Keesokan paginya, Paman Henrik meneleponku. Dia memberi tahu bahwa Ronald Wibisono telah mentransfer uang sebesar 1,6 miliar ke rekening Grup Gunawan dan memohon agar aku berbaik hati melepaskannya.
Beginilah akibatnya jika menyinggung Vincent Winata. Memohon kepadaku tidak ada gunanya. Vincent selalu bertindak tegas dan kejam. Dia tidak akan melepaskan Ronald semudah itu.
Paman Henrik terdengar sangat bersemangat di telepon. Dia terus memujiku dan mengatakan bahwa aku benar-benar hebat.
Aku hanya tersenyum pahit tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Setelah itu, aku segera membawa uang tersebut ke kantor polisi untuk membebaskan Ayah dengan jaminan.
Baru dua hari berlalu, tetapi wajah Ayah sudah tampak jauh lebih kuyu.
"Agnes, kamu harus menyelamatkan Grup Gunawan!" pinta ayah.
"Itu adalah hasil jerih payahku selama lebih dari separuh hidupku."
"Ayah, sebaiknya Ayah pulang dan beristirahat yang baik. Serahkan urusan yang lain kepadaku."
Aku tersenyum tipis, lalu meminta sopir mengantar ayah pulang.
Setelah mobil itu pergi, aku menarik napas panjang.
Aku baru saja membayar uang jaminan sebesar 200 juta di kantor polisi.
Sisa uang yang ada, ditambah seluruh tabunganku, totalnya hanya sekitar 2 miliar. Semua itu akan digunakan untuk memberikan kompensasi kepada keluarga korban.
Namun, masih ada kekurangan sebesar 4 miliar.
Bagaimana aku harus menutupi kekurangan itu?
Ponselku tiba-tiba berdering.
Ternyata, Vincent yang menelepon.
"Segera ke ruang kerjaku."
Perintahnya terdengar dingin dan kaku. Bahkan sebelum sempat menjawab, dia sudah menutup telepon.
Aku melirik jam.
Hari sudah mendekati jam pulang kerja.
Kenapa Vincent mencariku pada jam seperti ini?
Sejak menikah, aku bergabung di Grup Winata.
Vincent bukan hanya suamiku, tetapi juga atasanku.
Aku tidak berani mengabaikan perintahnya dan langsung menyetir kembali ke kantor pusat.
Ruang kerja presiden direktur tampak lengang.
Aku tidak melihat Vincent di sana, tetapi samar-samar mencium aroma alkohol.
Aku langsung teringat sesuatu, lalu berjalan menuju pintu suite di bagian dalam dan mengetuknya perlahan.
Di dalam sana terdapat ruang istirahat pribadi Vincent.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dari dalam.
Vincent bersandar di kusen pintu dengan tubuhnya yang tinggi. Sepasang mata hitamnya yang dalam menatapku tanpa berkedip, sementara aroma alkohol yang menyengat memenuhi sekujur tubuhnya.
"Kamu minum?"
Aku tertegun.
Dia memiliki toleransi alkohol yang sangat baik. Namun, sekarang dia mabuk seperti ini di ruang kerjanya sendiri. Aku bahkan tidak bisa membayangkan berapa banyak alkohol yang telah dia konsumsi.
Vincent tidak menjawab.
Dia hanya menatapku selama beberapa saat, lalu tiba-tiba menarikku masuk ke dalam kamar.
"Vincent, kamu kenapa?”
Aku terkejut.
Ini pertama kalinya aku melihat Vincent kehilangan kendali setelah mabuk.
Ketika berusaha mengendalikan rasa terkejutku, aku malah tanpa sadar mengkhawatirkannya.
"Apakah terjadi sesuatu?"
Lengan Vincent yang panjang melingkari tubuhku dengan erat.
Dagunya tiba-tiba bertumpu di atas kepalaku.
Kemudian, dia bertanya dengan suara serak, "Apa kamu menyesal?"
"Menyesal soal apa?"
Aku sama sekali tidak mengerti maksudnya.
Setelah mengucapkan pertanyaan yang tidak jelas itu, dia tidak berkata apa-apa lagi.
Tangannya perlahan menarik ritsleting gaunku.
Dari atas kepalaku terdengar napasnya yang semakin berat.
Sesaat kemudian, kedua tangannya mengangkat tubuhku, lalu membaringkanku dengan lembut di atas tempat tidur.
Ciumannya jatuh dengan lembut di seluruh tubuhku.
Ternyata, Vincent yang sedang mabuk bisa bersikap selembut ini.
"Vincent ...."
Pipiku mulai memanas.
Aku tahu dia sedang terbawa perasaan, mungkin karena pengaruh alkohol.
Atau mungkin karena Monika Lesmana yang belum pulih masih belum bisa memenuhi kebutuhannya.
Apa pun alasannya, bukan karena aku.
Bahkan sangat mungkin, dia menganggapku sebagai Monika.
Pikiran itu membuat dadaku terasa sesak.
Aku tidak dapat menahan diri untuk memastikan.
"Vincent, kamu tahu aku ini siapa?"
"Ya."
Dia menjawab lirih tanpa mengangkat kepala.
"Coba katakan, siapa aku?"
Aku terus mendesak Vincent sambil mengangkat wajahnya dengan kedua tangan, berusaha membuatnya benar-benar menatapku.
Tatapannya begitu dalam.
Di balik kedua mata hitamnya, aku dapat melihat bayanganku sendiri.
Bibir tipisnya sedikit terbuka, hendak mengatakan sesuatu.
