Beberapa hari setelah percakapannya dengan Albert, Belinda benar-benar melakukan apa yang sudah ia katakan. Wanita itu datang menemui Luna tanpa memberitahu Albert.
Luna yang sedang berada di salah satu kafe tidak jauh dari kantornya terlihat terkejut ketika melihat Belinda berdiri di depannya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Belinda menarik kursi di depan Luna lalu duduk tanpa meminta izin. “Aku ingin bicara denganmu.”
Luna menatap wanita itu beberapa saat. Luna sudah tahu apa yang ingin dibicarakan Belinda. “Kamu ingin aku meninggalkan Albert?”
Belinda tersenyum tipis. “Bagus. Berarti kamu sudah tahu.”
Luna tidak menjawab.
“Aku ingin kamu menceraikan Albert.”
Luna menatap Belinda dengan tenang. “Tidak.”
Jawaban singkat itu membuat senyum Belinda menghilang. “Luna, aku tidak datang ke sini untuk berdebat.”
“Aku juga tidak.”
“Kalau begitu, tinggalkan Albert.”
Luna menggeleng.
“Albert sudah memilihku,” lanjut Belinda. “Dia sudah mengatakan kepadamu bahwa dia ingin mengakhiri pernikahan kalian. Kenapa kamu masih mempertahankan sesuatu yang sudah tidak memiliki arti?”
Luna tersenyum getir. “Kalau pernikahan kami sudah tidak memiliki arti, kenapa kamu masih datang kepadaku?”
Belinda terdiam.
Luna menatapnya lekat. “Albert adalah suamiku. Kamu tahu itu.”
Belinda menatap Luna tajam, “Kamu juga tahu Albert mencintaiku.”
“Kalau begitu, biarkan Albert yang menyelesaikan pernikahan kami.”
Belinda mulai kehilangan kesabarannya. “Aku ingin semuanya selesai sekarang. Kamu yang harus meninggalkan Albert.”
“Aku tidak akan meninggalkan Albert hanya karena kamu memintanya.”
Belinda menatap Luna dengan tatapan penuh kebencian. “Kamu keras kepala.”
“Mungkin.”
“Kamu mencintai Albert?”
Luna terdiam sebentar. “Tentu saja aku mencintainya.” Luna menghela napas. “Aku mencintai Albert. Tapi itu tidak berarti aku harus membiarkan orang lain mengatur hidupku.”
Belinda berdiri dari kursinya. “Kalau begitu jangan salahkan aku kalau sesuatu terjadi kepadamu.”
Luna ikut berdiri. “Apa maksudmu?”
Belinda tidak menjawab. Tangannya tiba-tiba terangkat dan menampar wajah Luna dengan keras.
Pipi wanita itu terasa panas. Namun Luna tidak membalas. Luna menatap Belinda sambil memegangi pipinya. “Apa kamu gila?"
Belinda menatapnya tajam. “Ya, Aku memang sudah gila karena Albert dan aku sudah memperingatkanmu.”
Setelah mengatakan itu, Belinda pergi meninggalkan Luna yang masih berdiri di tempatnya.
Luna menyentuh pipinya yang terasa sakit. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya direncanakan wanita itu. Namun Luna tahu satu hal... Belinda tidak akan berhenti begitu saja.
Sementara itu, beberapa jam kemudian Albert sedang berada di rumah sakit ketika Belinda datang menemuinya. Albert langsung berdiri ketika melihat kondisi wanita itu. “Belinda?”
Belinda menundukkan wajahnya. Rambutnya sedikit berantakan dan pakaiannya terlihat robek di beberapa bagian.
“Apa yang terjadi?”
Belinda tidak langsung menjawab, dia justru menangis.
Albert segera mendekatinya. “Siapa yang melakukan ini?”
Belinda menatap Albert dengan mata berkaca-kaca. “Luna.”
Albert membeku. “Luna?”
Belinda mengangguk.
“Dia datang menemuimu?”
“Bukan. Aku yang menemui dia.”
Albert menatap Belinda dengan bingung.
“Aku hanya ingin bicara baik-baik dengannya.” Belinda menarik napas panjang. “Aku meminta maaf dan mengakui kesalahanku. Aku tidak pernah bermaksud menghancurkan hidup kalian. Perasaan kita tumbuh tanpa bisa kita cegah dan aku hanya ingin kamu.”
