Malam hari, pertemuan mingguan aliansi Ace-
Semua divisi aliansi "The Ace Empire of God Father" berkumpul di salah satu hotel ternama dan juga rahasia yang bernama Marine Blaze. Hotel yang fasilitasnya sangat lengkap, keamanannya juga tidak diragukan.
Semua divisi sudah berkumpul :
• Hard Cyclone ♤(☬)
• Black Shadow ♤()
• Eagle Eye ♤()
• Lion Defender ♤(☫)
• Dark Butterfly ♤(εïз)
-
"Selamat malam semuanya, terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk datang"
Sang pendiri aliansi, Sir Adrian atau yang akrab dipanggil kakek (oleh Ave dan lainnya),dan Papi (oleh para orang tua)
"Hari ini, gimana bisnis Weed,heroine,cocaine? Aman? " Tanya Kakek ke divisi Black Shadow dan Eagle Eyee.
"Lancar,pi. Mereka setuju laba nya di naikkan jadi 30%,karena Narkotika yang kita jual juga murni 100%. Tentu kita nggak mau rugi,"Terang Richard,a.k.a papa dari Reinhart.
"Yup, penyelundupan juga gak ada yang curiga karena pengawasan dari kita lumayan ketat.Berkat strategi dari Hard Cyclone juga,"Tambah Ashley,a.k.a mama dari Ave.
"Situs penjualan juga langsung kita block,hilang jejak. Lalu kita buat situs baru, jaga-jaga supaya nggak mudah di lacak."Lanjut Vivian, a.k.a mama dari Reinhart.
"Good job you guys.. "Gumam Kakek sembari mengangguk tersenyum, tampak puas dengan laporan hari ini. "Lion defender? Dark Butterfly? Persediaan bisnis persenjataan bagaimana?"
"Kita juga mulai re-stock,kali ini lebih bagus dari yang sebelumnya." Jelas Jonathan,a.k.a papa dari Shannon.
"Tapi sekarang lumayan berbahaya, karena banyak Mafia lain yang mungkin sudah mulai mengetahui bisnis ini. Jadi tingginya persaingan dan mungkin ancaman juga bisa kita dapatkan. Semoga aja tidak terjadi apa-apa." Alexander, a.k.a papa dari Chrystal juga angkat bicara,
"Hmm... "
Reinhart menyikut Ave,"Ngomongin apasih?"
Ave menghela nafas dan tidak menggubris pertanyaan Reinhart. Sudah jelas obrolannya tapi masih saja dipertanyakan.
"Mungkin, ada ide? Dari cucu-cucuku juga boleh,"Kakek pun menoleh ke arah tempat dimana Ave dan teman-temannya berada.
"Mampus, gue nggak nyimak tadi pada ngomongin apaan."Gumam Reinhart pelan lalu berpura-pura melihat kearah lain.
"Lu sono,kasih saran!"Colek Shannon ke Ezielle, spontan ia terkejut pelan.
"Yehh apaan? Males,biar yang lain dah. Gue nunggu bagian minum-minum aja," Bisik Ezielle ke Shannon.
"Dihh kerjaan lo nggak ada yang lain apa? Minum mulu heeran gue!" Jewer Shannon pelan,
"Dah nggak usah sok suci, lo juga minum-minum. Enak kan?" Celetuk Ezielle.
"Mau gue saranin pada berhentian aja,ntar malah di gaplok gue." Chrystal ikut-ikutan,
Ezielle dan Shannon pun menjitak kepalanya,Chrystal meringis lalu cemberut.
"Nahkan, belum aja gue bilang ke mereka udah di jewer aja. Salah mulu adek!" Gerutunya lagi,
"Gimana kalo kita cut dulu bisnis senjatanya,diganti sama bisnis bom nuklir?" Akhirnya Ave angkat bicara.
Semua menoleh ke arah Ave,ada yang kaget. Ada juga yang berpikir tentang ide baru ini.
"Gila kepikiran aja loh!"Reinhart kagum sambil menepuk bahu Ave.
"Hoo ga keyak lo,rambuttt terus dipikirin!" Balas Chrystal sambil menoyor kepalanya,
"Hmm, sounds interesting." Gumam Kakek sambil melirik ke arah Ernesto,a.k.a papa dari Ezielle.
"Boleh,cari data gimana kita bisa dapetinnya. Lalu hitung kemungkinan kita bisa dapat untung berapa dari penjualan ini."Kata Ernesto.
"Okay."
Selang beberapa waktu berbincang,Kakek pun mengingatkan sesuatu.
"Ah iya jangan lupa,minggu depan kita pergi ke makam Mattheo. Memperingati hari meninggalnya,"
Mendengar hal tersebut,Ave pun menghela nafas panjang. Ezielle yang disampingnya menepuk-nepuk tangan temannya itu.
"Sampai sekarang kita nggak ketemu siapa pembunuhnya?" Ucap Richard pelan.
"Iya,aku rasa dia sudah berpengalaman dalam hal ini. Sampai gak ada jejak sama sekali," Ujar Diana, a.k.a mama dari Chrystal.
"Sudah banyak orang suruhan yang kita bayar untuk cari orang ini. Tapi gak ketemu juga,nggak biasanya begini." Tambah Abbigail, a.k.a mama Ezielle.
"k*****t itu, kalau saja ketemu. Tidak akan kumaafkan!" Umpat kakek dengan nada benci. Mattheo termasuk orang yang sangat jenius dalam hal perdagangan dan strategi. Dia merupakan rekrutan pertama saat aliansi baru dibuat.
"Sabar bro, suatu saat akan ketemu kok." Reinhart menyemangati Ave yang keliatannya lesu kalau sudah membahasa soal papanya.
Ave tersenyum simpul, "Yeah, thanks man!"
