Pagi hari yang sejuk begitu menyegarkan, sinar oranye masih menghiasi langit dengan indahnya. Kehangatan seakan menjalar memaksa masuk kehati. Akhir pekan ini Zea memang ingin bersantai dari aktivitas yang membosankan, terlebih sang pujaan hati yang seminggu ini jauh darinya. Dilihatnya jam Beker yang masih menunjukan pukul 5.30.
Thiink.. think..
Notif tanda pesan masuk, membuat Zea dengan cepatnya menyambar benda yang berbunyi tadi.
"Aku ingin bertemu!" Pesan dari Darel kekasihnya.
Pesan singkat yang tak terkesan hangat, namun bisa membuat hati Zea begitu riang.
"Baiklah, ayo kita bertemu. I Miss u".
Zea masih belum beranjak, ia masih menanti balasan dari Darel. Namun sangat disayangkan pesan darinya hanya di read saja. Ia merasa Darel begitu dingin padanya, tapi pemikiran itu langsung di tepisnya dengan alasan bahwa Darel kecapekan. Menerima kenyataan bahwa Darel tak membalas pesannya ia pun bergegas untuk bersiap siap.
Tak butuh waktu lama Zea telah rapih dan siap untuk bertemu Darel ditaman tengah kota, disanalah tempat Zea dan Darel biasa bertemu disaat kesibukan masing masing. Bukan tanpa alasan taman menjadi tempat favorit, karena memang disana mereka bisa melepas penat dengan menghirup udara segar dan melihat pemandangan yang indah.
Saat Zea tiba di taman ternyata Darel telah sampai terlebih dahulu. Dengan semangat empat lima Zea melambai dan tersenyum pada Darel.
" Haii..!"
Darel membalas lambaian Zea, namun ekpresinya datar dan Zea sadar itu.
Zea langsung memeluk Darel begitu erat karena rindu yang dirasa, lain halnya dengan Darel. Ia seakan dingin dan biasa saja.
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Zea merasa aneh dengan sikap Darel padanya.
"Aku baik, bahkan sangat baik mungkin." Darel seraya tersenyum.
"Mengapa aku merasa kau berubah." tatap Zea pada Darel.
"Mungkin karena aku merasa bosan denganmu."
"Apa?" Zea menatap Darel tajam.
"Aku mengagumi wanita lain." ucap Darel santai tanpa beban.
Bagai tersengat oleh gurita, Zea menatap tak percaya pada Darel yang dengan mudah mengatakan semuanya. Apa sebegitu tak berartinya dia!.
"Sekarang aku mengerti, kamu bukanlah orang yang berperasaan. Kamu tak lebih dari seorang bajingan." Ucapnya menahan air mata.
Tertawa sinis, Darel tak peduli dengan perkataan Zea. "Terserah katamu, aku hanya mengikuti kata hatiku".
Tanpa ada kata lagi yang terucap antara keduanya, Darel pergi begitu saja.
Seperginya Darel, Zea menitikan air mata yang sedari tadi ditahanya. Ia menangis tanpa peduli keadaan sekitar yang mulai ramai. Ia luapkan kesedihannya bersama dengan air mata yang membanjiri wajahnya.
Seorang lelaki melihatnya menangis tersedu, ia merasa iba pada Zea. Dengan niat menghibur lelaki itu menghampirinya, dan duduk disebelah Zea.
"Mengapa kau bersedih?" Tanya lelaki itu.
"Hiiks.. hhiikkss.. Bahkan ini bukan urusanmu, kenapa kau peduli? apa kau ingin mentertawakan ku?".
"Mungkin saja aku bisa membantu".
"Kau hanya menggangguku". Zea baranjak untuk pergi. Namun lengannya ditarik oleh lelaki itu, seketika ia berada dalam pelukan yang begitu hangat.
Untuk sejenak Zea merasa terkejut sekaligus nyaman dipelukan lelaki yang tak dikenalnya itu. Dia merasa sedikit tenang dari gejolak kesedihannya.
"Sekarang menangis lah semaumu, tapi tidak selanjutnya".
"Hiks..hiks.. lepaskan, dasar tak tahu malu". Zea memberontak tapi pria itu tak mau melepasnya.
"jika kau masih menangis jangan berharap aku melepaskanmu".
"Terserah." Zea pun menangis sejadinya.
Sesaat kemudian, seakan sudah puas menangis Zea menatap pria yang sejak tadi memeluknya, seakan meminta untuk dilepaskan.
"Apa kau merasa puas telah membasahi pakaianku dengan air matamu?"
"Kau yang menginginkannya." tatap Zea sinis.
"Haha.. lihatlah wajahmu begitu jelek".
"Ini karena aku baru saja menangis". Zea sebal karena pria itu mengejeknya.
"Ayolah, kau memang jelek. Karena itu kau diputuskan pacarmu kan? haha.."
"Beraninya kau mengataiku jelek, lihat saja kau pasti tak akan nyenyak tidur karena memikirkan ku".
"Itu tak akan terjadi".
Beberapa saat hening diantara keduanya, Zahir memulai pembicaraan.
"Apa kau sudah merasa baikan?"
"Heem, aku marasa lebih baik sekarang".
"Baguslah".
"Thank's..?" Zea melihat pria itu seakan bertanya.
"Zahir Danantya, panggil saja aku Zahir". Zahir balik bertanya melalui tatapan matanya.
"Zea Michella, panggil saja aku Zea. Dan thank's Zahir, kau sudah menghiburku".
"Haha.. menghibur. Baiklah kau harus mentraktirku lusa untuk membalas kebaikanku".
"Baiklah, ayo bertemu ditempat ini aku akan mentraktirmu. Kalau begitu aku pamit dulu". Pamit Zea dan melangkah pergi.
"Gadis yang manis." Gumam Zahir lirih, seraya tersenyum.