Elisa duduk terdiam di depan laptop di dalam kamarnya. Di sebelahnya terdapat sebuah lemari khusus tempat menyimpan semua piala dan sertifikat. Semuanya itu ia dapatkan selain dari predikat sebagai juara kelas, peraih nilai tertinggi, dan lomba-lomba akademik, juga dari bidang non-akademik seperti menyanyi.
Ia menatap layar laptopnya yang sudah terlihat lama dan agak butut. Ia sedang memandangi situs sebuah kampus ternama di Inggris, Cambridge University. Dibacanya seluruh program studi yang tersedia dan fasilitas-fasilitas yang ada di sana. Ini bukan kali pertamanya menelusuri website kampus prestisius tersebut. Mungkin sudah ketiga kalinya dalam minggu ini.
Ya, memang ia bercita-cita kuliah di kampus tersebut. Inggris dan bahasanya telah memiliki tempat tersendiri di hati Elisa. Cita-citanya untuk bisa kuliah di Inggris bahkan sudah ada semenjak hari pertamanya masuk SMA. Namun ia tahu pasti bahwa cita-citanya tersebut bukanlah cita-cita yang mudah digapai. Itu semua tidaklah murah. Ayahnya pasti tak akan mampu menjangkau semua biayanya, bahkan dengan menabung sampai Elisa lulus SMA sekalipun.
Ia sempat sejenak melupakan mimpinya itu karena kemungkinan yang sangat kecil mengingat kondisi kehidupannya saat ini. Namun ambisinya untuk meraih mimpinya yang tertunda itu kembali bangkit setelah ia melihat sebuah pengumuman di salah satu portal pendidikan. Salah satu sekolah internasional bernama SMA Akasia sedang membuka program beasiswa, salah satunya bagi siswa kelas 10 sekolah menengah. SMA Akasia adalah salah satu sekolah yang menggunakan kurikulum internasional Cambridge, sehingga akan membantu memuluskan jalannya menuju mimpinya.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu memecah lamunannya.
"Sa?" panggil ayahnya dari luar kamar.
"Masuk, Yah!" Elisa menjawab.
Ayahnya membuka pintu dan masuk ke kamar Elisa sambil membawa sepiring roti goreng.
"Ini kesukaanmu," kata ayahnya sambil meletakkan piring berisi 4 potong roti goreng di atas meja belajar Elisa.
"Makasih, Yah." Elisa segera menyomot sepotong roti goreng kemudian menggigitnya.
Ayahnya melihat tampilan website di layar laptop Elisa kemudian ia pun bertanya, "Apa itu, Sa? "
Elisa melihat ayahnya kemudian melihat ke layar laptopnya, sadar bahwa ayahnya menanyakan tentang website yang sedang ia buka.
"Oh... ini Cambridge University, Yah."
"Wah... di mana itu, Sa?" Ia menunjukkan ketertarikannya kemudian mengambil kursi di sudut kamar Elisa dan duduk di sebelahnya.
"Di Inggris, Yah," jawab Elisa singkat. Ia belum pernah memberitahu ayahnya mengenai cita-citanya kuliah di Inggris. Ia takut ayahnya tidak setuju.
"Wah... jauh ya, Sa. Kirain di Jakarta," kata ayahnya dengan polosnya.
Elisa pun tertawa dan berkata, "Mana ada Yah, kampus kayak gini di Indonesia?"
"Ya kali sekarang udah berubah, Sa. Jaman Ayah kuliah dulu, kampus Ayah belum punya website kayak gini," canda ayahnya.
"Ya belum ada lah, Yah. Ayah kuliah tahun berapa? HP aja belum ada kan?" ejek Elisa.
Ayahnya pun tertawa pelan. "Tapi kenapa kamu lihat website Cam... Cam apa tadi?" tanya ayahnya.
"Cambridge, Yah..." Elisa terkekeh.
"Iya, Cambridge. Kayaknya udah berapa kali Ayah lihat kamu buka website yang sama. Emangnya kamu pingin kuliah di sana?" tanya ayahnya sambil menatap Elisa.
Elisa balik menatap ayahnya yang beberapa helai rambutnya sudah mulai memutih kemudian terdiam sejenak. Beri tahu atau tidak, beri tahu atau tidak, hati Elisa berkecamuk. Tapi cepat atau lambat ayahnya juga pasti akan tahu, bukan?
"I-iya, Yah...." Akhirnya ia pun memberitahu ayahnya. Ayahnya sontak terkejut mendengar pengakuan dari anaknya itu. Di lain sisi, ia juga merasa bersalah karena tidak mengetahuinya lebih awal. Ia merasa menjadi seorang ayah yang kurang peduli pada anaknya.
"Kok baru kasih tau? " tanya ayahnya dengan nada agak sewot.
"Ya abis... Elisa takut Ayah marah," jawab Elisa dengan polosnya.
