Pagi masih menyisakan dingin saat Sumi selesai membereskan dagangannya. Panci kuah sudah mendidih sejak subuh. Bakso yang dibentuk semalam sudah tertata rapi di dalam baskom. Waluyo pun sudah siap mendorong gerobak menuju emperan tempat mereka berjualan selama bertahun-tahun.
Sumi teringat ucapannya pada Angga dan teman-temannya kemarin. Dia sudah berjanji akan mengajak anak gadisnya ke warung. Biar Ranti punya kegiatan. Biar Ranti punya teman. Biar Ranti tak mengurung diri di kontrakan sempit itu sepanjang hari.
“Ran... Ranti! Bangun Nok! Sudah siang!” Sumi mengetuk pintu kamar anak gadisnya.
Tak ada jawaban dari dalam. Sumi kembali mengetuk pintu kamar Ranti. Kali ini lebih keras dari sebelumnya.
“Ranti! Mbok bangun to Nok! Ibu sama bapak mau berangkat jualan!” Sumi kembali memanggil.
“Iya Bu, sebentar!” Terdengar suara Ranti dari dalam kamar dengan nada malas.
Tak lama pintu kamar terbuka. Ranti keluar dengan rambut acak-acakan serta mata yang belum sepenuhnya terbuka. Ranti mengucek kedua matanya sembari menguap panjang.
“Ada apa to Bu, pagi-pagi sudah teriak-teriak?” Ranti duduk di kursi ruang tamu.
“Kamu ikut Ibu ke warung ya Ran? Sekalian bantu-bantu Ibu sama bapak. Kasihan kamu di sini sendirian terus. Ndak punya teman, ndak punya kegiatan.” Sumi menyampaikan maksudnya.
“Ke warung? Ngapain Bu? Ranti kan capek, baru juga sampai Jakarta kemarin.” Ranti menolak.
“Lha wong kamu ndak ngapa-ngapain kok capek! Kamu itu di kontrakan cuma tidur sama main HP. Yang capek itu Ibu sama bapakmu Nok.” Sumi tak habis pikir.
“Ya kan Ranti masih penyesuaian Bu! Jakarta itu beda sama Solo. Panasnya beda, udaranya juga beda.” Ranti mencari alasan.
“Sudah to, ikut saja! Di warung itu ramai. Banyak orang kantoran yang makan di situ. Sapa tahu kamu bisa kenalan, terus dapat informasi lowongan kerja.” Sumi membujuk.
Kalimat terakhir ibunya membuat Ranti terdiam. Orang kantoran. Dua kata itu langsung menyalakan sesuatu di kepala Ranti. Sejak di Solo, Ranti selalu membayangkan dirinya berjalan di lantai gedung tinggi dengan rok span dan sepatu berhak. Bukan berdiri di depan gerobak bakso.
“Orang kantoran Bu? Memangnya warung Ibu di dekat kantor?” Ranti mulai tertarik.
“Iya to! Warung Ibu itu di emperan depan gedung-gedung kantor. Jam istirahat, karyawan pada makan di warung Ibu. Ada yang jadi bos, ada yang jadi karyawan biasa. Macam-macam.” Sumi menjelaskan.
“Terus kemarin Ibu sudah bilang sama mas Angga. Dia itu karyawan yang sudah dipercaya bosnya. Katanya nanti mau dicarikan informasi lowongan buat kamu.” Sumi melanjutkan.
“Ya sudah, Ranti ikut Bu!” Ranti langsung beranjak menuju kamar mandi.
Sumi tersenyum sendiri melihat sikap anaknya. Baru disebut orang kantoran, Ranti langsung bersemangat. Padahal sebelumnya Ranti beralasan capek dan butuh penyesuaian.
“Dasar anak muda! Kalau ndak ada untungnya, ndak mau gerak. Baru disebut kantoran, langsung mandi tanpa disuruh dua kali.” Sumi berucap sendiri sembari menggelengkan kepala.
