“Kenapa lo terima?” tanya Radigta, lelaki sejuta pesona itu melihat lawan bicaranya dengan tatapan kesal. Tak pernah terbayang olehnya bahwa dia harus berakhir dengan kembaran mendiang kekasihnya.
Tambah kesal lagi karena jawaban dari gadis manis itu. “Karena lo kaya dan ganteng.”
Radigta menghempas punggungnya pada sofa empuk yang didudukinya. Matanya tetap lurus memandangi gadis yang sibuk memulas kuku-kuku cantiknya dengan warna merah muda bercampur putih dan juga sekotak manik-manik serupa berlian kecil untuk menghiasi ujung-ujung kukunya.
“Lo sama aja kayak cewek-cewek di luaran sana.”
“Ya mau gimana lagi?” gadis manis itu meniupi kuku-kukunya, lalu mendongak membalas tatapan Radigta. “To be honest gue enggak mau hidup susah. Gue perlu make up, skin care dan banyak hal yang harus gue beli pakai uang dan lo adalah sumber daya yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.”
“Setres lo!”
Ada satu perbedaan dari gadis yang tengah Radigta hadapi sekarang dari gadis-gadis lainnya yaitu terlalu blak-blakan tentang hartanya. Jika kebanyakan gadis pada umumnya memilih malu-malu dan tidak mengakui bahwa mereka tertarik dengan Radigta karena lelaki itu kelebihan banyak harta, maka lain halnya dengan Sephiana yang lebih memilih jujur mengatakan apa adanya.
“Iya gue bisa setres kalau kekurangan duit.” Sephiana membalas sambil menutup rapat botol-botol cat kukunya. “Tapi, kalau mau membatalkan juga enggak apa-apa. Silahkan aja.”
Radigta membuang pandangannya, memperhatikan kamar Sephiana yang serba merah muda itu. Warna yang sebenarnya Radigta yakini bahwa Sephiana tidak menyukainya. “Lo aja yang batalin.”
“Gue bilangkan kalau gue enggak mau hidup susah jadi, gue enggak akan membuang kesempatan emas yang datang ke diri gue.” Setelah mengucapkan kalimat itu Sephiana berdiri membawa kuteksnya kembal ke meja rias. Menata rapi di sana.
“Lo juga tahu kalau gue enggak bisa melawan orang tua gue sendiri.”
Sephia terkekeh mendengar penuturan Radigta. Kembali mendekat, kini Sephiana duduk di sebelah Radigta. “Kalau gitu kita menikah.”
Tujuan utama Radigta datang menemui Sephiana adalah agar gadis menyebalkan itu mau membatalkan pernikahan mereka, sebab hanya Sephiana yang bisa membuat orang tuanya menurut. Mereka mengatakan sendiri padanya pernikahan itu bisa batal kalau Sephiana yang menolak. Radigta sendiri jelas tidak bisa membantah orang tuanya. Dia begitu menyayangi mereka.
“Tapi, lo musuh gue!”
“Cuma lo musuh yang datang dengan suka rela masuk ke kamar musuh lo sendiri,” Sephiana lebih mendekatkan dirinya pada Radigta. “Atau mau sekalian kita bercinta, Radigta.”
Tangan Sephiana ditepis kasar oleh Radigta saat mencoba untuk menyentuh garis rahanganya. “Jangan pernah sentuh gue! dan ini bukan kamar lo!”
“Ya ya ya, I know mister untouchable.” Balas Sephiana tidak tersinggung sedikitpun atas apa yang baru saja Radigta lakukan padanya. Sephiana kembali mundur mengambil jarak.
“Lo harus datang besok. Bilang ke orang tua gue bahwa…”
“No! gue enggak akan membatalkan pernikahan kita. Kasihan mereka udah terlalu senja untuk lo sakiti.”
Radigta membuang muka saat dengan entengnya Sephiana melepaskan kaos merah muda di hadapannya, menyisakan bra putih yang membungkus bagian kenyal itu. Sephiana memang sinting, Radigta tahu itu sejak dulu. Gadis yang suka sekali memanfaatkan laki-laki yang jatuh ke dalam pesonanya. Sephiana matre tingkat akut. Dari jaman SMA Radigta tahu kalau musuhnya itu sering sekali gonta-ganti pacar, yang kesemuanya adalah cowok-cowok kaya.
