Charlie dan Nirmala baru saja sampai di kelas mereka. Mereka mulai berpencar ketika mereka mulai berjalan ke tempat duduk mereka masing-masing. Charlie berjalan ke kursinya dan mulai duduk, menunggu bel yang sebentar lagi akan berbunyi.
Tanpa dia sangka dan sadari, Gianna mendatanginya dan duduk di sampingnya yang kebetulan sedang kosong. Dia baru menyadari keberadaan Gianna ketika gadis itu memanggilnya. Pria itu menoleh dan mendapati Gianna yang tersenyum manis kepadanya. Tanpa basa-basi, Charlie pun mempertanyakan keberadaannya,
“Apa?”
Gianna menjulurkan tangannya dan menggantungnya di udara. Charlie melihat hal itu dan menaikkan alis kirinya dengan bingung,”Apa yang kau inginkan?”
“Kau tidak ingin berjabat tangan denganku?” tanyanya yang membuat Charlie bingung,
“Untuk apa?”
Jawaban itu membuat Gianna menggeram di dalam hatinya. Respon pria ini tidak jauh berbeda dengan Jonathan, pria yang ia taksir karena ketampanannya. Gadis itu dapat menutupi kebusukkannya dibalik senyuman ramahnya kepada Charlie. Ia menarik tangannya kembali dan dia hendak mengatakan apa yang menjadi niatnya untuk mendatangi Charlie,
“Sebenarnya aku menginginkan bantuanmu…” ujar perempuan licik itu. Charlie yang bingung pun merasa jika dirinya salah dengar,
“Untuk apa? Apa aku salah dengar?” tanya Charlie dengan wajah kebingungan. Ia merasa tidak dekat dan bahkan tidak pernah memiliki interaksi yang berarti dengan Gianna namun tiba-tiba gadis itu mendatanginya dan meminta bantuannya, jelas saja hal ini membuatnya cukup bingung.
“Tidak… kau tidak salah dengar… aku yakin kau pasti membutuhkan bantuanku juga,” ujarnya sembari menatap kepada Jonathan dan Marie yang sedang berbicara bersama dengan Nicky. Mereka tampak asik sendiri tanpa menyadari jika Charlie dan Gianna sedang memerhatikan mereka dari kejauhan,
“Perjelas maksudmu,” perintah Charlie yang disambut senyuman lebar dari Gianna,”
“Aku tahu, kamu pasti membutuhkanku juga,”
“Aku bilang, perjelas perkataanmu,” tutur pria itu dengan lugas. Perlahan ia mulai mengerti apa yang diinginkan oleh Gianna, namun ia sendiri ingin tahu dengan pasti apakah dugaannya benar apa tidak.
“Aku ingin bantuanmu untuk menjauhkan Marie dari Jonathan dan aku juga melakukan hal yang sebaliknya,” tawarnya sembari memiringkan sedikit kepalanya ke samping. Charlie kembali menatap Marie yang tampak sedang tersenyum kepada Jonathan. Jujur saja, penawaran itu sangatlah menarik dirinya karena ia tidak ingin perasaannya dengan Marie sia-sia begitu saja,
“Bagaimana? Apa kau tertarik?” tanya Gianna sekali lagi. Charlie masih mengatupkan mulutnya, ia tidak tahu jalan mana yang harus ia pilih,
“Aku tahu kau sudah menyukai perempuan itu dari lama dan setelah sekian lama kalian bersama, apa kau rela jika gadis itu berakhir bersama dengan orang yang tidak tahu apa-apa betapa dalamnya hubungan kalian berdua?” lanjut Gianna lagi, membuat Charlie mengalihkan pandangannya kembali kepada Gianna.
“Aku tidak yakin…”
“Yakinlah… apa kau tidak berniat untuk memiliki gadis itu?”
Charlie tertegun mendengar perkataan itu. Gianna pun bangkit berdiri dan menepuk pundak Charlie,”Aku berikan waktu hingga besok. Pikirkan lagi baik-baik,” ujarnya sembari meninggalkan Charlie yang masih terdiam di tempatnya. Ia menatap kepada Marie yang tampaknya senang sekali ada Jonathan bersama dengannya.
Sementara itu tanpa ia sadari, Nirmala mendengarkan percakapan antara Charlie dan Gianna. Ia sengaja mengambil tempat duduk yang dekat dengan mereka dan ia pun mendengar hampir dari keseluruhan. Kini, ia kembali ke tempat duduknya tanpa melepas Charlie dari pandangannya. Selain Gianna, dia adalah satu-satunya orang yang bertanya-tanya mengenai apa yang akan menjadi keputusan Charlie nantinya.
“Charlie, aku harap kau tidak salah memilih…” ujarnya dengan suara yang begitu pelan.
***
Marie tampak menyeka peluhnya ketika ia membawa beberapa sampah yang berupa kardus-kardus untuk ia buang ke tong sampah yang letaknya sudah tidak jauh lagi. Begitu ia sampai, ia langsung membuang kardus-kardus yang tidak terpakai itu. Marie menepuk-nepuk tangannya sebelum dia berbalik dan ternyata ada Charlie yang sedang berdiri di belakangnya.
Gadis itu tersentak karena ia keberadaan Charlie yang tidak terdeteksi olehnya,”Duh, bikin kaget saja…” ujarnya sambil memukul lengan Charlie. Charlie terkekeh dan kemudian membuang sampah yang ada di serokannya kemudian ia pun berjalan bersama dengan Marie.
