Lelaki itu menoleh, lalu buru-buru melepas topi dan menundukkan kepala.
"Maaf, Bu. Saya cuma ziarah."
Aku menghela napas lega. Bukan orang yang kubayangkan. Umurnya sudah di atas enam puluh, badannya kurus, bajunya kebesaran. Di tangannya ada kantong plastik berisi bunga dan sebotol air mineral.
"Ziarah ke makam siapa, Pak?"
"Anak saya."
Kutengok makam yang ada di depannya. Nisan miring, tanah bekas galian, lubang selebar ember di bagian kepala.
Jantungku berdegup kencang.
"Bapak ... bapaknya Naya?"
Ia mendongak cepat, matanya membelalak.
"Ibu tau nama anak saya?"
"Tau, Pak."
"Dari siapa?"
Bingung juga harus menjawab apa. Masa kubilang bahwa yang memberi tahu adalah anaknya sendiri, lewat mimpi ibuku, setiap malam selama seminggu.
"Nanti saya ceritakan, Pak. Duduk dulu."
***
Namanya Pak Sanip.
Kami duduk di undakan batu dekat pagar bambu itu, karena kaki lelaki tua itu gemetar hebat setelah melihat kondisi makam anaknya. Ia sempat berlutut, mengambil tanah dengan tangan telanjang dan berusaha menimbun lubang itu, sampai kucegah karena tangannya sudah berdarah kena pecahan bata.
"Sudah, Pak. Nanti kita panggil penjaganya."
"Anak saya, Bu. Anak saya diapain lagi ...."
Ia menangis dengan cara yang paling menyakitkan untuk dilihat. Tanpa suara, tanpa raungan, hanya bahu yang berguncang dan air mata yang jatuh ke tanah.
Butuh hampir sepuluh menit sampai ia bisa bicara lagi.
"Ibu ini siapa? Kok tau Naya?"
Kuceritakan seadanya. Tentang ibuku yang setiap malam melihat perempuan muda berdiri di ujung kasurnya. Tentang satu nama yang diucapkan berulang-ulang. Tentang aku yang mencari-cari sampai ke sini.
Pak Sanip mendengarkan sambil terus menunduk.
"Dia datang ke orang lain," gumamnya, "ke saya ndak pernah."
"Bapak sekarang tinggal di mana?"
"Di Purwodadi, ikut adik saya. Sudah tiga tahun."
"Kenapa baru sekarang ziarah, Pak?"
Ia diam agak lama sebelum menjawab.
"Karena baru sekarang saya berani."
"Berani gimana, Pak? Bapak takut sama siapa?"
Ia tidak langsung menjawab. Matanya menyapu deretan makam di sekitar kami, lalu berhenti di pagar bambu yang sudah lapuk.
"Bu, kalau saya cerita, Ibu mau percaya?"
"Insya Allah percaya, Pak. Saya sendiri sudah kehilangan banyak orang gara-gara hal yang kalau saya ceritakan ke orang lain, pasti saya dibilang gila."
Mendengar itu, bahu lelaki tua itu turun sedikit, seperti orang yang akhirnya boleh meletakkan beban yang dipanggulnya bertahun-tahun.
***
Yang ia ceritakan setelah itu membuat tanganku dingin sampai ke ujung jari.
Tiga tahun lalu, Pak Sanip tinggal berdua dengan Naya di rumah paling ujung komplek itu. Istrinya sudah lama meninggal. Naya bekerja di toko kelontong, anak yang penurut, tak pernah macam-macam.
Waktu itu ekonomi mereka sedang susah. Datanglah seseorang menawarkan uang sewa untuk bagian belakang rumah. Katanya cuma untuk menyimpan barang, tidak akan mengganggu.
"Saya bodoh, Bu. Saya terima," ucapnya, "uangnya banyak, dibayar setahun di depan."
"Yang nyewa siapa, Pak?"
"Perempuan tua. Saya cuma tau dipanggil Bude sama orang-orangnya."
