Boom!
Api menyala cepat.
Menghanguskan seluruh ruangan.
"Pergi....cepat!"
Seorang anak remaja laki-laki mendorong tubuh seorang anak remaja perempuan keluar jendela yang menangis terisak berusaha menggapai sang anak laki-laki namun reruntuhan menghalangi jalan dan pandangannya
Saat ia akan mencoba masuk kembali seseorang petugas dengan cepat membawanya menjauh dari tempat kejadian, namun ia terus meronta ingin kembali
Tiba-tiba ledakan keras terdengar dari arah rumah
"Kakak...!"
_________________
"Jangan..."
Dengan napas menderu, ia terbangun dari tidur buruknya tangannya seperti menggapai di udara lalu dengan rakus ia menegak habis minuman di atas nakas, tubuhnya basah keringat
'mimpi itu lagi ' pikirnya
Sambil melihat kedinding jam menunjukkan pukul 03:30
'Jam segini lagi' gumamnya
Anehnya ingatannya akan hal ini tak pernah tuntas hanya sebatas ini saja, dan ia pun sudah mencari beberapa informasi tentang masa lalunya akan tetapi semua bagai hilang ditelan bumi begitu pun dengan keluarganya yang lainnya semua bungkam tanpa sepatah kata pun dari mereka.
sampai ia memutuskan untuk menyerah, bukan melupakan tapi mungkin ia belum siap menerima kenyataan yang sebenarnya.
Tapi menurutnya aneh bukankah itu hanya kebakaran rumah saja tapi kenapa situasinya serumit ini sehingga mereka tak menjelaskan.
Dia berhak tahu kebenarannya!
Tiba-tiba telponnya berdering membuyarkan segala pikirannya.
"Hallo, ser...ada apa?"
"Lan..kita butuh lho disini, soalnya mike kecelakaan jadi jadwal operasi hari ini lho yang gantiin "
"Ohhh, ok gue jalan sekarang"
"Iya, lho hati-hati juga...bye"
"Mmm, bye"
Setelah menutup telpon. Lana bergegas mengganti baju lalu menyambar jaket. Sambil memegang kunci mobil ia menuruni tangga terburu-buru.
Lalu mengunci pintu, Lana masuk ke mobil langsung menuju rumah sakit.
--------------------
Di ruangannya sudah ada serli, sahabatnya sekaligus rekan kerjanya. Lana langsung duduk disamping serli yang sedang membaca beberapa dokumen.
"Lho nggak bisa tidur lagi.. muka lho pucat terus kantung mata " ucap serli khawatir
"Iya, biasa ! oh soal pasien yang akan gue operasi gimana ?"
lalu serli menyerah kan beberapa dokumen yang tadi ia baca
"Sebenarnya gue agak khawatir sekaligus senang tentang pasien ini"
"Kenapa bisa gitu?"
"Lho tahu gak kalau pasien ini seorang konglemerat terpandang di negeri ini, terlihat dari beberapa penjaga di depan ruangannya"
"Trus yang lho khawatirkan apa?"
"Emang lho gak tahu rumornya, bahwa anak bungsunya itu sebenarnya gak mau bapaknya di operasi disini karena ini rumah sakit milik sang ibu tiri"
"Trus, yang tanggung jawab soal tuh bapak langsung operasi gimana?"
"Yah..anak sulungnya lah. Katanya kemarin pas ribut-ribut dirumah sakit semuannya langsung kicep pas dia datang termasuk adeknya, tapi yang bikin heran selama tuh bapak dirawat gak ada satu pun yang datang ngejenguk"
"Emang aneh sih. Kok mereka sekejam itu sama orang tuannya"
"Tapi entahlah kita kan nggak tahu masalahnya kayak gimana "
"Oh yeah...mike gimana keadaannya? Gak seriuskan?"
"Nggak . Mungkin !"