“Sendirian aja?” tanya Charlie kepada Marie yang mengangguk,
“Iya, sepertinya para guru tahu persahabatan kita, sehingga mereka memisahkan kita-kita supaya kita tidak banyak berbicara dan tidak bermain-main dengan pekerjaan kita,” ujar Marie sembari mengendikkan bahunya.
“Kau benar… sepertinya para guru mempertimbangkan hal itu,” ujarnya sembari melihat sekitarnya yang masih ada beberapa orang. Ia pun menggiring Marie untuk keduanya bisa ada di tempat di mana tidak ada seorang pun yang melihat mereka berdua.
“Belakangan ini kau banyak diamnya… apa kamu sedang ada masalah?” tanya Marie sembari menatap Charlie yang sedang melihat sekitarnya.
“Kamu sedang ngapain? Kenapa malah lihat kemana-mana?” tanya gadis itu yang mulai sadar akan gerak-gerik Charlie yang tidak biasanya.
Charlie menghentikan langkahnya, begitu juga dengan Marie yang ikut berhenti karena Charlie. Dengan memberanikan diri, Charlie menatap Marie yang masih bingung melihat kelakuannya yang tidak seperti biasanya,
“Aku ingin memberitahumu sesuatu…”
Marie memiringkan kepalanya dan mengangkat satu alisnya,”Hmm? Apa itu? Apa itu hal yang penting sehingga kamu melihat-lihat sekitar?” tanya Marie yang masih belum menyadari apa yang akan Charlie lakukan kepadanya.
“Berjanjilah kau tidak akan menjauh dariku,” pinta Charlie dengan sangat. Marie mengangkat satu alisnya sebagai tanda kebingungannya terhadap sikap Charlie yang aneh baginya,
“Iya, oke… aku janji tidak akan menjauh darimu,” ujarnya sembari menggantungkan jari kelingkingnya ke udara, menawarkan diri untuk mengikat janji bersama dengan Charlie. Charlie pun mengaitkan jari kelingkingnya kepada Marie.
Ia berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya untuk menyatakan perasaannya kepada Marie dan ketika ia merasa sudah siap, ia memegang tangan Marie dengan lembut,
“Sejak lama dan sedari dulu aku selalu menyukaimu, Marie…” ujarnya yang membuat Marie bengong,
“Suka sebagai teman?” tanyanya setelah sekian detik ia terdiam,
Charlie menggelengkan kepalanya,”Tidak… aku menyukaimu sebagai lawan jenis…”
“Aku masih gak mudeng… apa kamu sedang bermain-main atau gimana?”
Charlie menghela napasnya karena gadis itu tampak sekali ingin mengelak dari perkataannya yang sudah ia nilai serius,”Aku serius, Marie… selama ini aku hanya menyukaimu, aku menyukaimu selama tujuh tahun, Marie! Tujuh tahun! Apa kamu kira tujuh tahun ini hanyalah perasaan yang main-main?” ujar Charlie yang membuat gadis itu tertegun sejenak.
Marie membuang pandangannya, selama ini ia banyak bercerita mengenai Jonathan kepada Charlie dan tanpa ia sadari ia sudah melukai perasaan Charlie. Ketika gadis itu mulai mengembalikan pandangannya kepada Charlie, tanpa ia sangka, pria itu mengambil dagunya dan mencium bibirnya ranumnya yang sebelumnya tidak pernah disentuh oleh seseorang,
Gadis itu tidak menutup matanya dan dia begitu kaget melihat tindakan Charlie yang menurutnya di luar batas. Namun sebelum gadis itu mendorong Charlie menjauh darinya, Jonathan yang sudah melihat apa yang terjadi kepada mereka pun pergi begitu saja meninggalkan Gianna yang sudah membawanya ke tempat di mana Charlie dan Marie terlihat bersama.
Pria itu pergi meninggalkan Charlie, Marie dan Gianna dengan rasa cemburu dan amarah yang sudah berkobar-kobar di dalam dirinya. Karena kepergiannya, ia tidak melihat kekecewaan Marie kepada Charlie yang sudah menciumnya tanpa izin. Marie pun meninggalkan Charlie sendiri, menyisakan Charlie dan Gianna yang saling bertatap-tatapan. Gianna memberikan jempol kepada Charlie sementara Charlie hanya bisa diam dengan rasa bersalah.
Tanpa mereka ketahui, Nirmala juga ada di sana. Ia bersembunyi di balik semak-semak dan pepohonan. Ia menyaksikan apa yang sebenarnya terjadi diantara Marie dan Charlie, ia juga melihat Jonathan yang pergi begitu saja.
Kini ia tahu apa yang menjadi pilihan Charlie di keesokkan harinya setelah Gianna mengajaknya untuk bekerja sama. Ia tidak menyangka jika Charlie memilih bekerjasama dengan Gianna dan sekarang dia sudah berhasil melukai sejoli itu karena tindakannya. Gadis itu menatap Charlie yang masih diam di tempatnya sementara Gianna sudah pergi begitu saja dengan wajahnya yang begitu sumringah. Ia sangat senang karena rencananya berjalan dengan begitu baik.
Nirmala mengembalikan tatapannya kepada Charlie. Melihat Charlie yang diam menatap kepergian Marie, Nirmala menyimpulkan jika tampaknya kini pria itu menyesali tindakannya.