Rasa tidak tenang menyelimuti diri Marie. Ia sama sekali tidak bisa tidur, entah mengapa ia merasa begitu resah tanpa alasan. Sudah dua jam dia berkutat di ranjangnya, berusaha untuk tidur, namun mimpi tak kunjung menjemputnya. Setelah sekian lama berjuang untuk tidur, gadis itu membuka matanya, ia menghela napas dan akhirnya mulai duduk di atas ranjangnya.
Dia berpikir sejenak, apa yang harus ia lakukan untuk mengisi kekosongan kegiatannya di tengah malam ini? Ia mengalihkan pandangannya kepada rak bukunya yang berisikan buku-buku yang kebanyakan sudah ia baca. Ia belum membeli buku baru untuk menjadi buku bacaannya,
“Sepertinya aku harus beli beberapa buku lagi,” ujarnya yang kemudian beranjak dari ranjangnya dan mencoba untuk melihat-lihat buku lain untuk bacaannya.
Sebuah buku ungu menarik perhatiannya, kalau tidak salah buku ini ia dapatkan dari Nicky tadi siang. Entah angin apa, seorang Nicky yang tidak menyukai buku bisa membelikannya sebuah buku yang ia klaim adalah buku yang ia sangat sukai. Gadis itu mengambil buku itu dan membawa buku ke ranjangnya untuk ia baca.
“The Reverse World,” ujarnya, membaca judul dari buku tersebut. Marie mulai membuka buku tersebut dan mulai membaca halaman pertama dari buku itu. Ia teringat dengan bagian halaman buku untuk ia baca sejenak supaya ia tahu apa yang menjadi blurb jadi cerita ini.
Setelah membaca buku tersebut, dia mengangguk, sepertinya Nicky benar… buku ini memang menarik.
Ketika ia hendak membuka buku tersebut, sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya. Ia mengambil ponselnya yang terletak di nakas dan dengan segera ia menerima panggilan dari Nicky itu.
“Halo, ada apa Nicky?” tanyanya karena tumben-tumbenan gadis itu meneleponnya,
“Jonathan… kau tidak tahu beritanya?” tanya Nicky yang membuat gadis itu mengernyitkan dahinya,
“Kenapa memangnya dengan Jonathan?” tanya Marie dengan bingung.
“Marie… percayalah, apa pun yang terjadi, aku akan tetap terus bersama denganmu,” ujar Nicky yang semakin membuat Marie bingung,
“Nicky, kamu ngomong apa sih? Aku sama sekali tidak mengerti…”
“Jonathan, dia… dia sudah meninggal,” balas Nicky dengan pelan. Gadis itu terdiam sejenak sebelum dia tertawa kecil,”Ayolah, Nicky… candaanmu sama sekali tidak lucu loh,” ujarnya yang sama sekali tidak dibalas oleh Nicky. Marie yang semulanya tersenyum mulai terdiam ketika Nicky sama sekali tidak menanggapi perkataannya.
Tanpa memutuskan panggilannya dengan Nicky, gadis itu membuka ponselnya dan melihat grup w******p kelasnya yang berisikan ucapan dukacita terhadap kepergian Jonathan. Spontan, gadis itu menitihkan air matanya dan ponselnya pun terjatuh dari tangannya.
Ia mengabaikan Nicky yang terus memanggilnya dibalik panggilan mereka dan dia terus menangis. Ia memukul dadanya dengan begitu kuat dan tentu saja dia terus menahan dirinya untuk tidak meraung karena ia tidak ingin orang rumah mendengar tangisannya.
Ini adalah kabar buruk kedua di dalam hidupnya setelah kabar kematian kedua orang tuanya dikabarkan.
“Kenapa… kenapa harus Jonathan?” tanyanya dibalik tangisannya yang memilukan. Hatinya sungguh tercabik-cabik, sudah cukup selama dua tahun ini ia membiarkan pria itu bersama dengan perempuan lain, sudah cukup juga ia menyimpan dan menahan perasaannya kepada Jonathan. Sudah cukup semua kesakitan yang ia rasakan, dimulai dari kehilangan orang tuanya di usia yang masih belia dan sekarang di masa remajanya ia harus kehilangan orang yang ia kasihi.
“Sungguh sakit rasanya hingga aku tidak tahan lagi,“ ujarnya sembari memeluk dirinya sendiri gadis itu terjatuh di ranjangnya dan dia memendam tangisannya di bantal.
Sementara Nicky, ia hanya bisa diam mendengar tangisan Marie dibalik panggilan yang masih tersambung itu.
***
Hari ini, Marie tidak masuk sekolah. Ia hanya termenung ditempatnya dan terus mengulang pujian Jonathan yang ia lontarkan sebelumnya, ia menganggapnya perkataan itu adalah perkataan terakhir Jonathan untuknya. Sekarang ia bagaikan bongkahan daging yang tidak memiliki raga. Lagi-lagi air matanya tumpah, penampilannya sudah tidak karuan, matanya bengkak dan kepalanya sakit karena kebanyakan menangis.
Gadis itu terus mengulang kembali masa-masa interaksinya bersama dengan Jonathan, walaupun itu hanyalah reaksi yang singkat, namun itu sungguh berarti untuknya. Tanpa terisak ataupun meraung, air matanya terus tumpah dan gadis itu hanya bisa diam saja.
