"Vro, kamu tunggu di bawah aja, ya," ucapku dengan nada yang sudah tidak bisa kusembunyikan lagi.
"Iya, Mbak. Maaf."
Anak itu turun sambil menunduk. Fany menatap punggungnya sampai hilang di ujung tangga, lalu menutup pintu kamarnya.
"Maaf ya, Mbak. Aku gak nyuruh dia naik," ucapnya.
"Dek, kamu cek barang-barang kamu. Sekarang."
"Hah? Emangnya dia maling?"
"Cek aja. Mbak minta tolong."
Meski wajahnya bingung, Fany menurut. Ia memeriksa laci, dompet, perhiasan pemberian mendiang ibunya, sampai isi tasnya. Semua lengkap.
"Gak ada yang hilang kok, Mbak."
Aku menghela napas lega, meski entah kenapa, rasanya tetap ada yang salah. Baru ketika Fany mengambil sisir di atas meja rias, wajahnya berubah.
"Loh?"
"Kenapa?"
"Sisir aku ... rambutnya gak ada."
"Maksudnya?"
"Ini sisir aku dari kemarin gak pernah dibersihin, Mbak. Rambut aku `kan rontok banget belakangan, biasanya nyangkut banyak di sini." Ia mengangkat sisir itu, memeriksanya dari segala sisi, "sekarang bersih. Kayak baru dicuci."
Tubuhku mendadak dingin. Aku merebut sisir itu dan memeriksanya sendiri. Bersih, bahkan di sela-sela gigi sisirnya pun tidak ada satu helai pun.
Bibi bersumpah tidak pernah masuk kamar Fany hari itu. Bahkan menyapu pun tidak, katanya, karena Fany sudah minta agar kamarnya jangan disentuh siapa-siapa selama ia tak ada.
"Dek, mulai sekarang Alvaro gak boleh masuk rumah ini lagi," ucapku tegas.
"Mbak, jangan gitu dong. Nanti dia tersinggung."
"Terserah dia mau tersinggung atau enggak. Ini rumah Mbak."
Fany menunduk, memainkan ujung handuk yang masih melingkar di kepalanya.
"Mbak beneran curiga sama dia?"
"Dek, Mbak udah pernah salah karena kelamaan mikir. Waktu itu ada perempuan datang ke rumah ini, semua orang bilang Mbak lebay, Mbak curigaan," jawabku, "abis itu tiga orang meninggal."
Gadis itu terdiam. Untuk pertama kalinya sejak tadi, wajahnya berubah takut.
"Ya udah, Mbak. Aku bilangin dia."
***
Kehadiran Ibu di rumah ini benar-benar mengubah suasananya.
Baru dua hari beliau di sini, tapi rasanya seperti sudah bertahun-tahun. Bibi jadi punya teman mengobrol di dapur. Fany jadi punya orang yang mengelus kepalanya sebelum tidur. Bahkan Mas Arif jadi lebih sering makan di rumah, katanya masakan mertuanya juara.
Malam kedua, kami makan bersama, ramai sekali. Bibi memasak pecel, ikan goreng, dan sambal terasi. Mas Arif sampai menambah nasi tiga kali dan langsung diledek Ibu.
Untuk beberapa jam, rumah ini benar-benar terasa seperti rumah.
***
Namun, kegembiraan itu berhenti ketika aku mengantar Ibu ke kamar tamu malam itu.
Beliau berdiri di tengah kamar, memutar badan pelan-pelan, kemudian menghela napas panjang.
"Nak."
"Iya, Bu?"
"Rumah kamu ini ramai, ya?"
Aku terdiam. "Ramai gimana, Bu?"
"Ya ramai. Yang kelihatan cuma lima orang, yang ndak kelihatan lebih banyak."
Kakiku lemas seketika. Kuletakkan tas di lantai, lalu duduk di tepi ranjang.
"Ibu ... bisa lihat?"
