"Hai kalian!" Kalila yang baru saja turun dari mobil Althaf langsung menoleh kaget begitu mendengar sapaan melengking itu. Siapa lagi jika bukan Luna. Gadis itu terlihat sengaja menunggu Althaf pulang dengan duduk di depan gerbangnya sendiri.
Kalila berdecak kesal. "Al, gue masuk ya," ujarnya dan langsung membuka gerbang dan masuk.
Althaf yang belum sempat menjawab pun kembali menggerakkan mobilnya sampai tepat di depan rumahnya sendiri. Baru saja Althaf mau keluar mobil untuk membuka gerbang, Luna sudah lebih dulu menghampirinya.
"Lo di dalem aja, biar gue yang bukain," ujar Luna dengan cengiran lebarnya dan langsung membukakan gerbang untuk Althaf.
Althaf melajukan mobilnya sampai di garasi rumahnya, ia keluar dari mobil dan langsung disambut dengan Luna yang merangkul lengannya.
"Al, lo kok pulang bareng Kalila sih?" tanya Luna.
"Emang kenapa? Udah biasa itu sejak kita masuk SMA," sahut Althaf cuek seraya melepas rangkulan Luna dan masuk ke dalam rumahnya.
"Al, gue boleh masuk?" tanya Luna seraya menunjuk ke dalam rumah Althaf.
Althaf diam sebentar. "Yaudah masuk aja."
Dan keduanya langsung memasuki rumah lantai dua itu.
"Tunggu sini, gue ganti baju sebentar," ujar Althaf dan langsung berlari menuju lantai dua.
Althaf menggerutu kesal dalam hati, jika nanti Kalila melihat ini ia pasti marah. Kadang Althaf bingung sendiri, mereka hanya sahabatan tapi entah kenapa rasanya tidak rela untuk melepas satu sama lain.
Althaf dengan cepat mengganti seragamnya dengan pakaian santai, ia segera turun ke lantai dasar dan duduk di sebelah Luna. "Lo mau ngapain di sini?" tanya Althaf.
"Mau main aja, ga boleh? Lo juga belum jawab pertanyaan gue kan?"
"Pertanyaan apa?"
"Kemarin, waktu di mobil."
Althaf mendengus pelan. Kenapa di saat seperti ini Luna membahas masalah seperti ini. Luna yang melihat Althaf hanya diam langsung menyandarkan kepalanya di bahu Althaf.
"Bangun dih, entar diliat Mama gue, ga enak," ujar Althaf seraya mengangkat kepala Luna dari bahunya.
Luna berdecak kesal. "Lo kok berubah sih, Al?! Kok kayanya risih banget sama gue?" tanya Luna dengan dahi berkerut-kerut.
Althaf mengusap wajahnya. "Berubah apa sih? Gue gini-gini aja."
"Engga, dulu lo waktu SMP lo ga pernah jaga jarak sama gue kaya gini! Waktu di bandara juga lo biasa aja! Lo udah dihasut sama Kalila ya selama di sekolah?"
Althaf melirik Luna tidak suka. "Jangan pernah bawa nama Kalila ke masalah lo."
"Terus siapa yang mesti gue sangkutin kalo bukan dia? Lo kan deketnya sama dia."
"Coba lupain hubungan kita deh, kita putus udah empat tahun. Gue udah bosen lo ngomongin ini mulu," ujar Althaf seraya bangkit dari duduknya.
"Al, tapi gue masih say-"
"Lo pulang dulu deh ya, gue mau tidur."
Luna berdecak dan langsung meninggalkan Althaf dengan menghentakkan kakinya kesal. Althaf menghela nafasnya pelan dan langsung beranjak menuju kamarnya. Tidak tidur, tapi menemui Kalila.
o0o
Raka berjalan menyusuri koridor sekolahnya, pertemuannya dengan Althaf tadi sangat tidak mengenakkan. Dulu saat SMP mereka sangat dekat, semua mengenal mereka sebagai sahabat. Kemana-mana selalu bertiga bersama Luna. Iya, Kalila tidak satu sekolah dengan mereka saat SMP.
