Aku terbangun di atas sajadah dengan pipi basah.
Entah berapa lama tertidur di situ. Yang jelas, kenangan tadi terasa begitu nyata sampai aku sempat lupa sedang berada di tahun berapa. Lelaki yang menyuapiku bubur ayam sore itu, lelaki yang bergurau soal ijab kabul padahal baru mengenalku beberapa jam, adalah lelaki yang tadi membanting pintu di depan wajahku.
Sudah bertahun-tahun berlalu sejak sore itu. Kami tumbuh, sekolah selesai, kuliah selesai, kerja, lalu menikah. Semua berjalan seperti yang ia guraukan hari itu. Dan sekarang, semuanya seperti diambil kembali satu per satu.
Kulipat sajadah dan kuletakkan di lemari. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam.
Mas Arif belum pulang.
***
Hari pertama, aku menunggu sampai subuh sambil duduk di ruang tamu.
Hari kedua, aku menelepon kantornya. Resepsionis bilang Pak Arif mengambil cuti sejak seminggu lalu dan belum ada kabar kapan masuk.
Hari ketiga, aku mulai menangis setiap kali melihat kursi kosong di meja makan.
Aris dan Farah datang menjenguk setelah kuceritakan sedikit lewat pesan. Mereka membantu berkeliling ke tempat-tempat yang biasa didatangi Mas Arif. Kafe langganan, bengkel, rumah teman kantornya. Nihil semua.
"Lo udah lapor polisi belum, Ris?" tanya Aris.
"Belum. Mau lapor apa? Orang dewasa pergi sendiri, bukan diculik. Nanti malah dibilang urusan rumah tangga."
"Ya kali aja bisa dibantu."
"Ar, suami gue itu bukan hilang. Dia dibawa," ucapku pelan.
Aris dan Farah saling beradu tatap, lalu tak ada yang berani meneruskan pembicaraan.
"Bu, makan dulu. Ibu baru keguguran, jangan disiksa badannya," tegur Bibi sambil meletakkan semangkuk bubur.
"Gak nafsu, Bi."
"Nanti Ibu ambruk, terus siapa yang cari Pak Arif?"
Kalimat itu masuk akal. Akhirnya kupaksa juga masuk beberapa suap, meski rasanya seperti mengunyah pasir.
Sore harinya aku nekat ke komplek Sarah, naik ojek karena mobil dibawa Mas Arif. Bibi melarang keras, tapi tetap kalah oleh keras kepalaku.
Rumah itu tutup. Bukan hanya tertutup, tapi ditutup rapat-rapat. Gembok besar di pintu depan, jendela dipaku dari luar dengan papan, halamannya kembali ditumbuhi rumput. Tidak ada tanda-tanda ada yang tinggal di sana selama berminggu-minggu.
Kuketuk dan kupanggil-panggil sampai suaraku serak. Yang menyahut hanya gagak di atap rumah seberang.
"Sarah! Keluar kamu! Balikin suami saya!"
Sepi. Bahkan gemanya pun seperti ditelan tanah.
Aku berkeliling ke rumah-rumah sebelah, mengetuk satu per satu. Tidak satu pun dibuka. Padahal dari beberapa rumah itu jelas terdengar suara radio menyala dan bau masakan. Mereka tahu ada orang di luar, mereka hanya memilih tidak keluar.
Baru ketika hendak pulang, seorang bapak tua yang sedang menyapu di rumah paling depan menghampiriku.
"Nyari yang di ujung, Nak?"
"Iya, Pak. Bapak tau dia ke mana?"
"Sudah, jangan dicari. Pulang saja, jangan ke sini lagi," ucapnya sambil terus menyapu tanpa menatapku sedikit pun, "yang cari-cari di sini, ndak ada yang pulang utuh."
Pulang dengan tangan kosong, aku menangis sepanjang jalan di boncengan tukang ojek yang mungkin bingung setengah mati.
***
Malam keempat, kejadian aneh itu terjadi.