Lalu dari arah pintu muncul dika sambil mendorong kursi roda mike masuk ke ruangan lana
"Lho kok bisa jadi gini sih?" Tanya lana khawatir . Sebelum mike yang jawab dika nyerocos lebih dulu
"Nyetir sambil mabuk yah gini hasilnnya" ledek dika dengan wajah kesal mike berusaha menendang sahabatnya itu
"Kok bisa mabuk perasaan pas antarin aku pulang lho baik-baik aja" sahut lana
"Kan patah hati gegara..." sebelum dika melanjutkan omongannya mulutnya terlebih dahulu dibekap oleh serli
"Oh gue lupa. Lho tadi di panggil ketua disuruh keruangannya, kayaknya mau bahas tentang operasi ini" sambung serli sekaligus mengalihkan pembicaraan
"Kok baru ngomong . Yaudah nanti kita sambung lagi. Gue pergi dulu" dengan cepat ia meninggalkan mereka bertiga
Di dalam ruangan.
"Punya bacot lho dijaga" lugas mike sedangkan dika cuma-cuma misuh-misuh sambil mengucapkan maaf
"Yah. Sorry. Kan niat gue biar dia nyadar perasaan lho" timpal dika
"Memang tuh anak nggak peka'an soal ini, gue aja langsung tahu kalau lho suka, menurut gue lho gak usah kode lagi deh" tambah serli
"Bener tuh. Ntar kelamaan di ambil orang lho baru tahu rasa" jawab dika mengiyakan
"Nggak mungkin gue sama dia udah sahabatan dari kuliah. Dan nggak pernah liat dia pernah jalan atau pacaran " mike tetap dengan pendiriannya
"Hmm...Terserah deh, kita pokoknya tetap dukung lho " hela mereka, nggak ngerti jalan pikirannya
---------------------
Lana berjalan perlahan. Ia masih memikirkan percakapannya dengan ketua tentang operasi ini apalagi yang dia penasaran kenapa ketua sampai memohon seperti itu padanya untuk berusaha menyelamatkan nyawa pasien ini.
Ia mulai bersiap untuk operasi, dalam benaknya ada sedikit rasa khawatir namun ia tepis karena lana telah berjanji pada ketua.
Pasien sudah memasuki ruang operasi sejak 1 jam yang lalu namun belum ada tanda- tanda akan selesai .
Di depan ruangan hanya ada mike dan serli sedangkan dika lagi bertugas, akan tetapi yang membuat semua pegawai dirumah sakit mengalihkan atensinya adalah sang ketua yang duduk bersama seorang laki-laki berpakaian serba hitam dengan topi yang menutupi wajahnya postur badan tegap dengan tangan disilangkan didepan d**a.
Pasalnya mereka jarang bahkan mungkin tidak pernah sang ketua meninggalkan ruangannya.
Mungkin sekali mereka melihatnya ketika operasi sang suami yang gagal sekitar 2 tahun lalu.
Semenjak itu selain pulang dan pergi kerumah sakit. Ia selalu berada di ruangannya.
Tiba-tiba pintu terbuka seluruh orang yang menunggu mengalihkan perhatian mereka pada pasien yang selesai dioperasi.
Disusul dengan lana dengan keadaan berantakan. Ia memberi senyum hangat.
Itu pertanda baik untuk semua dan benar saja operasi berjalan lancar dan pasien di pindahkan keruang rawat.
Baru saja sang ketua ingin berbicara dengan pria disampingnya namun ia telah pergi entah kapan.
Semua memberi ucapan bangga sekaligus senang dengan apa yang ia lakukan hari ini.
----------------------
Setelah operasi panjang akhirnya ia bisa kembali kerumah untuk istirahat sungguh menurutnya operasi ini yang paling berkesan .
Saat akan memasuki mobilnya. Ia dikagetkan dengan seorang yang mencium dirinya tiba-tiba.
"Apa yang...mppph"
Matanya membola bertemu pandang dengan laki-laki itu. namun kesadarannya justru tertelan dengan manik kelam itu
Siapa dia? Mengapa situasi ini familiar ? Tiba-tiba kepalanya pusing dan jatuh pingsan.
-----------------------