Waluyo yang sedari tadi menunggu di depan pintu ikut tersenyum. Bagi Waluyo, apa pun alasannya yang penting anak gadisnya mau keluar rumah. Waluyo tak ingin Ranti terus mengurung diri di kontrakan.
“Bu, Bapak berangkat duluan ya? Nanti Ibu sama Ranti nyusul!” Waluyo mulai mendorong gerobaknya.
“Iya Pak, hati-hati!” Sumi mengiyakan.
Setengah jam berlalu. Ranti belum juga keluar dari kamar. Sumi yang sudah siap dengan tas kain berisi daun bawang dan seledri mulai gelisah.
“Ran, kok lama to? Kita mau jualan, bukan mau kondangan!” Sumi memanggil dari ruang tamu.
“Sebentar Bu, tanggung!” Jawab Ranti dari dalam kamar.
Saat pintu kamar terbuka, Sumi hanya bisa terpana. Ranti keluar dengan wajah berbedak tebal, bibir merah, rambut ditata rapi, serta wangi parfum yang menyeruak ke seluruh ruangan. Pakaiannya pun bukan pakaian untuk membantu berjualan.
“Ya ampun Nok! Kamu ini mau bantu Ibu jualan bakso apa mau foto-foto?” Sumi terkejut.
“Ya biar rapi to Bu! Kata Ibu tadi di sana banyak orang kantoran. Masa Ranti datang dengan muka bantal.” Ranti membela diri.
“Owalah Nok. Nanti bedak kamu itu luntur kena uap kuah. Wangi kamu juga bakal kalah sama bau bawang goreng.” Sumi memberi tahu.
“Biar Bu! Yang penting Ranti sudah usaha.” Ranti tetap pada pendiriannya.
Sumi tak mau berdebat lebih lama. Waktu terus berjalan dan pembeli tak mau menunggu. Sumi mengajak Ranti segera berangkat.
Sepanjang jalan menuju warung, Ranti tak berhenti mengeluh. Gang kontrakan yang sempit, air comberan yang menghitam, sampai jalan berlubang yang membuat sandalnya kotor.
“Bu, kok jalannya begini banget sih? Katanya Jakarta itu kota besar?” Ranti mengangkat sedikit ujung celananya.
“Jakarta memang kota besar Nok. Tapi ndak semua tempat di Jakarta itu bagus. Yang bagus itu di dalam gedung, bukan di gang kaya begini.” Sumi menjawab apa adanya.
Kurang lebih lima belas menit berjalan kaki, mereka tiba di tempat berjualan. Ranti berhenti melangkah. Kedua matanya menyapu tempat yang ditunjuk ibunya.
Sebuah gerobak kayu dengan kaca yang mulai buram. Terpal biru menjadi atap. Beberapa kursi plastik yang warnanya sudah pudar berjajar di bawahnya. Tepat di pinggir jalan besar, di trotoar depan pagar sebuah gedung perkantoran.
“Ini Bu warungnya?” Tanya Ranti dengan suara pelan.
“Iya to! Kenapa?” Sumi mulai menata mangkuk.
“Ranti kira warung yang ada bangunannya Bu. Yang ada pintunya, ada temboknya, ada kipas anginnya.” Ranti tampak kecewa.
“Ya kalau punya bangunan, Ibu ndak perlu jualan di pinggir jalan Nok. Sewa tempat itu mahal. Ibu sama bapakmu ndak sanggup.” Sumi menjelaskan tanpa tersinggung.
Ranti terdiam. Selama ini yang Ranti tahu, orang tuanya berjualan bakso di Jakarta dan setiap bulan mengirim uang untuknya di kampung. Ranti membayangkan orang tuanya punya warung yang nyaman. Ranti tak pernah membayangkan orang tuanya berjualan di emperan seperti ini.