Kupejamkan mata sesaat. Perempuan tua tanpa gigi depan yang duduk di kamar belakang rumah itu.
"Bulan-bulan pertama aman. Ndak ada apa-apa," lanjutnya, "cuma memang ada yang datang malam-malam, terus pulang subuh. Saya ndak pernah tanya."
"Terus?"
"Terus Naya mulai ngeluh. Katanya sering denger orang nangis dari belakang. Katanya baunya ndak enak. Saya bilang, sudah, ndak usah dipikir, itu urusan orang."
Suaranya mulai bergetar lagi.
"Sampai satu malam, dia nekat masuk ke belakang."
Aku menahan napas.
"Dia lihat apa, Pak?"
"Saya ndak tau, Bu. Sampai sekarang saya ndak tau," jawabnya, "dia lari ke kamar, ngunci pintu, ndak mau keluar dua hari. Ndak makan, ndak minum, cuma nangis. Waktu saya paksa buka, badannya sudah panas sekali."
"Bapak bawa ke dokter?"
"Mau. Tapi sorenya dia sudah ndak ada."
Kutepuk punggung tangannya, karena aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa.
"Umurnya berapa waktu itu, Pak?"
"Dua puluh dua. Baru saja mau lamaran, Bu," jawabnya, "calonnya anak Purwokerto. Sudah beli cincin. Sekarang saya ndak tau anak itu di mana."
"Bapak gak ngasih kabar ke dia?"
"Ndak berani. Waktu itu saya cuma bisa ngunci diri di rumah adik saya sebulan penuh."
"Yang bikin saya ndak bisa tidur sampai sekarang bukan itu, Bu," ucapnya lagi, "tapi yang habis itu."
"Habis itu gimana, Pak?"
"Orang-orang itu yang ngurus semuanya. Yang mandiin, yang kafanin, yang gali kuburnya. Saya ndak boleh ikut apa-apa. Saya cuma disuruh tanda tangan surat."
"Bapak diem aja?"
"Saya diancam, Bu."
Ia mengangkat wajahnya, dan untuk pertama kalinya aku melihat mata yang benar-benar kosong.
"Mereka bilang, kalau saya ribut, yang berikutnya bukan anak saya lagi. Yang berikutnya adik saya sekeluarga. Saya cuma tukang becak, Bu. Saya bisa apa?"
***
Mbah Tejo datang tak lama kemudian, membawa cangkul dan sekantong plastik berisi kain putih baru.
Begitu melihat Pak Sanip, beliau langsung menyalami dan memeluknya. Rupanya mereka saling kenal sejak dulu.
"Nip, sabar, ya. Kamu jangan lihat lubangnya. Biar saya yang urus."
"Jo, anak saya diambil apanya?"
"Jangan tanya itu."
"Jo!"
Mbah Tejo menghela napas panjang, lalu duduk di samping lelaki itu.
"Kafannya. Sama tanah bagian kepala."
Pak Sanip menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Setelah itu Mbah Tejo bekerja. Beliau membersihkan lubang, menutupnya kembali dengan tanah baru, memasang kain putih di bagian dalam, lalu menegakkan nisan yang miring itu dan memadatkan tanah di sekelilingnya.
Sebelum selesai, beliau memanggilku.
"Nak, sini sebentar."
Kudekati, lalu beliau menunjuk sesuatu di dekat nisan. Ada benda hitam kecil, sudah setengah terkubur, kira-kira sebesar kepalan tangan anak-anak. Terbungkus kain yang warnanya sudah tak jelas lagi, diikat kawat berkarat.
"Ini apa, Mbah?"
"Ini yang dipasang waktu dia dikubur," jawab beliau, "makanya makam ini ndak pernah bisa didoakan dengan tenang."
"Diambil aja, Mbah?"
"Ndak sembarangan. Ini harus ada yang berani angkat dan ada yang berani musnahkan," ucapnya, "kalau salah, yang kena orang yang ngangkat."
