Rumah dengan jendela besar itu tampak gelap, Hanya di terangi rembulan yang hanya muncul setengahnya saja di luar sana.
'Gelap'
Bayangan hitam itu mendekati sosok pucat yang terbaring di brankar dengan banyak karat di beberapa sisinya.
Memegang kaki si pucat dengan sorot mata tajam namun sekejap kemudian berganti dengan sorot mata berbinar, Lalu detik berikutnya binar itu terlihat sendu, Begitu seterusnya.
Suasana tegang itu semakin tampak mencekam ketika jendela di ruangan itu terbuka dan tertutup dengan sendirinya oleh angin yang tiba tiba menghembus agak kencang diiringi bau anyir dari banyak tetesan darah di lantai putih penuh debu di bawahnya, ketika kepingan kepingan kuku itu terlepas dari kaki milik si pucat dan senyuman mirip seringaian itu terbit di balik topeng Si bayangan hitam.
Perempuan itu terbangun dengan peluh sebesar biji jagung di wajahnya, Lantas mencoba menggerakkan badannya yang kaku akibat tertidur di kursi berbahan besi.
"Hah ... hah ... hah ... Mimpi itu lagi ...." Gumam Si gadis sambil mengatur nafas terengahnya akibat mimpi sialan yang membuatnya terbangun. Mungkin karena di ruangan ini hanya ada dirinya atau mungkin karena Ia masih berada di salah satu ruang Rumah Sakit di pagi buta, Tempat yang konon menjadi tempat menetap roh orang yang sudah mati, di tambah suasana mencekam di ruangannya dengan angin yang mendorong pelan jendela di ruangan itu, Atau sialnya Ia masih terbayang dengan operasi tadi sore.
Ya!
Dia adalah dokter bedah di Rumah Sakit ini dan Ia masih tergolong baru di disini.
Ia dapat shift pagi, namun karena operasi darurat tadi sore yang menghabiskan waktu hampir tigabelas jam lebih dan baru selesai setelah jarum jam hampir mengarah ke angka satu, Hampir pukul Satu dini hari. Jadi Ia terpaksa menginap disini.
"Dilla kamu kenapa, Nggak bisa tidur?" Tanya laki laki dengan jas putih yang melekat ditubuhnya dan masih tampak rapi di jam tiga pagi. Itu Dokter Reka, patner kerjanya.
Perempuan yang di panggil Dilla itu tampak merapikan tampang kusutnya, memindahkan rambut yang tadinya berantakan menjuntai menutupi hampir sebagian wajahnya itu dengan mengucir asal rambutnya.
"Hah ... Iya nggak bisa tidur, kebangun" jawab nya pelan setelah menghela nafas lelah bercampur kesal. Ia tidak hanya terbangun karena mimpi sialan tadi, Tapi Ia dapat merasakannya. Merasakan hal aneh menakutkan yang Ia sendiri tidak ketahui sebabnya.
" hah. ya sudah saya mau ke ruangan sebelah. Cuma sebentar nanti saya temani kalau kamu takut," ujar Reka sambil mengusap kasar wajahnya,
Sebenarnya Reka tadi juga terbangun.
"Atau, mau Ikut? " Ajak Reka setelah melihat raut ketakutan Dilla.
" Iya. " jawabnya singkat menyetujui ajakan Reka, Daripada di ruangan remang remang seorang diri?
***
Mereka berdua lantas berjalan beriringan menuju kamar sebelah, Karena lorong tampak remang dan sunyi, Lorong pendek itu terasa panjang.
"Saya masuk cuma cek infus, Kamu tunggu disini saja!"ujar Reka yang hendak membuka pintu sambil tersenyum ke arah Dilla yang sedari tadi mengamati setiap sudut tempat sepi itu dengan raut gelisah entah karena apa.
" Saya ikut masuk!" jawab Dilla cepat.
"Saya juga dokter, bisa bantu kamu kalau ada apa apa," sambung gadis itu dengan mata tampak gelisah yang kemudian diangguki laki laki di sebelahnya.
Reka yang berjalan di depan kemudian meraba tembok setelah mereka berdua berhasil masuk kedalam ruangan itu, Berusaha mencari sakelar untuk menghidupkan lampu ruangan tersebut, namun lampunya tak kunjung menyala. Menyadari hal itu Ia pun menyalakan ponselnya dengan tergesa.
kenapa bisa lampu ruangan pasien mati, jika terjadi apa apa, kan berbahaya.
***
Dengan degup jantung yang tidak beraturan mereka berhenti berlari sesaat setelah berhasil masuk ke dalam ruangan milik Dilla tadi, suara ngosngosan masih terdengar jelas diruangan itu.
