Sejak kejadian di rumah sakit hari itu, Luna tidak bisa berhenti memikirkan Albert. Pria itu kembali muncul di dalam kehidupannya jauh lebih cepat dari yang seharusnya. Di kehidupan sebelumnya, Luna baru benar-benar berbicara dengan Albert setelah kedua keluarga mereka membicarakan perjodohan. Setelah itu semuanya berjalan begitu cepat sampai akhirnya Luna menerima pernikahan tersebut. Namun sekarang... mereka bahkan sudah bertemu sebelum perjodohan itu terjadi. Kondisi Papanya juga berubah. Raffi Bagaskara tidak pernah mengalami serangan jantung di kehidupan sebelumnya.
Apa mungkin artinya... kehidupan keduanya memang sudah mulai berubah?
Luna duduk di tepi tempat tidur sambil menatap kosong ke arah jendela. Ada satu hal yang tidak berubah... Albert tetap ada di dalam kehidupannya. Tetapi... pria itu tidak mengenalnya sebagai istrinya. Bagi Albert, Luna hanyalah putri dari pasien yang sedang dirawatnya.
Luna memejamkan mata dan berucap dengan suara pelan. “Aku tidak boleh mengulanginya lagi.”
Luna sudah mendapatkan kesempatan kedua. Kalau begitu... Luna tidak boleh mengambil keputusan yang sama. Di kehidupan sebelumnya, Luna menerima perjodohan dengan Albert. Kali ini Luna bertekad tidak akan melakukannya. Luna baru saja hendak mengambil ponselnya ketika terdengar ketukan di pintu.
“Lun?”
Suara Dewi membuat Luna menoleh. “Masuk, Ma.”
Dewi membuka pintu lalu berjalan mendekati putrinya. “Bagaimana keadaan kamu, sayang?”
“Sudah lebih baik, Ma.”
Dewi kemudian duduk di samping Luna. “Papa juga sudah lebih sehat. Albert bilang kondisi jantung Papa harus dijaga dan Papa harus banyak istirahat.”
Luna menganggukkan kepalanya.
“Mama mau membicarakan sesuatu dengan kamu.”
Luna langsung menatap ibunya. “Apa?”
Dewi tersenyum kecil. “Tentang Albert.”
Jantung Luna langsung berdetak lebih cepat. Albert? Nama itu saja sudah cukup membuat pikirannya kembali kepada kehidupan sebelumnya.
“Mama mau bicara apa?”
“Keluarga Hermawan menghubungi Papa dan Mama. Mereka─.”
“Aku enggak mau.” Luna langsung menggeleng.
Dewi terlihat terkejut. “Kamu belum tahu Mama mau bicara apa.”
“Aku sudah tau apa yang mau mama bahas.”
“Luna─”
“Aku enggak mau dijodohin sama Albert.”
Dewi terdiam.
Selama beberapa detik wanita itu hanya menatap putrinya dengan wajah bingung. “Kenapa?”
Luna menundukkan wajahnya. “Aku enggak kenal dia, Ma.”
Dewi menghela napas panjang. “Kamu bisa mengenal Albert setelah kalian bertemu. Selama ini Mama lihat, Albert itu pria yang baik.”
“Aku tetep enggak mau, Ma.”
“Kalau kamu benar-benar tidak mau dijodohkan, Mama tidak akan memaksa kamu.”
Luna menghela napas lega.
“Tapi...”
Luna langsung menatap ibunya.
“Setidaknya kamu harus bertemu sama Albert sekali aja.”
“Aku enggak mau, Ma.”
Dewi menatap putrinya cukup lama. “Lun, kamu bahkan belum kasih dia kesempatan untuk memperkenalkan dirinya sama kamuu dan Mama tidak pernah melihat kamu seperti ini ketika membicarakan perjodohan.”
Luna terdiam.
“Mama jadi bingung. Kenapa kamu terkesan begitu takut bertemu dengan Albert?”
Luna hanya diam. Tangannya mengepal erat. Dia tidak mungkin mengatakan alasan sebenarnya. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa pria yang ingin dijodohkan dengannya adalah suami dari kehidupannya yang lain. Mamanya tidak akan percaya padanya.