Pandangan Marie teralih melihat buku diari yang saat ini berada di rak bukunya. Ia bangkit berdiri dan mengambil buku tersebut untuk ia baca. Semakin ia membaca buku tersebut, semakin sakit rasanya hatinya. Ia sangat putus asa, ia bahkan berpikiran untuk mengakhiri hidupnya.
Tapi untungnya logika Marie masih berjalan, sehingga ia tidak melakukannya. Menurut kata Nicky, kematian Jonathan adalah sebuah insiden bunuh diri. Jonathan mengakhiri hidupnya dengan melompat dari rooftop apartemen miliknya dan dia dengan itu hidupnya berakhir tragis. Hal ini semakin membuat Marie terpukul, seandainya saja dia tahu dimana letak apartemen Jonathan dan apa yang menjadi masalah pria itu hingga ia nekad bunuh diri, ia akan berusaha sebisa mungkin untuk menghentikan aksi nekatnya tersebut.
Karena ini Marie merasa ia tidak mengenal Jonathan yang sesungguhnya. Pria itu tampak selalu ceria dan baik, ia tidak pernah menunjukkan kesedihannya di sekolah dan dia tidak pernah juga menampakkan sisi lain dari dirinya.
“Seandainya saja aku mengenalnya lebih jauh, apa dia akan selamat?”
Seandainya saja waktu berputar kembali…
“Seandainya…” ucapnya dengan pelan.
Marie tidak mengindahkan ketukan pintu yang terdengar jelas di telinganya karena isi pikirannya hanya tertuju kepada Jonathan yang ia tidak sangka meninggal secepat ini. Sementara Adelia, ia tentu saja kurang mengerti apa yang terjadi pada Marie hanya saja sedari tadi gadis itu tidak keluar dari kamarnya, bahkan untuk makan juga tidak...
“Sayang… kamu tidak apa kah? Kenapa kamu tidak sekolah hari ini?” Suara Adelia terdengar oleh Marie. Dengan cepat, ia membenahi dirinya dan berdehem,
“Iya ma… aku sedang kurang enak badan…” balas Marie kepada Adelia yang semakin khawatir.
“Buka pintunya, mama mau masuk,” pintanya yang langsung dilakukan Marie. Marie tampaknya tidak bisa lagi menyembunyikan dirinya ketika mamanya menemukan keadaannya yang sudah berantakan. Matanya memerah dan bengkak, serta juga terlihat air mata yang sudah kering di pipinya.
Dengan khawatir, Adelia menghampirinya dan memegang kedua lengannya,”Kamu kenapa? Ada masalah apa? Cerita sama mama,” ujarnya yang ingin sekali mendengar penjelasan dari Marie. Marie sudah lelah menangis, ia hanya menunduk dan tidak berkata apapun. Ia tidak siap untuk berkata jika dirinya baru saja kehilangan pria yang dia sukai.
“Marie…”
Bagaimana Adelia tidak khawatir? Seharian ini Marie sama sekali tidak keluar dari kamarnya hingga waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, yang berarti dia sama sekali belum makan dari pagi hingga sore hari ini. Gadis itu hanya menunduk dan akhirnya ia mulai berkata,”Jonathan… dia meninggal, ma…”
“Jonathan? Siapa itu Jonathan? Apa dia temanmu?” tanya Adelia sembari menyeka air mata gadis itu yang kembali mengalir. Marie mengangguk dan masih tertunduk lesu,
“Apa dia adalah lelaki yang kamu sukai?” tanyanya, membuat Marie mengangkat kepalanya. Dia bungkam untuk sejenak sebelum dia berkata ‘ya’.
Adelia memeluk Marie dan mengelus punggungnya. Ia merasa Marie sudah banyak mengalami kehilangan dan sudah menjadi tugasnya untuk menenangkan Marie. Ia terus menepuk sembari mengelus punggung anak kesayangannya itu dan berharap jika gadis itu bisa segera keluar dari kesedihannya.
Adelia melepas pelukannya dan kembali menatap Marie,”Kamu lapar?” tanyanya yang digelengkan Marie,
“Marie gak selera makan, ma…”
Adelia menggelengkan kepalanya,”Tidak, kamu harus makan. Seharian ini mama tidak melihatmu makan. Ingat Marie, kamu jangan sampai sakit, Jonathan yang melihat kamu terpuruk seperti ini pun akan sedih nantinya,” ujarnya sembari merapikan anak rambut Marie.
“Jadi kamu makan ya… mau mama masakin apa? Kasih tahu saja, biar mama masakkin untuk kamu,”
Gadis itu menggeleng,”Tidak usah ma… Marie makan makanan yang sudah mama masak saja,” ujarnya yang membuat wanita itu tersenyum kepadanya,
“Baik, ayo makan… sekarang, rapikan dulu dirimu, mama tunggu kamu di bawah ya…” ujarnya yang diangguki Marie. Marie sungguh beruntung, ia memiliki keluarga yang dapat menggantikan perhatian dan kasih sayang yang sempat hilang ketika orang tuanya meninggal. Karena perhatian yang Adelia berikan kepadanya, ia mulai sadar untuk tidak terus terpuruk sendiri karena dia memiliki beberapa orang yang masih perduli kepada dirinya.
Dengan sebuah senyuman, Marie menjawab,
”Baik ma…”