Banyak yang mengira gadis yang sedang berjalan bersama Nicky ini adalah anak baru di sekolah. Tatapan demi tatapan Marie dapatkan dari sekitarnya membuatnya tidak nyaman, ia tidak menyangka orang-orang akan bereaksi seperti ini kepadanya. Gadis itu merias diri dengan membentuk alisnya dengan rapi, mengoleskan sedikit lip tint supaya bibirnya terlihat segar dan tetap tampak alami. Ia juga memakai kontak lens berwarna sedikit cokelat alami sehingga matanya sedikit terlihat besar. Sebenarnya Adelia ingin memakaikan eyeshadow untuknya namun gadis itu menolak, ia tidak ingin tampil berlebihan.
Marie terus berjalan dan pandangannya ia usahakan untuk selalu lurus ke depan karena dia tidak ingin menatap balik mata-mata yang sedang menatapnya. Begitu ia sampai ke kelasnya, keadaannya tidak cukup berbeda karena perlahan dan satu demi satu menyadari keberadaan gadis itu yang berbeda dengan biasanya. Bahkan beberapa dari mereka sempat tidak mengenali Marie karena mereka tidak terbiasa melihat mata indah Marie yang selama ini selalu tertutup dengan kacamatanya.
Sampai ketika gadis itu hendak duduk, seorang gadis menghampirinya dan bertanya,”Kamu Marie?” tanyanya kepada Marie.
“I-Iya,” jawabnya sambil mengangguk,
“HAH?!” Sontak satu kelas menyuarakan kekagetan mereka terhadap penampilan Marie yang terbaru. Marie hanya bisa tersenyum kaku karena ia merasa perlakuan teman kelasnya sangat berbeda daripada sebelumnya. Beberapa gadis mendekat kepadanya bahkan mengelilinginya. Marie sangat gugup dan ia melihat kepada Nicky yang tersenyum kepadanya.
“Aku baru sadar kalau kamu punya bulu mata yang begitu lentik,”
“Kamu pakai maskara apa? Kok kayaknya bagus banget?” tanya gadis lainnya,
“Apa jangan-jangan kamu pakai bulu mata? Tapi kok natural banget?”
Mendengar ada begitu banyak pertanyaan mengenai bulu matanya, gadis itu pun mulai membuka mulutnya,
“E-eum… aku tidak pakai apapun di mataku,” ujar Marie dengan malu-malu.
“HEH?!” ujar gadis-gadis itu dengan nyaring sementara Marie hanya bisa mengerjapkan matanya dengan cepat. Gadis-gadis itu memuji bulu mata Marie yang begitu cantik dan tidak disangka respon kelasnya lebih menyenangkan daripada respon yang ia dapatkan dari luar kelasnya.
Hal ini terjadi bukannya tanpa alasan. Alasan mengapa respon kelasnya lebih menyenangkan daripada respon orang-orang yang ada di luar kelas karena satu kelas mengenal Marie sebagai sosok yang baik hati. Marie selalu mengulurkan tangannya untuk membantu teman-teman kelasnya. Terkadang juga ia rela untuk menggantikan piket teman-temannya yang lain. Marie digambarkan sebagai ketua kelas yang bertanggung jawab dan juga sebagai orang yang bisa diandalkan dalam banyak hal.
Tidak ada yang membenci Marie walaupun sebenarnya terkadang keberadaannya tidak terlalu diperhatikan oleh teman-teman lainnya. Sekarang penampilan gadis itu memikat semua orang untuk mendekat kepadanya. Ia semakin disukai, kepintarannya, kebaikannya serta juga kecantikannya, membuat semua orang berpikir jika Marie adalah seorang yang sangat sempurna.
Begitu juga yang ada dipikiran Jonathan yang tersenyum melihat Marie yang sedang dikerumuni gadis-gadis lainnya. Ia semakin jatuh hati kepada gadis itu yang tetap rendah hati walaupun penampilannya semakin glow up. Gerak-gerik Marie yang tampak malu-malu itu membuat Jonathan gemas kepadanya. Hah… semakin lama pria itu semakin jatuh hati kepadanya, mengapa ia baru menyadari pesona gadis itu belakangan ini?
“Jika saja aku menyadarinya dengan cepat, mungkinkah dia bisa jatuh hati kepadaku?”