Aku sedang duduk di teras, menunggu tanpa tahu apa yang ditunggu, ketika terdengar suara langkah kaki beriringan di jalan depan rumah. Kutengok, ada lima atau enam ibu-ibu berjalan berbaris. Semuanya memakai kerudung warna gelap, semuanya menunduk, dan semuanya berjalan dengan langkah yang persis sama.
Yang membuatku berdiri adalah wajah mereka. Aku mengenali dua di antaranya. Mereka tetangga Sarah, ibu-ibu yang dulu pernah kutemui waktu pertama kali ke komplek itu.
"Bu! Bu, tunggu!" panggilku sambil membuka pagar.
Mereka berhenti serentak, lalu menoleh serentak pula.
"Eh, Nak Risti," sapa yang paling depan. Senyumnya lebar sekali, tapi matanya tidak ikut tersenyum.
"Ibu-ibu mau ke mana malam-malam gini?"
"Ke desa sebelah, Nak. Ada yang mati hidup lagi katanya. Ramai orang mau lihat."
Bulu kudukku berdiri, entah kenapa.
"Mati hidup lagi gimana, Bu?"
"Ya, sudah dikafani, sudah mau diberangkatkan ke makam, eh bangun lagi. Sudah dua hari yang lalu, tapi sampai sekarang masih banyak yang datang. Ayo ikut, Nak. Kebetulan searah."
Kaki ini sempat maju satu langkah. Sungguh, hanya karena penasaran. Namun, entah kenapa perutku mendadak nyeri hebat, nyeri sisa keguguran yang belum benar-benar hilang, sampai aku harus berpegangan pada pagar.
"Bu Risti! Ngapain di luar?" teriak Bibi dari dalam rumah.
"Ini, Bi, ada—"
Ketika menoleh lagi, jalan itu sudah kosong. Tidak ada barisan ibu-ibu, tidak ada suara langkah, tidak ada apa pun. Padahal ujung jalan masih jauh, dan tidak mungkin mereka sampai ke sana dalam waktu sekejap.
Aku masuk dengan wajah pucat pasi. Bibi memapahku ke sofa dan langsung membacakan sesuatu di ubun-ubunku.
"Ibu ngomong sama siapa tadi?"
"Sama ibu-ibu dari komplek Sarah, Bi. Mereka ngajak lihat orang mati yang hidup lagi."
Bibi terdiam lama sekali. Kemudian ia menggeleng-geleng dan mengucap istigfar berkali-kali.
"Bu, jangan pernah ikut kalau ada yang ngajak-ngajak malam-malam begitu. Apalagi Ibu lagi lemah begini. Habis keguguran itu darah masih terbuka, gampang diikuti."
"Maksud Bibi?"
"Bibi cuma minta Ibu jangan ikut, sudah."
Malam itu Bibi tidur di kamarku, di atas kasur lipat yang biasa dipakai kalau ada tamu menginap. Ia tidak bilang alasannya, tapi aku tahu ia takut. Sepanjang malam lampu tak dimatikan, dan setiap kali ada suara dari luar, tangannya langsung mencari tanganku.
Menjelang subuh, terdengar ketukan pelan di jendela kamar. Tiga kali, teratur, seperti orang yang tahu persis kami sedang tak tidur. Bibi menahan bahuku ketika aku hendak bangun.
"Jangan dibuka, Bu. Sampai azan, jangan dibuka."
***
Keesokan paginya, rasa penasaran itu tak bisa lagi kubendung.
Aku pergi ke warung Mbak Nana, tetangga yang paling tahu kabar apa pun di kampung ini. Sambil pura-pura membeli minyak goreng, kutanya soal berita orang hidup lagi.
"Oalah, itu di Kedungwaru, Bu! Rame banget beritanya," jawabnya antusias.
Aku hampir menjatuhkan botol minyak yang kupegang.
"Kedungwaru?"
"Iya. Yang hidup lagi itu orang pinter, Bu. Namanya Mbah siapa gitu, saya lupa. Katanya udah dikafani, udah mau disalatkan, terus tiba-tiba bangun terus minta makan. Ya Allah, kalau saya yang lihat mungkin sudah pingsan."
