"Fotonya mana? Boleh saya lihat lagi?" tanya Pak Aji.
Aku masuk ke kamar dan mengambil album pernikahan yang selama ini sengaja kusembunyikan di rak paling bawah. Di halaman terakhir ada satu foto yang tak pernah sanggup kubuang, foto akad Mas Arif dengan Sarah, lengkap dengan wajah kedua orang tua wanita itu yang berdiri kaku di belakang.
Pak Aji menerimanya, lalu memandangi cukup lama.
"Yang di belakang ini orang tuanya?" tanyanya.
"Katanya begitu, Pak. Cuma aneh, sepanjang acara mereka diem aja. Gak senyum, gak ngomong, gak makan."
"Ndak makan sama sekali?"
"Sama sekali, Pak. Piringnya masih penuh sampai acara bubar."
Pak Aji dan Mbah Parto saling beradu tatap. Ada sesuatu di tatapan itu yang membuatku tak berani bertanya.
"Ini orang tuanya sudah ndak ada, To," ucap Pak Aji pelan.
"Maksudnya udah meninggal, Pak?" tanyaku.
"Iya. Sudah lama."
Rasanya seperti ditusuk dari belakang. Aku hadir di pernikahan itu, aku sendiri yang mendandani pengantinnya, dan sekarang ada yang bilang wali yang duduk di situ bukan manusia.
"Terus yang nikahin gimana, Pak? Kan ada penghulu, ada saksi."
"Nanti kita cari tau. Yang penting sekarang, kita gali dulu masa lalunya," jawab beliau.
***
Keesokan harinya aku dan Fany berkeliling mencari keterangan.
Yang pertama tentu warung Mbak Nana, karena kalau soal kabar, wanita itu lebih cepat daripada koran.
"Sarah? Yang tinggal di komplek belakang itu?" tanyanya sambil menyusun gorengan.
"Iya, Mbak. Mbak tau dia pindah ke sini kapan?"
"Kira-kira setahun lebih. Waktu itu saya sempet ketemu pas dia nyari kontrakan. Katanya janda, mau tinggal sendiri, cari tempat sepi. Yang aneh itu, Bu, dia nyarinya bukan rumah bagus. Dia nyari rumah yang paling lama kosong."
Aku dan Fany saling beradu tatap.
"Nyari rumah kosong yang paling lama, Mbak?"
"Iya. Katanya biar murah. Tapi ya, saya heran juga. Orang biasanya nyari rumah yang enak ditinggali, bukan yang paling angker."
"Dia dulu tinggal di mana sebelum ke sini?"
Mbak Nana menggeleng. "Gak pernah cerita, Bu. Ditanya juga jawabannya muter-muter."
Setelah itu kami mampir ke rumah Pak RT yang baru, pengganti almarhum Pak Burhan. Beliau membuka buku catatan penduduk, membolak-balik halamannya, lalu menggeleng.
"Ndak ada nama itu, Bu. Yang di komplek belakang memang ndak pernah lapor. Dulu Pak Burhan sempat mau ngurus, tapi keburu beliau sakit."
Sebelum pulang, kami sempat mampir ke komplek itu sekali lagi. Kali ini siang bolong, jadi keberanianku sedikit lebih besar. Rumah Sarah tetap tergembok, tapi ada yang berubah. Papan-papan yang dulu dipaku di jendela sudah dicopot, dan di teras ada bekas air yang belum kering.
Ada yang baru saja ke sini.
"Mbak, kita pulang, yuk," bisik Fany sambil menarik lenganku, "ada yang liatin kita dari rumah sebelah."
Aku menoleh cepat. Jendela rumah sebelah tertutup rapat, tapi tirainya masih bergoyang.
Sepanjang jalan pulang, Fany diam sambil menatap keluar jendela mobil.
"Mbak," ucapnya tiba-tiba, "kalau orang pindah rumah nyari yang paling angker, itu artinya apa?"
"Artinya dia butuh yang di dalamnya, Dek. Bukan rumahnya."
***
Sore itu aku menceritakan sesuatu yang sejak kemarin mengganjal.
"Pak Aji, waktu itu saya ditinggal Mbah Parto sendirian di pemakaman. Iseng saya baca-baca nisan. Ada dua nama yang rasanya kayak pernah saya denger."
"Nama apa?"
"Mayang sama Raka."
Pak Aji yang tadinya bersandar santai langsung menegakkan punggung.
"Kamu yakin dua nama itu?"
"Yakin, Pak. Sebelahan makamnya, di bagian yang paling gak keurus."
Beliau menatap Mbah Parto lama sekali, lalu mengusap wajah dengan kedua telapak tangan.
"Berarti benar dugaan saya, To. Dia ndak sendirian dari dulu."
"Maksudnya gimana, Pak?" tanyaku.
"Nanti. Jangan sekarang," jawabnya, "kalau kamu tahu setengah-setengah, kamu malah nekat sendiri. Saya sudah sering lihat yang begitu, ujungnya celaka."
Aku ingin memaksa, tapi Mbah Parto menggeleng pelan dari kursinya. Akhirnya kuurungkan.
Malam itu, sebelum tidur, aku sempat menelepon nomor Mas Arif untuk kesekian kalinya. Tetap tidak aktif. Sudah enam hari sejak ia dibawa pergi wanita itu, dan tak ada satu pun kabar.
Bibi menemaniku di dapur sambil merebus air.
"Bu, nanti kalau Pak Arif pulang, jangan langsung dimarahi, ya," ucapnya.
"Kenapa, Bi?"
"Kasihan. Dia yang paling gak berdaya di antara kita semua. Kita masih bisa lari, dia enggak."
Kalimat sederhana itu membuatku menangis lagi di dapur, seperti biasanya.
