“Apa kau yakin teman-temanmu akan menerimaku?” tanya Jonathan yang entah mengapa gugup sendiri, hingga beberapa kali ia mengatur napasnya. Ia masih bersama dengan Marie yang mengangguk dengan yakin,
“Tentu saja, tenanglah, teman-temanku tidak akan memakanmu,” goda Marie kepada Jonathan yang hanya bisa mengangguk. Mereka menunggu makanan mereka yang sedang dibuat, tanpa disangka-sangka ada Gianna yang tengah melihat keduanya berdiri berdampingan. Dengan cepat, ia mendatangi keduanya dan tersenyum ramah,
“Hai, kalian lagi nunggu apa? Kebetulan nih aku juga lagi nunggu makananku,” sapa Gianna dengan senyum manisnya. Marie mengepalkan tangannya, amarah dan kecemburuan melingkupinya. Hingga saat ini ia masih marah kepada Gianna dan juga ia juga cemburu karena ia berpikir Gianna sudah berhasil menaklukkan hati Jonathan.
“Rasanya aku ingin menyingkir dari sini,” batin Marie yang tidak ingin terus cemburu kepada interaksi Jonathan dan Gianna yang nantinya bisa merusak moodnya. Ia mengepalkan tangannya, tanpa menaikkan kepalanya, ia izin untuk menyingkir dari keduanya dengan alasan ingin membeli minum di toko lainnya.
Gadis itu berjalan menembus keramaian, ia berjalan tanpa arah hingga ia mentok di sebuah toko kantin yang letaknya di ujung kantin. Perlahan, Marie mengangkat kepalanya dan matanya mulai memanas. Disatu sisi, ia seharusnya tidak membiarkan interaksi Jonathan dan Gianna berlangsung karena dia ingin melindungi Jonathan dari Gianna, namun disatu sisi yang lain ia juga tidak ingin cemburu dengan interaksi keduanya yang ia yakini pastilah manis.
Marie menyeka matanya yang mulai berair. Ia mengatur napasnya sebelum dia teringat dengan makanannya yang ia tinggal tadi. Ia ingin berbalik untuk kembali ke tempatnya bersama Jonathan tadi tapi ia merasa ragu bila Jonathan dan Gianna masih di sana.
Ketika ia hendak berbalik, seseorang memegang pundaknya. Gadis itu sedikit tersentak dan dia berbalik lalu mendapati Jonathan yang terengah-engah. Marie mengernyitkan dahinya, tidak menyangka jika pria yang ada di hadapannya ini adalah Jonathan dan juga kenapa dia terengah-engah begini?
“Kamu gak apa?” tanya Marie kepada Jonathan yang kemudian berkacak pinggang di hadapannya. Pria itu melontarkan wajah kesalnya karena gadis itu meninggalkannya dengan Gianna, perempuan yang sama sekali tidak ia sukai karena sudah berkata yang tidak-tidak mengenai Marie kepadanya,
“Kamu kenapa malah ninggalin aku sih? Malah kamu jalan cepat banget lagi,” kata Jonathan dengan kesal. Begitu Marie meninggalkannya dengan Gianna, pria itu dengan cepat mengikuti Marie yang berjalan menjauh darinya. Gianna sempat mencegat dirinya untuk menyusul Marie, namun pria itu juga dengan cepat menyingkirkan paksa Gianna dan mengejar Marie.
Marie terdiam sejenak melihat respon pria itu yang di luar dugaannya. Ia mengira Jonathan akan menikmati interaksinya bersama dengan Gianna, namun tampaknya pria itu tidak seperti itu.
“Bukannya seharusnya kamu-“
Marie menghentikan perkataannya dan membuang pandangannya. Ia merasa segan untuk sekadar mengatakan jika seharusnya Jonathan senang jika dirinya sudah memberikan waktu untuk Jonathan dan Gianna bersama,
“Aku apaan?”
“Ah tidak… tidak apa…” ujarnya tanpa mau menatap Jonathan. Jonathan merasa ada yang tidak beres dengan Marie sehingga ia mendekat kepada Marie dan dia pun mengambil tangan Marie untuk ia bawa bersama dengannya. Marie yang sebenarnya kaget pun hanya bisa menatap punggung Jonathan yang membawanya kembali ke toko di mana mereka memesan makanan mereka. Matanya beralih kepada tangannya yang sedang dipegang Jonathan sebelum Jonathan berkata kepadanya,
“Jangan kabur lagi,” ujarnya dengan singkat. Marie bisa merasakan kehangatan yang menjalar di dalam dirinya. Ia merasa nyaman dengan tangan besar Jonathan yang memegang tangan kecilnya. Rasanya ia tidak ingin melepaskan tangan ini sampai kapan pun.
Begitu mereka sampai, makanan yang mereka pesan sudah siap dan Gianna sudah tidak ada lagi di sana. Mereka juga memesan minuman sebelum mereka pun mengambil soto dan nasi goreng itu dan membawanya untuk mereka berjalan mencari meja yang sudah ada Nicky, Nirmala, dan Charlie. Mereka sempat mencari tempat duduk ketiganya dan tidak lama setelahnya, Nirmala melihat Marie dan Jonathan yang masih mencari dan ia pun mengangkat tangannya.
Marie melihat tangan Nirmala yang terangkat itu pun langsung mengajak Jonathan untuk mengikutinya menghampiri teman-temannya. Jonathan yang sebenarnya bukan pertama kalinya bergabung bersama teman-teman Marie pun merasa gugup sendiri. Ketika ia dan Marie duduk, dia menyapa satu persatu teman Marie menggunakan senyumnya, dimulai dari Nicky, Nirmala dan Charlie.
