Part 1
Dela sudah tiba lebih awal ketika ruang kelas workshop masih sunyi pagi itu. Berselang cukup lama, sambil menemani sahabatnya sebagai salah satu peserta, ia kemudian mendapati kelas mulai ramai disesaki orang-orang yang hilir masuk satu persatu. Hingga seseorang membuatnya sedikit merasa bersalah karena sudah duduk di kursi sembarangan.
“Maaf, tadi aku main duduk aja, silakan.” Dela berbicara sambil beranjak dan suaranya tertahan. Terpampang jelas seorang laki-laki tinggi ramping sedang tersenyum sangat lebar kepadanya, dengan bingkai rambut kecokelatan yang gondrong keriting.
“Silakan, gapapa. Biar gue yang ambil kursi lagi.”
“Eh?”
“Iya, duduk aja.” Mendengar itu, tubuh Dela seperti otomatis menuruti dan kembali duduk. Kemudian laki-laki berkaus panjang putih gading itu kembali dengan cepat membawa kursi untuk dirinya sendiri di samping kirinya.
Kebekuan dunia Dela yang sementara, dipecahkan oleh kemunculan dua orang mentor besar yang tampak antusias dengan kehadirannya. Sejenak gadis ini bertukar sapa dengan pria paruh baya bermata sipit dan wanita berambut merah muda dengan raut wajah yang sama persis.
“Baiklah, untuk perjumpaan hari ke sekian ini, kita kedatangan salah satu alumni. Ia adalah seorang script writer, novelis dan magazine writer freelance!” ungkap Wandy berseri-seri.
Dela menebar senyuman lebarnya dan berharap orang-orang di sana akan menyambutnya dengan suka cita. “Terimakasih Pak Wandy dan Bu Welly. Saya senang sekali dengan hair style-nya. Senang juga bertemu dengan kalian semua. Maaf sudah membuat ruangan ini semakin sesak,” ucapnya terdengar langsung akrab.
“Ah nggak apa-apa, aku senang, kamu di sini, boleh sekalian bawa pulang?” sahut seorang pria muda bertubuh besar dan brewok tapi tertawa ramah.
“Tapi dianya gak mau sama lo!” ledek Wandy kemudian tertawa puas.
Melihat suasana begitu hangat, membuat laki-laki jangkung di samping Dela turut ingin menyumbangkan celotehnya, “Lalu, kamu sukanya apa?” tanyanya mengalihkan perhatian Dela yang langsung terkesima dengan eye smiling-nya.
Dela auto tersenyum kegirangan, ingin sekali dalam hatinya menjawab ‘suka sama kamu’ tapi buru-buru mengubur kalimat itu sebelum sosok menawan di hadapannya merasa jijik.
“Sebagai penghormatan,Dela ayo baca tulisan peserta.” Permintaan Wandy membuat gadis yang duduk tidak jauh darinya, langsung menoleh ke layar proyektor dan mulai membacakan satu per satu tulisan para peserta yang akan digojlok.
Dari sana ia mendapati satu cerita yang menarik perhatian karena judulnya, kemudian bercerita tentang gadis desa yang pergi ke kota dan menjadi perempuan jalang. Penulisnya adalah laki-laki yang sejak tadi membuatnya penasaran siapa gerangan yang ternyata bernama Arfy.
Lalu ketika usai membacakan cerita bagian teman dekatnya, Levi, Dela mendapat pertanyaan dari Wandy seperti sedang menguji kemampuannya. “Kamu tahu apa maksud dari cerita tersebut?”
“Tahu nggak tahu sih, Pak. Mungkin tentang seorang pria yang punya kepribadian ganda. Saat merencanakan kejahatannya, dia dalam kondisi penuh keberanian. Namun ketika sesi akan praktek, justru dia mengalami kepribadian kebalikannya, yaitu pengecut.”
Wandy langsung bertepuk tangan diikuti yang lain. “Wah betul, pintar banget kamu! Nih Saya kasih permen!” terang pria itu mengestafet permen melalui Welly. Begitupun seterusnya, saat Dela berhasil memecahkan suatu persoalan, ia akan mendapatkan permen dari Wandy dan beberapa peserta, termasuk Arfy.
Dela tampak seperti anak kecil yang bahagia melihat mejanya dipenuhi oleh permen. Namun beberapa teguran Wandy untuk Arfy membuatnya ingin membantu cowok jangkung yang sedang kesulitan merevisi ceritanya. Dela tidak keberatan meskipun sejak tadi peserta di sisi kiri-kanan dan lainnya meminta bantuannya. Kali ini ia inisiatif mencari tahu apa yang harus dibantunya untuk cowok itu.