***
Malamnya, Pak Aji menyiapkan segelas air.
Baunya sama seperti kemarin, amis dan pahit sekaligus, tapi kali ini lebih kental. Warnanya keruh kecokelatan seperti air rebusan akar.
"Diminum sampai habis," ucapnya.
"Ini buat apa, Pak?"
"Buat membuka jalan. Kamu ini sudah lama diikuti, jadi mereka pasti mau ketemu kamu. Malam ini kita kasih kesempatan."
"Ketemu gimana, Pak? Saya takut."
"Kamu tidur seperti biasa. Nanti mereka yang datang." Beliau menatapku serius, "dengar baik-baik. Di sana, apa pun yang ditawarkan sama kamu, jangan diterima. Jangan makan, jangan minum, jangan pegang tangan siapa pun."
"Kalau saya lupa gimana?"
"Makanya jangan lupa."
Kutelan air itu dengan susah payah, hampir muntah tiga kali. Setelahnya Pak Aji menepuk ubun-ubunku dan menyuruhku masuk kamar.
Fany menemaniku sampai aku berbaring. Ia duduk di lantai, bersandar di sisi ranjang.
"Mbak, aku jagain di sini aja, ya?"
"Kaki kamu masih sakit, Dek. Tidur di kamar sendiri sana."
"Gak papa. Aku takut Mbak kenapa-napa."
Akhirnya kubiarkan. Lampu kamar sengaja tidak dimatikan. Dari luar terdengar Mbah Parto dan Pak Aji membaca sesuatu bergantian, pelan sekali, seperti orang berbisik.
Kupejamkan mata sambil terus mengingat pesan tadi. Jangan makan, jangan minum, jangan pegang tangan siapa pun.
***
Aku terbangun di sebuah tempat yang sangat terang.
Bukan terang matahari, lebih seperti terang lampu yang menyala dari mana-mana sekaligus, sampai tidak ada satu pun benda yang punya bayangan. Itu yang pertama kali kusadari. Kakiku sendiri tidak punya bayangan.
Aku berdiri di halaman sebuah rumah besar bergaya lama. Tiangnya kayu, dindingnya papan, atapnya tinggi sekali. Halamannya luas, ditanami bunga-bunga yang warnanya terlalu menyala untuk disebut wajar.
"Halo?" panggilku.
Suaraku tidak bergema. Padahal halaman ini luas dan rumah di depanku besar. Suara yang keluar dari mulutku seperti langsung ditelan udara, habis begitu saja.
Tidak ada jawaban. Namun, ketika aku berjalan mengelilingi rumah itu, barulah kulihat mereka.
Orang-orang.
Puluhan, mungkin lebih. Mereka duduk berjajar di sepanjang teras samping, semuanya menunduk, semuanya sedang mengerjakan sesuatu. Ada yang menumbuk sesuatu di lesung. Ada yang menganyam. Ada yang hanya menggosok lantai dengan sabut kelapa, terus-menerus, di petak yang sama.
Tidak ada satu pun yang bersuara.
"Bu? Permisi, Bu," sapaku pada perempuan yang paling dekat.
Ia tidak mendongak. Tangannya terus menumbuk, padahal lesung di depannya kosong.
Kuguncang bahunya, dan barulah wajah itu terangkat.
Aku mundur sampai terjatuh.
Wajahnya kering seperti kulit yang dijemur bertahun-tahun. Matanya masih ada, masih bergerak, masih menatapku. Hanya saja tak ada satu pun tanda kehidupan di sana.
Perempuan itu kembali menunduk dan melanjutkan pekerjaannya.
Aku bangkit dan berlari ke arah pagar. Namun, aneh, berapa lama pun aku berlari, pagar itu tetap sejauh tadi. Halaman ini tidak pernah habis.
Di tengah halaman ada meja panjang penuh makanan. Nasi tumpeng, ayam, buah-buahan, air kelapa muda yang masih berembun di gelasnya. Semuanya terlihat baru, semuanya wangi. Perutku langsung berbunyi, padahal seingatku tadi sebelum tidur aku sudah makan.
Tanganku hampir meraih salah satu gelas ketika sesuatu di kepalaku berbunyi seperti alarm.
Jangan makan. Jangan minum.
Kutarik tangan itu cepat-cepat dan kumundur beberapa langkah. Anehnya, begitu aku menjauh, aroma makanan itu berubah. Bukan wangi lagi, melainkan bau bangkai. Bau yang sudah terlalu sering kucium di rumahku sendiri.
Napasku memburu. Aku berbalik, kembali ke teras, dan barulah kusadari sesuatu yang lebih mengerikan lagi.
Di ujung barisan itu, ada beberapa yang tidak lagi bekerja. Mereka tergeletak, ditumpuk rapi seperti karung, kaku dengan mulut terbuka. Tak ada yang mengurus. Tak ada yang peduli. Orang-orang di sebelahnya terus bekerja seolah tumpukan itu bagian dari perabot.
"Ya Allah ...."
Pintu rumah besar itu terbuka.
Seorang perempuan keluar, berjalan pelan menuruni tangga kayu. Bajunya bagus sekali, kain panjang dengan selendang yang menjuntai. Rambutnya disanggul rapi. Wajahnya cantik, sangat cantik, tapi ada yang salah dengan cara ia tersenyum.
Orang-orang di teras berhenti bekerja serentak. Semuanya menunduk lebih dalam, seperti memberi hormat. Bahkan yang sedang menumbuk pun meletakkan alunya pelan-pelan ke tanah.
Kakiku menolak bergerak.
"Kamu yang baru, ya?" tanyanya ramah, seperti tuan rumah menyambut tamu, "sudah lama sekali saya menunggu kamu datang sendiri."