Raina tidak bisa berkonsentrasi, setiap mengetik selalu salah. Sehingga selalu menekan tombol delete yang terdapat di keyboard komputer berulang kali. Di hadapannya seorang pria tengah duduk memandanginya sambil menopang dagu. Raina sangat kesal melihat tingkah laku pria itu, ia menggerutu dalam hati.
Karena sudah tidak tahan, dihentikan jemarinya yang sedang mengetik, "mau sampai kapan kamu ada disini dan memandangiku? Apa kamu tidak punya pekerjaan?" tanyanya.
Pria itu tersenyum, "ini pekerjaanku, memandangimu." Ingin rasanya Raina mengetok kepalanya dengan tempat pulpen yang ada di atas meja. "Makan siang nanti kita makan bersama ya," lanjutnya.
"Aku tidak mau!" sahut Raina kesal.
"Yah, kalau tidak mau. Aku akan terus disini dan menatapmu." Dasar keras kepala!.
Raina memelototinya, "kalau Pak Toni mengetahuinya kamu bisa dipecat. Jadi pergi ke meja kerjamu sekarang, Bayu!" perintahnya gemas bercampur jengkel.
Bayu menurunkan tangannya, menatap Raina serius. "Bisakah kamu tidak pernah menolakku, Rain? Kamu pernah menolak perasaanku, bahkan untuk makan siang bersama pun kamu menolaknya?"
Bibir Raina terkatup rapat. Ia menjadi serba salah, merasa tidak enak. "Baiklah, kita makan bersama siang nanti." Cengiran pria itu pun muncul kembali.
"Terima kasih, Rainaku," ia mengedipkan mata sebelum pergi.
Raina mendelik, "sejak kapan aku jadi Rainamu!" gerutunya sembari melihat punggung Bayu menghilang dibelokkan dinding. Sorot matanya meredup.
"Maaf Bayu, aku sudah menolak perasaanmu. Hatiku sudah tertutup untuk siapa pun. Aku tidak mau terluka lagi dan lagi."
Raina melanjutkan pekerjaannya membuat laporan pengeluaran untuk bulan ini. Pekerjaannya selesai bersamaan dengan waktu jam makan siang. Bayu mengiriminya SMS untuk menunggunya, ia masih ada pekerjaan. Raina menunggu di mejanya sambil merapikan letak berkas-berkasnya. Tidak lama kemudian Bayu berjalan kearahnya sambil tersenyum senang, raut wajahnya menunjukan sedang berbahagia. Apa dia bahagia hanya karena aku menyetujui makan siang bersamanya?
"Yuk, Rain. Kamu mau makan siang apa?" tanyanya. Raina berdiri, kemudian mereka berjalan berdampingan menuju lift.
"Aku mau makan sop buntut sepertinya enak." Salah satu makanan favorit Raina. Bayu menyetujuinya. Tempatnya agak jauh sehingga mengharuskan mereka menggunakan mobil menuju ke sana.
Bayu memesan dua sop buntut, setengah satu porsi nasi untuknya dan setengah porsi untuk Raina. Bayu bersemangat sekali menceritakan lelucon yang membuat sang wanita yang ada di hadapannya tertawa selama menunggu pesanan mereka. Dalam lubuk hati yang paling dalam merasa bersalah sebenarnya kepada Bayu. Walaupun sudah ditolak ia tetap baik dan perhatian kepadanya. Dua tahun lalu mereka bertemu di kantor. Bayu merupakan anak baru di kantor. Mereka berkenalan dan mulai dekat karena sering mengobrol. Raina hanya menganggapnya sebagai teman.
Selang setahun, tanpa disangka Bayu menyatakan cintanya. Namun Raina menolaknya dengan beralasan jika tidak mau mempunyai hubungan dengan pria satu kantor. Raina berbohong. Ia tidak mau mempunyai hubungan lagi dengan siapa pun. Ia trauma untuk memulai suatu hubungan, ia takut jika hubungan mereka akan hancur seperti mahligai pernikahannya. Bayu belum tahu jika Raina sudah pernah menikah.