***
Sementara itu, di Global Hospital, Albert baru saja selesai memeriksa beberapa pasien. Namun pikirannya masih tertuju kepada satu orang.
Aluna Bagaskara.
Albert tidak mengerti kenapa wanita itu begitu takut kepadanya. Pria itu membuka berkas pasien Raffi Bagaskara lalu menghela napas panjang. Tidak ada hubungan buruk antara dirinya dan keluarga Bagaskara. Setidaknya... tidak ada yang Albert ketahui. Albert masih ingat bagaimana tubuh Luna menegang setiap kali dirinya mendekat. Bahkan ketika Albert hanya mencoba menenangkannya, wanita itu justru terlihat semakin ketakutan.
“Apa sebenarnya yang terjadi kepadamu, Luna?” Albert bergumam pelan.
Ketika sedang berjalan keluar dari ruangannya, Albert bertemu dengan Reiner Algantara. Albert jelas tau siapa sosok yang sudah menunggunya itu.
“Apa yang sudah terjadi di antara kamu dan Aluna?” tanya Reiner dengan ekspresi dinginnya.
Albert menghela napas pendek. Dia tetap bersikap santai menghadapi tatapan Reiner. “Tidak terjadi apa pun di antara saya dan Aluna.”
“Kamu pikir saya bisa percaya jawaban kamu itu setelah melihat sendiri reaksi Luna saat berhadapan dengan kamu?”
“Saya sendiri bertanya-tanya mengenai reaksi Aluna pada saya. Kami tidak pernah berkomunikasi secara langsung sebelum ini. Bahkan ketika berada dalam acara keluarga, kami tidak pernah benar-benar berbicara.”
Albert menjeda ucapannya lalu menatap Reiner dengan tatapan datar.
“Saya penasaran dengan alasan di balik sikap Aluna. Ada banyak kemungkinan yang bisa saja Luna alami tapi saya tidak berani melakukan apa pun karena khawatir rasa penasaran saya justru membahayakan Aluna. Dia bahkan sampai mengalami panic attack ketika melihat saya.”
Reiner terdiam. Ucapan Albert membuatnya mulai menyadari bahwa dirinya terlalu cepat mengambil kesimpulan.
“Saya minta maaf,” ucap Reiner akhirnya.
Albert mengangkat alisnya.
“Saya tadi terlalu cepat mengambil kesimpulan.”
“Tidak masalah.”
Reiner menghela nafas panjang. “Saya hanya khawatir kepada Luna. Luna sudah seperti adik saya sendiri.”
“Saya bisa mengerti.”
Albert kemudian berjalan meninggalkan Reiner. Namun wajah Luna kembali muncul dipikirannya. Wanita itu jelas takut kepadanya dan Albert tidak tau alasannya.
Untuk pertama kalinya Albert ingin mencari tau alasan di balik ketakutan yang Luna tunjukkan saat melihatnya...
Di sisi lain, Reiner hanya berdiri di tempatnya sambil menatap punggung Albert yang semakin jauh. Entah kenapa ucapan pria itu justru membuat pikirannya semakin dipenuhi pertanyaan.
Kalau Albert memang tidak pernah berbicara dengan Luna sebelumnya... Lalu kenapa Luna begitu takut kepadanya?
Reiner menghela napas panjang. Apa sebenarnya yang sudah terjadi kepada Luna?
Sementara itu, di rumah Bagaskara, Luna masih duduk sendirian di kamarnya ketika pintu kembali diketuk.
“Lun?”
Luna menatap ke arah pintu. “Ada apa, Ma?”
Dewi duduk di samping Luna. “Luna... Mama baru mendapat kabar dari keluarga Hermawan.”
Jantung Luna kembali berdetak cepat. “Apa?”
Dewi menatap putrinya. “Mereka ingin datang ke rumah untuk membicarakan perjodohan kalian.”
Luna membeku. “Dengan Albert?”
Dewi mengangguk. “Dan Albert juga akan datang.”
Luna membeku. Dia sudah memutuskan untuk tidak menikah dengan Albert. Dia juga sudah berusaha menghindari pria itu sejak mereka bertemu di rumah sakit.
Namun kali ini... Albert akan datang menemuinya.