Dugaan Dilla benar benar terbukti. Ruangan itu kosong sejak ia bekerja di rumah sakit ini bagaimana bisa ada pasien didalamnya.
"hah ... Hah ... Hah ... Ini nggak beres," gumam gadis yang terduduk di lantai dingin itu.
"Pak Reka dan Bu Dilla bisa cek keadaan di ruangan ICU, Pasien yang habis operasi tadi ... Ini sudah jam .... "
laki laki dan perempuan itu kemudian saling pandang, Kalimat yang diucapkan perempuan dengan pakaian serba putih di ambang pintu itu sampai hanya bisa di dengar setengah setengah oleh keduanya karena hal gila tadi.
"Baik, Saya kesana sekarang " jawab Reka sambil bangkit berdiri.
" kamu ikut, kan Dill? " tanya Reka karena mungkin saja Dilla enggan dan masih takut.
"Saya ikut! Pasien kecelakaan tadi sore, kan Sus? " jawab Dilla cepat sambil bertanya mengalihkan rasa takutnya.
"iya bu .... " jawab perawat tadi.
Mendengar jawaban itu ia sedikit lega, Ini bukan macam macam.
***
Pemeriksaan tadi berjalan lancar, Hanyasaja belum ada pihak keluarga yang bisa dihubungi karena pasien tidak memiliki identitas.
"Kamu tadi pagi beneran dengar orang minta tolong buat cek infus?" Tanyaku sambil berdiri dari tempat duduk di ruang tunggu koridor rumah sakit, Sambil melongok mengedarkan pandangannya ke arah jalanan seberang halaman luas Rumah Sakit.
"Iya, suster yang manggil saya," jawab Reka mantap sambil menatap jalanan.
Kali ini Ia percaya setelah melihat raut serius Reka setelah menengok ke arah wajah pias sahabatnya itu, mimpi mimpi horor dan kejadian kejadian aneh mengundang tanya yang kerap kali ia alami semenjak bekerja di rumah sakit.
Apa ada hubungannya?
Mereka berdua diam dengan pikiran masing masing, Mengabaikan suasana sedikit riuh di dekat mereka.
"Reka kamu pernah seperti tadi pagi sebelumnya?" tanyaku sambil menoleh kearah sahabatku itu, Namun bukan jawaban yang aku dapatkan melainkan kernyitan halus yang tercetak di dahi laki laki itu, pasti Reka tidak mengerti maksudku.
"maksudku kamu pernah diminta cek infus lalu tidak ada siapapun, Seperti tadi pagi ...." jelasku panjang lebar.
kadang kadang Reka memang lambat dalam menangkap sesuatu.
"oh ... Hm ... Pernah beberapa kali malah. Tapi sekitar sore atau setelah Isya, Jadi masih agak ramai," jawabnya sambil menatap lurus kedepan menerawang kejadian yang pernah dialaminya.
Aku yang mendengar itu hanya mengangguk sambil membayangkan jika aku yang mengalami hal serupa dengan bahu bergidik ngeri, Mungkin besok giliranku.
Aku yang sudah pegal berdiri kembali duduk sambil lagi lagi melongokkan kepalaku kearah pintu kaca Rumah sakit.
Bibirku tidak dapat menahan senyum setelah leher pegalku yang sedari tadi melongok ke pintu besar Rumah sakit mendapati lelaki dengan jaket hitam dan senyum tipis dengan tangan yang melambai kearahku.
"Sudah menunggu lama, ya?" tanyanya setelah jarak kita sudah benar benar tipis sambil menepuk pelan bahu ku, Membuat Aku mengangguk cepat sambil mengatur ekspresi wajah ku yang memerah setelah bahuku di tepuk oleh seseorang yang sedari tadi kutunggu.
"Udah di jemput, kan. Aku mau kembali ke ruangan dulu ya ...." ujar Reka tiba tiba, berniat berpamitan padaku.
" oh ... Oke!" jawabku singkat sambil melempar senyum pada Reka.
"Aku ke ruangan dulu Dim," pamit Reka pada laki laki yang sedari tadi ku tunggu.
"iya," jawab Dimas singkat namun hangat.
Taklama kemudian Aku dan Dimas yang melenggang meninggalkan tempat ramai itu untuk keluar.
" Kamu di suruh Ayah lagi , ya? Buat jemput Aku. Kalau keberatan nolak aja nggak apa apa enggak usah takut," ujarku panjang lebar setelah kami berdua sudah berada didalam mobil.
"Enggak, kamu pasti mengantuk setelah semalam minta di semangati karena ada operasi besar" jawab dimas enteng.