Tepat pada saat itu, suara Monika terdengar dari luar pintu.
"Vincent, kamu di dalam?"
Tubuh Vincent langsung menegang.
Sorot matanya yang semula dipenuhi kabut karena mabuk, seketika kembali jernih.
Dia berdiri, merapikan pakaiannya, lalu menatapku beberapa saat.
Di antara kedua alisnya tampak sedikit kesedihan.
"Tetap di sini."
Dia memberi perintah dengan suara rendah, lalu berbalik keluar dari kamar.
Pintu segera terbuka dan tertutup kembali.
Aku tidak sempat melihat Monika yang berada di luar.
Begitu pula Monika.
Dia juga tidak mungkin mengetahui bahwa aku berada di dalam kamar ini.
Memang itulah yang diinginkan Vincent.
Aku berbaring di atas tempat tidur sambil tersenyum getir.
Aku adalah istri sahnya.
Namun saat ini, aku malah dikurung di ruang tersembunyi seperti perempuan simpanan yang tidak boleh diketahui orang.
Dari luar terdengar suara Monika yang penuh keluh kesah.
"Vincent, aku tidak mau dirawat di rumah sakit lagi. Antar aku pulang, ya?"
"Jadilah anak baik. Kamu belum boleh keluar dari rumah sakit tanpa izin dokter," ujar Vincent dengan lembut.
"Kenapa kamu minum alkohol? Vincent, apa aku membuatmu tidak bahagia? Apa aku melakukan kesalahan? Katakan saja, aku pasti akan berubah ...."
Monika mulai terisak.
Nada bicara Vincent terdengar sedikit lelah, tetapi dia tetap sabar menenangkannya.
"Monika, jangan berpikir yang macam-macam."
Monika terisak beberapa saat, lalu bermanja kepadanya.
"Kalau nanti aku sudah keluar dari rumah sakit, kamu ajak aku pulang, ya? Apa aku boleh pindah ke kamarmu dan tinggal bersamamu?"
Aku cukup terkejut.
Ternyata setelah kembali ke Indonesia, Monika tidak tinggal sekamar dengan Vincent.
"Ayo, aku antar kamu kembali ke rumah sakit."
Vincent tidak memberikan jawaban yang jelas.
Suara langkah kaki mereka perlahan semakin menjauh.
Aku terdiam beberapa saat, lalu bangkit mengenakan pakaianku dan bersiap pergi.
Namun, pintu kamar itu sama sekali tidak bisa dibuka.
Sepertinya, pintu itu dikunci dari luar.
Setelah mencoba berulang kali tetapi tetap gagal, aku pun berniat mengirim pesan kepada Vincent agar dia menyuruh seseorang datang membukakan pintu untukku.
Begitu mengeluarkan ponsel, aku baru menyadari bahwa semalam aku lupa mengisi daya. Baterainya sudah habis sehingga ponselku mati dengan sendirinya.
Aku mencari ke seluruh penjuru suite itu, tetapi tidak menemukan pengisi daya maupun alat komunikasi lainnya.
Apa malam ini aku harus menginap di sini?
Apakah Vincent akan kembali?
Huh!
Monika sudah datang mencarinya ke kantor. Mana mungkin dia membiarkan Vincent pergi begitu saja?
Untungnya, segala kebutuhan sehari-hari di dalam suite itu tersedia dengan lengkap. Bertahan semalam di sana seharusnya bukan masalah.
Aku pergi ke kamar mandi untuk mandi.
Setelah selesai mandi dan hendak mengeringkan rambut, tiba-tiba listrik di ruangan itu padam.
Kemudian aku teringat, jika tidak ada keadaan khusus, gedung perkantoran memang akan memutus aliran listrik setiap pukul sepuluh malam.
Petugas keamanan yang berjaga malam tidak tahu bahwa aku masih berada di dalam gedung, sehingga mereka mematikan sakelar listrik utama.
Malam itu, cuaca di luar sangat dingin.
Tanpa pemanas ruangan, suhu di dalam kamar dengan cepat berubah menjadi dingin menusuk.
Rambutku masih basah.
Setelah mengenakan pakaian, aku kembali menyelimuti tubuhku dengan selimut, tetapi tetap menggigil kedinginan.
Tak lama kemudian, aku mulai bersin.
Sialan!
Kalau aku harus bertahan di sini sampai pagi, tubuhku pasti tidak akan sanggup.
Karena mengkhawatirkan bayi di dalam kandunganku, aku berjalan ke depan pintu dan menggedornya sekuat tenaga, berharap dapat menarik perhatian petugas keamanan yang sedang berpatroli.
"Apa ada orang di luar?" teriakku meminta pertolongan.
Aku terus menggedor pintu cukup lama, tetapi pertolongan tidak pernah datang.
Perut bagian bawahku malah mulai terasa nyeri.
Keringat dingin mulai membasahi dahiku.
Aku tidak berani terus menggedor pintu. Sekarang, aku hanya bisa menghemat tenaga dan menunggu hingga fajar.
Aku menopang tubuhku sambil berjalan menuju tempat tidur.
Tiba-tiba, rasa sakit yang menusuk seperti ditusuk jarum menyerang perut bagian bawahku!
Rasa sakit yang begitu hebat membuat kedua lututku lemas.
Bruk!
Aku jatuh berlutut di lantai.
Sesaat kemudian, aku merasa ada cairan hangat mengalir dari bawah tubuhku.
Tubuhku gemetar ketika menundukkan kepala.
Dalam cahaya remang-remang, samar-samar kulihat darah mengalir perlahan di sepanjang pahaku.