Althaf menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang tepat berhadapan langsung dengan jendela kamar Kalila yang kali ini tertutup rapat.
Ia sudah mengirimi Kalila pesan sedari tadi namun tak ada yang dibalas, hanya diread dan itu cukup menyebalkan. Althaf kembali menyegarkan kolom chat dan Kalila masih belum membalasnya.
Althaf Gaishan
Lo marah?
Kal..
Eh cabe!
Sok cuek lu
Ga bales, besok ga berangkat bareng.
Kalila Azarine
Apaan
Althaf Gaishan
Buka jendela.
Lama Kalila tidak membalas namun jendela yang sedari tadi Althaf pandangi langsung terbuka. Kalila dengan wajah masamnya langsung terlihat. Althaf berjalan santai menuju balkonnya dan duduk di dinding pembatas yang setinggi d**a Althaf itu.
"Awas jatuh," tegur Kalila. Sebenarnya Althaf sudah biasa duduk di pembatas seperti itu namun Kalila masih saja suka menegurnya.
"Khawatir, ya? Takut gue jatuh?"
"Iya, kalo lo mati kan ntar hantu lo gentayangan ke kamar gue."
Althaf tertawa kecil. "Ngeles lagi lo."
"Lo ngapain nyuruh gue buka jendela? Udah malem."
"Lo kenapa tadi siang? Langsung ilang gitu aja, gue panik nyariinnya."
Kalila mengerutkan dahinya. "Masih inget gue ternyata."
"Kenapa sih, Kal? Lo cemburu?" tanya Althaf telak.
"Cemburu apaan! Engga lah!"
"Beneran ga cemburu? Kata Luna kayanya lo suka sama gue." Kalila membelalakkan matanya mendengar kata-kata Althaf.
"Ya kali gue suka sama lo! Kita kan sahabatan."
"Emang kalo sahabatan ga bisa pacaran?" tanya Althaf lagi. Sesekali ia menggoyangkan kakinya yang bergelantungan.
"Engg-yaaa-"
"Luna ngajak gue balikan," potong Althaf cepat, gemas menunggu Kalila menjawab.
"T-terus?"
"Menurut lo gimana?"
"Kok nanya gue?" Bingung Kalila dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Lo marah ga kalo gue balikan sama Luna?"
"Kok nanya gue? Ga ada hubungannya lah."
"Ada jelas. Lo sahabat gue," sahut Althaf santai.
Sebenarnya Kalila ingin sekali mengatakan 'engga! jangan balikan! awas aja lo!' tapi itu tidak mungkin. Bisa-bisa Althaf jadi ilfeel padanya.
"Terima aja."
Kalila mengumpat di dalam hati, kenapa dirinya malah menjawab itu dengan cepat. Ah bodoh!
"Lo seriusan ga cemburu?"
"Engga kok, santai aja. Gue masuk ya."
"Eh jangan dong! Baru juga ngobrol sebentar," cegah Althaf spontan saat melihat Kalila akan menutup jendelanya.
"Emang mau ngobrol apa sih? Lo ke rumah Luna aja sana."
Althaf mengernyit mendengar nada sinis Kalila. "Kenapa sih, Kal? Sensi banget kayanya."
Kalila menghela nafasnya. "Bukannya tiap hari gini ya? Yaudah ya gue masuk, oya besok ga usah nunggu gue, gue bareng Raka."
Blam.
Pintu balkon itu langsung tertutup menyisakan Althaf yang sedang menghela napasnya.
Sementara Kalila, gadis itu dengan cepat menyambar ponselnya, mencari kontak Line Raka dan langsung mengiriminya pesan.
Kalila Azarine
Gue besok bareng lo ya berangkatnya.
Hah. Kalila menarik napasnya setelah mengirim pesan kepada Raka. Raka itu cukup populer di sekolah, ia mantan anggota band sekolah bersama dengan Althaf. Tapi entah kenapa Raka memilih keluar dengan keadaan tegang dengan Althaf. Sampai saat ini.
Tak sampai satu menit pesannya sudah dibalas oleh Raka.
Raka Elanggio
Tumben ga sama sahabat lo? Oke, besok gue jemput.
Kalila menarik napas lega, setidaknya besok pagi ia tidak melihat wajah Althaf. Kalila masih cukup kesal mengingat kejadian di bandara tadi. Althaf menghempas tangannya dan lebih memilih menunggu Luna.
Jika boleh, Kalila ingin melempar Luna dengan sepatu heels Laura saat melihat kepala gadis itu terkulai di pundak Althaf saat sore tadi. Niatnya tadi sore Kalila membuka pintu balkon itu ingin menyapa Althaf, eh tapi pemandangan menjijikan malah menyambutnya dan menyebabkan Kalila menutup pintu balkon dengan keras sampai-sampai Laura meneriakinya.
Kalila menyambar selembar roti yang tersedia di meja makan dan langsung menggigitnya, sementara tangannya masih sibuk memakai dasi sekolah. Motor Raka sudah menunggunya di depan pagar, itu tandanya ia harus bergerak cepat.
"Cepet-cepet banget, La," tegur Laura yang tengah melahap roti tawarnya dengan santai.
"Iya, Ma, temen Lala udah nunggu di depan."
"Loh? Ga berangkat bareng Althaf?"
"Engga, Ma," jawab Kalila dan langsung mengecup punggung tangan Laura, "Lala berangkat ya! Assalamualaikum!" ujar Kalila seraya berlari keluar rumah.
Laura hanya menggelengkan kepalanya seraya menjawab salam Kalila.
Kalila merapikan rambutnya sebentar sebelum membuka pintu gerbangnya, ia harus tampil rapi di depan Raka. Raka itu satu-satunya most wanted yang belum pernah menjadi pacarnya. Kali aja, Raka bakal kecantol kan.
