat.
"Gue gak bermaksud buat dia takut, tapi apa yang gue omongin itu jelas dengan apa yang gue lihat." Terang Dion.
Alena menundukkan wajah rambutnya yang di kepang kesamping terhelai di bahunya. dia hanya bisa pasrah ketika diintrogasi oleh Dion dan Alfi.
"lo ngintip gue tiap hari?" tanya Alfi menatap Alena yang diam dengan pipi yang memerah. "Lo gak sampe ngintip gue di kamar mandi kan?"
Alena menggeleng. "Enggak."
Alena merinding seketika mendengar itu. mana mungkin dia segila itu mengikuti Alfi sampai kamar mandi. membayangkannya saja membuat Alena ngeri sendiri.
"Kalau sampai itu terjadi, gue gak bakalan maafin lo."
"Udah gue bilang ini cewek tuh pedovil, lo harus hati-hati fi."
"Maafin kalau gue ngintipin lo, tapi gue bukan pedo Yon, gue cuma... "
"Yon, bisa tinggalin gue sama... " potong Alfi menatap Alena.
"Alena, " sambung Alena pelan sembari menunduk.
"Iya itu," Alfi mengalihkan tatpannya pada Dion "Lo bisa tinggalin gue sebentar yon?"
Dion menatap sebentar Alena lalu beralih menatap Alfi. Alfi memberi kode dengan mengerjapkan mata serius. Mengerti dengan tatapan itu Dion turun dari meja
"Ya udah gue cabut. Tapi habis ini lo langsung ke lapangan udah di tungguin teman-teman." kata Dion mulai berjalan meninggalkan Alfi dan Alena, saat sampai di pintu Dion berhenti untuk mengingatkan Alfi Kembali. "Fi, hati-hati jangan sampai lo di grepe-grepe tuh cewek."
Setelah itu Dion langsung melenggang pergi meninggalkan dua orang di dalam kelas ini.
Alena menggeram dalam hati mendengar ucapan Dion yang sangat-sangat tidak manusiawi, Alena sangat kesal. Alena semakin mengeratkan buku novel yang ada di tangnnya.
Alfi terkekeh melihat Alena yang kesal kerena tingkah temannya itu. Tau-tau ia sedang tersenyum bodoh mentap Alena.
Alena menoleh dan betapa terkejutnya saat melihat Alfi sedang menertawai dirinya. Cowok itu sudah duduk di atas meja dengan kedua tangan terlipat di d**a.
"Dion Emang ngeselin anaknya. Tapi sebenarnya dia baik kok, " ucapnya tanpa menatap Alena.
Ini benar-benar di luar dugaan Alena. baru saja, Alfi berbicara denagn lembut, meskipun sikapnya terkesan dingin. tapi satu yang Alena ketahui suara Alfi tidaklah menyeramkan seperti yang selalu ia bayangkan ketika menatap mata Alfi. tanpa sadar Alena mengulum senyum, rasa takutnya perlahan hilang.
"kalau boleh tau lo mau ngomong apa sama gue?" tanya Alena tanpa malu.
"Ah! gue hampir lupa."
Alfi kemudian berdiri dari meja, kemudian mendekati Alena, sontak Alena mundur karena merasa takut, tapi dengan cepat Alfi mencekal lengan gadis itu, hingga Alena tidak bisa bergerak. Alena bisa merasakan detak jantungnya tidak normal. apa lagi ketika Alfi menatap kedua matanya dengan sorot yang dingin.
selama beberapa detik mereka saling melempar tatapan yang berbeda. Alena menatap penuh arti sementara Alfi menatap dirinya dengan tatapan penasaran. sampai akhirnya Alfi mengucap sesuatu yang membuat duni Alena berhenti dalam dua detik.
"Lo suka sama gue?"
Alena membulatkan mata terkejut, entah kenapa dengar pertanyaan ini dengan orangnya langsung membuat perasaan Alena semakin di buat seperti menari di atas awan. Alena semakin sesak saja, menatap wajah Alfi yang begitu dekat. Alena juga tidak bisa bohong kalau dirinya sedang mabuk dengan aroma tubuh Alfi yang wangi parfume mahal.
"Jawab gue Alena, "
Alena meremas lengan baju Alfi, mata tajam Alfi begitu indah di matanya ia tidak sanggup menatapnya. Alena tidak kuat!
Alfi mengerutkan Alis ketika merasakan tubuh Alena lemas, cowok itu lantas menarik pinggang Alena, memeluk gadis itu dan menyandarkan kepala Alena di d**a bidangnya. sampai ia tau kalau gadis itu ternyata pingsan di pelukannya.
Alfi menghela nafas, menundukkan kepalanya mendapati aroma shampoo yang berasal dari rambut lebut gadis itu.
"Seganteng ini yah gue, sampe buat lo pingsan".
Alfi telah membuat masalah baru dengan seorang gadis yang baru di kenalnya hingga membuatnya pingsan dan mau tak mau Alfi akhirnya membopong gadis itu dan membawanya keluar dari kelas.
Menyisahkan kelas yang kosong dengan meja-meja serta kursi yang tertata rapi. Ruang yang menjadi saksi Awal pertemuan dari dua sejoli yang sama-sama belum mengerti tentang perasaan mereka.
Tbc.
Ayeee!! Vie balik lagi nie.. ☺☺☺
Jangan lupa vommetnya yahh...
Kayaknya lapak Alena kurang rame yah. Dan vie harus ngasih pengumuman keliling kampung biar tau pelovie, buat teenfiction yang judulnya "Alena! "