"Ibu ndak bisa lihat, Nak. Ibu cuma ngerasa," jawab beliau sambil membuka kerudung, "dari dulu memang begitu. Kamu ingat waktu kecil, tiap kali kamu mau sakit, Ibu selalu tau sehari sebelumnya?"
Aku mengangguk pelan. Sejak kecil aku menganggap itu naluri ibu-ibu biasa.
"Nak, jujur sama Ibu. Yang kemarin kamu ceritain di telepon itu, semuanya atau cuma sebagian?"
Aku menunduk.
"Sebagian, Bu."
Ibu tidak marah. Beliau hanya menepuk tempat di sebelahnya, menyuruhku duduk lebih dekat, lalu mendengarkan sampai lewat tengah malam.
Kuceritakan semuanya kali ini. Sarah, pernikahan yang tidak pernah kuizinkan, Tania yang dipotong tangan dan kakinya, Pak Burhan sekeluarga, Mbak Ningsih yang mati di sel, sampai Mbah Parto yang dua kali kutangisi.
Ibu tidak menangis. Beliau juga tidak menyuruhku bercerai seperti yang selama ini kutakutkan. Beliau hanya mengangguk-angguk, sesekali memejamkan mata, seperti orang yang sedang menimbang berat sesuatu.
"Nak," ucapnya di akhir, "yang begituan itu ndak berhenti sendiri."
"Tapi orangnya udah meninggal, Bu."
"Barangnya ndak ikut mati."
Kalimat itu persis seperti yang dikatakan Pak Aji di pemakaman.
"Terus gimana, Bu?"
"Ibu ndak tau caranya. Ibu ini cuma orang kampung," jawabnya sambil tersenyum tipis, "tapi Ibu tau satu hal. Yang begituan selalu butuh tangan manusia. Ndak bisa jalan sendiri. Jadi kalau kamu mau cari, jangan cari setannya. Cari orangnya."
***
Dion datang keesokan harinya.
Anaknya tinggi, kulitnya sawo matang, rambutnya cepak. Bicaranya sopan tapi tidak berlebihan. Ia datang membawa satu kardus buah dan langsung salim ke Ibu, ke aku, dan ke Mas Arif.
"Saya Dion, Mas. Temennya Fany," ucapnya sambil menjabat tangan suamiku.
"Temen apa temen?" goda Mas Arif.
"Ya ... yang lagi diusahain, Mas."
Semua tertawa, termasuk Fany yang wajahnya sudah merah padam.
Anak itu langsung disukai semua orang di rumah ini. Ia membantu Bibi mengangkat galon tanpa disuruh. Ia mendengarkan cerita Ibu soal kampung tanpa terlihat bosan. Ia bahkan sempat memperbaiki keran kamar mandi yang sudah dua minggu menetes.
"Mbak, saya boleh cerita sesuatu?" tanyanya ketika kami sedang duduk berdua di teras.
"Boleh, kenapa?"
"Fany itu sering cerita soal Mbak. Katanya kalau bukan karena Mbak, dia mungkin udah nyusul orang tuanya."
Aku terdiam, tak tahu harus menjawab apa.
"Makasih ya, Mbak. Beneran," lanjutnya.
"Kamu jaga dia baik-baik, Yon. Anak itu udah kehilangan terlalu banyak."
"Siap, Mbak."
Yang paling melegakan, Ibu pun langsung menyukainya. Padahal beliau termasuk orang yang susah dibuat percaya.
"Anak itu bagus, Nak," ucap Ibu di dapur, "hatinya bersih. Kelihatan dari cara dia ngomong sama pembantu."
"Bibi bukan pembantu, Bu. Udah kayak keluarga."
"Nah, itu maksud Ibu. Dia juga ngeliatnya begitu."
Aku tersenyum. Setidaknya, kalau nanti terjadi apa-apa lagi, Fany tidak akan sendirian.
Sore itu Dion sempat menanyakan sesuatu yang membuatku terdiam.
"Mbak, Fany pernah cerita soal temen kampusnya yang namanya Alvaro?"
