Sambungan terputus.
Aku menatap layar ponsel dengan tangan gemetar. Berkali-kali kutelepon balik, tapi nomor itu sudah tidak aktif. Rasanya seperti ditinggalkan di tengah jalan tanpa tahu arah pulang.
"Bi Inem! Bi!" teriakku sambil berlari ke dapur.
"Kenapa, Bu?"
"Tolong panggilin Mas Arif, cepet! Siska mau bunuh diri!"
Bibi ternganga, lalu berlari ke kamar. Sementara itu aku sibuk menghubungi Aris, satu-satunya orang yang mungkin tahu di mana Siska berada malam ini. Untunglah, dering ketiga langsung diangkat.
"Ar, lo di mana? Siska di mana?"
"Di kosan dia. Kenapa emang?"
"Cepet ke kamarnya sekarang! Dobrak kalau perlu! Dia baru aja telpon gue, ngomongnya udah kayak orang pamitan!"
Terdengar suara benda jatuh, lalu langkah kaki yang berlari, lalu teriakan Aris memanggil nama Siska berkali-kali. Kutempelkan ponsel ke telinga sekuat mungkin, seakan-akan dengan begitu aku bisa ikut berada di sana.
"Sis! Siska! Buka pintunya!"
Braak!
Setelah itu hanya ada suara ribut. Aris berteriak minta tolong pada ibu kos, ada suara perempuan menangis, ada suara gelas pecah. Lima menit yang terasa seperti lima jam.
"Ris! Ris, dia masih napas! Dia minum obat sekaleng, gue bawa ke rumah sakit sekarang!"
Sambungan mati lagi.
Aku terduduk di lantai ruang tamu, memeluk lutut. Mas Arif datang dengan rambut berantakan, masih setengah mengantuk, lalu ikut berjongkok di sampingku.
"Kenapa, Dek?"
"Siska, Mas. Dia nekat."
***
Sampai di rumah sakit hampir tengah malam. Siska sudah selesai dicuci lambungnya, terbaring lemas dengan selang di hidung. Ibunya datang dari luar kota keesokan paginya, menangis di depan pintu ruang perawatan sambil terus menyebut nama anaknya.
Tiga hari kemudian, keluarganya memutuskan membawa Siska pulang ke Bandung. Katanya biar jauh dari semua yang mengingatkan pada Tania. Aku tak menahan, tak berhak juga menahan.
"Maaf, ya, Ris," ucap Siska sebelum masuk mobil. Suaranya serak, wajahnya tirus.
"Gak usah minta maaf. Lo sembuh dulu, urusan lain nanti aja."
"Gue masih ngerasa itu salah gue."
"Bukan salah lo," jawabku sambil menggenggam tangannya erat, "yang salah itu yang bunuh Tania. Bukan lo, bukan Aris, bukan siapa-siapa yang sayang sama dia."
Mobil itu pergi membawa satu lagi orang dari hidupku. Aku berdiri di pinggir jalan cukup lama, sampai Mas Arif menarik lenganku pelan dan mengajak pulang.
"Kamu gak apa-apa?" tanyanya di dalam mobil.
"Gak tau, Mas. Rasanya kayak ada yang ngambilin temen-temenku satu-satu."
"Jangan mikir gitu. Kana udah lama sakit hatinya, kita gak tau. Tania kecelakaan, terus dibunuh orang. Siska cuma kepikiran. Gak ada hubungannya."
Aku menoleh, menatap sisi wajahnya lekat-lekat. "Mas beneran percaya itu semua kebetulan?"
Ia tidak menjawab. Tangannya mencengkeram setir lebih kuat, buku-buku jarinya sampai memutih. Itu jawabannya.
***
Bibi menyambut kami di halaman dengan wajah tegang. Katanya sejak pagi ada anjing melolong terus-terusan di samping rumah, padahal di sekitar sini tak ada yang memelihara anjing. Ia sudah mengusir, tapi suara itu kembali lagi setiap kali ia masuk ke dalam.
