Kak Bryan masih saja menertawakanku yang memberengut kesal di sampingnya. Kedua tangannya sibuk dengan roda kemudi, tapi matanya sesekali melirik ke arahku.
"Hai, sayang. Kenapa tidak mengabariku? Teleponku juga tidak kamu jawab."
Kak Bryan dengan wajah tak berdosa datang menghampiriku. Langkah tegap di depanku langsung berhenti, membuat Rehan juga ikut berhenti. Memutar tubuhnya yang dalam penglihatanku seolah sebuah gerak lambat yang detil. Ini pertanda bahaya.
Bola mata coklatnya memicing melihatku dan kak Bryan yang merangkul bahuku
"Maaf, pak." Aku menundukkan badan berkali-kali, meminta maaf pada pak Aldric.
Pria dingin itu terlihat ingin mengucapkan sesuatu dengan aura yang penuh kemarahan. Pandangannya kemudian bertemu dengan kak Bryan yang masih saja tak mau melepaskan rangkulannya. Malah dia memamerkan senyumannya sembari melirik ke arahku. Tanganku yang bergerak melepas tangannya dari bahuku tak membuahkan hasil. Meski aku sudah bergerak tak nyaman, dia tetap bersikukuh.
Pak Aldric menghembuskan nafas kasar. Ia mengangkat tangan kirinya di udara, melihat jam tangan yang aku tau pasti harganya mahal. "Sudah jam segini, kau boleh pulang. Kita lanjutkan besok."
Tanpa menunggu balasan dariku, dia berbalik dan diikuti oleh Rehan. Hei, bukankah saat dia mengajakku tadi juga sudah di luar jam kantor? Lalu untuk apa aku mengikutinya sejak tadi? Dasar pria menyebalkan!
Aku melotot marah pada kak Bryan. "Ini semua gara-gara kakak. Kalau aku dipecat gimana?" tanyaku dan menyikut perutnya.
"Auch!" Dia meringis sambil memegangi perutnya. "Itu sakit, sayang," rengeknya.
"Siapa suruh bikin aku malu di depan bosku?"
Kak Bryan lagi-lagi tertawa. "Tenang saja, dia tidak akan memecatmu," hiburnya. "Oh ya, kenapa tidak menjawab telefonku?"
"Kakak lupa kalau aku masih sama bosku?"
Sorotnya melembut. "Ya sudah, yuk pulang." Dia menarik tanganku menuju mobilnya yang sudah terparkir di depan lobi.
"Sampai kapan kakak akan tertawa terus?" kesalku.
"Maaf, sayang. Kakak hanya tidak bisa menahannya."
"Memangnya ada yang lucu?"
Ia menahan paksa mulutnya yang akan tertawa, hingga ia harus menggigit bibir dalamnya. Terlihat jelas dari ekspresi itu. "Maaf, maaf. Kakak tidak akan tertawa lagi. Bagaimana kalau kita makan malam dulu?" Oh, dia sedang membuat penawaran?
"Malas."
"Come on, sweetheart. Kakak kan sudah minta maaf." Tangan kirinya meraih tanganku yang ada di pangkuanku. Meremasnya dengan lembut. Tapi aku menepis tangannya dan melipat kedua tanganku di depan d**a. Bukan marah, hanya sedikit kesal dengannya.
Tiba-tiba dia menghentikan mobilnya. Menatapku dengan tatapan memohon. Bahkan masih memasang wajah lucunya yang membuatku tak bisa menahan tawa. "Makan malam?" tanyanya setelah melihatku tertawa.
"Hm." Aku hanya menggumam. Ia mengacak rambutku kemudian melajukan kembali mobilnya.
***
Clara muncul dengan wajah super hebohnya. Aku tidak tau dia muncul dari mana tiba-tiba. Apakah kak Bryan yang memberitahukan padanya kalau kami ada di tempat ini? Tapi perasaan sejak tadi kak Bryan tidak memegang ponselnya.
Jangan-jangan Clara punya kelebihan untuk menerawang keberadaan kami. Aduh, aku ini mikir apa coba.
