Setelah keputusan untuk menjajaki diplomasi, Laras merasa beban tanggung jawabnya sedikit berkurang, meskipun rasa cemas masih terus mengganggunya. Ia tahu, apapun yang terjadi, langkah ini tidak bisa dianggap enteng. Diplomasi adalah jalan yang berbahaya—setiap kata yang diucapkan bisa memperburuk keadaan, dan jika kesepakatan gagal, perang bisa menjadi pilihan terakhir yang tak terhindarkan.
Laras melangkah ke ruang rapat kembali, kali ini dengan semangat yang sedikit lebih tegar. Ia memerlukan waktu untuk menenangkan pikirannya sebelum bertemu dengan utusan yang akan dikirim. Di luar pintu ruang rapat, Kael menunggunya, bersama dengan seorang pria yang tampaknya sudah cukup berpengalaman dalam urusan diplomatik.
"Yang Mulia," kata Kael, menyapa dengan hormat saat Laras memasuki ruangan. "Ini adalah Master Lennar, salah satu diplomat terbaik kita. Ia akan memimpin pertemuan ini dengan pihak Solan."
Laras mengangguk ringan. Lennar adalah pria berusia sekitar empat puluh tahun, dengan rambut pendek yang sedikit beruban di sisi-sisinya. Matanya yang tajam menunjukkan pengalamannya dalam berbagai perundingan penting. Laras merasa sedikit lega mengetahui bahwa utusan yang akan dikirim adalah seseorang yang berpengalaman. Namun, keraguan tetap mengganjal hatinya.
"Saya mendengar banyak hal baik tentang Anda, Master Lennar," kata Laras dengan suara yang tegas namun ramah. "Saya berharap kita dapat mencapai kesepakatan yang baik dengan pihak Solan."
Lennar membungkuk dengan hormat. "Saya akan berusaha semaksimal mungkin, Yang Mulia. Kami akan membawa pesan Anda dengan penuh kehormatan."
Laras mengambil napas dalam-dalam, menenangkan dirinya. "Apakah Anda sudah mempersiapkan pesan yang akan disampaikan?" tanyanya.
"Ya, Yang Mulia," jawab Lennar, membuka gulungan peta yang lebih kecil di atas meja. "Saya telah merumuskan sebuah surat resmi untuk Raja Solan yang menjelaskan niat kami untuk berdialog dan mencari jalan damai. Kita juga akan menawarkan pertemuan tatap muka untuk membahas kondisi yang ada."
Laras menatap surat itu, merasa sedikit cemas. Begitu banyak yang bisa salah dalam pertemuan pertama. Jika Solan menolak tawaran ini, maka semua harapan akan hancur, dan kerajaan ini mungkin akan terjerumus dalam peperangan yang bisa menghancurkan semuanya.
"Aku berharap ini berjalan lancar," kata Laras, suara tegas meskipun hatinya masih ragu. "Apakah kalian siap untuk berangkat?"
Kael mengangguk. "Kami sudah siap, Yang Mulia. Utusan akan berangkat dalam dua hari."
Laras mengangguk. "Baiklah. Saya akan menunggu kabar dari kalian."
Ketika Kael dan Lennar pergi untuk mempersiapkan perjalanan, Laras duduk sendiri di ruangannya, merenung. Semua ini terasa begitu cepat. Hanya beberapa hari yang lalu, dia masih seorang gadis biasa yang tidak tahu apa-apa tentang politik kerajaan. Namun sekarang, dia harus memimpin sebuah kerajaan yang penuh dengan intrik dan ancaman.
Namun, satu hal yang tidak bisa Laras lupakan adalah Kael. Ada sesuatu yang tidak biasa dalam diri Jenderal itu. Kael selalu tampak tenang, terkontrol, tetapi di balik sikap dinginnya, Laras merasakan ada sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang menariknya. Tetapi, Laras tahu bahwa ia harus fokus pada tugasnya—sebagai ratu, ia tidak bisa membiarkan perasaan pribadi mengganggu kewajibannya.
Beberapa hari kemudian, kabar dari Lennar dan Kael datang. Mereka telah sampai di Solan dan telah disambut dengan penuh kehormatan oleh pihak kerajaan. Namun, yang lebih mengejutkan adalah kabar bahwa Raja Solan, Raja Drayden, menyetujui pertemuan tatap muka untuk membahas masalah ini.
Laras merasa sedikit lega mendengar kabar tersebut. Pertemuan itu, meskipun penuh ketegangan, memberi mereka kesempatan untuk membicarakan perdamaian sebelum semuanya terlambat.
Pada hari pertemuan, Laras duduk di ruang rapat kerajaan, menunggu kabar. Kael dan Lennar telah berangkat menuju Solan untuk bertemu dengan Raja Drayden. Waktu berjalan sangat lambat, dan semakin lama Laras semakin cemas. Hatinya berdebar-debar, khawatir akan hasil dari pertemuan itu.
Akhirnya, setelah beberapa jam yang terasa seperti bertahun-tahun, Kael dan Lennar kembali. Mereka memasuki ruang rapat dengan wajah yang serius, dan Laras bisa merasakan ketegangan di udara.
"Bagaimana hasil pertemuannya?" tanya Laras, suaranya sedikit gemetar karena ketegangan.
Kael berdiri tegak, dan Lennar membuka mulutnya, tetapi Kael yang lebih dulu bicara. "Yang Mulia," katanya, "Raja Drayden telah setuju untuk melakukan pertemuan lebih lanjut. Namun, ada syarat yang cukup berat."
Laras menatap Kael dengan serius. "Apa syaratnya?"
Lennar menghela napas, kemudian berkata, "Raja Drayden meminta agar Arvenia menyerahkan sebagian wilayah perbatasan sebagai tanda niat baik kami. Jika itu tidak disetujui, perundingan ini akan berakhir."
Laras merasa tenggorokannya tercekat. Wilayah perbatasan? Itu berarti sebagian dari tanah kerajaan yang ia cintai harus dilepaskan demi menjaga perdamaian. Ini adalah keputusan yang berat, dan meskipun ia ingin menjaga perdamaian, ia juga tidak bisa begitu saja menyerahkan tanah yang telah menjadi bagian dari Arvenia selama berabad-abad.
"Ini terlalu berat," kata Laras, merasa kepala pusing. "Kami tidak bisa begitu saja menyerahkan tanah kami."
Kael mengangguk. "Memang, Yang Mulia. Tetapi, ini adalah jalan yang harus kita pertimbangkan. Kita bisa menunggu, tetapi jika kita menunggu terlalu lama, perang mungkin tidak bisa dihindari."
Laras terdiam, berpikir keras. Ini adalah titik balik yang menentukan. Ia tahu bahwa setiap keputusan yang ia buat akan membawa dampak besar bagi rakyatnya.
"Aku... Aku akan memikirkan ini lebih matang," kata Laras akhirnya, suaranya berat. "Ini bukan keputusan yang mudah."
"Yang Mulia," Kael berkata dengan penuh hormat, "apapun keputusan Anda, kami akan mendukungnya."
Laras menatap mereka dengan tegas. Ini adalah jalan yang penuh ketidakpastian, tetapi satu hal yang pasti—keputusan apapun yang ia ambil, itu adalah tanggung jawabnya sebagai ratu.