Kaki jenjang Naya berjalan menapaki dinginnya lantai menuju setapak koridor lurus yang jauh dari kelasnya. Murid-murid di depan kelas yang duduk sembari bercerita guna menunggu kehadiran dari seorang guru untuk memberikan sebuah ilmu nampak sangat asing sekali bagi penglihatannya. Tentu saja berbeda, jurusan yang ia ambil dengan orang-orang di sekitaran sini pun berbeda. Oleh karena itulah tak heran jika banyak sekali wajah baru yang dapat Naya lihat hari ini.
Akibat sudah terlalu lelah perihal berdebat antara siapa yang benar dan siapa yang salah, saat ini Naya memilih untuk pasrah serta mengalah. Naya memilih untuk terlebih dahulu mengulurkan tangan guna meminta maaf dan mengatakan jika ia sudah terlalu lelah berdebat dengan Dava. Hal tersebut lah yang membuat Naya membulatkan tekadnya untuk hadir ke koridor IPS, menemui kekasihnya yang sedang ada di kelas tentunya.
Pemikiran panjang sewaktu dua jam pelajaran sejarah sudah membuat Naya yakin, serta tambahan kala memakan banyak sekali karbohidrat di kantin membuat tekadnya sudah jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Naya akan mengalah, Naya akan memulai ulang hubungannya dengan si tampan yang selalu menjadi prioritasnya saat ini. Ia berniat untuk memperbaiki segala kesalahan yang beberapa hari ini tercipta.
Benar kata orang jika api tak bisa dibalas dengan api, jika dibalas dengan api tentunya akan terjadi kebakaran. Sama seperti sebuah hubungan, jika ada salah satu yang sedang emosi, marah, kalut, kecewa, kita tak bisa memberikan respon yang sama. Kita harus meresponnya dengan hal yang berbeda supaya tidak bentrok. Serta mulai saat ini Naya menjadi sadar jika hubungannya dengan Dava memang sudah bentrok sejak awal dikarenakan Dava dan dirinya yang sama-sama keras kepala, pun di antara mereka tak mau ada yang mengalah jua.
"Eh, lo tau gak sih gosip yang lagi beredar hari ini? Kemarin kan Dava jalan berduaan sama Rintik. Bahkan ada yang liat Dava masuk ke mobil Rintik. Enggak tau deh mereka ke mana, bahkan pacarnya Dava sendiri enggak tau kalau pacarnya lagi jalan sama sahabatnya sendiri. Kemarin kan Naya dateng ke sini, nanya Dava udah pulang apa belum. Kasian banget ya si Naya. Dia enggak tau kalau Dava b******k apa gimana, sih? Dava kan emang udah terkenal sama sikap playboy-nya. Sekarang kayaknya Naya siap-siap jadi korban selanjutnya, deh."
Langkah Naya seketika terhenti kala mendengar bisik-bisik beberapa perempuan yang berada di depannya, ia menunduk dikarenakan kaget bukan main saat mendengar kalimat tersebut. Berita ini sudah menyebar di SMA Insan Muria namun Naya tak mengetahui beritanya?
Tangan Naya pun langsung mengepal saat mengingat kembali apa yang ia dengar barusan. Rintik jalan berdua dengan Dava. Rintik lah perempuan sialan itu yang membuat Dava menghilang seharian tanpa kabar. Bahkan dengan sangat beraninya sekali Rintik membiarkan Dava masuk ke mobil gadis tersebut?
Astaga! Naya tak habis pikir sekali dengan ini semua. Memang benar ya apa yang orang katakan jika sahabat lah yang berkesempatan untuk menusuk kita paling dalam. Naya kira selama ini Rintik baik, sangat baik. Rintik yang tidak pernah merespon laki-laki manapun membuat Naya berpikir jika gadis itu memiliki ketegasan sikap untuk tidak mau merespon lelaki manapun.
Namun ternyata Rintik tetap sama seperti perempuan lainnya yang cabai dan suka tebar pesona. Rintik menghancurkan semua kepercayaan Naya yang sudah dengan sepenuh hati Naya berikan kepada gadis tersebut. Rintik sialan! Berkedok polos padahal ujungnya sama saja. Pantas saja tadi pagi Rintik malah mengalihkan topik saat Naya bercerita, tak ada Rintik yang menggebu-gebu saat membalas curhatan seorang Nayara. Padahal, biasanya Rintik selalu membalas dengan ucapan sarkas nan pedas. Pantas saja ya, umpannya ada di dekat Naya sendiri.