"Bi, saya capek. Nanti aja," ucapku sambil naik ke kamar.
"Iya, Bu. Istirahat. Bibi buatkan air jahe."
Malam itu aku bermimpi Tania duduk di ujung ranjang, membelakangiku, memakai baju rumah sakit yang robek di bagian bahu. Ia tidak menoleh, tidak bicara. Hanya duduk sampai azan subuh membangunkanku.
***
Seminggu berlalu, kasus Tania tetap gelap. Polisi menutup penyelidikan dengan alasan tidak ditemukan bukti pembunuhan pada jasadnya. Aneh sekali. Tangan dan kaki seseorang hilang, tapi dinyatakan bukan pembunuhan.
Kain merah itu kusimpan di dalam laci, dibungkus plastik dan tidak pernah kusentuh lagi tanpa alasan. Foto Tania dengan coretan tinta merah di bagian tangan dan kaki. Selembar kertas bertuliskan huruf-huruf aneh. Mas Arif bilang itu mantra santet, dan sampai sekarang aku belum berani menunjukkannya pada siapa pun.
Setiap kali laci itu kubuka, hawa di kamar mendadak dingin. Bibi sampai menyarankan agar kain itu dibuang saja ke sungai. Namun, aku menolak. Itu satu-satunya benda yang membuktikan bahwa sahabatku tidak mati begitu saja.
Yang terus mengganjal di kepalaku hanya satu. Siapa yang bisa mengirim benda semacam itu, dan kenapa harus Tania? Sepanjang hidupnya Tania tidak pernah punya musuh. Paling banter ia menyebalkan karena mulutnya pedas.
Lalu aku teringat, terakhir kali Tania bicara pedas kepada siapa.
Sarah.
"Mas," panggilku suatu pagi ketika ia sedang mengikat tali sepatu, "kita ke rumah Sarah, yuk."
Ia mendongak. "Ngapain?"
"Aku pengen mastiin satu hal. Cuma lihat dari luar aja, gak bakal lama."
"Dek, kamu lagi hamil. Jangan macem-macem."
"Justru karena aku hamil, aku pengen semua ini cepet selesai, Mas. Aku gak mau anak kita lahir di rumah yang tiap malam ada suara aneh."
Ia diam agak lama, lalu menghela napas panjang dan mengangguk. "Ya udah, tapi janji, kalau Mas suruh pulang, kamu nurut."
"Janji."
***
Komplek itu semakin mati.
Dulu, waktu pertama kali ke sini, masih ada satu dua ibu-ibu yang menjemur pakaian atau menyapu halaman. Sekarang tidak ada siapa-siapa. Rumput tumbuh setinggi lutut di beberapa pekarangan. Pintu-pintu tertutup rapat, sebagian dipaku papan dari luar.
Anehnya, tidak ada satu pun sampah di jalanan. Bersih, terlalu bersih untuk komplek yang ditinggalkan penghuninya.
"Ini yang rumah dia?" tanya Mas Arif sambil memelankan mobil.
"Iya, Mas. Yang catnya udah ngelupas itu."
Kami turun dan mengetuk pintunya. Tidak ada jawaban. Kuketuk lagi, lebih keras, sampai gagang pintunya berderit. Terkunci dari luar dengan gembok besar yang sudah berkarat.
"Kosong, Dek. Udah, pulang."
"Sebentar, Mas."
Mataku menyapu deretan rumah di ujung jalan. Ada satu rumah yang berbeda dari yang lain. Bukan karena lebih bagus, justru sebaliknya. Rumah itu paling rusak, gentengnya bolong di beberapa tempat, dindingnya penuh lumut. Namun, halamannya bersih dan pintunya terbuka sedikit.
Yang paling ganjil, dari dalam sana keluar asap tipis. Bukan asap dapur, warnanya keputihan dan baunya sampai ke tempat kami berdiri. Wangi kembang bercampur kemenyan.
"Mas, itu ada orang."
"Mana?"
"Rumah paling ujung. Pintunya kebuka."
