Beberapa hari setelah kejadian di rumah sakit itu, Luna berusaha untuk tidak terlalu memikirkan Belinda. Luna tahu Albert memang bekerja bersama Belinda dan semakin sering nama wanita itu muncul dalam kehidupan mereka bukan berarti ada sesuatu yang terjadi di antara keduanya.
Luna percaya kepada suaminya.
Malam itu Albert bahkan mengajak Luna makan malam di sebuah restoran yang cukup sering mereka datangi sejak menikah. “Maaf beberapa hari terakhir aku sering pulang terlambat.”
Luna yang sedang makan menoleh kepada Albert. “Tidak apa-apa. Kamu kan memang banyak pekerjaan.”
“Aku tahu kamu tidak pernah mengeluh, tapi aku tetap merasa bersalah.”
Luna tersenyum. “Kalau begitu jangan pulang terlalu malam.”
Albert tertawa kecil. “Aku akan berusaha.”
Mereka kemudian melanjutkan makan malam seperti biasa. Luna tidak ingin membicarakan Belinda. Tidak ada alasan untuk itu. Hubungan mereka baik-baik saja. Setidaknya sampai malam itu.
Beberapa hari berikutnya Luna kembali menjalani aktivitasnya seperti biasa. Albert juga masih sibuk di rumah sakit. Namun sekarang Luna mulai menyadari satu hal. Albert semakin sering membicarakan Belinda.
“Dokter Belinda tadi berhasil menangani pasien anak dengan cukup baik.”
Luna yang sedang menyiapkan pakaian untuk bekerja hanya menganggukkan kepalanya. “Oh.”
“Dia ternyata cukup cepat beradaptasi di rumah sakit.”
“Bagus dong.”
Albert tersenyum. “Iya.”
Luna tidak mengatakan apa-apa lagi. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan apa yang Albert ceritakan. Belinda adalah rekan kerjanya. Albert tentu saja boleh membicarakan rekan kerjanya kepada istrinya. Hanya saja, Luna mulai menyadari kalau Albert terlihat cukup nyaman ketika membicarakan wanita tersebut.
Suatu malam Albert sedang duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Luna yang baru selesai mandi berjalan keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya tersenyum kecil. “Kamu sedang apa?”
Albert langsung menoleh. “Tidak apa-apa.”
“Kenapa senyum-senyum sendiri?”
Albert tertawa kecil. “Tidak ada.”
Luna duduk di samping Albert.
“Siapa yang mengirim pesan?”
Albert melihat layar ponselnya. “Belinda.”
Luna terdiam sebentar. “Oh.”
“Dia bertanya tentang pasien yang tadi.”
Luna hanya menganggukkan kepalanya. Tidak ada alasan untuk merasa terganggu. Namun ketika Luna kembali melihat wajah Albert, pria itu masih tersenyum kecil sambil membaca pesan dari Belinda. Luna memilih tidak bertanya lagi. Dia tidak ingin menjadi istri yang terlalu banyak bertanya hanya karena melihat suaminya berkomunikasi dengan rekan kerja.
Albert kemudian meletakkan ponselnya. “Kamu kenapa diam?”
“Tidak apa-apa.”
Albert meraih tangan Luna. “Kamu yakin?”
Luna mengangguk. “Iya.”
Albert kemudian mencium keningnya. Luna tersenyum. Untuk beberapa saat perasaan tidak nyaman yang sempat muncul kembali menghilang.
Beberapa hari kemudian Luna datang ke rumah sakit untuk menjemput Albert. Namun ketika sampai di depan ruang dokter, Luna tidak menemukan suaminya. Seorang perawat mengatakan Albert sedang berada di ruang pemeriksaan bersama Belinda. Luna kemudian menunggu di luar. Tidak lama kemudian pintu ruangan terbuka. Belinda keluar lebih dulu.
Wanita itu terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Wajahnya terlihat lelah dan matanya sedikit merah.
Albert keluar beberapa detik kemudian. “Dokter Belinda, kamu yakin sudah lebih baik?”
Belinda menganggukkan kepalanya. “Iya. Saya tidak apa-apa.”
“Kamu tidak perlu memaksakan diri kalau memang sedang ada masalah.”
Belinda tersenyum kecil. “Terima kasih, Dokter Albert.”
Luna yang berdiri tidak jauh dari mereka akhirnya menghampiri. “Mas.”
Albert langsung menoleh. “Luna?”
“Aku mau menjemput kamu.” Albert menganggukkan kepalanya.
“Iya. Sebentar.”
Luna kemudian melihat Belinda. “Kamu baik-baik saja?”
Belinda tersenyum. “Saya tidak apa-apa. Hanya sedikit ada masalah.”
Luna menganggukkan kepalanya. “Semoga semuanya segera selesai.”
Belinda menatap Luna beberapa detik sebelum tersenyum. “Terima kasih.”
Luna tidak bertanya lebih jauh. Dia kemudian menunggu Albert menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Malam itu ketika mereka sudah berada di rumah, Luna sedang merapikan beberapa barang ketika Albert masuk ke kamar. “Belinda tadi kenapa?”
Albert yang sedang membuka jam tangannya menoleh. “Masalah keluarga.”
“Serius?”
Albert mengangguk. “Dia sedang punya masalah dengan keluarganya. Tadi dia sempat menangis.”
Luna terdiam. “Oh.”
Albert duduk di tepi tempat tidur. “Dia hanya butuh seseorang untuk mendengarkan.”
Luna menganggukkan kepalanya. “Pantas saja.”
Albert kemudian melihat Luna. “Kamu tidak keberatan?”
Luna sedikit bingung. “Keberatan apa?”
“Saya mendengarkan ceritanya.”
Luna tersenyum. “Kenapa aku harus keberatan? Dia kan teman kerja kamu.”
Albert ikut tersenyum. “Terima kasih.”
Luna kemudian duduk di samping suaminya. “Mas.”
“Hm?”
“Kalau kamu sedang punya masalah, kamu juga cerita sama aku.”
Albert tertawa kecil. “Aku tahu.”
“Jangan cuma jadi tempat orang lain bercerita.”
Albert kemudian menggenggam tangan Luna. “Tidak akan.”
Luna tersenyum. Dia percaya kepada Albert. Sangat percaya.
Karena itu ketika Albert kembali menerima pesan dari Belinda malam itu, Luna tidak berusaha melihat layar ponselnya.
Dia hanya melanjutkan pekerjaannya. Namun Albert yang sedang membaca pesan tersebut tiba-tiba terdiam. Pesan itu tidak lagi membicarakan pasien. Bukan juga tentang pekerjaan.
Terima kasih sudah mau mendengarkan saya hari ini. Saya tidak tahu harus cerita kepada siapa kalau bukan kepada kamu.
Albert menatap pesan tersebut cukup lama. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat pria itu tidak langsung membalas. Bukan karena dia tidak peduli. Justru karena dia mulai merasa terlalu peduli. Albert akhirnya mengetik sebuah balasan.
Kalau kamu butuh seseorang untuk bicara, kamu bisa menghubungi saya.
Albert menekan tombol kirim. Di sampingnya, Luna masih sibuk dengan pekerjaannya dan sama sekali tidak mengetahui isi percakapan tersebut. Albert tidak sadar kalau sejak malam itu, hubungannya dengan Belinda perlahan mulai berubah...