Sepanjang jalan hanya suara radio yang mengisi mobil. Aku beberapa kali mencoba membuka obrolan, tapi Fany menjawab seadanya dan Mbah Parto memilih menatap jendela.
Baru ketika mobil masuk halaman rumah, gadis itu bersuara lagi.
"Mbak, kok mobilnya banyak? Ada tamu?"
"Gak ada, Dek. Itu motor tetangga, mereka bantuin dari kemarin."
"Bantuin apa?"
Aku menelan ludah. Rasanya tak ada cara halus untuk menyampaikan ini.
"Nanti kamu lihat sendiri. Jangan kaget, ya."
Bibi keluar menyambut dengan kursi roda pinjaman. Fany didudukkan, lalu didorong masuk. Baru saja melewati ruang tamu, gadis itu langsung memegang pegangan kursi kuat-kuat.
Pintu kamar kami terbuka. Dari situ terlihat Mas Arif terbaring di ranjang, tangan dan kaki terikat kain, matanya tertutup sarung bantal yang sudah kusam.
"Kak Arif kenapa, Mbak?!" jeritnya.
"Dek, tenang."
"Kenapa diiket?! Siapa yang ngiket dia?!"
"Fany, dengerin Mbak dulu—"
"Kalian apain Kak Arif?!" Ia berusaha berdiri dari kursi roda, padahal kakinya masih digips. Bibi buru-buru menahan.
"Dia kambuh, Dek. Dua hari lalu dia nyekik Bi Inem sampai lehernya biru. Kalau gak diiket, dia bisa bunuh orang," jelasku dengan suara bergetar.
Fany terdiam. Napasnya masih memburu, tapi ia berhenti memberontak. Perlahan matanya berkaca-kaca, lalu ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa sih semua orang yang baik ke aku selalu kena?" lirihnya.
Aku berjongkok di depannya dan memeluk gadis itu. Kami menangis di ruang tamu, disaksikan Bibi dan Mbah Parto yang berdiri diam di ambang pintu.
***
Malamnya, setelah Fany tidur, Mbah Parto memanggilku dan Bibi ke dapur.
"Besok malam kita panggil dia," ucap beliau tanpa basa-basi.
"Panggil siapa, Mbah?"
"Perempuan itu."
Bibi langsung menggeleng cepat. "Jangan, Mbah. Kalau dia datang ke sini, habis kita semua."
"Kalau ndak dipanggil, dia yang bakal datang sendiri tanpa aturan," jawab Mbah tenang, "kalau Mbah yang panggil, dia datang dengan syarat Mbah. Beda."
"Syaratnya apa, Mbah?" tanyaku.
"Dia harus masuk lewat pintu depan, seperti tamu. Dan begitu dia duduk, Mbah ikat."
"Ikat pakai tali?"
"Pakai tali, iya. Tapi yang lebih penting bukan talinya."
Beliau lalu meminta beberapa hal. Segenggam garam kasar, tujuh butir kemiri, air dari tujuh sumur, dan satu benda milik Sarah. Yang terakhir itu membuatku bingung, sampai akhirnya kuingat masih menyimpan sesuatu.
"Mbah, saya punya kerudung dia. Ketinggalan waktu dia masih tinggal di sini. Belum saya buang, masih di gudang."
"Nah, itu cukup."
Mbah Parto mengangguk puas. Namun, sebelum bubar, beliau memegang bahuku dan menatapku dalam-dalam.
"Nduk, besok malam apa pun yang terjadi, kamu jangan keluar rumah. Jangan sekali-kali."
"Iya, Mbah."
"Dan satu lagi. Jangan bangunkan anak itu."
"Fany?"
"Iya."
Aku ingin bertanya kenapa, tapi entah kenapa tak jadi.
***
Seharian itu rumah terasa seperti orang yang menahan napas.
