Arfa membuka pintu depan untuk Anin ," Tara mau sama papa ?"
" Ama papa Taya ... ain tayo."
Anin mengulurkan bus biru itu, membiarkan Tara duduk di belakang bersama Andro. Tanpa bersuara ia memasang safety belt kemudian mengeluarkan ponsel dari tasnya.
Arfa melirik gadis disampingnya, lalu memandang dua orang di bangku melakang dari spion. Dihembuskannya nafas lalu menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Hari ini Tara akan mulai menginap di rumah orang tuanya. Mereka sepakat membuat prosesnya berjalan sepanjang Tara merasa nyaman ," Gak masalah kamu meninggalkan tokomu untuk beberapa lama ?"
" Semua harus dibiasakan, bukan ?"
" Sudah ada yang bisa bertanggungjawab sebesar itu ?"
" Di toko ? Sudah." Anin meletakkan ponselnya ," Sistem operasional toko kami tidak dibuat rumit. Bahkan karyawan baru pun bisa jalan sendiri dalam dua minggu. Ada Sari, sudah tiga tahun ikut aku. Dia yang pegang kunci toko.”
“ Kamu segampang itu percaya sama orang ?”
Anin menoleh sedikit, “ Aku percaya pada sistem, kak. Kalau sistemnya benar, orangnya gak perlu jadi malaikat.”
“ Dan untuk manusia ?”
“ Manusia gak punya sistem.” sahutnya pendek sambil kembali menatap jalan.
Arfa menahan senyum dan memilih tidak menyahut. Dari bangku belakang terdengar Tara menirukan bunyi klakson bus, disusul tawa Andro yang ditahan.
“ Berapa malam ?” tanya Anin tiba tiba.
“ Apanya ?”
“ Menginapnya. Aku harus bilang ke Tara pakai hitungan yang dia mengerti. Dia belum kenal hari.”
Arfa melirik spion, mencari mata adiknya sebelum menjawab, “ Dua malam dulu. Kalau dia nyaman, kita tambah pelan pelan.”
“ Dua kali tidur.” Anin mengangguk pada dirinya sendiri, “ Aku akan bilang begitu. Jangan ada yang menjanjikan lebih dari itu tanpa bicara denganku.”
“ Gak akan.” Andro yang menjawab dari belakang.
Anin tidak menoleh, “ Satu lagi. Kalau jam sembilan dia belum tidur juga, telepon aku. Jangan dipaksa, jangan digendong keliling rumah. Dia cuma butuh dengar suara.”
“ Suaramu ?” tanya Andro pelan.
“ Suara yang biasa dia dengar sebelum tidur.” Anin membetulkan letak tas di pangkuannya, “ Kebetulan itu suaraku.”
Andro tidak menjawab. Arfa yang menyahut, “ Kami catat semuanya. Kamu juga boleh telepon kapan saja, gak usah lihat jam.”
“ Aku gak akan telepon.” Anin menatap keluar jendela, “ Kalau aku yang telepon, artinya aku yang belum siap. Bukan Tara.”
Mobil berbelok masuk ke jalan yang lebih lebar, deretan pagar tinggi dengan pohon pohon tua yang dirawat rapi. Anin mengenali belokan terakhir bahkan sebelum Arfa memelankan laju mobilnya.
Tiga tahun lalu ia berdiri di depan pagar yang sama, memegang amplop cokelat dengan tangan berkeringat. Ia pulang hari itu tanpa amplopnya, membawa satu kalimat yang tidak pernah ia ceritakan pada Tania sampai kakaknya menutup mata.
“ Nin ?”
Anin berkedip. Mesin mobil sudah mati.
“ Gak apa apa ?” tanya Arfa.
“ Aku baik.” Anin melepas safety belt, “ Aku selalu baik selama Tara baik.”
Di teras, sepasang suami istri paruh baya sudah berdiri menunggu. Perempuan itu meremas sapu tangan di depan perutnya, matanya tidak lepas dari pintu belakang mobil.
Tara turun sambil memeluk bus birunya. Anak itu berdiri sebentar di atas paving, menyapu satu per satu wajah yang menunggunya, lalu tangan kecilnya mencari dan menggenggam dua jari Anin erat erat.
“ Bua....”
“ Ya sayang.”
“ Ini umah papa ?”
“ Iya. Rumah papa Tara.”
Tara mendongak, kepalanya miring sedikit seperti biasa kalau ia sedang menimbang sesuatu, “ Bua tidul cini juga ?”
Anin membuka mulut. Tidak ada suara yang keluar.