Pria itu menghela napasnya. Sepertinya cepat atau lambatnya ia jatuh hati kepada Marie tidak memengaruhi apapun karena hubungan Marie dengan Charlie sudah terjalin lebih lama daripada saat di mana awal-awal ia mengenal Marie. Jonathan kemudian mengalihkan kembali tatapannya kepada Marie yang ternyata tengah menatapnya juga, namun dengan cepat, Marie mengalihkan tatapannya ke arah lain.
Hal itu membuat pria itu bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, mengapa Marie selalu menghindarkan tatapannya dari dirinya? Jonathan berusaha untuk mencari jawabannya dan ia tidak menemukan apapun.
“Mungkin aku bisa menanyakan hal itu saat kami bertemu nanti,” batinnya sembari mengangguk.
“Ah… rasanya tidak sabar…” ungkapnya yang sudah tidak sabar untuk belajar bersama dengan Marie sepulang sekolah.
***
“Marie…”
“Marie…”
“Marie!” panggil Nicky, membuat gadis itu tersentak.
“Eh, iya apa?” tanyanya yang sedari tadi tidak menyimak apa yang menjadi pembahasan Marie bersama dengan Charlie dan Nirmala. Mereka membahas mengenai perhatian orang-orang kepada Marie namun Marie malah berpikir ke arah lain. Gadis itu memikirkan bagaimana cara untuknya bisa menghadap Jonathan nanti sepulang sekolah.
Ia masih ingat dengan janjinya untuk belajar bersama dengan Jonathan nanti. Marie masih gugup, ia tidak tahu harus berbuat seperti apa dan bersikap seperti apa kepada Jonathan nantinya. Bahkan untuk melihat mata pria itu saja dia terkadang tidak berani.
“Lagi mikirin apa sih, Marie?” tanya Nicky kepadanya. Dengan gelagapan gadis itu berkata,”A-aku memikirkan ujian semester 1,” jawabnya asal yang membuat semua orang mengerutkan keningnya dengan bingung,
“Hah? Mid semester aja belum, udah mikirin ujian semester 1? Astaga Marie… kamu ini kenapa sih?” tanya Nicky sembari menggelengkan kepalanya.
“Tanpa dipikirkan, kamu tetap jadi juara satunya pun,” lanjutnya lagi yang disetujui Charlie,
“Benar tuh… tidak usah terlalu dipikirkan, kamu kan pintar,” ujar Charlie kepadanya. Gadis itu hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. Pandangannya tertuju kepada Nirmala yang sedari tadi tidak bersuara apa-apa. Meskipun Nirmala terus bersama dengan mereka bertiga, namun Nirmala selalu diam saja seakan ia adalah orang asing di kelompok mereka.
Marie berpikir, mungkinkah ini karena sikap Nirmala yang malu-malu jika ada Charlie bersama dengannya? Ah, rasanya Marie ingin sekali berbicara langsung dengan Nirmala. Ia ingin membicarakan mengenai Charlie kepada gadis itu bersama dengan Nicky, namun karena ada Charlie yang selalu ikut dengan mereka, tidak mungkin gadis itu melakukannya.
Mungkin di satu saat nanti ia harus mengatur pertemuannya dengan Nicky dan Nirmala bertiga saja tanpa Charlie. Ia ingin sekali melihat perubahan dan perkembangan hubungan Charlie dengan Nirmala yang sampai sekarang belum terlihat jelas olehnya.
Marie mengedipkan matanya, ia merasa matanya kering sehingga ia mengeluarkan obat tetes mata khusus untuk kontak lens dan dia memakainya. Setelah Marie merasa matanya mulai segar, ia mulai kembali menatap Nicky yang sedang berbicara mengenai pandangan orang lain kepada Marie yang menurutnya menyebalkan.
Nicky menolehkan pandangannya kepada Marie yang terlihat sedang menitihkan air mata dan ia sangat terkejut,”Lah Marie?! Kenapa kamu nangis?!”
Sontak hal itu membuat Nirmala dan Charlie langsung menoleh kepadanya,
“Ada masalah apa, Marie?” tanya Nirmala dengan khawatir,
“Apa ini berhubungan dengan tatapan tidak mengenakkan orang lain kepadamu?” tanya Charlie yang seakan-akan ia sudah siap untuk menghajar siapapun yang berani meremehkan dan menjatuhkan Marie.