"Naya polos gitu orangnya, imut juga, cantik juga. Banyak banget kakak kelas yang suka sama dia kan, tapi dia malah lebih milih Dava yang b******k. Gue kasian sih sama dia. Apalagi dia keliatan tulus dan sayang banget juga sama Dava. Dava kurang bersyukur apa gimana, sih? Iya sih gue tau kalau Rintik emang pinter banget, selalu jadi juara kelas, selalu jadi kesayangan guru, dia juga ketua jurnalistik, tapi kalau nikung sahabat gitu mah namanya gatel. Gue sih udah enggak ngefans lagi sama Rintik. Jauh ke jijik malah."
Gadis dengan kacamata bundar yang duduk bersebelahan dengan gadis yang baru saja berbicara itu mengangguk setuju menanggapi apa yang teman dekatnya sampaikan dengan baik. "Dari awal gue emang udah enggak pernah suka sama Rintik sih, soalnya gue tau kalau dia itu fake. Sok-sokan aja enggak suka sama cowok, enggak respon semua cowok yang deketin dia, taunya dia gatel juga ke cowok sahabatnya."
Argh, sialan! Amarah Naya saat ini sudah tidak bisa dikendalikan. Naya langsung berlari menghampiri kelas Dava yang masih cukup jauh berada di depan tempatnya berdiri saat ini. Gadis itu langsung menguraikan air matanya, membuat basah pipi bulatnya. Naya benci di saat ia dikhianati seperti ini. Naya benci di saat ia merasakan sakit hati bukan main saat ini.
Menangkap pintu kelas yang tertutup, Naya dengan penuh emosi langsung mendobrak pintu tersebut, membuat semua pasang mata menatap ke arahnya. Bahkan Dava yang sedang memegang ponselnya dengan mode miring—tanda jika pria tersebut sedang dalam kondisi bermain game menoleh kaget dengan keberadaan Naya. Ia langsung berdiri dan menghampiri kekasihnya itu.
"Loh, kamu ke sini, Beb? Kok enggak bilang-bilang, sih?" tanya Dava dengan suara lembutnya.
Fake! Dava adalah lelaki fake yang seringkali Naya temui. Dava senang sekali berbeda di depan dan di belakang. Di depan semua orang Dava bersikap dengan sangat baik kepada Naya, tetapi di belakang, pria tersebut membentak Naya sampai Naya menangis. Bahkan jauh lebih parahnya lagi, pria tersebut tak sedikit pun meminta maaf.
"Kenapa? Kamu kaget? Toh buat apa sih aku ngechat kamu kalau chat aku aja dari semalem enggak kamu bales? Kamu keasikan bales chatnya Rintik ya sampai chat pacar sendiri enggak dibales? Hebat banget kalian main dramanya, ya! Aku enggak habis pikir sih sama kamu kalau kamu bisa sebrengsek dan sebejat itu, Dav. Kamu itu sama aja kayak cowok yang lainnya!" Tubuh Naya merosot dengan air mata yang membasahi pipi. Gadis itu tak lagi memedulikan penampilannya ataupun semua pasang mata yang menatap ke arahnya. Hatinya saat ini hancur. Ia hancur sekali melihat sebuah fakta yang ada antara sang sahabatnya dengan sang kekasih pujaannya.
Naya pikir dengan bersama Dava, ia akan bahagia. Namun baru beberapa hari bersama, Dava menorehkan luka yang sama seperti mantan-mantan sebelumnya. Lelaki memang sama saja ya. Mereka semua b***t bukan main.
"Kamu ngomong apa sih, Nay? Gak jelas banget, deh!"
Wah, hebat sekali seorang Dava Danaraja satu ini, usai ketahuan serta tertangkap basah, Dava tetap saja belum mau mengakuinya. Dava malu mengakui jika ia berselingkuh dengan Rintik yang notabenenya adalah sahabat dari Naya?
"Gak ngakuin perbuatan kamu selama ini? Bagus banget ya, Dav! Kamu kemarin ke mana? Kamu jalan kan berduaan sama Rintik. Kalian berdua hebat banget, sih! Kalian berdua bersembunyi di belakang kepercayaan aku. Kalian semua sama-sama brengseknya! Udah ke mana aja kamu sama Rintik? Ngamar di hotel mana sampai kamu lupa wak—"
PLAK!!!
"Naya!" d**a bidang Dava menggebu-gebu, naik turun tak karuan karena kepalanya saat ini dipenuhi oleh emosi. Tangannya yang melayang di udara langsung ditarik dan mengepal kuat. Setelah itu Dava melampiaskan emosinya kepada dinding yang tak tahu apa titik permasalahannya.
"Maaf." Sebuah kalimat penyesalan dengan sangat lirih berhasil keluar begitu saja dari mulut Dava. Namun Dava tahu jika ia tak akan mendapatkan maaf dari gadis di depannya yang sudah terlanjur kecewa.
Argh! Kenapa Dava sampai sebodoh ini?
"Thanks, kita putus."