“Kamu akan melepaskannya?”
Evelyn bertanya dengan ekspresi kecewa yang kentara.
Sore itu tepat setelah pulang dari kantor, Athala langsung berkunjung ke rumah Evelyn. Maksud dari kedatangan Athala bukan untuk meminta maaf karena selama beberapa waktu ini dirinya absen mengunjungi Elaine, melainkan karena alasan lain.
“Saya harus melepaskan Elaine,” jawab Athala mantap. “Sudah 8 tahun saya menunggunya. Itu adalah waktu yang sangat panjang untuk menunggu. Sekarang saya sudah enggak mau menerima tanggung jawab semu tersebut. Tante sendiri sudah tau, sejak dulu cinta Elaine untuk saya sudah pudar.”
Evelyn terdiam sejenak. Sorot matanya mengeras, menyiratkan luka lama yang kembali menganga. Ia menggenggam cangkir teh di depannya erat-erat, seolah berusaha meredam gejolak emosi yang mendesak