Mas Arif memicingkan mata, kemudian berjalan lebih dulu. Aku mengekor di belakang sambil memegang ujung bajunya erat-erat.
***
Bau itu semakin menyengat begitu kami sampai di teras. Perutku bergejolak, tapi kutahan dengan menutup hidung memakai kerudung.
"Permisi!" panggil Mas Arif. Tidak ada sahutan.
"Assalamualaikum!"
Hening. Hanya suara jangkrik, padahal hari masih terang.
Ia mendorong pintu itu perlahan, dan aku mengikutinya masuk. Ruang tamunya gelap, jendela ditutup kain hitam sehingga cahaya matahari hampir tak masuk sama sekali. Perabotannya diselimuti kain putih yang sudah menguning. Di tengah ruangan ada lingkaran lilin merah yang masih menyala, sebagian sudah meleleh sampai ke lantai.
Di dalam lingkaran itu tersaji nampan berisi kembang tujuh rupa, sebutir telur, dan sesuatu yang dibungkus daun pisang.
"Astagfirullah, Dek. Ini tempat pemujaan," bisik Mas Arif.
"Kita pulang aja, Mas. Aku takut."
Ia mengangguk dan menarik tanganku. Namun, baru dua langkah, terdengar suara dari ruangan sebelah. Suara mengunyah.
Pelan, basah, dan berulang.
Bulu kudukku berdiri seketika. Mas Arif meletakkan telunjuk di bibir, menyuruhku diam. Ia melangkah ke arah sumber suara, dan entah setan apa yang merasukiku sehingga aku ikut melangkah, bukannya lari.
Pintu ruangan itu setengah terbuka.
Di dalam sana, seseorang duduk berjongkok membelakangi kami. Seluruh tubuhnya tertutup kain hitam, dari kepala sampai kaki. Rambutnya panjang dan basah, menjuntai sampai ke lantai.
Di tangannya ada sesuatu yang sedang dimakan. Sempat kukira itu daging ayam, sampai kulihat jari-jarinya.
Jari manusia. Lima, lengkap dengan kuku yang masih ada sisa cat merah muda.
Perutku terasa diaduk. Kututup mulut dengan kedua tangan, tapi terlambat. Sebuah isakan lolos begitu saja.
Sosok itu berhenti mengunyah.
"Lari, Dek!" teriak Mas Arif sambil menyeret tanganku.
Kami berlari menembus ruang tamu, menabrak lingkaran lilin sampai berhamburan, lalu menerobos pintu depan. Di belakang kami terdengar suara tawa perempuan, panjang dan melengking, memantul di dinding-dinding rumah kosong itu.
Mas Arif hampir menjatuhkan kunci mobil saking paniknya. Aku sudah duduk di dalam sambil menangis, satu tangan memegang perut, satu tangan mencengkeram pintu.
"Jalan, Mas! Cepet jalan!"
Mobil melaju kencang meninggalkan komplek itu. Sepanjang jalan tidak ada yang bicara. Mas Arif menyetir dengan rahang mengeras, sesekali melirik kaca spion seakan takut ada yang mengikuti.
"Mas ...," lirihku setelah lama.
"Hm?"
"Tadi itu tangan orang, ya?"
Ia tidak menjawab. Hanya mengangguk sekali, sangat pelan.
"Tangan siapa, Mas?"
"Mas gak tau, Dek. Mas gak mau tau." Suaranya bergetar, "dan kamu jangan pernah minta ke sana lagi. Sekali ini aja Mas turutin."
Aku menyandarkan kepala ke jendela dan memejamkan mata. Terbayang lagi jari-jari itu, kuku dengan sisa cat merah muda. Tania selalu memakai kuku palsu dan cat kuku warna itu.
Namun, kalimat itu tak berani kukeluarkan. Bahkan untuk memikirkannya saja rasanya sudah terlalu sakit.
Matahari sudah condong ke barat ketika mobil kami masuk halaman rumah. Bibi keluar menyambut, bertanya kenapa wajah kami pucat semua. Tidak ada satu pun dari kami yang menjawabnya.