Semua orang yang ada di meja itu tersenyum balik kepada Jonathan, terkecuali Charlie yang tampak membuang wajahnya. Nicky sendiri menyikut Charlie yang duduk di sampingnya sebagai tanda untuk memperingati pria itu untuk menghargai keberadaan Jonathan di meja mereka. Berkat sikutan itu, Charlie akhirnya mau menatap Jonathan walaupun dia setengah hati melakukannya.
“Apa aku harus memperkenalkan diri?” tanya Jonathan dengan canggung. Ia merasa heran dengan dirinya sendiri, ini bukanlah pertama kalinya ia bergabung bersama teman-teman Marie, namun mengapa ia merasa begitu gugup?
“Aku rasa tidak perlu karena kita sekelas,” ujar Charlie sembari melanjutkan makanannya. Perkataan Charlie ada benarnya juga, namun tampaknya baik Nicky dan Nirmala, keduanya seakan ingin pria itu sekadar memperkenalkan diri walaupun itu hanyalah sebuah formalitas semata,
“Aku rasa ada perlunya berkenalan, tahu kan kata pepatah kalau tak kenal maka tak sayang,” Nicky sengaja menekankan kata sayang sembari menatap Marie yang melototkan matanya kepada Nicky agar gadis itu tidak melakukan hal yang tidak-tidak kepada Jonathan,
“Oke lah… kalau begitu, aku Jonathan… Usia sih tahun ini 17 tahun, hmm apalagi ya… aku suka basket dan main games,”
“Pacar? Apa kau punya pacar?” tanya Nicky yang membuat Marie melototkan matanya. Marie sudah merasa jika Nicky akan mempermainkan dirinya dan Jonathan nantinya,
“Pacar sih tidak ada,” jawab Jonathan dengan santai,
“Kalau orang yang disukai? Apa ada?”
“Nirmala! Apa yang kau tanyakan itu!”
Begitulah yang ada di batin Marie begitu Nirmala bertanya seperti itu. Marie hanya bisa menundukkan kepalanya sementara Jonathan melirik Marie yang duduk di sampingnya itu sebelum dia menganggukkan kepalanya tanpa melepas tatapannya dari Marie,”Iya, ada…” jawabnya yang sesudah itu ia mengalihkan pandangannya lurus ke depan kembali.
“Oke… kalau begitu giliran kita-kita memperkenalkan diri,” ujar Nicky dengan semangat,
“Aku Nicky, biasa dipanggil Nicky. Aku adalah sahabat sehidup-sematinya Marie…” ujarnya dengan bangga,
“Yang paling lama aja ga selebay itu ngomongnya,” sindir Charlie yang merasa sudah lebih lama mengenal Marie.
“Diem lu, Charlie… ini bukan masalah siapa yang paling lama, tapi ini masalah kepada hati siapa yang lekat diantara kita dengan Marie,” tutur Nicky dengan begitu pede. Charlie terkekeh remeh mendengar perkataan itu,
“Marie tidak pernah bilang tuh kalau hati dia lebih melekat kepadamu,” ujar Charlie, mengejek Nicky yang tidak terima mendengarnya,
“Tanpa dikatakan juga udah jelas, aku dan Marie itu satu!”
Marie hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran keduanya. Jonathan mendekat kepada Marie dan mempertanyakan hubungan Nicky dan Charlie yang selalu bertengkar begini,
“Apa mereka selalu begini?” tanya Jonathan yang diangguki oleh Marie,
“Iya… mereka selalu meributkan hal yang sepele,” jawab Marie sembari menggelengkan kepalanya,
“Sudah, sudah, kalian ini… masalah sepele saja kalian ribut,” ujar Marie, berusaha untuk meredakan pertengkaran keduanya. Bukannya selesai, malah Nicky dan Charlie menatap kepada Marie dan Nicky pun bertanya,
“Marie, pilih… antara aku dan Charlie… pilih mana!” tuntutnya yang juga ingin didengar oleh Charlie.
Marie menghela napasnya,”Sudah berapa kali aku bilang, aku tidak bisa memilih diantara kalian berdua,” jawab Marie yang tidak memuaskan baik itu Charlie maupun Nicky.
“Kalian tampaknya cocok ya…” ujar Jonathan yang membuat Nicky dan Charlie tidak terima,
“Aku? Cocok dengan dia? Tidak mungkin,”
“Mana mau aku cocok sama pria yang sama sekali tidak menarik seperti Charlie! Yang cocok sama dia itu Nirmala, tau gak!” Nicky benar-benar keceplos dengan perkataannya, sehingga Marie dan Nirmala pun melotot kepadanya,
“Kenapa jadi Nirmala dibawa-bawa?” tanya Charlie yang tidak mengerti dan belum sadar jika Nirmala memiliki perasaan kepadanya. Baik Nicky, Nirmala dan juga Marie, mereka menghela napas lega,
“Sudah sudah… saatnya Charlie memperkenalkan diri, setelah itu diikuti dengan Nirmala. Selepas itu kita makan, kalau kalian terus berantem, kita akan telat makannya,” ujar Marie sembari menggelengkan kepalanya. Akhirnya mereka pun ikut aja dengan perkataan Marie,
“Charlie. Hal yang kusukai adalah basket dan hal yang tidak kusukai adalah Nicky,” ujar Charlie yang menyulut emosi Nicky. Marie mengulurkan tangannya untuk menutup mulut Nicky yang pastinya sudah tersulut emosinya sehingga perkenalan selanjutnya bisa dilanjutkan oleh Nirmala. Ketika Nirmala mulai membuka suaranya, Marie menarik kembali tangannya. Disaat itu juga, Jonathan mendekatkan dirinya ke telinga Marie,
“Teman-temanmu menyenangkan ya…” ujar Jonathan dengan senang.