“Sela …”
Gisela menoleh. Menatap sang kawan dengan kening berkerut, “Kenapa?”
Aya menatap temannya dengan beragam pertanyaan. Entah ia berhak mengungkapkan semua ini atau tidak. Yang pasti ada beberapa hal yang membutuhkan penjelasan dari wanita tersebut. Akan tetapi, dirinya takut untuk mencari tahu. Karena masih belum siap menerima kenyataan yang ada.
Ia merasa ada yang aneh dengan pernikahan sang kakak dan juga temannya. Contohnya tadi pagi saat ia menjemput. Baik sang kakak maupun Sela masih merasa canggung. Bukankah semalam mereka menghabiskan malam bersama. Apa rasa itu masih ada. Setahunya ia dulu tidak seperti itu.
Terlebih lagi kondisi kamar yang rapi dan juga seolah ditiggali satu orang saja. Kalau memang pernikahan ini karena dirinya dan mereka terpaksa. Aya begitu merasa bersalah. Bukannya membuat kawannya bahagia. Malah mendatangkan luka yang mungkin akan dirasakan seumur hidupnya.
Wanita itu membutuhkan jawaban. Namun, masih bingung harus bertanya seperti apa. Karena dirinya sangat tak suka akan basa-basi.
“Itu …”
“Ada apa?”
Aya membuang napas dalam, “Kamu tidak melakukan perjanjian apapun dengan kak Gala, ‘kan?”
Gisela terkejut mendengar pertanyan tersebut. Perempuan itu menatap temannya dengan saksama. Dari mana Aya bisa menyimpulkan seperti ini. Apakah kawan baiknya itu tahu sebenarnya kalau pernikahan ini hanya kamuflase belakang. Hingga bertanya langsung kepadanya.
Kalau seperti ini, ia tak bisa menjawab apa. Karena dirinya tidak mengerti pertanyaan ini sekedar ingin tahu. Atau menjebak ia berkata yang sebenarnya. Di saat seperti ini, ia membutuhkan Gala untuk membantu menjelaskan. Sebab dirinya takut bila Aya menyalahkan diri sendiri. Dan membuatnya harus berada dalam penangannan dokter lagi.
“Gisela!”
Sela mengerjap pelan, “Iya?”
“Kalian …”
“Nggak usah berpikiran yang tidak-tidak,” sela Gisela dengan senyuman seperti biasa, “yuuk!”
Aya menarik lengannya. Membuat Gisela menghentikan langkah dan membalikkan tubuh. Saling memandang satu sama lain. Mencari sebuah jawaban yang disembunyikan oleh kebohongan. Namun Aya sama sekali tak menemukan apa-apa.
Tanpa ia sadari, Sela selalu bisa mengelabui orang. Tatapan matanya sama sekali tidak bisa mendeteksi kejujuran. Karena perempuan itu sering sekali berpura-pura dan membohongi diri sendiri.
Tentu saja bukan hal yang sulit untuk menipun Aya. Karena perempuan itu tak akan menemukan apapun dalam tatapannya. Topeng ini sangagt kuat. Hingga dirinya saja tak bisa mengenali mana yang realita dan anggan.
“Aku nggak tahu kenapa kamu bertanya seperti itu,” Sela menghela napas dalam, “yang pasti tak akan mungkin kita mempermainkan pernikahan. Bagiku, dan Gala semua ini kita lakukan atas dasar rasa saling suka dan menyanyangi.”
Aya terpaku. Mendengar perkataan sang kawan, ia merasa bersalah telah meragukan mereka. Karena tak mungkin mereka melakukan hal itu.
Akan tetapi, sedari tadi sang kakak tak berani menatap bola matanya. Seolah ada yang disembunyikan. Atau hanya perasannya belakang. Yang pasti mereka baik-baik saja sudah cukup untuknya.
“Jadi buang semua pikiran burukmu itu …”
“Tapi,” Aya menatap sang kawan dengan saksama, “kenapa kalian pagi ini terlihat bad mood. Terutama kamu yang merasa mangkel dengan kak Gala? Ada apa?”
