Jika kalian pikir Althaf adalah murid nerd, kalian salah besar. Di sekolah ia memang sering memakai kacamata bacanya, tapi jangan salah. Hampir satu sekolah mengetahui laki-laki ini, tentu saja karna ia merupakan salah satu anggota band sekolah yang merangkap sebagai gitaris dan vokalis sekaligus.
Sementara Kalila, gadis itu dikenal sebagai playgirl kelas kakap yang selalu membuat lawan jenisnya penasaran. Banyak yang mengatakan bahwa dirinya akan menaklukan Kalila dan melawan kata-kata pedas Kalila. Namun nyatanya sampai saat ini, tidak ada yang bisa melawan Kalila dalam kata-kata pedas. Kalila masih berada di posisi puncak.
"Kal, nanti pulang sekolah tungguin gue latihan ya," ujar Althaf pelan di sela-sela menulisnya. Ya, pelajaran tengah berlangsung dan kebetulan Althaf dan Kalila duduk bersama dan itu memudahkan mereka berkomunikasi.
"Gampang, yang penting konsumsi."
Althaf terkekeh kecil. Kalila selalu seperti itu, harus ada yang masuk ke perut gadis itu maka dijamin gadis itu akan diam di tempat tanpa berceloteh.
"Tenang, gue udah bawain makanan, Mama buatin," sahut Althaf dengan melirik Kalila dan senyum lebar Kalila pun langsung ia tangkap.
"Jadi pengen cepet pulang."
o0o
"Ini latian buat acara kapan, Al?" tanya Kalila yang kini sedang berjalan bersisian dengan Althaf menuju salah satu ruangan kedap suara di sekolah ini.
"Band kita di undang ke acara nikahannya mas Taufik." Mas Taufik adalah salah satu penjaga sekolah yang sebentar lagi akan menikah.
"Wah mas Taufik keren," sahut Kalila terkekeh kecil, Althaf yang semula biasa saja jadi ikut-ikut tertawa.
Kini keduanya sudah memasuki tempat latihan dan teman-teman Althaf sudah terlihat. Althaf meletakkan tasnya di sebelah Kalila dan juga menitipkan kacamatanya.
"Al," panggil Kalila pelan saat Althaf akan beranjak menuju teman-temannya.
"Apaan?"
"Makannya mana?"
Althaf mengulum senyumnya saat melihat wajah polos Kalila. "Ada di tas, ambil aja." Dan Althaf langsung bergabung bersama teman-temannya.
"Al, awet banget sih lo sama tuh cewek," ujar Leon yang sedang memainkan stick drum-nya. Althaf tertawa kecil seraya memangku gitarnya.
"Althaf sih ga usah ditanya, Althaf kan pawangnya Kalila, ya ga?" Itu suara Chan. Laki-laki oriental yang selalu menjadikan Althaf dan Kalila candaan.
Karena Althaf hanya membalas singkat candaan mereka akhirnya latihan dimulai. Mereka memilih lagu Ed Sheeran yang berjudul Thinking Out Loud.
Alunan musik memenuhi ruangan itu, Kalila yang berada di luar ruangan itu hanya bisa menatap mereka dari balik kaca di ruangan itu dengan sesekali menyuapkan lasagna ke mulutnya.
Dia kadang berpikir, Althaf sangat tampan tanpa kaca matanya, dia berpotensi menjadi jajaran most wanted boy di sekolah ini jika saja ia sering-sering tidak memakai kaca matanya seperti ini.
"Ah tapi kalo dia terkenal, dia lupa lagi sama gue," gumam Kalila.
Karna kebanyakan most wanted boy sekolah ini banyak diincar di sekolah dan selalu menjadi perbincangan hangat. Dan Kalila salah satu pengincar cogan-cogan sekolah tapi ya Kalila juga yang mengakhiri hubungan itu.
Kalila menutup kotak makannya ketika melihat Althaf sudah keluar dari ruangan tempatnya berlatih.
"Udah selesai?"
"Udah, balik yuk."
Kalila mengangguk kecil dan langsung bangkit dari sofa itu seraya meregangkan tubuhnya.
Leon dan Chan keluar bersamaan dari tempat keluarnya Althaf tadi, dua laki-laki manis itu menatap Kalila dan Althaf dengan jail.
"Kal, nyadar ga sih kalo lo itu kaya istrinya Althaf?" tegur Chan diiringi dengan kekehan jailnya. Sementara Leon hanya nyengir, takut-takut ia didamprat lagi oleh Kalila.
"Alay lo dasar jones," sahut Kalila santai. Althaf dan Leon ketawa ngakak melihat wajah Chan yang langsung tertekuk. Chan memang memiliki banyak teman tapi tidak pernah kuat jika dihadapi dengan perempuan. Tubuhnya akan keringat dingin jika ia disandingkan dengan gadis yang ia sukai. Dan Kalila dengan senang hati akan meledek Chan.
"Itu mulut masih aja pedes, udah mau tamat nih, ga ada yang ngasih kado tau rasa."
"Maaf, bawaan lahir," elak Kalila. Sebenarnya dia tidak akan mengeluarkan lidah tajamnya kalau orang-orang tidak memancingnya.
"Serem amat bawaan lahir lo," kekeh Leon.
"Lo kaya ga tau cewe ini aja, muka kalem tapi ga pernah bisa kontrol mulut." Itu suara Althaf yang berhasil membuat Kalila dongkol.
"Sembarangan lo!" damprat Kalila bersamaan dengan tangannya yang bergerak memukul lengan Althaf.