Kutatap benda itu lama sekali, lalu kutarik napas panjang.
"Mbah, tolong jangan disentuh dulu. Saya bawa orang dulu."
"Siapa yang mau kamu bawa?"
"Belum tau, Mbah. Yang jelas, orang yang biasa saya andalkan sudah gak ada semua."
Mbah Tejo mengangguk pelan, lalu menancapkan cangkulnya ke tanah.
"Nak, saya kasih tau satu hal," ucapnya, "barang begini itu ndak bisa dilawan sama satu orang. Dulu Parto pun ndak pernah kerja sendiri. Selalu ada yang bacain dari luar, selalu ada yang jaga pintu."
"Terus saya harus gimana, Mbah?"
"Cari orang. Yang penting bukan yang paling sakti, tapi yang paling ndak takut."
***
Sebelum pulang, aku sempat bertanya satu hal terakhir pada Pak Sanip.
"Pak, orang yang nyewa rumah Bapak itu masih ada?"
"Setahu saya masih. Rumahnya malah sudah dibeli."
"Dibeli? Sama siapa?"
"Ndak tau, Bu. Yang urus surat-suratnya anak muda," jawabnya, "saya cuma sekali ketemu, waktu tanda tangan di kantor notaris. Anaknya sopan, ngomongnya halus. Malah dia yang antar saya pulang ke terminal."
Tanganku mengepal sendiri di dalam saku.
"Bapak masih ingat mukanya?"
"Ingat, Bu. Saya ndak bakal lupa."
Kutuliskan nomor ponselku, kuberikan pada beliau, dan kuminta beliau menginap dulu di rumah adiknya di kota ini sebelum pulang ke Purwodadi.
"Pak, nanti saya hubungi. Ada yang mau saya tunjukkan ke Bapak."
"Foto orangnya?"
"Iya."
"Kalau mukanya beda gimana, Bu?"
"Ya berarti saya salah orang, Pak. Dan saya bakal minta maaf ke dia, di depan Bapak juga."
Lelaki tua itu mengangguk pelan.
"Bu, kalau memang dia yang bikin anak saya begini," ucapnya dengan suara yang mendadak tenang, "saya ndak minta apa-apa. Saya cuma minta dilihatin mukanya sekali lagi."
***
Aku sampai rumah menjelang asar.
Ibu masih berbaring, tapi panasnya sudah turun. Beliau bahkan sudah bisa duduk dan minum teh sendiri. Kuceritakan semuanya, dan anehnya, semakin panjang ceritaku, semakin cerah wajah beliau.
"Alhamdulillah," ucap Ibu.
"Kok alhamdulillah, Bu? Kan belum selesai."
"Anak itu sudah dapat yang dicari, Nak. Bapaknya datang."
Kupegang tangan Ibu yang masih hangat.
"Bu, tapi masih ada barang di makamnya."
"Ya, itu urusan besok."
"Bu, semalem Naya masih datang?"
"Ndak."
Aku menegakkan punggung. "Beneran gak datang, Bu?"
"Beneran. Semalam Ibu tidur nyenyak, baru sekali ini sejak sampai di sini," jawab beliau, "makanya Ibu bilang alhamdulillah. Dia ndak perlu berdiri di kamar Ibu lagi karena yang dia cari sudah ketemu."
Setelah memastikan Ibu makan, aku naik ke lantai atas sambil membawa semangkuk bubur dan sebotol air.
Dari luar kamar sudah terdengar suara Bi Inem yang sedang mengipasi sambil bersenandung pelan.
Namun, begitu pintu kubuka, senandung itu berhenti dan bau yang menyambutku membuat langkahku terhenti di ambang pintu.
Mangkuk bubur di tanganku hampir tumpah.
"Bi ...."
"Iya, Bu," jawab Bi Inem tanpa menoleh, "dari tadi pagi."
Bau nanah.