Eps : 9
JAYA JENGKALA
Jaya jengkala adalah seorang pendekar yang tinggal di kaki gunung arjuna. Sudah berpuluh-puluh tahun ia melakukan petapaan spritual tingkat tinggi untuk menyempurnakan ilmu pancasona. Sejak berusia 21 tahun ia sudah memiliki keris Mpu Angring. Kemampuan silatnya juga sudah berada di atas kemampuan rata-rata di usia 13 tahun. Kehebatan itu ia miliki dari sang ayah. Guru-gurunya adalah para pendekar dan penempa keris ulung. Sebagai pewaris tahta ia sudah diasah dengan berbagai ilmu dan pamor kewibawaan untuk mampu menjaga wilayahnya. Berbagai tantangan dihadapinya, hingga ia bertemu dengan Nyai Nawang Wulan dan membuatnya jatuh cinta. Cinta yang tak direstui memutuskan ia memilih meninggalkan tahta dan menjadi pengemis. Di saat kesusahannya itu ia terus mengasahilmu dan bekerja sebagai pembunuh bayaran. Jalan terjal yang dilalu sang putra mahkota yang kemudian terasing dari tanahnya sendiri. Jaya Jengkala lalu menikah dengan Nawang Ayu tanpa direstui karena perbedaan jarak kasta di antara mereka. Nyai Nawang Ayu hanyalah anak seorang janda tua yang sangat miskin. Mendiang ayahnya adalah seorang prajurit dan ahli senjata. Meskipun seorang perempuan. Namun, kesaktiannya sangat luar biasa dan belum ada pendekar wanita yang mampu menyaingi kemampuan Nawang Wulan. Rasa sakit hati Raden Putra Bagaskara (adik seperguruan Jaya Jengkala) membuat ia begitu membenci suaminya dan akhirnya mengkhianatinya.
Jaya Jengkala yang kecewa dan sakit hati meminta bantuan Mahesa Jenar untuk meluluh-lantahkan desa sang istri. Hingga membuat mertuanya meninggal sebuah harga mahal yang harus dibayar. Setelah itu ia pun menghilang dan menjadi pembunuh bayaran dan bekerja untuk siapa saja yang mau memberinya harga bayaran.
[Menjadi pengemis dan pembunuh bayaran adalah caraku untuk membalas luka dalam ini]
Jaya Jengkala yang dari seorang pangeran pun turun kelas demi seorang wanita yang hanya memanfaatkannya sebagai alat untuk balas dendam. Rasa sakit hati membuat Jaya Jengkala terlatih untuk tidak memiliki rasa kasihan hal ini kelak akan sangat berguna bagi pembunuh bayaran.
Dendam membara mendatangkan kehancuran di kemmudian hari. Jaya Jengkala menghabiskan hidupnya dengan menumpahkan darah sesuai dengan pesanan dan harga yang dibayar oleh pengguna jasanya. Putra mahkota yang kehilangan tahta akhirnya memilih jalan sebagai pembunuh bayaran untuk membalaskan dendam. Di saat kegelapan ia beraksi membantai habis tanpa ampun. Alih-alih untuk membalas rasa sakit hatinya, hasrat untuk membunuh dan terus membunuh tak pernah selesai. Pedang menjadi bahasa ketika menghadapi musuh. Ketika sang putra mahkota tanpa tahta memilih jalan gelap untuk membalaskan dendam yang tak berkesudahan. Melupakan identitas aslinya sebagai seorang bangsawan. Ketika ia menjadi pengemis, ia sukses mengumpulkan kepingan emas dari para saudagar, masyarakat yang merasa kasihan padanya. Rakyatnya tak akan pernah lupa siapa Jaya Jengkara di masa lalu. Kehebatannya bermain pedang membuat Nalendra jatuh hati dan mengangkatnya sebagai murid.
Sebagai seorang pendekar pedang legendaris Nalendra memiliki kesaktian diatas rata-rata dan tak tertandingi. Semua ilmu yang ia milik kepada sang murid, sedangkan Jaya Jengkala sangat cerdas dan mudah mengerti teknik-teknik yang diajarkan oleh Nalendra. Namun, Nalendra menjadi murka ketika Jaya Jengkala keris Panguluh Tintular dan menggunakan keris itu untuk menusuk perut seekor kijang.