"Yapp,sekarang kan ada kita. Ada papa yang lain juga. Lagi pula,kita udah kayak sodaraan kok. Jadi santuy aja,santuy!" Shannon ikut-ikutan.
"Iyaa kita tuh saudaraan!" Sahut Chrystal, "Tapi kalo lu sama Ezielle, beda cerita ngeheheheh,"
"Yeeehh t*i lo!" Getok Ezielle kesal, dia lagi diam-diam malah jadi bahan candaan Chrystal.
Semuanya malah ketawa,dan melanjutkan makan malam.
•
•
Karena di dalam para orangtua lagi pada minum,jadilah yang anak-anak pada disuruh keluar. Katanya biar gak ganggu mereka di dalam. Biasanya mereka memang membicarakan hal lain selain bisnis tadi. Seperti kartel mafia lain, musuh, atau kalau ada ancaman.
"Yeh padahal dah legal juga,masih disuruh maen diluar sini. Macam bocah ahh!" Gerutu Reinhart yang bermain di jungkat jungkit. Anehnya, dia hanya menduduki 1 tumpuan saja, tumpuan lainnya kosong.
"Main jungkat jungkit sama siapa lo? Setan?" Ledek Chrystal yang baru saja datang.
"Makanya naik sini," Ajak Reinhart.
"Naik kemana? " Tanya Chrystal.
"Sini sini!"Tunjuk Reinhart ke paha-nya dengan semangat.
Chrystal pun melempar tissue bekas ke arah Reinhart,"Huu apaan sih lo!"
"Beteee aihh kenapa sih pada bucin?" Keluh Shannon yang tiba-tiba aja muncul entah darimana.
"Oh mau juga digituin? Sini sini sayang uhh!" Goda Reinhart dengan nada sok imut itu.
"Najisss ewhh muntah!" Shannon berlagak jijik, "Cabut yuk Tal! Jangan temenan sama orang ini,"
"Hooh heeran gue," Mereka pun hendak pergi dari situ.
"Ehhh sayang -sayangku! " Reinhart buru-buru berdiri dari jungkat-jungkit itu, "Tunggu aku!"
Di sisi lain,
Ave dan Ezielle pergi jalan-jalan sekeliling hotel, biasa nikmatin udara segar. Padahal Ave mah keliatan tuh mau modus hahaha.
"Ve, jan murung gitu dong. Gue ga paham caranya buat ngehibur orang.." Ezielle merengut, karena mereka sedari tadi diam nggak ada percakapan.
Ave menoleh dan tersenyum sekilas.
"Lo gak perlu ngehibur gue , gue cuman butuh lo ada disamping gue." Ave mencoba untuk ngegombal.
Ezielle menonjok pelan lengan Ave,"Apaan si ga mempan,gak usah gitu loh huh!"
Ave tertawa kecil, sambil meneruskan langkah kakinya. Malam yang cerah,banyak bintang juga. Karena Ave tau Ezielle suka liat bintanga. Maka dari itu Ave ngajak Ezielle jalan-jalan, menjauh dari Reinhart Chrystal dan Shannon. Biar nggak ngecengin mereka berdua terus.
"Ah iya..." Ave mengingat sesuatu, mereka pun berhenti.
"Lo bilang Aleandro aneh? Aneh kenapa? " Ave masih penasaran.
"Hmmmm," Ezielle mikir lagi, "Gak deh, aneh aja gitu apa perasaan gue doang ya?? "
Ave natap Ezielle dalam,yang di tatap malah ngeblush dan langsung menghindari kontak mata. Ave masih terhenti dan berpikir sejenak, sedari tadi dia hanya memikirkan itu.
"Ave, ayoo!" Panggil Ezielle,Ave pun tersadar bahwa Ezielle sudah melangkah duluan.
'Nggak lo aja kok, gue juga ngerasa begitu.' - Ave.
.
.
.
Aleandro pov
Ale menghela nafas panjang, bersender di sofa ruang tamu kesayangannya. Dia melakukan beberapa peregangan, seakan-akan capek. Padahal hari ini nggak terlalu berat-berat amat.
"Gimana hari ini?" Tanya seseorang yang baru saja naik, Catherine. A.k.a mama dari Ale.
"Hmmm," Ale berpikir sejenak, "Gampang. Itu aja sih kayaknya,"
"Jangan gampang-gampang aja kamu, ntar malah ngacau lagi!" Celetuk Raphael a.k.a papa dari Ale.
'Hhh, image gue jelek mulu. Pada nggak percayaan.' Batin Ale yang lumayan kesal kalau ada yang ngeremehin dia begini.
"Dibilangin nggak percaya. Sama yang ini gampang, besok bakal jadi satu kelompok. Paling dari situ ntar lama kelamaan ya kejebak lah!"
"Whoa? Udah satu kelompok aja nih!" Catherine mengacak rambut Ale girang, "Berarti kamu harus langsung, tapi ingat. Jangan sampai ketauan okay?"
"Iya-iya, ma. Aman aja," Sahut Ale.
"Inget ya, Ale. Kalau kamu berhasil, papa bakal kasih kamu tato permanen. Bukan temporary lagi. Paham?"
Ale menatap kearah Raphael dengan semangat. Tato permanen adalah tanda dimana mereka benar-benar mampu untuk memimpin misi pada hari kedepannya, itu adalah impian Ale sedari dulu. Tapi, dia nggak pernah dapat kesempatan untuk bisa mendapat tato permanen. Karena banyak misi yang selalu ia kacaukan, tapi kali ini dia berjanji akan serius dan sungguh-sungguh demi tato permanen itu.
"Iya, pa. Tenang aja, Ale nggak bakal ngacau kali ini."
•
•
•
Bersambung~