Ayahnya menghela nafas, kemudian menjawab, "Ayah sih enggak marah. Ayah selalu dukung apapun yang jadi keinginan kamu karena Ayah tau kamu pasti bisa memilih mana yang terbaik buat kamu. Kamu kan udah besar... Kamu juga udah sering buat Ayah bangga," kata ayahnya sambil mengelus kepala Elisa.
"Tapi... kuliah di sana kan mahal ya, Nak?" Ayahnya tiba-tiba bertanya dengan ekspresi wajah polosnya, baru menyadari kalau kuliah di Inggris memerlukan biaya yang sangat tidak sedikit.
"Mahal banget, Yah... Tapi bisa kok lewat beasiswa." Elisa tersenyum tapi tak bisa menyembunyikan ekspresi harap-harap cemasnya menunggu jawaban selanjutnya dari ayahnya.
"Oh ya? Yah baguslah kalau gitu... Hmmm... Ya udah, sekarang kamu belajar yang rajin. Biar nanti kalau udah lulus sekolah, bisa langsung daftar beasiswa di sana. Kamu atur-atur sendiri aja ya. Ayah nggak ngerti masalah begituan. Ayah taunya cuma bikin soto," canda ayahnya.
Mereka pun tertawa. Ayahnya sudah berjualan soto sejak ia masih duduk di bangku SMP. Sebenarnya dulu ayahnya adalah seorang pekerja kantoran. Namun semenjak ibunya pergi meninggalkan mereka dengan laki-laki lain saat Elisa masih SD, ayahnya menjadi terpuruk dan akhirnya berhenti dari semua pekerjaannya.
Hidup mereka sempat jatuh beberapa tahun sampai akhirnya ayahnya mencoba menerapkan resep soto yang ia dapatkan dari majikannya yang dulu. Kedai soto ayahnya dinamakan sesuai dengan namanya, Pak Dahlan. Soto Pak Dahlan memang cukup terkenal di daerah Pasar Minggu. Namun ayahnya tidak mematok harga yang tinggi. Yang terpenting bagi ayahnya, ia bisa menghidupi Elisa dan menyekolahkan Elisa sampai lulus kuliah nanti.
"Tapi, Yah... Cuma lulusan dari sekolah yang pakai kurikulum Cambridge aja yang bisa daftar beasiswa di sana. Sementara di sekolah Elisa nggak pakai itu soalnya bukan sekolah internasional...," kata Elisa sambil menunjukkan wajah kecewa.
"Nah, terus gimana?" tanya ayahnya meminta solusi.
"Mmm... Ini, Yah. Kebetulan Elisa nemuin informasi ini," kata Elsia sambil mencari-cari di telepon selulernya dan menunjukkannya pada ayahnya. "Sekolah ini pakai Kurikulum Cambridge, Yah. Dan sekarang mereka lagi buka program beasiswa buat siswa kelas 10," lanjutnya. Ayahnya mencermati isi pengumuman tersebut dengan seksama.
"SMA Akasia... Kayaknya sekolah mahal ini, Sa," kata ayahnya sambil mengernyitkan alisnya mencermati gambar sekolah yang ada di layar telepon seluler Elisa itu.
"Iya, Yah. Kan sekolah internasional... Elisa udah cari-cari di internet, biaya sekolahnya ternyata mahal banget. Sebulan SPP-nya aja bisa lebih dari 10 juta, Yah! Kalau setahun berarti SPP-nya lebih dari 100 juta. Itu SPP-nya aja, Yah. Belum yang lain-lain...," terang Elisa dengan wajah memelas, masih berusaha untuk meluluhkan hati ayahnya agar nantinya ia diijinkan mengikuti program tersebut.
"Waduh! Itu mau sekolah apa nyicil mobil, Sa? Kalau Ayah bayar sendiri nggak akan mungkin bisa," sahut ayahnya dengan wajah tak percaya.
"Makanya itu, Yah. Jalan satu-satunya ya Elisa harus daftar lewat program beasiswa ini. Beruntung banget Elisa dapet info ini. Lagipula untuk persyaratan prestasi akademis, Elisa percaya diri kok. Mungkin udah jodohnya, Yah. Boleh ya Elisa ikut?" tanya Elisa dengan wajah penuh harap.
"Kamu yakin mau pindah sekolah?" tanya ayahnya mencoba memastikan.
"Sebenernya sih berat juga, Yah soalnya harus ninggalin temen-temen Elisa... Tapi kesempatan ini kan cuma dateng sekali, Yah. Boleh ya Elisa coba?" tanya Elisa sekali lagi.
Melihat kegigihan anaknya itu, hati ayah Elisa pun luluh. "Ya udah, kamu coba daftar aja. Siapa tau ada yang lolos. Pokoknya kamu harus bisa mewujudkan cita-cita kamu," kata ayahnya sambil bangkit berdiri dan memegang pundak Elisa.