Marie menggelengkan kepalanya dengan cepat dan berkata,”Ini air kontak lens… mataku kering tadi, makanya aku meneteskan air kontak lens ke mataku,” ujarnya yang membuat semua orang di meja itu lega seketika,
“Aku kira kamu kepikiran dengan sama tatapan tidak menyenangkan dari orang lain tadi,” ujar Nicky yang dibalas dengan senyuman oleh Marie. Marie sama sekali tidak mempermasalahkan hal tersebut karena ia cukup cuek terhadap pandangan orang banyak kepadanya, yang penting ia melakukan apa yang menurutnya harus ia lakukan.
Terkecuali jika hal tersebut menyangkut orang yang ia sukai seperti Jonathan, ia selalu merasa minder dan terkadang ia merasa tidak layak untuk bisa bersama dengan Jonathan. Namun menurutnya, Jonathan adalah pribadi yang baik, ia tidak segan untuk berteman dengannya walaupun menurut dirinya sendiri, dirinya tidak terlalu berguna banyak untuk Jonathan.
Yap, Marie selalu menganggap dirinya rendah dan terkadang ia merasa tidak pantas mendapatkan upah dari apa yang sudah ia kerjakan. Ia tidak sadar jika dirinya sudah melakukan banyak kebaikan kepada orang lain dan sisi itulah yang sebenarnya membuat siapapun pria yang mengenalnya dengan dekat bisa jatuh hati kepadanya seperti halnya Charlie dengan Jonathan.
“Tidak masalah kok, seperti yang kalian tahu… aku tidak begitu perduli jika ada beberapa yang kontra terhadap penampilanku karena begitulah hidup, pasti ada yang pro dan ada yang kontra. Untuk apa terpuruk di dalam kebencian orang lain sementara kita punya orang lain yang menyayangi kita lebih?” ujarnya yang membuat hati ketiga temannya itu lega seketika,
“Ahh… makin sayang deh sama kamu,” ujar Nicky yang langsung memeluk gadis itu dari samping.
Tidak lama kemudian, bell pun berbunyi, membuat Nicky, Nirmala, Charlie dan Marie menghentikan pembicaraan mereka. Mereka pun berdiri dan mulai beranjak dari kursinya.
Mata Marie tidak sengaja tertuju kepada Jonathan yang ternyata sedang melambaikan tangannya kepada Marie. Dengan cepat, Marie langsung menyusul ketiga temannya itu dan menyuruh mereka untuk pergi ke kelas terlebih dahulu karena ia ingin ke toilet.
Nirmala, Nicky dan Charlie hanya bisa menganggukkan kepala mereka dan dengan tidak adanya rasa curiga, mereka meninggalkan Marie yang mulai memisahkan diri dari mereka. Jonathan pun berlari kecil mendekati Marie yang masih diam di tempatnya.
“Ada apa?” tanya Marie ketika pria itu mulai mendekat kepada dirinya.
“Kamu ingat kan nanti kita belajar bareng?” tanya Jonathan sembari berjalan bersama dengan Marie,
“Ingat,” balas Marie tanpa menatap Jonathan. Ia menatap lurus ke depan dengan jantung yang berdebar begitu cepat,
“Marie…” panggil Jonathan dengan lembut. Dengan segala keberanian, Marie menoleh kepada Jonathan yang sudah terlebih dahulu meletakkan tangannya ke kepala Marie dan mengusapnya dengan lembut,
“Makasih ya… I’m counting on you,” tutur Jonathan dengan tulus. Marie merasakan kehangatan yang begitu nyaman untuk dirasakan. Gadis itu tersenyum kepada Jonathan yang tanpa gadis itu sadari, pria itu sangat senang melihat gadis itu tersenyum begitu manis kepadanya,
“Ya… sama-sama, Jonathan…”
“Jo-jo, panggil aku Jojo, ingat?” katanya, membuat Marie menutup mulutnya dan mengangguk kecil,
“J-jojo…” ujarnya dengan pelan yang didengar oleh Jonathan. Pria itu sekali lagi tersenyum, ia sangat suka mendengar suara gadis itu ketika ia memanggilnya dengan sebutan Jojo.
“Kamu sendiri ada panggilan tersendiri tidak?” tanya Jonathan kepada Marie yang dengan cepat menggelengkan kepalanya,
“Tidak ada… panggil saja Marie,” Jonathan mengangguk paham dan ia pun tersenyum.
Ia semakin tidak sabar untuk bertemu dengan gadis itu nantinya.