"oh... jadi gitu, terimakasih!" ucap ku sambil tersenyum.
" jadi gimana, Masih ngantuk?" tanya lelaki di sebelahku tanpa melirikku sedikitpun.
" Iya, di Rumah sakit tadi ada hal hal yang cukup aneh ... Aku nggak bisa tidur sampai pagi, jadi nanti langsung tidur." jawabku sambil sesekali mencuri pandang lelaki di sebelahku, mencari tahu apakah ada rasa tertarik dengan ceritaku hari ini atau tidak.
" kejadian apa, Horor? " tanyanya sambil melihat kearah ku.
"iya ... Mirip lah." ucapku sambil mengingat ingat kejadian sial tadi.
"kan rumah sakit Kar, ya horor lah" jawab dimas sambil menahan tawa. Membuat aku yang melihat itu hanya bisa tersenyum maklum, Bagi orang yang belum mengalami akan bilang seperti itu.
Oh iya, lupa!
Namaku Ardilla Sekar biasa dipanggil Dilla, tetapi sering juga dipanggil Sekar oleh Dimas, Hanya Dimas yang memanggilku dengan nama belakangku itu.
"oke, Saya minta maaf, tapi kamu tidak apa apa, kan? Masih takut? Kalau takut nanti saya temani dirumah, kamu bisa tidur di kamar. Saya jaga di luar," tawarnya panjang lebar.
"oke" ucapku malas malasan.
" kamu nggak kerja?" tanyaku.
" kerja, nanti malam tugas"
Itu artinya dia hanya bisa jaga di rumah ku siang sampai sore.
"Kenapa?" tanyanya sambil mengerutkan kening.
"nggak lah" jawabku singkat.
"Kenapa, enggak?" tanyanya lagi
"Maksudku, nggak papa" ucapku penuh penekanan.
"sepi. nyalain aja radionya,"ucap Dimas pelan sambil melirikkku.
Aku yang mendengar itu langsung menyalakan radio mencari saluran yang cocok.
"mau berita atau musik?" Tanyaku pelan setelah suara radio mobil itu berhasil memasuki rungunya, Ia bertanya terlebih dahulu karena dia suka mendengarkan musik dan Dimas suka mendengarkan berita, Aku jadi bingung harus pilih yang mana.
"Yang kamu suka,"jawab lelaki penyuka kopi di sampingku. Membuat jariku langsung mencari saluran musik.
Membuat musik keluaran 1989 milik Nike ardilla itu mengalun tenang, tepatnya judul lagu yang sedang mengalun itu "Bintang kehidupan" Mungkin karena aku punya banyak kasetnya. Aku jadi suka lagunya.
"Lagu Nike ardilla, kamu suka? nanti saya belikan kasetnya" itu suara Dimas, dia cukup tahu lagu ini?
" Aku suka, kalau kaset Aku sudah punya banyak" ucapku sambil menatapnya
"tapi kalau mau di belikan lagi juga mau,"sambungku sambil nyengir kuda.
"oke kapan kapan saya belikan" ucap Dimas sambil tertawa.
"kenapa jadi polisi?" tanyaku sambil memandang laki laki dengan perawakan tinggi di sebelah ku.
" Cita cita," ucapnya singkat sambil menambah kecepatan.
"kamu kenapa jadi dokter?"
" Suka," ujarku singkat Sambil mengalihkan pandanganku pada jendela mobil yang sudah menampakkan area dekat rumah.
Apa aku menyinggung Dimas?
Kenapa dia jadi diam saja?
***
" Sampai!!" ucapnya keras dengan nada ceria dengan senyum lebar, Laki laki dengan wajah muram yang tadi sempat ku lihat seolah hilang.
"terimakasih," ucapku tak kalah keras sambil merentangkan tangan. Meregangkan otot otot tubuh ku setelah berhasil keluar dari dalam mobil.
"masuk!" perintahku sambil melebarkan daun pintu yang baru saja ku buka dan menampakkan rumah dengan kondisi masih berantakan.
"maaf ya berantakan," ucapku cepat sambil berlari ke kamar menenteng bantal dan selimut dari ruang tamu ke kamar atas, kamarku sendiri tanpa menunggu jawaban dari lelaki yang masih berdiri itu.
"hah ... Mau minum apa. Teh, kopi?"
"tapi yang ada cuma air putih di kulkas" ujarku sambil menahan malu memperlihatkan botol besar berisi air putih dingin.
"boleh, apa yang ada aja," jawabnya maklum.
"kamu nonton TV dulu saja, Saya mau mandi dulu," ujarku sambil melempar remot TV ke arah laki laki yang sedang duduk di kursi membelakangi anak tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan kamarku.