"Selamat ya Ra, jadi calon kakak iparku." Clara tersenyum sumringah. Tapi kalimat singkat itu juga sukses membuat wajahku merona.
"Tau dari mana kami di sini?" tanyaku.
Clara menyengir. "Aku akan tau semua yang kalian lakukan," jawabnya. "Ya sudah, aku sudah lapar. Bukannya kesini mau makan ya?" lanjutnya tanpa dosa. Ia memegangi perutnya untuk mendramatisir keadaan.
"Mulai besok, berhentilah menguntit kami," peringat kak Bryan.
"Hei, aku hanya mengawasi kalian. Siapa tau kalian berbuat dosa, aku akan mengingatkan. Bukankah kalau sedang berduaan itu akan ada setan menjadi orang ketiga?"
"Dan kamu setannya!" balas kami bersamaan.
Clara bertepuk tangan. "Baru sehari jadian, kalian sudah kompak," cengirnya.
Acara makan malam kami disertai dengan pembicaraan ringan. Menanyai bagaimana pengalaman hari pertamaku. Keduanya tertawa saat aku bercerita bagaimana lelahnya kakiku hari ini.
"Benarkah dia sekejam itu?" tanya Clara. "Tapi sepertinya memang begitu. Mengingat kalau dia CEO terkenal, jadi bukan hal yang aneh jika bertindak seperti itu untuk karyawannya," lanjutnya.
"Tapi kenapa dia mirip banget sih sama kak Bryan? Sepupu baru ketemu? Atau kakak?" tanyaku.
Keduanya berpandangan tapi kemudian diiringi tawa paksa dari Clara. "Sudahlah, lupakan tentang dia. Sekarang waktunya kita senang-senang. Bagaimana dengan menonton?"
Kak Bryan memandang aneh pada adiknya itu. "Disini kami saja yang berkencan. Kamu sebaiknya pulang saja. Jangan mengganggu acara kami," katanya bercanda.
"Sebelum aku mendapat target baru, tidak salah kan jadi pengawal kalian dulu. Lumayan, gratis segalanya," balasnya sambil mencibir.
"Sepertinya aku tidak bisa. Aku harus mempersiapkan sesuatu," tolakku.
"Begitu ya? Ya sudah, kapan-kapan saja." Clara mengalah.
~~~
Pagi-pagi, kak Bryan sudah menampakkan wajahnya di depan rumah. Disertai senyum manisnya tentu saja.
"Pagi, kak," sapaku.
"Pagi sayang." Dia mencium keningku. "Kenapa menggunakan celana? Kurang pas dengan status sebagai sekretaris," komennya sambil membukakan pintu mobilnya untukku. Dia benar-benar pria yang manis.
"Perintah dari bos. Katanya tidak ingin sekretarisnya terlihat seperti penggoda. Dan aku memang sangat setuju. Aku kesana bukan untuk menggodanya. Kakak juga setuju kan?"
Kak Bryan hanya berdehem sambil menyalakan mesin mobil.
"Tapi sepertinya dia takut tergoda olehku," selorohku.
"Coba saja kalau dia berani mengambilmu dari kakak. Dia akan kehilangan tangannya."
Owh, singa galak!
"Jangan kabur ya nanti, kakak akan menunggumu di depan," kata kak Bryan setelah menghentikan mobilnya di depan kantorku.
Entah kenapa, saat aku melangkah masuk, pria itu juga sedang berjalan menuju lift yang khusus untuknya. Mau tak mau aku mempercepat langkahku untuk mengejarnya. Aku tidak ingin ia sampai menungguiku dan mencari bahan omelan baru nantinya.
Nafasku sedikit terengah saat memasuki lift. "Sebaiknya jaga sikap di kantor."
Apakah itu kalimat untukku?
"Maaf pak?" tanyaku.
"Tidak perlu memamerkan kemesraan di depan kantor."
Apa maksudnya?
Aku pikir apa yang aku lakukan tidak melebihi batas. Kak Bryan hanya mengantarkanku ke kantor. Tidak ada yang lain lagi.
Dia lagi pms sepertinya, jadi sedikit sensitif.
Atau cemburu karena dia baru patah hati?