“Ran, ayo bantu Ibu! Itu mangkuknya dilap dulu, terus daun bawangnya dipotong kecil-kecil!” Waluyo memberi tugas pada anak gadisnya.
Ranti menuruti perintah bapaknya meski dengan wajah masam. Tangannya yang belum terbiasa memegang pisau dapur bekerja lambat. Potongan daun bawangnya pun tak beraturan. Ada yang panjang, ada yang terlalu halus.
“Nok, potongnya jangan sambil melamun! Nanti jarimu ikut kepotong.” Waluyo mengingatkan.
“Iya Pak!” Ranti menjawab singkat.
Tak lama, seorang perempuan paruh baya penjual gorengan yang mangkal di sebelah warung Sumi mendekat sembari membawa dua bungkus tahu isi.
“Lho Bu Sumi, ini sapa? Kok ada yang baru?” Tanya perempuan itu sembari memperhatikan Ranti.
“Ini anak saya Bu Ijah. Namanya Ranti. Baru datang dari Solo kemarin.” Sumi memperkenalkan dengan wajah berseri.
“Owalah, jadi ini yang sering Ibu ceritakan itu? Ayu tenan! Mirip ibunya waktu muda.” Bu Ijah memuji.
“Bisa saja Bu Ijah ini!” Sumi tertawa kecil.
“Sudah kerja Nok?” Tanya Bu Ijah pada Ranti.
“Belum Bu. Baru mau cari-cari.” Ranti menjawab seadanya.
“Ya di Jakarta itu banyak kerjaan Nok. Asal mau saja. Anak Ibu dulu juga begitu, awalnya jaga toko, sekarang sudah jadi kasir di minimarket.” Bu Ijah bercerita.
“Kasir Bu?” Ranti mengangkat alisnya.
“Iya, kasir. Enak lho, di dalam, ada pendinginnya. Gajinya juga lumayan buat anak baru lulus.” Bu Ijah menjelaskan.
Ranti hanya mengangguk. Di dalam hatinya, kasir minimarket masih terlalu rendah dari impiannya. Ranti tak mau kerja yang sekadar di dalam ruangan. Ranti ingin kerja yang bisa dibanggakan kalau ditanya teman-temannya di kampung.
Bu Ijah kembali ke lapak gorengannya. Ranti melanjutkan pekerjaannya sembari menahan bosan.
Matahari mulai naik. Panasnya menembus terpal biru di atas kepala Ranti. Keringat mulai membasahi pelipis Ranti. Bedak yang tadi disapu tebal-tebal mulai luntur bersama keringat.
Ranti berkali-kali mengelap wajahnya dengan tisu. Setiap kali ada kendaraan besar lewat, debu ikut beterbangan lalu menempel di kulitnya yang lembap.
“Aduh, gerah banget! Baru sebentar sudah begini, gimana kalau seharian?” Ranti berucap sendiri.
Sesekali Ranti melirik ke arah gedung di seberang jalan. Di balik kaca gelap gedung itu, Ranti bisa melihat bayangan orang berlalu lalang dengan pakaian rapi. Ada yang membawa map, ada yang menempelkan ponsel di telinga.
Beberapa dari mereka keluar dari lobi gedung. Perempuan dengan kemeja putih, rok hitam selutut, rambut dijepit rapi, serta kartu tanda pengenal menggantung di leher. Berjalan dengan sepatu berhak yang berbunyi di lantai lobi.
Ranti memperhatikan mereka tanpa berkedip. Rasa iri perlahan memenuhi dada Ranti. Perempuan-perempuan itu sebaya dengannya. Bedanya, mereka berada di dalam gedung berpendingin dan Ranti berada di bawah terpal yang panas.
“Enak ya jadi mereka. Kerja di dalam, bersih, wangi, ndak kena debu.” Ranti berucap sendiri.
“Kamu lihat apa to Ran?” Tanya Sumi yang melihat anaknya melamun ke arah gedung.