Sela membuang napas dalam. Tadi memang drinya tak bisa menyembunyikan ekspresi tidak suka dan sedikit marah dengan Gala. Pantas saja sang kawan menanyakan hal ini. Pasti banyak sekali hal yang ditakutkan oleh Aya. Dan ia tak boleh menambahi.
“Memang iya?”
Aya mengangguk yakin. Kali ini ia ingin mendengar jawaban kakak iparnya tersebut. Karena tadi di mobil Sela memilih tidur dan tak menyahuti ucapannya. Sedikit kesal. Namun, ia tahu kalau Gisela sedang mengatur emosinya.
Sedangkan sang kakak pun terlihat cuek dan tak perhatian sama sekali. Dan itu tentu saja menarik perhatiannya. Kenapa dua orang tersebut berperilaku seperti itu.
“Perasaanmu saja …”
“Nggak,” Aya tetap pada pendiriannya. “Sela!”
Gisela membuang napas dalam. Pada akhirnya perempuan itu menceritakan kejadian pagi tadi yang membuat moodnya berantakan. Bagaimana respon lelaki itu setelah menumpahkan s**u di kepalanya.
Sebenarnya ini semua buka kesalahan Gala sepenuhnya. Dirinya juga tak melihat kalau tangan Manggala ada di atas kepalanya. Malah ia langsung berdiri begitu saja. Hingga kejadian itu terjadi.
“Kamu serius?”
Sela mengangguk, “Buat apa aku berbohong?”
Aya tak percaya dengan apa yang didengar. Namun, itu semua tak menutup kemungkinan. Karena ia tahu, kalau Sela sangat benci keramas dua kali dalam sehari. Sebab itu akan membuatnya sakit kepala. Pantas saja sedari tadi perempuan itu memilih tidur.
“Kamu …”
“Aku keramas dua kali, puas!”
Aya tertawa. Pantas saja sang kawan kelihatan bad mood. Kini tak perlu ada yang dikhawatirkan kembali. Karena memang tak terjadi apa-apa dengan mereka. dirinya hanya terlalu berpikiran yang berlebihan. Dan tentu sja itu tak bagus.
“Maaf, ya!”
Sela tersenyum dan merangkul sang kawan, “Sudah terbiasa!”
Mereka berdua tertawa bersama sambil berjalan masuk ke dalam apartemen. Kedua sahabat itu saling bercerita satu sama lain. Membahas hal lain untuk menghindari hal yang sensitive.
Gisela memang dengan mudah menyakinkan sang kawan. Mereka sudah mengenal satu sama lain. Jadi, gampang sekali bagi perempuan itu mengelabui Aya. Karena perempuan itu selalu bisa ditebak maunya apa.
Seperti saat ini, ia memang khawatir bila Aya mengetahui rahasia besar mereka. Namun dengan mudah dirinya mengubah cara pandang sang kawan. Membuat adik iparnya itu tak memikirkan hal yang aneh-aneh kembali.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang mendengarkan percakapan mereka. awalnya orang itu hanya ingin memanggil kedua wanita itu untuk segera naik dan masuk ke dalam apartemen. Karena mereka sangat lapar dan berharap dua sahabat iu bisa memasakan sesuatu.
Namun, yang terjadi justru di luar kendali. Ia mendengar percakapan mereka. saat itu ingin sekali datang dan meluruskan semuanya. Akan tetapi Sela mampu mengatasinya. Padahal Aya tergolong orang yang sangat sekali diluluhkan. Tapi, dengan mudah Gisela mampu menerangkannya.
Lelaki itu sangat salut dengan Gisela. Satu-satunya orang yang mungkin bisa mengendalikan sang adik. Apa karena hal ini Aya menginginkan pernikahan ini. Agar teman baiknya ada yang menjaga.
Namun yang terjadi, mereka malah mempermainkan hal yang sakral ini. Semoga saja Aya tak marah besar bila semua ini terbongkar. Karena serapat apapun mereka menyimpannya. Kelak pasti akan terbongkar juga.
Biarkan waktu yang menjawab dan menjelaskan. Yang terpenting sekarang mereka menjalani dengan baik-baik saja. Agar ke depannya tak ada lagi masalah. s