Tapi, Sephiana juga pemilih. Tidak semua lelaki kaya dia pacari, harus yang mempunyai tampang sebanding dengannya dan tentu saja yang tidak terikat dengan gadis lain alias lajang. Dijodohkan dengan Radigta itu seperti Sephiana mendapatkan tambang emas. Tentu saja tidak akan dia sia-sia begitu saja.
Lalu Sephiana berdiri menuju lemari pakaiannya. Dia juga melepas celana pendeknya. Sembarangan memang sampai membuat Radigta melemparnya dengan bantal sofa mengenai b****g Sephiana yang bulat lagi padat. Sempurna untuk memuaskan hasrat lelaki.
“Lo itu enggak pernah diajarin sopan santun apa?! Jadi cewek enggak ada malu-malunya telanjang di depan cowok. Murahan banget lo!”
Sephiana berbalik. “Emang! Gue enggak pernah diajarin sopan santun dan gue enggak telanjang! Gue masih pake celana dalam dan bra!”
See? Sephiana itu emang enggak waras.
Radigta sudah tak tahan lagi dengan tingkah Sephiana maka, dia beranjak mendekat Sephiana. Mendorong tubuh gadis itu hingga menyentuh lemari di belakangnya. “Gue enggak sesabar itu Sephiana Clarissa. Gimana pun caranya lo harus membatalkan pernikahan kita.”
“Apa karena kembaran gue makanya lo enggak mau menikah sama gue?” tanya Sephiana tanpa rasa takut sedikitpun balas menatap kelamnya sorot mata Radigta.
“Jelas! Karena sampai kapanpun lo enggak bisa menggantikan Stephania di hati gue. Lo hanya pembunuh.”
Kedua tangan Sephiana mengepal, lantas kemudian dia mendorong Radigta menjauh darinya. “Gue harus bilang berapa kali sih kalau gue enggak membunuh kembaran gue sendiri. Semua itu kecelakaan!”
“Kecelakaan itu enggak akan terjadi kalau lo enggak ceroboh!” Radigta sudah emosi sampai-sampai itu menunjuk wajah Sephiana dengan garang.
Sephiana sama garangnya menatap Radigta. Melangkah mendekat, dia menurunkan tangan Radigta dari depan wajahnya. “Gimana kalau ternyata kecelakaan itu terjadi karena sengaja. Stephi sengaja membuat dia kehilangan nyawanya sendiri, gimana kalau hal itu yang terjadi?”
“Itu enggak mungkin. Stephi bukan orang sebego itu.” balas Radigta, lalu menarik lepas tangannya dari genggaman Sephiana.
“Dia emang enggak bego tapi, dia capek. Capek sama lo yang posesif, capek karena kebebasannya lo renggut dan….” Sephiana semakin mendekat hingga ujung sandalnya menyentuh ujung sandal milik Radigta. “Capek karena harus menuruti nafsu lo, Radigta.”
Rahang Radigta mengeras seiring dengan kilat amarah di matanya. Tangannya terangkat lalu mencengkram rahang Sephiana. “Lo enggak tahu apa-apa tentang gue dan Stephi. Lagi pula gue enggak pernah memaksa Stephi, kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Karena cinta.”
Kali ini Sephiana yang menghempas tangan Radigta. “Tentu saja Stephi enggak akan menolak karena lo pandai merayu dan pemaksa.”
Sephiana lalu mundur kembali mencari pakaian tidurnya dari lemari. Sedangkan Radigta sudah mengeram marah menahan emosinya. Memandangi Sephiana yang santai berpakaian di depan matanya. Jelas Sephiana begitu mirip dengan Stephi secara fisik tapi, sifat mereka jauh berbeda. Sephiana sangat menyebalkan bagi Radigta.
“Fine! Karena lo enggak mau membatalkan pernikahannya maka, gue akan menjadikan pernikahan kita neraka buat lo.”
Sephiana berbalik lagi menatap Radigta setelah selesai berpakaian. “Boleh, itu hak lo tapi, gue juga punya hak mau bagaimana membawa pernikahan kita.”
Radigta kesal saat Sephiana tersenyum miring padanya. Tahu benar bahwa arti dari senyuman itu. Ada kejanggalan, lagi pula Radigta juga sadar bahwa Sephiana tidak akan mungkin mau menerima pernikahan mereka begitu saja, pasti ada rencana dibalik pasrahnya Sephiana atas perjodohan mereka. Seakan-akan Radigta tahu Sephiana tidak pernah mencintainya.
Bukan hanya sekedar harta, tahta dan Radigta.