Aku sibuk mengurus keperluan yang diminta Mbah. Garam kasar dan kemiri gampang, tinggal ke warung Mbak Nana. Air dari tujuh sumur yang repot. Untung tetangga-tetangga di sini masih banyak yang punya sumur bor, jadi aku hanya perlu berkeliling dengan botol air mineral kosong sambil menahan malu ketika ditanya untuk apa.
"Buat obat, Bu," jawabku setiap kali.
"Obat apa?"
"Obat kepala. Suami saya sakit kepala terus."
Mereka mengangguk-angguk, dan aku pulang dengan tujuh botol dan satu kebohongan.
Sore harinya, Fany memanggilku ke kamar tamu.
"Mbak, Mbah Parto mau ngapain sih malem ini?"
"Ngobatin Mas Arif."
"Bohong," ucapnya datar, "aku denger dari tadi pagi. Kalian mau manggil orang, `kan?"
Aku terdiam.
"Mbak, hati-hati. Aku ngerasa aneh sejak sampai rumah ini kemarin," lanjutnya, "kayak ada yang nunggu."
"Nunggu apa?"
"Nunggu dibukain pintu."
Aku mengelus kepalanya dan menyuruhnya istirahat. Namun, kalimat itu menempel di kepalaku sampai magrib tiba.
***
Besok malamnya, rumah kami sudah disiapkan sejak selepas magrib.
Karpet ruang tamu digulung. Di tengahnya Mbah Parto menabur garam membentuk lingkaran, cukup lebar untuk memuat satu orang duduk. Di keempat sudut ruangan, beliau meletakkan segelas air. Kerudung Sarah dibentangkan di tengah lingkaran garam itu.
Mas Arif tetap di kamar, terikat dan tertutup matanya. Fany kami pindahkan ke kamar tamu dan disuruh tidur lebih awal dengan alasan capek perjalanan. Bibi berjaga di dapur, memegang tasbih.
Aku duduk di sudut, memeluk lutut, menghitung detik.
Pukul sepuluh lewat, Mbah mulai membaca.
Awalnya tidak terjadi apa-apa. Setengah jam, satu jam. Yang terdengar hanya suara beliau dan detak jam dinding.
Lalu lampu ruang tamu meredup. Bukan mati, hanya meredup, seperti tegangannya turun. Bau melati menyeruak dari arah pintu depan.
Kemudian, ketukan.
Tiga kali, pelan, sopan sekali. Seperti tamu yang datang di jam bertamu.
"Mbah ...," bisikku.
"Diam. Jangan bergerak."
Ketukan itu berulang. Tiga kali lagi. Lalu berhenti.
Pintu depan terbuka sendiri, padahal aku sendiri yang mengunci dan menyimpan kuncinya di saku daster.
Dia berdiri di sana.
Sarah, dengan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuh kecuali mata. Rambutnya basah, meneteskan air ke lantai teras. Kakinya telanjang dan berlumur tanah.
"Assalamualaikum, Kak," ucapnya.
Aku tidak menjawab. Lidahku kelu.
"Masuk," ucap Mbah Parto, "duduk di situ."
Anehnya, Sarah menurut. Ia melangkah masuk dan duduk tepat di tengah lingkaran garam itu, di atas kerudungnya sendiri. Senyumnya terlihat dari lipatan kain yang menutupi wajah.
"Bibi, talinya!" seru Mbah.
Bibi berlari dari dapur membawa gulungan tali. Namun, baru tiga langkah, wanita paruh baya itu berhenti mendadak.
Tali di tangannya jatuh.
"Bi?" panggilku.
Kepalanya terkulai ke samping. Kemudian ia tertawa, dan tawanya sama sekali bukan tawa Bi Inem.
"Astagfirullah!"
Bibi menyerang. Kukunya mengarah ke wajahku, tapi Mbah Parto lebih cepat menarikku ke belakang. Wanita itu mengamuk, menghantam meja, menendang gelas-gelas air di sudut ruangan sampai tumpah semua.
"Bawa dia ke kamarnya! Kunci dari luar!" teriak Mbah.