“Kata Pak, Wandy harus bikin premis,” ucap Arfy saat gadis di sampingnya ingin mengecek pekerjaannya di layar macbook pro.
“Premis terdiri dari empat elemen. Karakter tokoh, tujuan, halangan dan resolusi ....”
Arfy dengan antusias langsung meminta Dela untuk mengulang ucapannya sembari ia mulai mengetik poin-poin apa saja yang harus dicatat.
***
Malam akhir dari perjuangan yang panjang akan berujung membara. Dela sangat tahu itu, sebab ia adalah seorang alumni, khususnya di kelas film. Karena itulah ia akan membantu membimbing mereka yang semakin kepanasan seperti cacing di tengah kemarau, sementara para mentor sudah mengakhiri jadwalnya dan menunggu tugas mereka via surel.
Satu persatu peserta, Dela perhatikan dengan baik, menanyakan apa yang menjadi keluhan mereka dan membantu memberi saran, serta menyemangati mereka untuk tidak menyerah. Jam sudah menunjukkan pukul jam 12 malam lebih. Kantuk juga sudah menyerang sejak tadi, tetapi kericuhan di dalam kelas membuat Dela menikmatinya. Jiwanya yang telah lama hampa, merasa seperti smartphone yang akhirnya recharge.
Arfy dan cowok-cowok lain begitu iseng dan banyak tingkah, sehingga suasana tegang dikejar deadline pun tidak terasa. Tergantikan oleh tawa yang terus bergejolak dan berulang seperti hantaman ombak. Melalap raga dan menjalar hati milik Dela. Sebagian cowok-cowok melampiaskan stressnya dengan bernyanyi-nyanyi dan lain sebagainya, sambil menunggu antrian print.
Sementara Dela masih sempatnya menyimak Levi yang sibuk dengan ponselnya, setelah salah satu peserta berteriak-teriak sejak tadi untuk saling follow i********:.
“Guys, jangan lupa follow Dela, cek aja di grup!”
Para peserta auto kaget. “Hah kok udah dicatet di grup aja? Kan alumni!”
Dela nyengir sambil menunjuk ke arah Levi dan ponselnya.
“Aku jarang on i********:!” celetuk Arfy.
Dela menghampirinya yang sedang berkutat di balik meja dan mesin print. “Bang, kamu tahu nggak? Aku punya tulisan yang ternyata judulnya sama kayak kamu.”
“Hah? Serius? Masa?” tanya cowok itu dengan rambut gondrongnya yang ikut mengayun.
“Kapan-kapan bakal aku tunjukkin deh!”
“Oke!”
“Tapi jangan lupa follow aku ya!”
“Iya, elah berisik amat kamu! Ayo searching aja akun Abang!” perintah Arfy pada gadis yang sejak tadi sibuk memegang ponselnya sendiri. Dela kebingungan kenapa berujung harus dirinya yang follow, tapi itu tidak masalah.
“Ntar follback ya Bang Apri!”
“Nama gue Arfy, bukan Apri! Dari tadi salah nyebut mulu lo!”
Dela setengah kaget mendapati cowok di depannya yang berjalan semakin mendekat dengan memperlihatkan wajahnya yang pura-pura galak dan marah. Sambil mundur ketakutan, gadis itu kemudian nyengir.
“Apri?”
“Arfy!”
“Ar ... fy.”
“Iya, awas salah lagi!”
Cengiran gadis itu berubah menjadi tawa karena Arfy terus melayangkan telunjuknya seperti sedang memarahi anak kecil.
Dela terduduk di kursi terdekat dan mengangkat ponsel untuk melakukan w******p story, sebelum kemudian diganggu oleh Arfy yang memintanya untuk selfie bersama. Karena hasilnya ngeblur, Dela merengek minta pose ulang.
Jika ada bunga jenis baru yang sedang bermekaran, maka itu Dela orangnya.
***
Ia baru saja keluar dari toko cuci cetak foto. Berjalan melewati pintu sambil memandang beberapa lembar foto di genggamannya. Setelah tiba di rumah, satu foto bersama wajah konyol berbingkai rambut gondrong itu diselipkannya di dompet berwarna kuning.
“Setidaknya, aku gak bakalan ngerasa jomlo-jomlo amat,” ucapnya kembali terbangun dan menatap poster Angga di balik pintu. “Iya kan, Ngga?”