Aku hanya mengangguk pelan, tak sanggup membalas ucapan Bibi. Benar, cepat atau lambat Ibu pasti tahu. Namun, bukan sekarang. Beliau baru saja sembuh dari sakit, tak mungkin kutambahi beban dengan kabar bahwa anak semata wayangnya sudah dimadu.
"Nanti aja, Bi. Kalau semuanya udah jelas, baru saya bilang," ucapku sambil mengusap wajah kasar.
"Terserah Ibu, saya cuma mengingatkan."
Bibi kembali ke dapur, meninggalkanku sendiri di ruang tamu. Bau busuk itu datang lagi, samar-samar menyusup dari arah kamar Mas Arif. Sudah kuhafal baunya, bau bangkai yang bercampur sesuatu seperti kembang layu. Setiap kali wanita itu berada di dalam rumah, bau ini selalu ada.
Aku menutup hidung dengan kerudung dan naik ke lantai atas, memilih mengurung diri di kamar sendiri.
***
Hari-hari berikutnya berjalan seperti neraka kecil yang kupelihara sendiri.
Setiap pagi aku bangun lebih awal, menyiapkan sarapan untuk dua orang yang tidur sekamar di bawah sana. Bukan karena ikhlas, tapi karena Mas Arif akan mengamuk jika tidak ada makanan di atas meja. Ia berubah, benar-benar berubah. Suami yang dulu menahan pintu supaya aku tak terjepit, kini bisa membentak hanya karena teh yang kurang manis.
"Kak, aku pengen mangga muda," ucap Sarah suatu siang. Ia duduk di sofa, kaki naik ke atas bantal, tangannya mengelus perut yang belum terlihat membesar.
"Beli sendiri sana, saya bukan pembantu kamu," jawabku ketus.
"Bang Arif bilang, aku boleh minta apa aja ke Kakak. Katanya Kakak yang urus semua keperluan aku selama di sini."
Aku menggigit bibir bawah, menahan sesuatu yang naik ke tenggorokan. Ingin sekali kulempar wanita itu dengan vas bunga yang ada di sampingnya. Namun, aku ingat, ia sedang mengandung. Sekali pun anak itu bukan anakku, tetap saja ada nyawa di dalamnya.
"Bi Inem, tolong beliin mangga muda buat Nyonya Sarah!" teriakku sambil berlalu.
Bukan aku tak mampu melawan. Aku hanya belum tahu harus melawan siapa. Kalau musuhku wanita biasa, sudah kuseret ia keluar sejak hari pertama. Masalahnya, setiap kali aku berniat begitu, kakiku seperti dipaku ke lantai dan kepalaku berdenyut hebat sampai mata berkunang-kunang.
Bibi pernah bilang, itu bukan kebetulan. Aku menolak percaya, tapi kejadiannya sudah tiga kali.
Ia tersenyum tipis. Senyum yang tak pernah sampai ke matanya. Sejak dulu aku merasa ada yang salah dengan senyum wanita ini, tapi tak pernah bisa kujelaskan dengan kata-kata.
***
Sore itu Riana datang membawa dua bungkus es kopi. Ia duduk di teras, enggan masuk meski sudah kupaksa berkali-kali.
"Di dalem aja, Ri. Panas di luar," bujukku.
"Nggak, Ris. Enakan di sini."
Aku menghela napas dan ikut duduk di sampingnya. Wajahnya pucat, keringat dingin membasahi kening padahal angin sore lumayan sejuk.
"Kamu kenapa? Sakit?"
"Ris, di rumah lo ada apa, sih?" tanyanya berbisik, "dari tadi gue ngerasa ada yang berdiri di jendela ruang tamu. Perempuan, pake baju item, cuma keliatan matanya."
Tubuhku langsung merinding. Kutengok jendela yang ia maksud, tirainya tertutup rapat. Tidak ada siapa-siapa.
"Itu ... Sarah kali, Ri."
"Sarah siapa?"
Aku pun bercerita seadanya, tanpa memberi tahu bagian yang paling menyakitkan. Malu rasanya mengakui bahwa suamiku menikah lagi tanpa persetujuanku. Riana mendengarkan sambil terus menggeleng-geleng.
"Gue pulang aja deh, Ris. Maaf, ya. Bukan gue gak mau nemenin lo, tapi kepala gue udah puyeng banget dari tadi," ucapnya lalu berdiri.
