Elisa berlari menghampiri ayahnya yang sedang menonton TV di ruang tamu.
"Aduh duh duh... jangan lari-lari, udah malem, Sa! Ntar dikira tetangga ada gempa bumi," omel ayahnya dengan menunjukkan ekspresi kaget.
"Yah, Yah, tau nggak?" tanya Elisa bersemangat.
"Kasih tau dulu dong, baru Ayah bisa tahu," canda ayahnya.
"Ih... Ayah, ih!" Elisa menepuk bahu ayahnya melihat kejahilan ayahnya itu, kemudian ia melanjutkan, "Ayah tau Pak Bambang langganan kita kan?"
"Iya tau. Kenapa emangnya?" tanya ayahnya santai.
"Pak Bambang itu ternyata salah satu orang paling kaya di Indonesia, Yah! " Elisa berbicara sambil membelalakkan matanya.
Ayahnya seperti tidak terkejut, ia hanya terdiam sejenak. "Udah tau," jawab ayahnya yang membuat Elisa terkejut. Ekspresi wajah Elisa mendadak berubah menjadi kesal karena merasa dikerjai oleh ayahnya.
"Kok Ayah nggak kasih tau Elisa sih?" Elisa mengernyitkan dahinya.
"Lah kamu nggak pernah tanya," jawab ayahnya santai. "Lagian kenapa sih nanyain Pak Bambang?"
"Itu loh, Yah. Ternyata Pak Bambang ini pemilik yayasan pendiri SMA Akasia!"
Kali ini ayahnya yang terlihat sangat terkejut.
"Maksud kamu Pak Bambang ini pemilik SMA Akasia, sekolah yang buka program beasiswa itu?" tanya ayahnya dengan masih tak percaya.
Elisa mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia dan Ayahnya saling bertatap-tatapan. Yang membuat ayahnya lebih terkejut lagi adalah anaknya itu kemungkinan akan bersekolah di sekolah milik orang yang sudah dikenalnya selama ini.
***
Alex, papa, mama, kakak laki-laki, dan kakak perempuannya sedang makan malam bersama di ruang makan. Kakak laki-lakinya yang satunya lagi sedang berada di luar kota untuk mengurus bisnis. Mereka sekeluarga biasanya makan malam bersama jika tidak ada halangan, sambil membicarakan kelangsungan bisnis keluarga mereka, Linardi Group.
"Gimana penerimaan siswa baru di sekolah, Kat? Aman-aman aja?" tanya papa mereka, Pak Bambang Linardi.
"Aman kok, Pa. Jumlah siswa yang daftar mulai dari TK sampai SMP ada kenaikan sedikit. Penerimaan Mahasiswa malah naik lumayan signifikan taun ini," terang Katrin, kakak ketiga Alex yang berambut coklat gelap sepunggung. Malam itu di rumah, ia sudah tak mengenakan riasan dan telah mengenakan pakaian rumahnya yang sederhana. Saat bekerja, riasannya biasanya tak terlalu tebal namun bibirnya dibalut dengan lipstik berwarna merah sehingga menimbulkan kesan yang cukup kuat.
Keluarga Linardi memiliki beberapa sektor bisnis lain di luar properti dan semua bisnis mereka terintegrasi menjadi satu di bawah Linardi Group. Sektor bisnis yang mereka kelola adalah properti dan real estate, perhotelan, investasi, dan pendidikan. Mereka juga memiliki yayasan non-profit yang merupakan badan amal dan sosial-kemanusiaan.
Pak Bambang Linardi dan istrinya memiliki 4 orang anak, 3 laki-laki dan 1 perempuan. Secara berurutan mereka adalah Ericko, Nathan, Katrin, dan Alex. Masing-masing anaknya, kecuali Alex, membantu papanya mengelola sektor bisnis yang berbeda, dengan papanya tetap sebagai Komisaris Utama.
Bu Linda, istri Pak Bambang, membantu mengelola bisnis keluarga sebagai Komisaris di semua sektor bisnis Linardi Group. Ericko, sebagai anak tertua berusia 30 tahun, membantu Papanya mengelola bisnis utama keluarga yaitu properti dan real estate yang tersebar luas di seluruh Indonesia di bawah naungan PT. Linardi Development. Posisinya sebagai CEO, sementara istrinya juga menjabat sebagai Direktur Pemasaran di sana. Nathan, 29 tahun, membantu mengelola sektor bisnis perhotelan yang juga tersebar di banyak kota besar di Indonesia di bawah naungan PT. Kaline Hospitality, posisinya juga sebagai CEO. Sedangkan Katrin, 26 tahun, membantu mengelola sektor pendidikan yaitu Akasia Schools dan yayasan non-profit yang semuanya bernaung di bawah Linardi Care, posisinya sebagai Direktur Utama dan Ketua Umum Yayasan. Sementara Alex nantinya digadang-gadang akan membantu mengelola bisnis di bidang investasi, PT. Lunar Investama, yang untuk saat ini masih dikelola oleh orang kepercayaan papanya. Papanya sendiri juga memiliki beberapa orang kepercayaan yang ditunjuk untuk berbagai posisi direktur di berbagai perusahaan miliknya.