Albert terdiam beberapa saat. "Lalu dia marah?”
Belinda menyentuh pipinya sendiri sambil mengangguk lalu menjawab, “Dia memukulku... Dia juga mengatakan kalau aku tidak meninggalkanmu... dia akan membunuhku.”
Albert menatap wajah Belinda namun Dia tidak langsung percaya. “Luna mengatakan itu?”
Belinda mengangguk sambil menangis. “Aku sudah mencoba menjelaskan kepadanya, Al. Aku bilang aku akan pergi kalau dia tidak menginginkanku. Tapi dia tidak mau mendengarkan.”
Albert mengepalkan tangannya. “Kenapa kamu tidak meneleponku?”
“Aku takut.” Belinda kemudian memeluk dirinya sendiri. “Aku takut Luna benar-benar melakukan sesuatu kepadaku.”
Albert menatap pakaian Belinda yang robek.
Kemarahannya perlahan muncul. “Dia melakukan ini kepadamu?”
Belinda mengangguk. “Aku sudah memperingatkanmu.”
Albert terdiam. Ucapan Belinda beberapa hari lalu kembali terdengar di kepalanya. Tentang keluarga Bagaskara dan tentang kemungkinan Luna melakukan sesuatu kepadanya... Kini Albert mulai memikirkan ucapan Belinda mengenai mereka yang harus bertindak lebih dulu.
Albert menarik napas panjang. “Belinda...”
Belinda menatapnya. “Aku tidak ingin kehilangan kamu.”
Albert mengusap wajahnya. “Aku akan menyelesaikan masalah ini.”
Belinda menggenggam tangan Albert. “Bagaimana kalau Luna benar-benar melakukan sesuatu kepadaku?”
Albert tidak menjawab.
“Aku sudah mengambil risiko besar untuk bersamamu, Al.” Belinda menatapnya dengan air mata yang masih tersisa di sudut matanya. “Sekarang kamu juga harus melindungiku.”
Albert menatap Belinda. Untuk beberapa saat, pria itu tidak mengatakan apa-apa. Kemudian Albert melepaskan tangannya. “Aku akan menemui Luna.”
Belinda langsung bertanya, “Untuk apa?”
“Aku ingin mendengar semuanya langsung darinya.”
Belinda terlihat panik. “Jangan pergi sendiri.”
“Kenapa?”
“Aku takut dia akan melakukan sesuatu kepadamu.”
Albert menggeleng. “Aku akan menyelesaikannya.”
Belinda hanya diam. Namun di dalam hatinya, wanita itu tahu Albert sudah mulai mempercayai ceritanya.
Sementara itu, Albert segera pergi mencari Luna. Dia menelepon istrinya beberapa kali.
Tidak ada jawaban.
Albert mencoba lagi. Tetap tidak ada jawaban.
Akhirnya Albert pergi ke apartemen mereka. Pintu terbuka setelah dia memasukkan password.
“Luna?”
Tidak ada jawaban.
Albert masuk ke ruang tengah. Apartemen itu masih sama seperti biasanya. Barang-barang Luna masih ada. Tasnya masih berada di tempat biasa. Beberapa pakaian Luna juga masih tergantung di kamar. Tetapi... Luna tidak ada.
Albert mengambil ponselnya lalu kembali mencoba menghubunginya.
Tidak aktif.
Albert mengerutkan kening. Ke mana Luna pergi?
Dia segera menghubungi beberapa orang yang mungkin tahu keberadaan istrinya. Namun... tidak ada yang tahu.
Albert kembali menatap ruangan yang sepi itu. Untuk pertama kalinya sejak tadi, rasa tidak nyaman mulai muncul di dalam dirinya. Belinda yang masih berada di rumah sakit juga mencoba menghubunginya.
“Al, bagaimana?”
Albert menatap layar ponselnya sebelum akhirnya menjawab. “Aku tidak menemukan Luna.”
Belinda terdiam. “Apa maksud kamu?”
“Dia tidak ada di apartemen.”
“Sudah kamu cari?”
“Sudah.”
“Dia pergi ke mana?”
Albert tidak menjawab. Dia sendiri tidak tahu. Mereka berdua kini sama-sama tidak tahu di mana keberadaan Luna.
"Al, bagaimana kalau Luna sedang menyusun rencana untuk membunuhku karena merebut kamu darinya?"