"Iya, gak papa. Hati-hati."
Ia melangkah cepat, hampir seperti berlari. Sebelum menghilang di ujung gang, ia menoleh sekali dan berteriak, "Ris! Jangan sering-sering sendirian di rumah, ya!"
Kalimat itu terngiang sampai malam.
***
Mas Arif pulang pukul sembilan, membawa dua kantong plastik berisi makanan. Untuk Sarah, tentu saja. Aku duduk di anak tangga paling bawah, menunggunya sejak magrib tadi.
"Mas, bisa ngobrol bentar?" tanyaku ketika ia melewati ruang tamu.
"Besok aja, capek."
"Bentar aja, Mas. Lima menit."
Ia berhenti, membalikkan badan dengan wajah malas. Kantong plastik itu tetap digenggamnya, seakan takut kurampas.
"Apa?"
"Mas masih ingat gak, dulu kita janji apa waktu pindah ke rumah ini?" tanyaku pelan, "kita janji, apa pun yang terjadi, kita selesaikan berdua. Sekarang, semuanya Mas putuskan sendiri. Aku bahkan tau kamu nikah lagi cuma sehari sebelum akadnya."
Ia diam. Untuk sesaat, sorot matanya berubah. Ada bingung di sana, ada seperti orang yang baru bangun tidur dan tak tahu sedang berada di mana. Bibirnya bergerak, hendak mengucapkan sesuatu.
"Mas?"
"Bang, mana baksonya? Aku laper!" teriak Sarah dari kamar.
Sorot mata itu hilang secepat datangnya. Rahangnya mengeras, wajahnya kembali dingin.
"Udah, ya. Jangan bahas ini lagi. Bikin pusing," ucapnya lalu berlalu.
Aku tetap duduk di anak tangga sampai lampu ruang tamu dimatikan Bibi. Bukan karena menunggu apa-apa. Hanya karena kaki ini tak sanggup diajak berdiri.
Satu hal yang kucatat malam itu: Mas Arif sempat bingung. Sesaat, tapi ada. Artinya, di dalam sana masih ada dia, suamiku yang dulu. Ia hanya sedang ditutupi sesuatu.
***
Tengah malam, aku terbangun karena haus. Lampu ruang tengah sengaja kubiarkan menyala sejak Mas Arif membawa wanita itu ke sini. Aku tak lagi berani gelap-gelapan di rumah sendiri.
Ketika melewati kamar bawah, langkahku terhenti. Pintunya tidak tertutup rapat, ada celah selebar telapak tangan. Dari dalam terdengar suara komat-kamit, seperti orang membaca sesuatu dengan cepat. Bukan mengaji, nadanya berbeda. Datar dan berulang-ulang.
Aroma kemenyan menyeruak, bercampur bau busuk yang sudah kukenal. Bulu kudukku berdiri, sekujur lengan meremang. Ingin balik badan dan naik ke kamar, tapi rasa penasaran ini lebih besar daripada rasa takut. Aku ingin tahu, apa sebenarnya yang wanita itu lakukan pada suamiku setiap malam.
Dengan jantung yang berdebar hebat, aku mengintip. Sarah duduk bersila di lantai, membelakangi pintu. Rambutnya tergerai panjang menutupi punggung. Di depannya ada baskom kecil berisi air keruh, dikelilingi tujuh butir apa entah, aku tak bisa melihat jelas. Mas Arif terbaring di ranjang, matanya terbuka lebar menatap langit-langit tanpa berkedip.
"Mas ...," lirihku tanpa sadar.
Sarah berhenti. Kepalanya berputar pelan ke belakang, sangat pelan, seakan lehernya tak punya tulang. Matanya bertemu mataku lewat celah pintu itu.
Aku berlari. Naik tangga dua-dua, membanting pintu kamar, lalu mengunci dan menempelkan punggung ke daun pintu sambil menangis tanpa suara. Sepanjang sisa malam itu aku membaca semua ayat yang kuhafal, berulang-ulang, sampai azan subuh terdengar.
***
Pagi harinya Mas Arif berangkat kerja seperti biasa. Tak ada sarapan, tak ada salam, tak ada apa pun. Ia hanya mengambil kunci mobil dan pergi.