Papanya tidak pernah memaksa mereka untuk berbisnis meskipun ia sebenarnya sangat ingin mewariskan semua bisnisnya ke tangan anak-anaknya. Terjun dalam bisnis keluarga adalah keinginan masing-masing dari mereka. Untungnya semua anaknya, berkat dari pendidikan yang tepat, dengan sadar diri dan sukarela mau membantu meneruskan bisnis papanya. Papanya bahkan memberi kesempatan anak-anaknya memilih dan mempelajari sektor bisnis yang mereka sukai.
"Penerimaan beasiswa gimana?" tanya papa mereka pada Katrin.
"Masih proses seleksi semua, Pa," jawabnya sambil tersenyum.
"Program beasiswa jangan sampai dinomor duakan ya," pinta papanya.
Bambang Linardi adalah orang kaya yang berhati baik, ramah, dan sederhana namun tetap tegas. Ia sangat peduli terhadap dunia pendidikan dan sosial kemanusiaan. Ia mengajarkan seluruh anggota keluarganya untuk menyisihkan sebagian dari pendapatan mereka, baik pribadi maupun dari bisnis keluarga, untuk disumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan, terutama lewat yayasan mereka.
"Terus di sekolah gimana, Lex? Nggak ada masalah apa-apa kan?" tanya Ericko, kakak tertuanya, kepada Alex yang memang bersekolah di sekolah milik keluarganya, SMA Akasia. Ia terlihat sangat rapi, lebih rapi daripada saudaranya yang lain dan gaya bicaranya sangat lugas serta jarang terseyum. Meskipun ia baru saja menikah dan sudah memiliki rumah sendiri, ia tetap berusaha sesekali menyempatkan makan malam bersama papa dan mamanya.
Alex dulunya bersekolah di Singapura ketika masih SD. Tetapi kemudian saat memasuki SMP, papa dan mamanya memutuskan agar Alex kembali ke Indonesia dan bersekolah di sekolah keluarganya sendiri. Selain lebih dekat, ia juga bisa membantu untuk mengukur kualitas sekolah dari dalam. Istilahnya kalau di dalam perusahaan-perusahaan, Alex adalah "orang dalam". Alex sangat vokal menyuarakan apa saja kritik dan saran yang dirasa perlu untuk perkembangan sekolah milik keluarganya.
"AC di kantin agak panas belakangan, tapi udah mau diperbaikin kok," kata Alex.
Ia tahu harus berkata apa adanya tentang keadaan sekolahnya, namun ia selalu berpikir terlebih dahulu sebelum melaporkan sesuatu karena ia tidak mau menjatuhkan siapapun.
"Udah bilang Pak Yudi?" tanya Ericko.
"Udah, Kak. Udah dicek juga sama Engineering kok," jawab Alex.
Pak Yudi adalah Kepala Sekolah SMA Akasia. Alex sering datang ke ruangan Pak Yudi untuk menyampaikan pesan dari papa atau kakaknya secara langsung, sampai-sampai temannya mengira bahwa Alex dan Pak Yudi bersaudara. Tapi Alex tidak peduli, yang penting ia tak memiliki masalah dengan siapapun. Walaupun ia adalah anak pemilik sekolah, ia tidak mau semena-mena terhadap staf sekolah teman-temannya.
Saat pindah dari Singapura ke sekolah keluarganya, ia memiliki syarat untuk Papanya. Ia tidak mau identitasnya sebagai anak pemilik sekolah dibuka karena ia tidak ingin menjadi pusat perhatian di sekolah, dan ia juga tidak mau diistimewakan oleh guru-guru yang bisa mengakibatkan kecemburuan teman-temannya. Orang tua dan kakaknya telah membesarkan dan mendidik Alex dengan baik sehingga di usianya yang masih muda ia sudah bisa berpikiran dewasa.
***
Sepulang sekolah hari itu, Elisa langsung mandi kemudian mengerjakan tugas dan belajar sebelum membantu ayahnya di kedai. Tak jarang ia belajar lagi di malam harinya atau bahkan keesokan subuhnya jika waktunya tidak mencukupi.
Selesai belajar, ia membantu ayahnya melakukan persiapan membuka kedai. Kedai Ayahnya buka jam 5 sore sampai jam 11 malam. Saat kedai sudah buka, seperti biasa Elisa akan berada di belakang meja kasir dan menerima pesanan.