Aku setengah menyeret, setengah mendorong Bibi ke kamarnya. Ia meronta, mencakar lenganku sampai berdarah, tapi entah dari mana aku mendapat tenaga untuk mendorongnya masuk dan membanting pintu. Kunci kuputar dua kali.
Dari dalam terdengar suara benda-benda dibanting dan tawa yang tak berhenti.
"Bi, sabar, ya! Bibi bukan Bibi sekarang!" teriakku sambil menahan pintu dengan punggung. Air mataku sudah tumpah entah sejak kapan. Wanita itu satu-satunya orang di rumah ini yang tak pernah meninggalkanku, dan malam ini aku menguncinya seperti mengurung binatang.
Ketika aku kembali ke ruang tamu, semuanya sudah kacau.
Lingkaran garam itu berantakan. Sarah sudah tidak duduk lagi, ia berdiri di ambang pintu kamar kami. Penutup wajahnya sudah dibuka.
"Kamu! Jangan masuk ke sana!" teriakku.
Ia menoleh sekilas, tersenyum, lalu masuk.
Aku berlari menyusul. Terlambat. Ikatan di tangan dan kaki Mas Arif sudah terlepas semua, kain penutup matanya tergeletak di lantai. Suamiku duduk di tepi ranjang, matanya terbuka lebar dan merah seluruhnya.
"Sayang," ucap Sarah sambil mengulurkan tangan.
Mas Arif meraih tangan itu.
"Mas! Jangan!"
Mbah Parto masuk sambil membacakan sesuatu dengan suara keras, tangannya terangkat ke arah wanita itu. Untuk sesaat, Sarah tampak kesakitan. Ia menunduk, memegangi kepalanya, dan menjerit melengking sampai kaca jendela bergetar.
"Keluar dari rumah ini!" bentak Mbah.
"Kau ...."
Suara yang keluar dari mulut Sarah berubah. Berat, serak, dan bukan suara perempuan.
"Kau yang sudah mati, kenapa hidup lagi?"
Mbah Parto tidak menjawab. Beliau maju selangkah dan mencengkeram pergelangan tangan wanita itu.
Yang terjadi berikutnya begitu cepat.
Tangan Sarah bergerak, menangkap leher Mbah Parto, lalu mengangkat tubuh lelaki tua itu sampai kakinya hampir tak menyentuh lantai. Aku menjerit. Kupukul punggung Sarah dengan kedua tangan, kutarik rambutnya, kucakar lengannya. Ia tidak bergeming sedikit pun, seperti memukul dinding batu.
"Lepasin Mbah! Lepasin!"
Kepala Mbah Parto terkulai. Dari sudut bibirnya keluar darah, menetes ke lantai. Sarah melepaskan begitu saja, dan tubuh ringkih itu jatuh menghantam lantai dengan bunyi yang membuat dadaku sesak.
"Mbah!"
Belum sempat aku menghampiri, tangan Sarah sudah menangkap bahuku.
Ia melemparku.
Tubuhku terpelanting ke arah lemari pakaian, punggungku menghantam sudut pintunya, kepalaku terbentur lantai. Sesaat penglihatanku menghitam, telingaku berdenging, dan seluruh punggungku terasa seperti dibakar.
Dari kejauhan, samar-samar, kudengar suara pintu kamar tamu terbuka.
"Mbak!" teriak Fany.
Gadis itu terseok-seok menuju ke arahku sambil berpegangan pada dinding, kaki gipsnya diseret. Wajahnya pucat pasi.
"Mbak! Mbak Risti, bangun!"
Kucoba mengangkat kepala. Yang terlihat pertama adalah kaki Mbah Parto yang tak bergerak, lalu darah kecil yang menggenang di dekat mulut beliau.
Setelah itu sepasang kaki telanjang yang berlumur tanah, berjalan pelan menuju ranjang tempat suamiku duduk.
Dan suara Sarah yang tertawa pelan, puas sekali, seperti orang yang baru saja memenangkan sesuatu yang sudah lama diperjuangkan.