Aku menunggu sampai suara mobilnya benar-benar hilang, baru turun ke bawah. Sarah sedang duduk di meja makan, menghabiskan nasi goreng yang dibuat Bibi.
"Kamu keluar dari rumah ini hari ini juga," ucapku tanpa basa-basi.
Ia mendongak, mengunyah pelan, lalu meletakkan sendok.
"Kenapa, Kak?"
"Jangan pura-pura bego. Ini rumah saya, saya yang bangun sama Mas Arif dari nol. Kamu numpang di sini, bukan pemilik. Sekarang saya suruh kamu pergi."
"Bang Arif suami saya juga, Kak. Saya istrinya, sah."
"Sah apanya?! Kamu tau sendiri gimana caranya kamu dapetin dia!" Suaraku meninggi, tanganku gemetar. Bibi datang tergopoh-gopoh dari belakang, berdiri di antara kami.
"Sudah, Bu, sudah. Nanti kedengaran tetangga," bisiknya.
Sarah bangkit, mengelap mulut dengan punggung tangan. Ia berjalan mendekat, berhenti tepat di hadapanku. Jarak wajah kami mungkin hanya sejengkal.
"Saya gak akan ke mana-mana, Kak," ucapnya pelan, nyaris berbisik, "yang harusnya pergi itu Kakak."
Napasnya berbau tanah.
Aku mundur selangkah, hampir menabrak kursi. Bibi menahan bahuku, lalu menarikku pergi dari sana. Kami berdua duduk di dapur, dan aku menangis di pundak wanita paruh baya itu seperti anak kecil yang tak tahu harus mengadu ke mana lagi.
"Bu, sabar. Ini gak akan lama," ucapnya sambil mengusap punggungku.
"Bibi tau dari mana gak akan lama?"
"Bibi gak tau, Bu. Bibi cuma yakin, orang zalim itu pasti ada batasnya."
"Bi, semalam saya lihat dia baca-baca sesuatu di kamar. Ada baskom, ada kemenyan. Mas Arif melek tapi kayak orang mati."
Bibi berhenti mengusap punggungku. Wajahnya berubah tegang.
"Ibu jangan intip-intip lagi, ya," ucapnya serius, "orang yang lagi begituan itu tau kalau diliatin. Nanti Ibu yang kena."
"Terus saya harus diem aja?"
"Bukan diem, Bu. Cuma jangan dilawan pakai cara mereka. Ibu tetep salat, tetep baca Qur'an, jangan tinggalkan. Itu senjata Ibu."
Aku mengangguk, meski jujur saja, hatiku belum sepenuhnya tenang.
***
Siang menjelang sore, rumah kembali sunyi. Bibi pergi ke pasar dan aku memilih tidur-tiduran sambil menonton televisi di ruang tengah. Perutku belum diisi apa-apa sejak pagi, tapi nafsu makan benar-benar hilang.
Ponsel bergetar. Ibu lagi. Kubiarkan sampai berhenti sendiri, kemudian kuketik pesan singkat, [Bu, maaf tadi gak keangkat. Nanti Risti telpon balik, ya. Sayang Ibu.]
Kubaca ulang pesan itu tiga kali sebelum akhirnya kukirim. Sepele, tapi rasanya seperti berbohong pada satu-satunya orang yang tak pernah membohongiku.
Aku baru saja meletakkan ponsel ketika terdengar suara benda jatuh dari kamar bawah. Disusul erangan panjang.
"Bi Inem?" panggilku, lalu teringat Bibi sedang di pasar.
Erangan itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras, lebih jelas, dan sudah pasti bukan suara Bibi.
Sempat terpikir untuk pura-pura tak dengar. Biar saja, toh bukan urusanku. Namun, kaki ini malah melangkah sendiri menuruni tangga, menyusuri lorong, sampai berhenti di depan pintu kamar yang tadi pagi kudatangi dengan penuh amarah.
Kudorong pintunya perlahan.
Sarah tergeletak di lantai, meringkuk memegangi perut. Wajahnya pucat pasi, rambutnya basah oleh keringat, dan bibirnya bergetar hebat. Baskom kecil yang semalam kulihat itu tergolek terbalik di samping ranjang, isinya tumpah membasahi lantai. Airnya keruh dan berbau amis.
Sesuatu di dalam d**a berdesir. Bukan iba, bukan juga senang. Entah apa namanya.