Sampai akhirnya sesuatu terjadi di akhir tingkat mereka sebagai siswa SMP, setelah kejadian itu Althaf jijik melihat Raka. Hubungan mereka terus memburuk sampai-sampai Luna memutuskan untuk ikut pindah bersama orangtuanya.
Sampai akhirnya mereka dipertemukan lagi di SMA yang sama. Serta ekstrakurikuler yang sama, band. Saat itu keluar masuk ekstra tidak boleh seenaknya, Raka dan Althaf bertahan selama satu semester dalam ruang lingkup yang sama dan pada akhirnya Raka memilih keluar.
Raka berhenti berjalan saat dirinya sampai di depan ruangan kedap suara, ruangan berlatih band. Ia membuka kenop pintu itu dan terkejut ketika melihat Chan dan Leon sedang bermain gitar. Begitu juga dengan Leon dan Chan yang tersentak kaget melihat Raka. Sedikit tidak percaya juga Raka masuk ke ruangan ini setelah hampir dua tahun jarang bertemu. Ditambah lagi Raka yang berada di jurusan IPA.
"Raka! bikin kaget aja lo," ujar Chan seraya menepuk ruang di sebelahnya, bermaksud menyuruh Raka duduk.
"Sorry, kayanya gue ganggu," ujar Raka canggung seraya mengusap tengkuknya dan berjalan mendekat ke arah Chan.
"Baper lo nyet. Kaya sama siapa aja," timpal Leon yang membuat Raka tertawa kecil.
"Ke mana aja lo? Main ilang aja waktu itu."
"Lo kaya ga tau aja sih," balas Raka. Mereka satu sekolah juga saat SMP jadi mereka tau pasti apa masalahnya. Dan maksud Chan tadi untuk basa-basi saja, menghapus kecanggungan.
"Minta maaf duluan aja sih, Rak, emang lo ga pengen gabung lagi?"
"Ga usah bahas ginian lah Chan. Capek gue," sahut Raka seraya menyandarkan tubuhnya, meletakkan kepalanya pada sandaran sofa dan menatap langit-langit ruangan tersebut.
"Terus lo ngapain kesini? Gue pikir lo kangen kita-kita," ujar Leon seraya tertawa kecil, begitu juga dengan Chan dan Raka.
"Gue mau tanya nih,"
"Ya tanya aja nyet, ga usah kaya cewe gitu dah," sahut Chan yang membuat Raka mendengus.
"Althaf siapanya Kalila sih? Mereka sahabatan kan?"
"Emang kenapa?"
"Gue suka sama Kalila."
"LAGI?!" pekik Leon dan Chan bersamaan. Raka mengusap telinganya sekilas.
"Nyante aja njing responnya," dengus Raka.
"Lo asli gila, Rak! Waktu SMP Luna, dan SMA sekarang Kalila?!"
"Paan sih. Emang mereka pacaran? Ngga kan?"
"Ya ngga emang, tapi kan-ah apa ya, gue juga bingung sendiri mereka itu apa. Deket iya, tapi bukan pacar." Bingung Chan seraya menggaruk belakang kepalanya.
"Ga usah pura-pura b**o, mereka friendzone kayanya," sahut Leon santai.
"Yaudah, berarti gue masih bisa deketin Kalila kan."
"Bisa sih, tapi kayanya butuh usaha besar. Althaf ga gampang gitu aja lepasin Kalila, apalagi buat mantan sahabatnya," tandas Chan.
"Ga gampang maksudnya? Buktinya Kalila sering tuh jadian sama cowok-cowok sekolah ini, tapi kayanya Althaf biasa aja."
"Itu karena Althaf tau kalo Kalila cepat atau lambat bakal putus dan balik lagi ke Althaf."
Raka mengangguk kecil. "Kalo emang gitu gue bakal ladenin Althaf."
"Duh jangan nyari ribut lah," ujar Leon.
"Gue ga nyari ribut dodol, gue cuman perjuangin perasaan gue. Gue udah terlanjur suka sama Kalila."