Tanganku dingin seketika.
"Mbak, orangnya udah tua? Rambutnya putih semua? Rumahnya di ujung jalan, halamannya banyak tanaman obat?"
"Nah, iya! Ibu kenal?"
Aku tidak menjawab. Uang kubayarkan asal-asalan, lalu berlari pulang dengan napas tersengal-sengal.
Mbah Parto.
Malam itu aku melihat sendiri Bu Atun menempelkan telinga ke dada beliau, lalu menggeleng. Aku sendiri yang bersimpuh di ruangan itu, memohon maaf pada jasad yang sudah tak bernyawa. Kalau ada satu hal yang paling kuyakini dari seluruh kejadian ini, itu adalah kematian Mbah Parto.
Namun, sekarang orang-orang bilang beliau hidup lagi.
"Bi! Bi Inem!" teriakku begitu sampai di rumah.
"Ya Allah, Bu, kenapa lari-lari?"
"Bi, Mbah Parto hidup lagi!"
Bibi menjatuhkan sapu yang dipegangnya.
***
Aku berangkat siang itu juga.
Bibi memaksa ikut, tapi kutolak. Rumah tak boleh kosong, siapa tahu Mas Arif tiba-tiba pulang. Akhirnya aku naik bus dua kali sambung, lalu ojek pangkalan dari pertigaan pasar sampai ke desa itu.
Sepanjang jalan, kepalaku penuh dengan pertanyaan yang tak satu pun bisa kujawab sendiri.
Kalau beliau memang hidup lagi, berarti dosaku berkurang satu. Namun, kenapa tidak ada satu pun yang mengabariku? Kenapa Bude tidak menelepon? Kenapa Bu Atun juga diam saja, padahal kami berpisah baik-baik seminggu yang lalu?
Dan yang paling mengganjal, siapa sebenarnya ibu-ibu yang mengajakku semalam? Kalau mereka benar-benar tetangga Sarah, kenapa mereka lenyap dalam sekejap?
Desa Kedungwaru tampak sama seperti terakhir kali kudatangi. Sawah menguning, jalan tanah yang berdebu, anak-anak bermain layangan di pematang. Tidak ada tanda kerumunan orang yang katanya ramai berdatangan.
Ojek berhenti di ujung jalan. Kubayar ongkosnya, lalu berjalan pelan-pelan menuju rumah berdinding papan itu.
Rumah Bu Atun kulewati lebih dulu. Pintunya terbuka, tapi tidak ada orang. Farhan sedang menjemur padi di halaman samping. Ia mendongak, mengenaliku, lalu tersenyum lebar dan melambaikan tangan seolah kedatanganku hal yang paling biasa di dunia.
"Mbak Risti! Mbah Parto nunggu, tuh!"
Aku ternganga. "Nunggu? Nunggu saya?"
"Iya, dari kemarin bilangnya nunggu Mbak. Katanya Mbak pasti datang."
Kakiku semakin berat. Bagaimana beliau bisa tahu aku akan datang, sedangkan aku sendiri baru memutuskan tadi pagi di depan warung Mbak Nana?
Pekarangannya sudah rapi kembali. Tanaman obatnya disiram, lantai terasnya bersih. Dari dalam terdengar suara batuk seorang lelaki tua.
Kakiku berhenti tepat di depan tangga teras. Rasanya ingin lari, ingin pulang, ingin pura-pura tak pernah mendengar kabar apa pun.
Pintu itu terbuka lebih dulu sebelum aku sempat mengetuk.
Mbah Parto berdiri di sana. Hidup, bernapas, dengan kain sarung dan kaus oblong putih. Wajahnya lebih kurus, kulitnya lebih pucat, tapi matanya masih setajam dulu.
"Lama betul kamu sampai, Nduk," ucap beliau sambil tersenyum, "dari kemarin Mbah tunggu."
Air mataku langsung tumpah. Aku bersimpuh di depan tangga itu, menangis seperti anak kecil, tanpa peduli tetangga sebelah melihat atau tidak.