Aku mendengus pelan di belakangnya. Tapi saat dia melirik ke arahku, aku hanya memasang muka bersalah.
Seperti hari kemarin, hari ini juga tidak jauh beda. Memang, aku lebih banyak duduk di kursiku dan mengurusi jadwalnya. Ikut meeting dengan beberapa kliennya yang memiliki janji temu hari ini.
Dan sesuai dengan yang disarankannya, aku tidak lagi mengenakan rok terkutuk itu. Cukup hari kemarin saja aku mendengar kalimat yang berhubungan dengan penampilan.
~~~
"Apa semua baik-baik saja?" tanya kak Bryan saat melihatku keluar. Tentu saja karena penampilanku yang memang perlu dipertanyakan. Hei, aku kelelahan. Sangat kelelahan. Aku rasa wajahku juga sudah sangat kucel.
"Hm," balasku hanya dengan deheman disertai anggukan kecil.
"Bagaimana kabar pacar kakak ini? Kenapa lesu banget?" godanya yang mau tak mau membuatku tersenyum. Apalagi melihat sikapnya yang menunjukkan perhatian padaku.
"Masuk saja, kak," kataku saat teringat kembali peringatan yang diberikan pagi tadi. Kak Bryan hanya menuruti meski aku lihat wajah penuh tanya di sana.
"Ada apa?" tanyanya sambil memasangkan sabuk pengaman di tubuhnya.
"Jalan saja dulu," balasku lesu. Tidak ada bantahan juga pertanyaan lagi. Mobil yang kemudikan olehnya sudah melaju. Kualihkan pandanganku ke luar jendela. Tapi sama sekali tidak menikmatinya. Pikiranku melayang entah kemana.
Apa seperti inj juga yang terjadi pada sekretaris-sekretaris sebelumnya?
Kurasakan sentuhan di tanganku. Ternyata mobil dihentikannya di salah satu mini market sebelum mencapai rumah. "Sebenarnya ada apa?" tanyanya penuh hati-hati.
"Hm? Hanya lelah saja, kak."
"Bukannya kemarin kamu lebih cape dari hari ini?" Ternyata dia menaruh curiga juga dengan kediamanku.
Aku menatapnya dalam. "Masa aku dapat peringatan untuk tidak bermesraan di depan kantor. Memangnya apa yang kita lakukan? Kakak hanya mengantarkanku, tidak ada yang lainnya. Itu CEO kayaknya benar-benar gila."
Kak Bryan terkekeh geli. Dia mengusap rambutku penub sayang. "Maaf ya, mungkin karena sikap kakak kemarin," sesalnya.
Aku hanya membuang nafas kasar. "Sudahlah. Kata karyawan di sana juga emang itu orang yang lagi depresi karena ditinggal pacarnya. Tidak profesional. Masalah pribadi dibawa-bawa ke kantor." Aku jadi cerewet begini. "Makan yuk," ajakku mengalihkan pembicaraan.
Dengan semangat, kak Bryan mencium pipiku dan melajukan mobil kembali. Sepertinya dia senang aku yang mengajaknya lebih dulu.
Entah lapar atau kenapa, dia malah menghentikan mobil di restoran cepat saji. "Kakak lapar banget?" tanyaku heran.
Dia hanya tersenyum tanpa membalas pertanyaanku. Dengan gerakan mata dia mengajakku untuk keluar.
~~~
Hari yang baru. Kali ini aku sudah bertekat untuk tidak menyerah pada pria dingin dan arogan itu. Hari pertama dan keduaku sudah kujadikan miliknya, tapi tidak mulai hari ini hingga ke depannya.
Tidak ada jemputan dari kak Bryan bukan berarti aku harus lesu. Semalam pria yang mengisi hatiku itu ijin untuk pergi ke Bogor. Dia ada pertemuan bisnis dengan kliennya di sana.
Aku ke kantor menaiki taksi. Kali ini juga lebih pagi dibanding dua hari sebelumnya. Biarlah aku tiba lebih dulu dibanding pria itu.
Dan perkiraanku memang benar. Aku tiba di ruangan, belum ada siapa-siapa disana. Termasuk mbak Sarah dan mbak Naomi yang menjadi resepsionis. Padahal tadi juga aku menggunakan lift karyawan. Aku yang benar-benar kepagian sepertinya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, dua pria itu muncul dengan Rehan yang tergesa.