Pesanan mereka sudah datang. Raina memeras jeruk nipis ke sop buntutnya ditambah beberapa sendok sambal. Bayu menggelengkan kepala.
"Jangan banyak-banyak jeruk nipis sama sambalnya. Perutmu bisa sakit, Rain!" Bayu menasihati namun selalu Raina acuhkan. Tidak ampuh untuknya karena sambal sudah menjadi bagian hidup Raina.
"Aku suka asem dan pedas, Bay. Jadi susah untuk mengurangi atau tidak pakai sama sekali. Kalau tidak pakai sambal sama saja tidak makan menurutku," sahutnya sembari mengaduk kuah sop buntut.
"Terserah yang penting aku sudah bilang, hati-hati dengan lambungmu." Ia memperingatkannya lagi dengan wajah ngeri.
"Sippo," Raina mengacungkan ibu jarinya.
Mereka menghabiskan sop buntut yang menjadi langganan Raina. Bayu membayar tagihannya. Ia bilang sebagai tanda terima kasih, sebab Raina mau menerima tawarannya makan siang bersama.
Bayu adalah sosok pria yang selalu ada untuk Raina. Ia, pria paling dekat dengan Raina di kantor. Ketika wanita berusia 27 tahun itu sedang mempunyai masalah kantor. Siapa lagi kalau bukan Bayu yang membantunya. Awalnya Raina pernah menjauhinya karena tahu tentang perasaannya itu membuat tidak nyaman. Bayu marah-marah dan minta penjelasan darinya. Raina menjelaskan dan berharap ia menjauh. Tapi ternyata Bayu malah bilang jangan pedulikan perasaannya.
Ia tidak mau kedekatan mereka rusak karena perasaan sepihaknya. Pria bertubuh tinggi itu meyakinkan Raina. Dan akhirnya Raina pun menerimanya. Hubungan mereka, Raina anggap sebatas persahabatan saja. Terkadang Bayu menyatakan cintanya lagi diselingi dengan candaan, tapi Raina tahu maksud dari candaan itu. Ia hanya tersenyum menimpalinya.
Setelah makan siang mereka kembali ke kantor. Di pintu kantor Raina melihat pria yang selama ini menghantuinya, pria itu bersama wanitanya. Raina melengos berpura-pura tidak melihatnya.
"RAINA!" teriak wanita itu saat melihatnya. Raina tersenyum kaku dengan sudut bibirnya naik dengan sangat terpaksa. "Makan siang di mana?" tanya wanita itu dengan tangan tidak pernah lepas dari prianya.
"Hai, Rain," sapa pria itu singkat. Bayu meliriknya.
"Aku makan siang sop buntut yang ada di depan itu, Rin," jawab Raina kepada Rini. "Hai, Vino," sapanya balik dengan senyuman yang sulit diartikan. Entah ia menyadari atau tidak senyum tidak ikhlas Raina itu.
"Oh, kalau kita tadi makan gado-gado. Aku ingin makan gado-gado," aura bahagia dari pasangan itu terpancar jelas. Raina enggan berada disituasi ini bersama mereka.
"Pria ini menyukai gado-gado? Dulu dia pernah bilang kepadaku kalau tidak menyukai makanan berbumbu kacang, bahkan Rini tahu itu." Pikir Raina. Ternyata cinta mampu merubah segalanya dari tidak menyukai menjadi menyukai, Raina tersenyum sinis.
"Kita masuk bersama saja, yuk," mereka berjalan di depan Raina. Ia dan Bayu jalan berdampingan di belakang. Bayu hanya diam seperti memikirkan sesuatu, dahinya sesekali mengerut. Raina melihat tangan yang bergandengan di depannya. Wajahnya berubah muram menyaksikan tangan itu bertautan.