Setelah itu aku benar benar berlari kearah kamar mandi.
***
"sudah selesai?" tanyanya setelah melihat aku dengan pakaian yang berbeda.
"Sudah, Dimas ... Hm... Pernikahan kita tinggal berapa hari ?"
" Aku lupa, yang pasti tinggal hitungan hari."
"?"
"Aku bingung," ujarku sambil mengusap wajah kasar
"kenapa?"
" Ayah tidak pulang sudah lewat hampir tiga minggu dari kepulangan yang seharusnya, padahal janjinya, Pulang paling telat paling lama sekitar lima hari setelah jadwal pulang, " ucapku cemas tidak lagi membicarakan pernikahan atas dasar perjodohan kami, membuat Dimas yang tadi fokus pada acara TV mengalihkan atensi sepenuhnya ke arah ku.
" Sudah, nanti pulang. kan kamu masih bisa kirim surat atau telepon dan tukar pesan," hibur laki laki di sampingku itu sambil mengembangkan senyum.
" Telepon dan pesanku tidak di balas," keluhku
"besok pagi aku akan kirim surat." Finalku sambil menghibur diriku sendiri.
"Sudah makan?" tanya dimas sambil menatapku dalam seperti biasanya. Mengalihkan pembicaraan,
Membuat aku yang semula melamun mengangguk pelan.
"Aku makan di Rumah sakit tadi," jawabku lirih meyakinkan.
"kamu?"
"Sudah," jawabnya singkat sambil meraih gelas di depannya.
"katanya mau tidur?" tanya Dimas setelah berhasil meneguk minuman dingin itu.
" Iya ... Dimas, Aku ada pasien tanpa identitas di Rumah sakit." Gumamku pelan namun masih dapat didengar oleh laki laki itu.
"Loh, kenapa tidak bilang dari tadi?
Sudah melapor?" tanyanya panjang lebar,
Mungkin ia terkejut.
" Aku lupa, kalo lapor aku kira pihak Rumah sakit sudah melapor"
"..."
"Biar Aku ke rumah sakit dulu, kamu di rumah sendirian tidak apa apa kan?"
" Iya... Hati hati, maaf aku tidak bilang dari tadi" ucapku sambil berusaha mengikuti langkah lebarnya mendekati pintu, memandang laki laki itu sampai punggung tegapnya benar benar hilang dari pandanganku sambil ku lambaikan tangan.
Lagi lagi seperti ini, sepi.
Tidak apa apalah, toh Dimas bukan siapa siapaku saat ini.
Aku yang kesepian mulai menaiki anak tangga setelah mengunci pintu. Lalu mencoba mengistirahatkan tubuh lelahku.
***
Hari sudah cukup sore, Aku sudah bangun. hendak turun bersih bersih dan memasak untuk makan malamku karena aku juga sudah tidak terlalu lelah.
Sayup sayup aku mendengar suara tangis seseorang, mungkin tetangga?
Aku mulai membawa kakiku menapaki anak tangga yang dingin itu satu persatu. Membawa tubuhku ke lantai bawah, tepatnya di ruang tamu. tepat di kursi kayu yang tadi di duduki oleh Dimas.
Ada seorang laki laki yang duduk di kursi itu, dari perawakannya aku sudah mengenalinya
'itu pasti Ayah!'
"Ayah?"
"Ayah sudah pulang?"
"Ayah menangis, kenapa?"
Namun saat lelaki itu berbalik membuatku berteriak, Wajah dan banyak bagian tubuh Ayahku yang terlihat penuh luka sobekan dengan darah yang masih menetes dibarengi air mata laki laki dewasa penuh luka dihadapannya yang ikut menetes.
'Bukan, bukan takut. Aku hanya terkejut dan aku harap ini hanya mimpi'
" hah ... Hah ... hah ...." sudah tidak terhitung berapa kali aku menghela nafas, dengan gusar Aku mulai mengusap air mataku, Aku menangis karena mimpi sialan tadi.
Nomor Ayah masih tidak aktif hingga saat ini, Meskipun aku tahu jika sedang bertugas Ayah akan lebih sering menggunakan telepon di kantor tempatnya dinas, tapi biasanya jika Aku mengiriminya pesan atau di telepon pasti di jawab.
"surat. Aku harus buat surat," gumamku lirih sambil beranjak dari ranjang, Lalu mencari kertas kosong di atas meja.
***
Aku mulai menulis surat untuk Ayah dengan harapan beliau bisa pulang cepat atau sekedar membalas isi surat yang kubuat ini.
"Apa ini bukan kebetulan?"