Perjalanan ke Kedungwaru memakan waktu hampir dua jam.
Fany duduk di tengah, disangga bantal, kepalanya bersandar di bahu Bi Inem. Sesekali matanya terbuka, memandangi jendela tanpa fokus, lalu terpejam lagi. Ibu duduk di depan bersama Mas Arif, sementara aku dan Dion duduk di baris paling belakang.
Anak itu tidak bicara sama sekali sampai kami melewati pertigaan pasar.
"Mbak," panggilnya tiba-tiba.
"Ya?"
"Kalau nanti dia sembuh, saya mau langsung lamar dia."
Aku tersenyum tipis. "Kenapa buru-buru?"
"Bukan buru-buru, Mbak. Saya cuma capek jadi orang yang gak punya hak apa-apa," jawabnya sambil menatap ke depan, "tadi pas Ibu bilang saya belum halal, saya gak bisa ngebantah. Emang bener. Saya cuma pacar. Kalau ada apa-apa sama dia, yang dipanggil rumah sakit bukan saya."
Kutepuk bahunya pelan. "Sembuhin dia dulu, Yon. Nanti Mbak yang bantu ngomong."
"Beneran, Mbak?"
"Beneran. Lagian Mbak juga udah gak sabar pengen ada acara seneng-seneng di keluarga ini."
***
Bude sudah menunggu di depan rumah ketika mobil kami masuk halaman.
Beliau memakai kebaya lusuh dan kain batik, rambutnya disanggul kecil. Begitu pintu mobil terbuka, hal pertama yang dilakukannya bukan menyapa kami, melainkan langsung menghampiri Fany dan memegang keningnya.
"Ya Allah, kurusnya," ucap beliau, "masuk, masuk. Sudah Bude siapin kamarnya."
Kamar Mbah Parto sudah dibersihkan sampai mengilap. Kasurnya dijemur, seprainya baru, jendelanya dibuka lebar-lebar sehingga angin sawah masuk bebas ke dalam. Ada bau kapur barus dan minyak kayu putih yang entah kenapa langsung membuat dadaku terasa lapang.
Bi Inem berdiri di ambang pintu sambil menatap sekeliling.
"Bude ...," lirihnya.
Bude menoleh, memicingkan mata, lalu tiba-tiba berteriak.
"Inem?! Ya Allah, Inem!"
Dua perempuan tua itu berpelukan di tengah ruangan sambil menangis dan tertawa bersamaan. Katanya sudah belasan tahun tidak bertemu sejak Bi Inem pindah mengikuti anaknya.
Untuk sesaat, aku hampir lupa kenapa kami datang ke sini.
Farhan datang membawa dua ember air dari sumur belakang, disusul Bu Atun yang langsung sibuk menata bantal. Rumah kecil itu mendadak ramai, dan anehnya, keramaian itu justru membuat dadaku terasa lebih longgar daripada berhari-hari terakhir di rumahku sendiri yang jauh lebih besar.
***
Bu Atun dan Farhan datang tak lama kemudian, membawa nasi dan lauk.
"Ini `kan sudah keluarga sendiri, jadi ndak usah sungkan," ucap Bu Atun sambil menata piring, "kalau butuh apa-apa, teriak saja. Rumah saya cuma di sebelah."
Farhan membantu memindahkan tiang infus dan menggeser lemari agar ranjang Fany dekat jendela. Anak itu semakin tinggi sejak terakhir kali kulihat.
Setelah semua tertata, Bude dan Ibu duduk berdua di samping ranjang. Mereka bicara pelan, sesekali menunjuk bagian tubuh Fany, sesekali menggeleng.
"Gimana, Bude?" tanyaku akhirnya.
"Yang nempel di anak ini ndak sekuat yang dulu di suamimu," jawab beliau, "tapi ngeyel. Dia ndak mau lepas karena masih ada talinya."
"Tali apa, Bude?"
"Barangnya, Nduk. Selama barangnya masih utuh dan masih ada yang ngasih makan, dia ndak akan pergi."
"Kalau barangnya ketemu terus dimusnahkan?"
"Ya lepas."
Aku menghela napas. Semuanya kembali ke satu hal yang sama, dan kami sama sekali tidak tahu di mana benda itu berada.
Ketika Bude sedang menyeka wajahnya dengan air, Fany tiba-tiba membuka mata. Bukan membuka setengah seperti tadi, tapi benar-benar terbuka dan menatap ke satu arah.
"Dek?" panggilku sambil menggenggam tangannya.
Bibirnya bergerak. Suaranya nyaris tak terdengar, jadi aku harus menempelkan telinga ke dekat mulutnya.
"Mbak ... dia marah kalau aku diajak jauh-jauh."
"Siapa yang marah, Dek?"
"Aku gak boleh cerita."
"Fany, siapa?"
Matanya bergerak ke arahku, dan untuk pertama kalinya sejak dua hari ini, aku melihat gadis itu benar-benar ada di dalam sana. Ketakutan, tapi ada.
"Nanti Mbak juga kena."
Setelah itu ia memejamkan mata lagi dan tidak bicara sampai kami pulang.
***
Menjelang asar, kami harus pulang.
Bagian ini yang paling berat. Dion berdiri di ambang pintu kamar itu selama sepuluh menit penuh, tidak bergerak, hanya menatap Fany yang terbaring.
"Yon, ayo," panggil Mas Arif.
"Bentar, Mas."
Ia masuk, berjongkok di samping ranjang, lalu berbisik entah apa di telinga gadis itu. Setelah selesai, ia mengusap kepala Fany sekali, kemudian keluar tanpa menoleh lagi.
Ibu memelukku di halaman.