Pintu lift terbuka mereka segera masuk. Ketika kaki kanannya melangkah masuk, tiba-tiba Bayu menahan Raina dengan menggenggam tangannya. Bayu menatap Vino yang ada di depannya, kemudian berkata, "maaf, aku lupa kalau kami masih ada urusan jadi kalian duluan saja."
Raina mengerutkan kening bingung, ada urusan apa ia dengan Bayu?
"Oh, ya sudah.. kami duluan. Kamu tahu Bayu, kalian pasangan serasi." Rini tersenyum menggoda.
Raina terdiam mencerna maksud dari Rini, "tapi kami-" selanya.
Bayu dengan cepat memotong ucapannya, "terima kasih, memang banyak yang bilang begitu." Dan pintu lift pun tertutup.
Raina melepaskan genggamannya dan menatap garang, "apa maksudmu masih ada urusan dan kenapa pula kamu berterima kasih bilang kita pasangan serasi?" tangannya sudah bertolak pinggang. Tatapan serius Bayu berubah menjadi cengiran.
"Aku tidak nyaman dengan mereka berdua," ucapnya lugas.
Seharusnya ia yang tidak nyaman, batin Raina. Tapi tunggu, apa Bayu menyadari ketidaknyamanannya. Ia menatap Bayu untuk mencari jawaban. Yang ada Bayu malah membalas menatapnya mencari sesuatu yang disembunyikan. Raina menoleh ke lift, "sebaiknya kita ke atas, sudah selesai jam makan siang."
"Baiklah,," Bayu menekan tombol lift agar terbuka.
Sebelum ke mejanya, Raina ke toilet terlebih dahulu merapikan make up di wajahnya. Ia menatap dirinya melalui cermin besar itu.
Raina, Rini dan Vino adalah tiga sahabat sejak SMA sampai kuliah. Mereka selalu bertiga kemana pun pergi. Namun Raina menodai persahabatan mereka dengan perasaannya. Ia memang menyukai Vino. Perasaan cintanya tersimpan rapi di dalam hatinya. Mereka bertiga sudah berjanji untuk tidak saling menyukai. Mereka sudah tahu sifat dan kelakuan buruk masing-masing.
Ketika liburan kuliah mereka pergi ke puncak bersama teman satu kampus. Ya, mereka bersenang-senang disana, menyewa sebuah Villa. Malam itu Raina memutuskan untuk ke kamar sendirian. Rini pergi dengan teman yang lain sedangkan Vino asyik bermain gitar didepan. Raina mengganti pakaiannya dengan gaun tidur dilapisi dengan kardigan.
Brakkkk
Pintu terbuka lebar, ia melihat Vino berdiri dengan matanya memerah. Pria itu menutup pintu kemudian menguncinya, melangkah gontai seperti orang mabuk.
Ia mendekati Raina, "kamu cantik," diciumnya paksa bibir merah itu. Raina mencium bau alkohol dari mulut Vino. Ia mengelak mencoba mendorongnya. Vino malah membanting tubuhnya ke atas ranjang.
"Vino!! Vino sadar, Vin!" teriak Raina. Vino malah menindihnya, menciumnya kembali secara brutal dan penuh nafsu.
Tangan Vino mulai menggerayangi tubuhnya. Dengan keras Raina meronta untuk melepaskan diri. Namun tenaga seorang pria lebih besar apalagi sedang mabuk. Vino berhasil membuka pakaiannya. Dan ia melakukan terhadap sahabatnya sendiri. Raina menjerit kesakitan saat mahkotanya direnggut paksa. Ia menangis dan meringis perih tapi Vino tidak juga menghentikannya. Saat Vino sampai klimaks, ia meneriakkan nama "RINI".
DEG
Seketika tubuh Raina terhempas ke dunia nyata yang lebih menyakitkan. Kini bukan hanya bagian sensitifnya yang sakit tapi juga hatinya. Hati Raina seperti tersayat-sayat lalu ditaburi garam betapa perihnya. Tangisnya semakin keras. Kejadian itu hanya Raina dan Vino yang tahu.