Setelah yakin rapi, Kalila membuka gerbangnya dan mendapati Raka yang tengah bersidekap dan bersandar di motornya.
"Akhirnya lo keluar juga," ujar Raka santai.
Kalila terkekeh seraya menoleh ke gerbang di sebelah rumahnya yang terbuka, didapatinya Althaf sedang membuka gerbang itu dan menatap Kalila dengan wajah kecutnya. Kalila dengan cepat mengalihkan pandangannya.
"Berangkat yuk, Rak."
Raka mengangguk kecil seraya menyerahkan helm putih kepada Kalila. Kalila mengambilnya dan langsung memakainya.
"Marahan sama Althaf?" tanya Raka setelah motornya berjalan meninggalkan area perumahan Kalila.
"Engga kok," sahut Kalila santai. Nyatanya ia tidak marah, hanya kesal saja. Eh.
"Terus kenapa tiba-tiba minta bareng gue?"
"Ya ga pa-pa, sekali-sekali digonceng anak IPA."
Raka tertawa kecil mendengar jawaban Kalila. Jawaban bodoh tapi terdengar lucu jika Kalila yang menjawab. Sepertinya Raka sudah terkena sihir yang ditebar oleh Kalila. Karena sedari tadi Raka tak henti-hentinya melirik spion yang mengarah tepat ke wajah Kalila.
Gadis itu benar-benar manis saat diam seperti itu. Kalila bukan gadis manja seperti kebanyakan gadis masa kini. Kalila itu gadis tangguh bermulut pedas. Dan Raka suka.
Selama SMA ini, Raka tak pernah mendengar Kalila pernah menangis. Raka ingat kejadian memalukan yang pernah menimpa Kalila saat kelas sepul.
Pada saat itu semua siswa siswi memakai bawahan putih, entah bagaimana bisa Kalila m*****i roknya dengan bercak darah, tepat di bagian belakang rok nya. Kata kasarnya sih tembus. Iya, tembus.
Kalila seketika menjadi bahan ketawaan di seluruh kantin, Raka yang melihat kejadian itu berpikir bahwa Kalila akan menangis. Tapi dugaan Raka salah, Kalila justru bangkit seraya menggebrak meja kantin.
"Heh norak lo semua! Liat gue tembus kaya ngeliat gue telanjang aja! Emang lo semua ga pernah tembus apa!? Dasar alay!"
Begitu kira-kira sembur Kalila pada masa itu. Faro yang saat itu masih kelas XII pun berlari menghampiri Kalila dan langsung mengikatkan jaketnya di pinggang Kalila.
Faro meminta Kalila untuk berhenti teriak-teriak dan segera pulang dengan Althaf. Pada saat itu pula Raka berdecak kagum, jarang sekali ada cewek ga tau malu kaya gitu. Eh? Iya benar, Kalila memang sedikit ga tau malu.
-
Kalila segera menyerahkan helm-nya kepada Raka setelah ia turun dari motor Raka.
"Makasih ya, Rak," ujar Kalila dengan cengengesan. Raka tersenyum kecil seraya turun dari motornya.
"Santai, entar pulang bareng gue?"
"Boleh, kalo lo mau," sahut Kalila santai. Siapa yang akan menolak tumpangan gratis apalagi dari cogan. Ga ada, pasti ga ada yang nolak.
"Yaudah, entar gue cari ke kelas lo."
"Sip, gue duluan ya, Rak!" Dan, Kalila langsung berjalan menuju gedung sebelah kiri. IPS di gedung bagian kiri, dan IPA di bagian kanan.
Sementara di tengahnya terdapat, kantin yang begitu besar di lantai pertama, perpustakaan luas di lantai dua, dan lapangan indoor di lantai tiga.
"Kal! Tunggu!" Kalila menoleh begitu mendengar teriakan Althaf. Althaf sedang berlari ke arahnya seraya mengeluarkan kacamata dari dalam tas nya. Apalagi jika bukan kacamata baca.
"Gue kira lo bercanda waktu bilang mau berangkat bareng Raka," ujar Althaf begitu sampai di sisi Kalila.
"Gue mana pernah becandaan sih, Al."
"Masih marah ya?"
"Engga kok. Luna sekolah di mana?" tanya Kalila.
"Hah?"
"Iya, Luna. Dia kan baru pindah dari Bali."
"Oh," Althaf mengangguk mengerti, "dia home schooling, udah akhir semester gini, mana bisa daftar sekolah."
Oh yes! batin Kalila. Setidaknya di sekolah ia tidak akan terganggu oleh gadis setengah setan itu.
"Bagus lah. Seenggaknya di sekolah dia ga ganggu gue sama lo," sahut Kalila lancar.
Althaf yang mendengar itu langsung menoleh. "Hah? Apa?"
Kalila meneguk ludahnya saat sadar ucapannya terdengar ambigu. Harusnya dia ga ngomong gitu.
"Engga kok. Lupain aja."
"Aaaa... keliatan banget lo cemburu ahaha anjir!" kekeh Althaf seraya merangkul Kalila. Kalila hanya diam dengan wajah masamnya. Ia malu sekali.
"Kenapa ga jujur aja sih, kalo lo itu cemburu jadi kan gue ga terima ajakan Luna buat balikan."
Kalila mendongak dengan wajah terkejutnya. "APA!? LO BALIKAN?"
Althaf tertawa kecil. "Engga kok haha, becanda gue, ngetes aja lo cemburu atau ga, eh ternyata cemburu beneran."
"Sialan lo," dengus Kalila. Harusnya ia tau Althaf sedang bercanda dan harusnya ia tadi bisa mengontrol responnya agar tidak berlebihan dan memalukan. Hah.
To be continued