"Kamu jaga diri, Nak. Jangan lupa makan."
"Ibu juga."
"Kalau ada apa-apa, telepon. Jangan disimpan sendiri lagi."
"Iya, Bu."
Mobil kami keluar dari halaman itu ketika matahari mulai turun. Dari kaca spion, kulihat Ibu, Bude, dan Bi Inem berdiri berjajar di teras sambil melambaikan tangan.
***
Rumah terasa aneh begitu kami sampai.
Bukan angker, bukan menyeramkan. Cuma sepi.
Kamar Fany kosong. Kamar Bibi kosong. Kamar tamu depan kosong. Dapur bersih karena tidak ada yang memasak. Ruang tengah tidak ada suara televisi karena tidak ada yang menonton.
Tinggal aku dan Mas Arif.
"Kayak balik ke awal-awal nikah, ya," ucap suamiku sambil menaruh kunci di meja.
"Iya. Cuma dulu rumahnya kecil dan aku gak takut sama gelap."
Ia tertawa kecil, lalu duduk di sofa dan menepuk tempat di sebelahnya.
Malam itu kami makan mi instan berdua di ruang tengah, sesuatu yang sudah bertahun-tahun tidak kami lakukan. Anehnya, di tengah semua kekacauan ini, aku sempat merasa bahagia.
"Dek, badan kamu gimana?" tanyanya di sela-sela makan.
"Ya gitu, Mas. Kadang mual, kadang pusing. Paling kecapean."
"Besok periksa, ya."
"Nanti aja kalau Fany udah baikan."
"Nah, itu yang Mas gak suka," ucapnya sambil meletakkan sendok, "kamu selalu naruh diri sendiri paling belakang. Waktu Mas sakit, kamu yang ngurus sampai kamu keguguran. Sekarang Fany sakit, kamu lagi yang ngurus."
"Ya masa aku diem aja, Mas."
"Bukan diem. Cuma jangan sampai nanti giliran kamu yang ambruk, terus gak ada yang ngurus."
Aku tidak membalas. Kalau jujur, tubuhku memang sudah lama memberi tanda-tanda yang kuabaikan. Namun, di rumah ini, siapa yang punya waktu untuk sakit?
***
Selesai makan, Mas Arif mengeluarkan ponselnya dan memutar sesuatu untuk kesekian kalinya.
Rekaman itu.
Suaranya sudah kami dengar puluhan kali sejak kemarin, tapi tetap saja membuat bulu kudukku berdiri. Berkas suara yang tersimpan sendiri di ponsel Fany, tertanggal dini hari, dengan durasi empat menit lebih.
Awalnya hanya derik jangkrik. Lalu suara napas. Lalu suara seorang laki-laki yang berbicara sangat pelan, seperti orang membaca sesuatu berulang-ulang di dekat ranjang.
"Mas, ini kita bawa ke polisi aja gimana?" tanyaku.
"Terus Mas bilang apa, Dek? Pak, ini ada rekaman orang komat-kamit di kamar keponakan saya, tolong tangkap?"
"Ya minimal ada laporan masuk."
"Yang direkam ini bahkan gak ketauan siapa. Gak ada namanya, gak ada mukanya," jawab Mas Arif sambil mengusap wajah, "dan yang paling repot, Dek, kamar Fany itu lantai dua. Jendelanya ketutup. Pintunya dikunci dari dalem."
Aku terdiam. Itu bagian yang sengaja kami hindari sejak kemarin.
Kalau memang ada manusia yang masuk ke kamar itu, ia masuk lewat mana?
Kuputar sekali lagi bagian yang paling akhir. Di detik-detik terakhir rekaman itu, sebelum berhenti sendiri, ada satu suara lain yang terdengar sangat samar. Suara perempuan, jauh sekali, seperti dari luar rumah.
Suara itu memanggil satu nama, dan sampai sekarang kami berdua belum bisa memastikan nama apa yang disebut.
"Mas, coba dinaikin volumenya."
"Udah mentok, Dek."
"Aku denger kayak dua suku kata."
"Iya, tapi bisa apa aja."
Kami mendengarkannya lima kali lagi malam itu, dan tetap tidak ada yang berani menyebut tebakannya masing-masing dengan suara keras.
"Mas," ucapku pelan, "berarti yang kita lawan sekarang ada dua. Yang gak keliatan, sama yang keliatan."
"Iya. Dan yang keliatan itu yang bisa kita seret ke kantor polisi. Makanya jangan gegabah, kita kumpulin dulu."
***
Sebelum tidur, aku sempat membuka kalender di dinding dapur.
Kebiasaan lama, warisan dari Ibu, mencoret tanggal yang sudah lewat dengan pulpen merah. Sudah lama tak kulakukan karena beberapa bulan terakhir hari-hari berlalu tanpa terasa.
Kucoret satu per satu sampai berhenti di tanggal besok.
Di bawah angkanya ada tulisan kecil berwarna hijau, tulisan yang dicetak di semua kalender murah dari toko bangunan.
Jumat Kliwon.
Bulu kudukku berdiri, padahal tidak ada apa-apa. Padahal itu cuma tanggal, cuma tulisan kecil di kertas, cuma nama hari yang berputar setiap tiga puluh lima hari sekali.
Namun, entah kenapa, tanganku berhenti mencoret dan pulpen itu kuletakkan begitu saja di meja.
Kutengok jam dinding. Sudah lewat tengah malam. Artinya, secara hitungan orang tua di kampung, malam itu sudah dimulai sejak magrib tadi.
Kumatikan lampu dapur dan berjalan cepat menuju kamar, sambil menghitung dalam hati, seperti anak kecil yang takut gelap.