Tak terasa jam telah menunjukkan pukul 7 malam, dan kedai sedang lumayan ramai. Sebuah mobil BMW berwarna abu-abu tua keluaran tahun 2000-an awal sedang parkir di depan kedai. Dari mobil itu keluarlah seorang laki-laki berusia sekitar 50 tahun bertubuh agak gemuk dan cukup tinggi. Ia mengenakan kaos biru bergaris dan celana panjang kain berwarna coklat muda. Ia pun berjalan menghampiri meja kasir.
"Eh, Pak Bambang. Apa kabar?" sapa ayah Elisa dari belakang gerobak sotonya yang terletak di sebelah meja kasir.
Elisa pun kaget mendengar nama yang disebutkan ayahnya dan terkesima melihat kedatangan Pak Bambang. Biasanya ia merasa biasa saja dan memperlakukan Pak Bambang dengan baik sama seperti pembeli lainnya. Namun setelah mengetahui siapa Pak Bambang itu sebenarnya dan ia mungkin saja akan bersekolah di sekolah milik Pak Bambang, perasaannya jadi berbeda.
"Baik. Pak Dahlan apa kabar?" sapanya dengan ramah.
"Baik, Pak. Mau pesan apa, Pak? Seperti biasa?" tanya ayah Elisa.
"Biasa Pak. Satu porsi makan sini, 12 porsi bawa pulang." Nada bicaranya masih penuh semangat meskipun usianya sudah masuk kepala lima.
Ia biasa membungkus soto dalam jumlah banyak, katanya keluarganya sangat menyukai soto racikan Pak Dahlan. Ia juga tak lupa membelikan para pegawainya di rumah.
"Baik Pak. Silahkan duduk dulu..., " kata ayah Elisa mempersilahkan. Pak Bambang pun duduk di salah satu meja kemudian mengambil handphone dan terlihat seperti membalas pesan-pesan masuk. Elisa hanya terdiam sambil mengamatinya.
Pesanan Pak Bambang pun jadi dan ayah Elisa membawakannya ke meja.
"Ini Pak, soto spesial seperti biasa, ayamnya dobel," kata ayah Elisa sambil tersenyum dan meletakkan mangkuk di meja Pak Bambang.
"Lagi sibuk sekarang, Pak?" tanya Pak Bambang.
"Nggak terlalu sih, Pak. Itu juga ada Qodir sama Elisa yang bantuin," jawab ayah Elisa sambil menunjuk dengan jempolnya.
"Duduk-duduk dulu, Pak Dahlan." Pak Bambang mempersilahkan ayah Elisa duduk di depannya. Pak Dahlan pun duduk di situ. Beberapa kali Pak Bambang mengajaknya mengobrol ketika makan di sana.
"Itu anaknya, Pak Dahlan?" tanya Pak Bambang, merujuk pada Elisa.
"Elisa? Iya Pak," jawabnya.
"Rajin ya bantu orang tua. Sekolah di mana?" tanya Pak Bambang.
"Di SMA Pemuda, Pak, " jawab ayah Elisa. Kemudian ia memberanikan diri memberitahu Pak Bambang tentang keadaan Elisa karena Pak Bambang pun sudah bertanya duluan. "Tapi dia katanya mau pindah sekolah Pak, cari beasiswa di sekolah yang lebih bagus," lanjutnya.
"Oh, cita-citanya apa memangnya, Pak?" tanya Pak Bambang penasaran.
"Katanya sih pingin ngambil beasiswa kuliah di luar negeri. Cita-citanya sendiri sih katanya pingin jadi dosen, Pak," terang ayah Elisa dengan hati-hati.
"Di sekolah saya buka program beasiswa, Pak. Kalau mau, bisa daftar. SMA Akasia, Bapak tau kan?" Pak Bambang menawarkan.
Mimpi apa ayah Elisa? Pemilik sekolahnya sendiri menawarkan anaknya untuk mengikuti program beasiswa yang diimpikannya.
"Tau, Pak. Kebetulan... mmm... Elisa sudah daftar dan sudah lolos tahap pertama program beasiswa di Akasia. Nanti dua minggu lagi mau ikut tesnya," kata ayah Elisa dengan agak hati-hati.
"Loh bagus dong kalau begitu, Pak. Nanti saya lihat dulu hasil tesnya, kalau bagus saya bantu supaya diprioritaskan. Saya suka lihat anak yang rajin, soalnya saya juga jadi ingat cerita saya dulu." Pak Bambang tersenyum sambil melihat ke arah Elisa yang masih sibuk menyiapkan pesanan.
"Beneran, Pak? Wah, terima kasih banyak, Pak Bambang!" Mata ayah Elisa berbinar penuh rasa bersyukur.
Langkah Elisa meraih mimpinya seolah dilancarkan. Ia berharap semoga jalan itu memang adalah jalan terbaik yang dipilih anaknya.