"Pernah. Kenapa?"
"Gak papa. Cuma kemarin dia nge-chat saya, ngaku-ngaku pacarnya Fany," jawabnya sambil tertawa hambar, "aneh aja. Saya gak pernah kasih nomor saya ke dia."
***
Sore itu mereka berencana keluar makan.
Fany sudah rapi, sudah memakai sepatu, tinggal menunggu Dion memanaskan motor. Namun, baru sampai di teras, gadis itu tiba-tiba berpegangan pada tiang.
"Dek?"
"Mbak ... kepala aku sakit banget."
Belum sempat kutangkap, tubuhnya sudah merosot ke lantai teras. Dion langsung melompat dari motor dan menahannya.
Kami membopongnya ke kamar. Ibu memeriksa dahinya, membuka kelopak matanya, memijat tengkuknya.
"Panas, tapi bukan panas biasa," gumam Ibu.
"Maksudnya gimana, Bu?"
"Kulitnya dingin, tapi dalemnya panas."
Fany membuka mata sebentar, menggumamkan sesuatu yang tak jelas, lalu tertidur lagi.
"Bawa ke rumah sakit aja, Mbak?" tanya Dion panik.
"Nanti kalau makin parah kita bawa. Sekarang biarin dia istirahat dulu," jawabku.
Kubuka jendela kamar Fany supaya udara masuk. Ketika hendak menutup tirai, mataku menangkap sesuatu di ambang jendela bagian luar.
Serbuk halus berwarna kecokelatan, seperti tanah kering yang ditaburkan tipis di sepanjang kusen. Kuusap dengan jari, lalu kucium.
Bau tanah kuburan.
Kucuci tanganku sampai tiga kali di kamar mandi, dan sengaja tidak menceritakannya pada siapa pun malam itu. Bukan karena ingin menyembunyikan, tapi karena satu rumah sudah cukup panik tanpa tambahan dariku.
Sampai pukul sepuluh malam, kondisinya tidak berubah. Dion tetap duduk di lantai depan kamar Fany, bersandar di dinding, tidak mau pulang meski sudah kusuruh berkali-kali.
"Gak enak sama Mas Arif, Mbak, tapi saya gak bisa pulang," ucapnya, "kalau saya pulang terus dia kenapa-napa, saya gak bakal maafin diri sendiri."
Akhirnya Mas Arif sendiri yang menyuruhnya tidur di kamar tamu bawah.
***
Sekitar pukul dua dini hari, Ibu mengetuk pintu kamarku.
"Nak, bangun."
"Kenapa, Bu?" tanyaku sambil mengucek mata.
"Ikut Ibu."
Beliau menuntunku ke jendela ruang tengah lantai atas, lalu menyibak tirainya sedikit. Dari situ terlihat jelas halaman depan yang disinari lampu jalan.
Ada orang berdiri di sana.
Di luar pagar, tepat di bawah pohon mangga, seseorang berdiri diam menghadap ke rumah. Kepalanya mendongak, menatap ke arah jendela kamar Fany.
Jantungku berdegup kencang.
"Bu, itu siapa?"
"Ibu ndak tau. Dari tadi berdiri di situ, ndak gerak sama sekali."
Kunyalakan senter ponsel dan kuarahkan ke sana.
Sosok itu tidak lari, tidak menutup wajah, tidak melakukan apa pun. Ia hanya menoleh perlahan ke arah cahaya, lalu berjalan pergi dengan santai, seperti orang yang memang sudah selesai dengan urusannya.
Motornya diparkir agak jauh, di seberang jalan. Warnanya putih.
"Nak?"
"Ibu ...," lirihku dengan suara bergetar, "aku kayaknya tau itu siapa."
Ibu tidak bertanya lebih lanjut. Beliau hanya menggenggam tanganku dan mengajakku duduk sampai subuh, sambil membaca sesuatu yang tak pernah berhenti dari bibirnya sampai azan berkumandang.
Aku tak sempat tidur sama sekali malam itu.