Sebulan kemudian tanpa disangka Raina hamil. Ia meminta pertanggungjawaban Vino untuk menikahinya. Pertama Vino menolaknya. Raina tahu jika dihati pria itu ada Rini. Fakta yang harus ia terima. Orang tua Raina mengetahuinya, jelas saja sang ayah menamparnya. Pak Hermawan menanyakan nama pria yang menghamilinya. Raina memberitahunya detik itu juga Pak Hermawan ke rumah Vino. Papanya meminta pertanggungjawaban kepada orang tua Vino. Dengan terpaksa pria itu menikahi Raina.
Pernikahan sederhana dihadiri keluarga dekat saja. Rini mengetahuinya, ia kecewa kepada mereka. Tanpa rasa malu Vino mengemis-ngemis meminta maaf kepadanya. Pada akhirnya Rini pun memaafkan mereka.
Raina kira pernikahan mereka berjalan dengan lancar. Nyatanya, ia selalu ditinggal seorang diri. Dimasa kehamilannya Raina tak pernah merasakan perhatian dari Vino. Pria itu selalu beralasan lelah atau sedang banyak tugas. Hingga di usia kehamilannya ke 4 bulan, Raina melihat Rini dan Vino di sebuah cafe. Vino menggenggam tangannya.
Kemarahan dihatinya memuncak. Raina bergegas pulang menunggu Vino ingin meminta penjelasan.
"Dari mana saja kamu?" tanyanya datar menghalau semua amarah yang siap meledak.
"Bukan urusanmu!" sentaknya.
"Aku istrimu, Vino. Aku hanya ingin tahu. Aku lihat tadi kamu bersama Rini?" Raina terus mencoba menahan diri agar tidak emosi dengan mengelus perutnya.
"Kamu tahu, Raina. Pernikahan ini membuatku frustrasi. Menikah dengan wanita yang tidak aku cintai dan sekarang malah mengandung anakku. Aku tidak mempunyai perasaan terhadapmu. Bisakah kamu merasakan apa yang aku rasa?"
Bibir Raina terkatup rapat, lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan Vino. Air matanya jatuh menandakan betapa sakitnya luka yang suaminya torehkan. "Kita belum mencobanya Vino."
Vino mengusap wajahnya kasar, "aku rasa ini sulit, Rain. Dulu kita pernah berjanji untuk tidak saling menyukai. Tapi jujur sekarang aku melanggarnya. Aku menyukai Rini. Kejadian di Puncak itu sebuah kesalahan."
Air mata Raina semakin merembes, "apa anak ini juga kesalahan?" tanyanya dengan suara serak.
"Ya," jawabnya pelan. Kaki Raina melemas, sampai tangannya harus berpegangan pada ujung sofa agar tidak jatuh.
"Aku mencintaimu, Vino!" teriaknya dalam hati.
Semenjak kejadian itu Raina lebih sering melamun. Keesokan harinya, sewaktu Raina larut dalam lamunannya di depan tv, Vino datang bersama Rini. Gadis itu tersenyum kepada Raina, sedangkan Vino menatapnya dingin. Rini memeluknya seolah-olah sangat merindukan Raina.
"Aku kangen sama kamu, Raina."
"Aku juga, kita masuk yuk," ajak Raina. "Aku buatkan minuman dulu ya," ia ke dapur dihinggapi perasaan gelisah.
Raina mencari Rini dan Vino ternyata mereka di kursi taman belakang. Tidak sengaja ia mendengar pembicaraan mereka. Raina yang bersembunyi di belakang dinding sambil memegang nampan berisi 3 buah cangkir dan biskuit.
"Aku tidak percaya yang kamu bilang kemarin Vino," suara itu milik Rini.
"Aku serius Rini dengan perasaanku. Aku mencintaimu." Tangan Raina bergetar. Vino menyatakannya kepada Rini. "Apa yang harus aku lakukan agar kamu yakin?"
"Kamu sudah menikah dengan Raina sekarang, apa aku harus percaya?" Rini meminta penjelasan atas pernyataan cinta Vino.