"Alhamdulillah bukan gue yang dipukul!" pekik Leon spontan melihat Althaf menjadi korban Kalila.
"Sakit b**o," ringis Althaf seraya mengusap-ngusap lengannya.
"Lo sih! Bikin kesel!"
Chan tertawa kecil seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Balik yuk, udah jam lima nih."
Dan akhirnya mereka keluar beriringan menuju parkiran mobil sekolah mereka. Kebanyakan anak kelas 12 memang sudah membawa mobil dan mempunyai surat ijin atas namanya.
o0o
Kumandang adzan maghrib terdengar beberapa menit yang lalu, Kalila yang baru selesai sholat langsung membuka jendelanya lebar-lebar seperti biasa.
Jendela kamar Althaf selalu terbuka, namun dari yang bisa ia lihat Althaf tidak ada di kamar. Mungkin masih sholat berjamaah dengan Ibunya. Lama Kalila bengong menatap kamar itu sebelum akhirnya pintu kamar itu terbuka dan menampilkan Althaf.
Penampilan Althaf yang seperti ini selalu membuat Kalila tersenyum. Dengan celana jeans selututnya, kaos hitam polos serta sarung yang tersampir di pundaknya. Dan jangan lupakan jambul sepanjang masanya dan titik-titik air di pelipisnya.
"Woi! Bengong aja," tegur Althaf yang sudah duduk di balkon kamarnya. Sementara Kalila, duduk di kursi dan bertopang dagu di balkon kamarnya sendiri.
"Al," sapa Kalila setelah sekian lama terdiam.
"Hm?" sahut Althaf tanpa melihat Kalila. Pandangannya terfokus pada ponsel di tangannya dengan dahi berkerut.
"Marathon film, yuk?"
"Kapan? Sekarang?"
"Iya, Bang Faro baru beliin kaset nih sebelum dia berangkat ke Aussie."
"Oke bentar, sekalian ada yang mau gue omongin juga sama lo. Ke bawah sekarang."
Dan Kalila langsung turun ke lantai dasar begitu mendengar kata-kata Althaf. Didapatinya Faro dan Laura sedang berbincang di dapur.
"Loh? Bang Faro belum berangkat?" tanya Kalila seraya duduk di kursi sebelah kakaknya.
"Besok pagi gue berangkat," sahut Faro santai dan Kalila mengangguk-ngangguk kecil.
"Oh, jadi sekarang kangen-kangenan sama Mama dulu?" ujar Kalila meledek Faro. Faro memang susah dipisah dari Laura. Sebenarnya Kalila juga seperti itu. Tidak bisa lepas dari Mama dan Ayahnya. Kebetulan kali ini Ayahnya sedang dinas di Surabaya, jadi di rumah hanya ada mereka bertiga.
"Kamu tuh, godain Abang kamu terus."
"Abis jadi cowo manja banget," kekeh Kalila geli seraya menatap wajah masam Faro. "Bang becanda Bang, jangan marah sama Lala dong," lanjut Kalila seraya menarik pelan ujung kaos Faro dan Faro langsung mendengus.
"Kal!" teriakan dari arah luar menyadarkan mereka dan Faro melepas tarikan adiknya.
"Dicariin cowo lo tuh, keluar sana, jangan ganggu."
Kalila mengerucutkan bibirnya. "Ih, Abang ga seru." Dan, Kalila langsung keluar menemui Althaf.
"Ayo Al, langsung masuk aja," ajak Kalila saat mendapati Althaf malah duduk di teras rumahnya.
"Sini dulu deh Kal, ada yang mau gue omongin."
"Apa?" sahut Kalila seraya duduk di sebelah Althaf yang terlihat bingung.
"Inget Luna?" tanya Althaf dan Kalila langsung memutar otaknya ke beberapa tahun lalu.
Luna.
Luna.
Luna.
"Ah iya gue inget! Tetangga depan yang pernah jadi pacar lo kan?"
Althaf mengangguk kaku membenarkan tebakan Kalila. Jujur, Luna satu-satunya mantan Althaf yang berhasil membuat Althaf susah move on.
"Kenapa, Al? Lo kangen?" tanya Kalila lagi. Karena ya, empat tahun lalu Luna dan keluarganya pindah ke Bali karena Ayahnya pindah tugas, namun rumah lantai duanya yang berada tepat di hadapan rumah Kalila tidak dijual. Beberapa pembantunya masih tinggal di sana.
"Ga, dia Line gue, katanya mau balik ke Jakarta lagi."
Kalila menahan napasnya beberapa detik, itu spontan sungguh, Kalila tidak tau kenapa ia seperti itu.
"Oh bagus dong, jadi lo bisa balikan lagi," sahut Kalila. Bingung, kenapa ia tidak ikhlas mengatakan itu. Althaf yang mendengarnya pun terlihat kesal.
"Balikan? Setelah gue berusaha lupain dia?"
"Emang lo udah bisa lupain dia sepenuhnya?"
Althaf terdiam. Ia bisa saja memang balikan dengan Luna. Tapi ugh, rasanya sudah beda, pasti canggung sekali nantinya.
"Tenang, Al, lo tegang banget sih," tegur Kalila seraya menepuk pundak Althaf dan Althaf langsung menghela napasnya seraya meremat jambul sepanjang masanya.
"Gimana ga tegang, besok dia udah dateng."
Dan mendadak Kalila ikut merasa tegang. Dulu Kalila dengan Luna sering ribut untuk memperebutkan Althaf untuk bermain. Kadang Althaf memilih Kalila, kadang juga memilih Luna.
"Besok? Cepet juga ya."
To be continued