"Pagi, pak," sapaku saat dia melintas.
~~~
Aku masih terdiam dalam mobil yang membawa kami ke kota yang terkenal dengan talasnya itu. Kedua tanganku sibuk memberikan kabar untuk kak Bryan. Pasalnya sejak tadi aku masih belum ada waktu.
"Kak, aku harus ke Bogor siang ini. Hanya sampai jam 4 sore saja mungkin. Nanti kalau sudah pulang aku kabarin."
Send.
Tidak sampai dua menit, sudah ada balasan dari orang yang kumaksud.
"Tidak apa. Tapi hati-hati dengan bosmu. Hehe. Nanti akan kakak jemput."
Hening.
Tidak ada lagi yang mengeluarkan suara sampai kami tiba di hotel yang akan menjadi tempat pertemuan. Dan langsung rapat karena waktunya memang sudah tiba seperti apa yang dia bilang tadi.
Wow, pria yang sangat tampan.
Bukan. Bukan pak Aldric yang kumaksud. Dia memang tampan, tapi ada yang kurang dengan sikap dinginnya. Pria yang kumaksud adalah pria yang kami temui di sini.
Selain wajah dan penampilannya yang sangat sempurna, dilengkapi dengan pembawaan yang hangat dan terbuka. Dia memang pria idaman. Sudah dipastikan juga kalau dia bukan sembarang orang. Yang masih dipertanyakan, masih single atau tidak.
Astaga!
Maafkan aku kak Bryan. Aku tak bermaksud mencari pria lain. Hatiku masih untuk kak Bryan seorang.
Entah angin dari mana, pak Aldric menawarkan untuk jalan-jalan lebih dulu sebelum pulang. Berhubung pertemuan yang kami adakan memang selesai lebih cepat dari yang direncanakan semula.
Ponsel yang berdering mengalihkan perhatianku. Ternyata kak Bryan.
Dan apa yang terjadi, pria yang kini mengisi hatiku itu sudah berada di tempat yang sama denganku.
Astaga!
Dia termasuk pria yang nekat.
"Ada apa kakak kesini? Aku kan masih dalam perjalanan bisnis."
Pak Aldric memandangi kami dengan wajah datar andalannya.
"Ini kan akhir pekan. Harusnya sudah selesai. Ini waktunya kita untuk berkencan." Kak Bryan membalas dengan cengiran khasnya. Tidak memikirkan hal apapun. Dengan santainya malah merangkul pundakku.
Merasa seperti deja vu, melihat dua pria ini berhadapan seperti ini. Satu dengan wajah datar, satu lagi dengan cengiran tak bersalah.
Kali ini aku berada di pihak kak Bryan. Entah apa yang direncanakan oleh bosku hingga mengajak jalan-jalan, aku tidak peduli. Aku balas menatap pak Aldric.
"Kau ingin dipecat?" ancamnya.
Oh, dia mengandalkan jabatannya untuk memonopoliku.
Kali ini tidak bisa, tuan arogan!
"Tidak masalah kalau memang itu keinginan bapak." Aku balas menantangnya.
Kurasakan kak Bryan semakin mengeratkan rangkulannya di pundakku. Haha. Kali ini sepertinya dia mulai merasa gerah.
"Ya elah bos, jadi bos jangan galak-galak. Yang ada nanti didoain karyawannya cepat mati." Kak Bryan tertawa. Dan lawan bicaranya semakin mengeraskan rahangnya.
Tanpa menunggu apa-apa lagi, kak Bryan menarik tanganku untuk menjauh. Tidak peduli dengan ekspresi yang jelas-jelas menantangnya. Dan aku, aku juga tidak membantah apa-apa. Mengikuti kak Bryan entah kemana.
"Kamu tumben nggak belain bos kamu."
"Cuma pengen tau gimana reaksinya kalau perintahnya nggak didengerin. Apa aku bakal dipecat," balasku tak peduli. Entahlah apa yang akan dilakukan bos galak itu saat kami bertemu nanti.