"Sejak kapan?"
"Tadi."
"Gila!"
o0o
"Kal, gue ada tebak-tebakan nih, mau denger ga?" saat ini Althaf berada di rumah Kalila karena gadis itu meminta Althaf untuk menemani marathon film, menggantikan Faro yang biasanya menemani Kalila.
"Ga mau. Tebak-tebakan lo garing."
"Sialan. Yang ini ga garing, seriusan. Mau denger kan?" Kalila mendengus. Althaf yang asli selalu seperti ini, banyak bicara dan sedikit memaksa.
"Yaudah, apa?"
"Tebak ya. Apa yang kalo gue tidur dia bangun , dan kalo gue berdiri dia tidur?"
Kalila mengerutkan dahinya, matanya memicing menatap Althaf yang tengah tersenyum jail. Kalila bergidik membayangkan kata-kata Althaf dan langsung memukuli laki-laki itu.
"m***m! Althaf m***m! Pulang lo! Jijik gue!" pekik Kalila dengan memukuli lengan Althaf dan sesekali memberi jambakan.
"Aw aw haha! Lo yang m***m alay!" balas teriak Althaf karena merasakan geli di perutnya dan sakit di kulit kepalanya. Jambakan Kalila itu ajaib, berasa rambut lepas dari kulit.
"Kok bisa gue sih yang m***m?!" Kalila menghentikan aksi brutalnya dan langsung menatap Althaf tak terima.
"Emang menurut lo jawabannya apa?" tanya Althaf dengan senyum jail dan alis naik turun, bermaksud menggoda Kalila.
"Lo mau gue tonjok?" sungut Kalila seraya menunjukkan kepalan tangannya.
Althaf tertawa kecil seraya menjauhkan kepalan tangan itu. "Jawabannya ya telapak kaki lah."
Kalila mengerutkan dahinya bingung. Althaf yang melihat Kalila bingung langsung berdiri.
"Liat, telapak kaki gue tidur kan?" tanya Althaf seraya menunjuk telapak kakinua sendiri.
Kalila mengangguk. Althaf kini langsung merubah posisinya menjadi berbaring di lantai.
"Liat, telapak kaki gue sekarang bangun kan?" tanya Althaf lagi seraya menggerakkan telapak kakinya.
Kalila tertawa kecil, sedikit malu juga. Tapi pertanyaan tadi memang sedikit ambigu untuk di dengar. "Tumben pinter."
"Nemu di google tadi hehe."
"Pantesan tebak-tebakannya berbobot."
"Maksud lo?"
"Ya lo kan biasanya b**o kalo buat tebak-tebakan," sahut Kalila dengan tertawa kecil.
"Berani ya lo ngehina gue, gue kelikitik tau rasa lo."
"Gue udah ga gelian," sahut Kalila cuek dengan sedikit nada menantang.
"Serius?"
"Iya."
"Gue kelikitik ya?" Kalila langsung menatap Althaf waspada.
"Ya jangan, percuma, gue ga bakal kegelian."
"Bohong," ujar Althaf yang langsung menyerang Kalila yang duduk di sudut sofa. Kalila menggeliat heboh saat tangan Althaf berusaha menyentuh pinggangnya.
Tanpa sadar Kalila menendang perut Althaf sampai laki-laki itu hampir terjatuh dari sofa, sebelum sempat terjatuh Althaf menarik kedua tangan Kalila dan..
Brug
Kepala Althaf jatuh membentur lantai dan dahi Kalila sukses membentur d**a keras Althaf.
"Anjir lo ngapain narik gue?" ujar Kalila seraya mengangkat kepalanya menatap wajah Althaf.
Althaf yang tadinya mau memarahi Kalila langsung diam membatu.
Mereka saling beradu tatap selama beberapa waktu, saling menyelami sepasang iris yang mereka pandang. Entah berapa lama mereka dalam posisi tersebut sampai akhirnya seseorang datang dan membuat mereka terkejut bukan main.
"Astaghfirullah! Kalian ngapain?!"
To be continued