"Makasih, Ayah." Elisa memeluk tangan ayahnya dengan wajah senang.
Ayahnya tersenyum lalu meninggalkan kamarnya. Ia merasa lega karena telah memberitahu ayahnya tentang cita-citanya, apalagi ayahnya mendukungnya. Ia merasa semakin bersemangat sekarang.
***
Jam 9.15. Jam istirahat.
Elisa berjalan ke kantin bersama 3 orang sahabatnya, Lili, Agusta dan Meria. Mereka termasuk salah satu grup sahabat perempuan yang populer di angkatan kelas 10.
Elisa terkenal sebagai gadis yang pintar. Ia sering meraih rangking 1 di kelasnya, bahkan rangking paralel satu angkatan. Dari zaman SD pun ia sudah seperti itu. Kabar itu sudah berkembang di kalangan teman-teman seangkatannya.
Ia adalah gadis yang ceria dan ramah. Mungkin Tuhan begitu menyayanginya karena selain diberi otak yang cerdas, ia juga dianugerahi paras yang cantik. Kulitnya putih, matanya lebar dan bersinar, hidungnya kecil dan bibirnya mungil. Pipinya berwarna merah merona meskipun tidak memakai riasan sekalipun. Rambutnya berwarna hitam legam, lurus dan panjang sepinggang. Posturnya tidak terlalu tinggi, hanya sekitar 160 cm. Tidak heran kalau ia menjadi salah satu idola sekolah.
Sementara tiga sahabatnya yang lain juga tidak kalah menawannya. Lili adalah seorang gadis yang pandai merias diri. Sifatnya yang lembut dan polos membuat siapapun pasti terpesona dengan kharismanya yang bak seorang Putri Keraton. Sedangkan Agusta kebalikannya. Ia memiliki aura girl crush dan berambut pendek, salah satu atlet basket sekolah. Sifatnya terlihat cuek namun sebenarnya ia sangat perhatian kepada teman-temannya. Dan yang terakhir adalah Meria. Ia sangat supel dan lucu. Ia terkenal tidak hanya di angkatannya namun juga di antara para kakak kelas.
Mereka semua menarik dan memiliki sifat masing-masing yang unik. Satu lagi mereka kesamaan mereka, sama-sama mengikuti tim paduan suara sekolah. Di sanalah mereka bertemu dan menjadi dekat, lalu terbentuklah Geng Vocalista ini.
Pagi itu mereka duduk bersama di satu meja sambil menunggu pesanan mie instan mereka jadi. Lili menoleh ke arah kiri ke sekumpulan kakak kelas laki-laki yang duduk di satu meja. Yang ia tahu, beberapa dari mereka adalah anggota tim basket sekolah. Salah satu anggotanya bernama Anton, dan ia saat ini sedang memandang ke arah Agusta.
"Eh, Ta. Lagi diliatin sama Kak Anton tuh," katanya kepada Agusta sambil mengisyaratkan pandangannya mengarah ke Anton.
Agusta melihat ke arah Anton dengan ekspresi wajah datar namun dilihatnya Anton sudah asyik mengobrol dengan teman-temannya lagi. Agusta pun tersenyum dengan datar pula pada Lili.
"Ta, kamu jangan dingin-dingin dong sama cowok. Kayak si Elisa tuh... Dia tetep baik sama semua cowok yang suka sama dia, meskipun ujung-ujungnya ditolak juga semuanya." Mereka semua tertawa mendengar perkataan Meria itu.
“Ah, kamu, Mer. Biang gosip,” canda Elisa mencoba merendah.
"Bukan gosip, orang udah sampe masuk radio sekolah. 'Untuk kamu yang selalu mengganggu pikiranku. Elisa, maukah kamu jadi pacarku?'" Mereka semua pun tertawa mengingat cara cheesy yang dilakukan Bachtiar untuk menyatakan cintanya pada Elisa.
Elisa pun ikut tertawa. Sambil memandang sahabat-sahabatnya itu, ia bersyukur karena memiliki sahabat-sahabat yang baik dan menyayanginya. Teman-teman sekolahnya pun juga memperlakukannya dengan baik. Belum lagi banyak laki-laki yang juga menaruh perhatian padanya. Tapi Elisa berpikir. Apakah semua kebahagian ini bisa bertahan dalam waktu yang lama? Karena ia punya mimpi besar, dan sebuah mimpi pastilah membutuhkan banyak pengorbanan.
Ia membayangkan tidak akan ada lagi kepolosan Lili, kelucuan Meria, dan kecuekan Agusta di sekolah. Apabila ia berhasil diterima dalam program beasiswa di sekolah internasional itu, apakah ia tetap akan bisa sering bertemu mereka? Atau apakah ia akan bisa menemukan sahabat-sahabat seperti mereka lagi di sekolah yang baru? Ia merasa takut membayangkan jawaban yang akan ia terima.