Pagi itu Luna sudah berada di dapur sejak beberapa menit yang lalu. Wanita itu sedang menyiapkan sarapan ketika suara langkah kaki terdengar dari arah kamar.
“Kamu sudah bangun?”
Luna menoleh dan melihat Albert berjalan mendekatinya sambil merapikan rambutnya yang masih sedikit berantakan. Pria itu sudah mengenakan kemeja putih yang akan dipakainya ke rumah sakit.
“Sudah dari tadi. Aku juga sudah buat sarapan.”
Albert berjalan mendekat lalu berdiri di belakang Luna. Tangannya melingkar di pinggang wanita itu dan dagunya diletakkan di bahu Luna.
“Kamu tidak perlu repot membuat sarapan setiap pagi.”
“Aku kan istrimu. Masa aku tidak boleh membuat sarapan untuk suamiku sendiri?”
Albert tersenyum kecil mendengar jawaban Luna. Pria itu kemudian mencium pipi Luna sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.
Kehidupan mereka memang sudah jauh berbeda dibandingkan beberapa bulan pertama pernikahan. Dulu mereka bahkan hampir tidak pernah berbicara meskipun tinggal di apartemen yang sama. Sekarang Luna bahkan sudah terbiasa dengan kebiasaan-kebiasaan kecil Albert.
Luna tahu kalau Albert tidak suka kopi yang terlalu manis. Luna tahu kalau pria itu selalu membawa dua buah pulpen karena sering kehilangan salah satunya di rumah sakit. Luna juga tahu kalau Albert akan menjadi sangat menyebalkan ketika sedang lapar.
Begitu juga dengan Albert...
Albert sudah hafal kebiasaan Luna yang selalu lupa membawa payung ketika pergi ke kantor. Albert juga selalu mengingatkan Luna untuk makan tepat waktu karena wanita itu sering terlalu sibuk bekerja sampai lupa makan siang. Hal-hal sederhana itu perlahan membuat Luna menyadari kalau kehidupan pernikahannya sudah berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Kamu hari ini pulang malam lagi?” Luna bertanya ketika mereka sudah duduk di meja makan.
“Mungkin.”
“Mungkin itu artinya pulang malam?”
Albert tertawa kecil. “Ada beberapa pasien yang harus saya tangani. Kalau semuanya selesai tepat waktu, saya akan pulang lebih cepat.”
Luna hanya menganggukkan kepalanya. “Kalau begitu hati-hati.”
Albert menatap Luna beberapa detik sebelum kembali tersenyum. “Kamu juga.”
Sebelum pergi, Albert kembali menghampiri Luna dan mencium kening wanita itu. Kebiasaan kecil yang entah sejak kapan mulai mereka lakukan. Setelah Albert pergi, Luna berdiri di depan pintu apartemen sambil memperhatikan suaminya masuk ke dalam lift.
Dulu Luna tidak pernah peduli Albert pulang atau tidak... Namun sekarang semua sudah berbeda.
Luna bahkan sering melihat jam ketika hari sudah mulai malam hanya untuk memastikan Albert tidak terlalu lama berada di rumah sakit. Tanpa Luna sadari, pria itu sudah menjadi bagian penting dalam kehidupannya dan Luna takut kehilangan Albert.
Beberapa minggu terakhir Albert memang menjadi lebih sibuk. Panggilan dari rumah sakit semakin sering masuk bahkan ketika pria itu sedang berada di rumah. Beberapa kali Luna melihat Albert harus kembali ke rumah sakit setelah makan malam karena ada pasien yang membutuhkan penanganan darurat.
Luna tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan suaminya. Dia tahu Albert memang mencintai pekerjaannya sebagai dokter. Hanya saja, beberapa hari terakhir ada sesuatu yang berbeda. Albert mulai lebih sering menyebut nama seseorang dari rumah sakit.
Dokter Belinda tadi membantu saya menangani pasien. atau... Dokter Belinda ternyata cukup teliti.
Luna yang sedang duduk di sofa hanya mendengarkan. “Dokter Belinda itu dokter baru?”
“Iya. Dia baru bergabung di Global Hospital.”
“Oh.” Luna tidak terlalu memikirkan hal itu. Baginya Belinda hanyalah rekan kerja Albert.
Sampai suatu siang Luna memutuskan untuk datang ke rumah sakit membawa makan siang untuk suaminya. Luna berjalan menuju ruang dokter sambil membawa sebuah tas berisi makanan. Namun langkah wanita itu berhenti ketika melihat Albert sedang berbicara dengan seorang wanita di depan ruangannya. Wanita itu mengenakan pakaian dokter gigi dan terlihat sedang tersenyum kepada Albert.
Luna tidak mengenalnya.
Tetapi Albert tampaknya sudah cukup dekat dengannya karena pria itu juga terlihat tersenyum. Luna kemudian kembali berjalan mendekati mereka. “Mas...”
Albert langsung menoleh. “Luna?”
“Mas belum makan, kan? Aku bawakan makan siang.”
Albert tersenyum lalu mengambil tas makanan dari tangan Luna. “Terima kasih.”
Wanita di samping Albert ikut menoleh kepada Luna. Untuk beberapa detik mereka hanya saling memandang. Kemudian wanita itu tersenyum ramah.
“Jadi ini Luna.”
Luna sedikit terdiam. “Anda mengenal saya?”
Wanita itu tertawa kecil. “Siapa yang tidak tahu kalau Dokter Albert sudah menikah?”
Albert kemudian memperkenalkan mereka. “Luna, ini Belinda Tanubrata. Dia dokter gigi baru di rumah sakit.”
“Belinda, ini istri saya.”
Belinda mengulurkan tangannya. “Senang bertemu dengan kamu, Luna.”
Luna membalas uluran tangan itu. “Senang bertemu dengan Anda juga.”
Semuanya terlihat biasa saja. Tidak ada yang aneh. Namun ketika Luna hendak pergi karena tidak ingin mengganggu Albert bekerja, Belinda kembali memanggilnya.
“Luna.”
Luna menoleh.
Belinda tersenyum. “Saya harap kita bisa menjadi teman.”
Luna hanya membalas kalimat itu dengan sebuah senyuman sebelum akhirnya Luna berjalan pergi. Tidak ada yang Luna ketahui tentang wanita bernama Belinda Tanubrata itu. Tidak ada yang Luna tahu tentang alasan sebenarnya wanita itu bekerja di Global Hospital. Luna juga tidak tahu kalau pertemuan sederhana pada hari itu perlahan akan membawa perubahan besar dalam kehidupan rumah tangganya.
Karena sejak hari itu...
Nama Belinda Tanubrata mulai semakin sering terdengar di rumah mereka...