“Itu Bu, yang pakai kemeja putih. Mereka kerja apa Bu?” Ranti menunjuk dengan dagunya.
“Ibu ndak tahu Nok. Yang Ibu tahu mereka itu karyawan. Ada yang jaga meja depan, ada yang di dalam, ada yang bawa map ke sana ke mari.” Sumi menjawab apa adanya.
“Ranti pengin kaya mereka Bu. Pengin jadi sekretaris. Pakai seragam, kerjanya di ruang ber-AC, gajinya besar.” Ranti menyampaikan impiannya.
Ingatan Ranti melayang pada masa sekolahnya di Solo. Saat itu Ranti selalu jadi bahan bicara teman-temannya. Sepatunya paling baru, ponselnya paling bagus, uang jajannya paling banyak. Semua karena kiriman dari orang tuanya di Jakarta.
Teman-teman Ranti selalu berkata bahwa orang tua Ranti pasti sukses besar di Jakarta. Ranti tak pernah membantah. Ranti justru menikmati pujian itu. Ranti pun ikut membayangkan hal yang sama.
Sekarang Ranti melihat sendiri dari mana uang jajannya selama ini berasal. Dari gerobak kayu di bawah terpal biru. Dari tangan ibunya yang setiap hari terkena uap panas.
“Kalau Asih tahu Ibu sama bapakku jualan di emperan begini, dia bakal ngomong apa ya?” Ranti berucap dalam hati.
Rasa malu itu muncul begitu saja. Ranti sendiri bingung kenapa dia harus malu pada pekerjaan yang selama ini menghidupinya.
“Ya semoga saja Nok. Yang penting kamu usaha, jangan cuma pengin. Nanti kalau mas Angga sama teman-temannya datang, kamu ngobrol sama mereka. Tanya-tanya soal kerjaan.” Sumi memberi saran.
“Mas Angga itu yang mana Bu? Yang sering Ibu ceritakan itu?” Ranti ingin tahu.
“Iya, yang sering Ibu ceritakan. Orangnya baik, ndak neko-neko. Dia itu sudah jadi orang kepercayaan bosnya. Nanti dia datang bareng dua temannya, mas Anton sama mas Dicky.” Sumi menjelaskan.
“Mereka kerja di gedung itu Bu?” Ranti kembali melirik gedung di seberang jalan.
“Ndak di situ. Kantornya agak masuk, di jalan sebelah. Tapi tiap istirahat pasti ke sini.” Sumi menjawab.
Mendengar itu, semangat Ranti sedikit kembali. Rasa gerah dan lelah yang tadi memenuhi kepalanya seolah tersisih oleh satu harapan. Bertemu orang kantoran yang bisa membantunya mendapatkan pekerjaan.
Ranti kembali mengelap wajahnya. Kali ini bukan sekadar mengelap keringat. Ranti merapikan rambutnya, membenarkan letak kerah bajunya, lalu menyapukan sedikit bedak dari kotak kecil yang dia bawa di dalam tas.
“Nok, kamu ini mau jualan apa mau ketemu pacar to?” Waluyo menggoda anak gadisnya.
“Ih, bapak! Ranti kan cuma mau rapi Pak. Kata Ibu nanti banyak orang kantoran.” Ranti tersipu.
Waluyo dan Sumi saling pandang lalu tertawa kecil. Bagi mereka, tingkah anak gadis satu-satunya itu lucu sekaligus membuat hati was-was.
Jarum jam terus bergerak. Aroma kuah bakso yang gurih mulai menyebar terbawa angin. Satu per satu pembeli mulai berdatangan. Suara sendok beradu dengan mangkuk mulai terdengar di sepanjang emperan.
Sebentar lagi jam istirahat kantor tiba. Sebentar lagi Ranti akan bertemu dengan tiga laki-laki yang selama ini hanya dia dengar namanya dari cerita ibunya. Tiga laki-laki yang tanpa Ranti sadari akan mengubah jalan hidupnya di kota besar ini.