"Aku akan menceraikannya setelah Raina melahirkan. Agar kamu percaya kalau aku mencintaimu," ucap Vino penuh keyakinan. Mata Raina mulai berkaca-kaca tubuhnya sudah tidak kuat berdiri. Apalagi ia memegang nampan minuman.
"Kuatkan hati dan tubuhku ini .."
"Itu terlalu lama, Vino," rajuk Rini.
"Bersabarlah, sayang," sambil menggenggam tangan Rini.
Raina kembali ke dapur untuk mengusap air matanya dengan perasaan penuh luka. Ia juga menenangkan pikiran dan hatinya, kata cerai terngiang-ngiang ditelinganya.
Raina mengalami tekanan batin sejak tahu Vino merencanakan untuk menceraikannya. Ia lebih sering melamun, makan pun tidak nafsu. Ternyata Rini tidak sebaik yang ia kira begitu pula Vino, karena cinta mereka berubah.
Tubuh Raina yang seharusnya berisi karena sedang hamil malah bertambah kurus. Batin, hati dan jiwanya dirundung kesedihan teramat sangat. Ketika ingin ke kamar mandi ia terpeleset. Raina merasakan nyeri diperutnya. Sambil berusaha untuk bangkit ia melihat lantai kamar mandi berwarna merah. Darah terus mengalir dari daerah sensitifnya. Raina usap darahnya dengan tangan bergetar, "anakku!" ia pingsan tanpa ada yang tahu.
Raina mencium bau obat yang menyengat menusuk hidungnya. Perlahan ia membuka mata yang berat. Semuanya berwarna putih.
"Kamu sudah sadar, Raina?" Ibu Kinan, ibu dari Raina menangis. Ia diam memulihkan kesadarannya.
"Ma," ucap Raina pelan. "Ini di mana?"
"Di rumah sakit, sayang," Ibu Kinan menangis lebih kencang. "Syukurlah kamu sudah sadar. Kamu harus menerimanya, kuatkan dirimu. Dia sudah tenang di sana. Kamu ikhlas ya, sayang. Dia seorang putri yang cantik."
DEG
Raina menyentuh perutnya yang sudah rata, matanya memanas. "Dia pergi, Ma? Putriku?" ia menggigit bibirnya untuk menahan tangisan. Ini kesalahannya tidak memperdulikan kondisi bayi di dalam kandungannya. Sesal merayapi dirinya betapa bodohnya ia tidak memperdulikan anaknya. Semua karena Vino, Raina meremas selimut rumah sakit dengan erat hingga kukunya memutih.
Sebulan setelah ia keguguran, Vino menceraikannya seperti janjinya pada Rini. Raina berlapang d**a menerimanya. Ia menyesal bukan karena perceraian ini tapi menyesal kehilangan anak yang belum diihat wajahnya, Putrinya.
Dua tahun kemudian..
Raina bekerja di sebuah perusahaan periklanan. tiga bulan ia bekerja disana, tiba-tiba Vino dan Rini melamar di kantor yang sama dan diterima. Raina selalu menghindari mereka namun Tuhan selalu mempertemukannya. Ia berusaha membuang semua rasa sakit, benci dan dendamnya kepada mereka terutama Vino. Walaupun itu sulit.
Raina menghapus air mata yang jatuh dipipinya, mengingat masa lalu hanya akan membawa luka dan kepahitan. Ia mengelus perutnya yang dulu pernah bersemayam seorang bidadari cantik. Mungkin Tuhan lebih menyayangi putrinya daripada terlahir dari sebuah kesalahan orang tuanya. Ya, 'Kesalahan' kata yang Vino ucapkan untuk putri mereka.
Setiap hari Raina berdoa agar cepat hari minggu karena tidak harus bertemu kedua mantan sahabatnya itu. Syukurlah besok adalah hari libur. Dimana ia akan bersantai tanpa memikirkan pekerjaan dan mereka.