Pagi itu, langit di atas pinggiran kota tampak abu-abu, seolah-olah awan pun enggan memberikan harapan. Di dalam sebuah rumah petak dengan dinding yang catnya sudah mengelupas di sana-sini, Prasetyo duduk terpaku di meja makan kayu yang goyah.
Suara denting sendok yang beradu dengan piring kosong terdengar seperti lonceng kematian bagi harga dirinya sebagai seorang kepala keluarga.
Di depannya, sebuah piring seng hanya menyisakan butiran-butiran nasi kering yang sudah mengeras—sisa makan malam tadi yang ia sisihkan dengan sengaja agar putri kecilnya, Nadia, bisa sarapan pagi ini. Namun, ia tahu betul, sisa itu tidak akan cukup.
"Bapak... laper," suara lirih itu memecah keheningan yang menyesakkan.
Prasetyo menoleh. Nadia, bocah perempuan berusia lima tahun dengan rambut yang sedikit kusam, berdiri di ambang pintu kamar. Matanya yang bulat tampak sayu, dikelilingi rona hitam yang menandakan tidurnya terganggu oleh rasa lapar yang melilit perut.
Prasetyo merasakan dadanya seperti dihantam godam besar. Ia berusaha tersenyum, meski senyum itu lebih mirip sebuah ringisan kesakitan.
"Sini, Sayang. Ini ada nasi sedikit. Makan ya?" kata Prasetyo dengan suara parau.
Nadia berjalan mendekat, duduk di kursi plastik yang warnanya sudah memudar. Ia menatap piring itu, lalu menatap bapaknya. "Bapak sudah makan?"
Pertanyaan sederhana itu adalah belati yang menghujam tepat di jantung Prasetyo. Bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa sejak kemarin siang perutnya hanya diisi air keran? Bagaimana mungkin ia mengaku bahwa setiap kali perutnya berbunyi, ia hanya bisa menekan ulu hatinya kuat-kuat agar rasa perih itu tidak berubah menjadi amarah?
"Bapak sudah kenyang tadi di tempat kerja, Nak. Makanlah," bohongnya. Kebohongan yang sudah ia ucapkan berulang kali hingga rasanya hambar di lidah.
Nadia mulai menyuap nasi kering itu. Tanpa lauk, tanpa sayur, bahkan tanpa garam. Prasetyo memalingkan wajah ke arah jendela kecil yang tertutup debu. Di luar, ia melihat tetangganya baru saja pulang dari pasar membawa kantong kresek penuh dengan belanjaan—ayam, sayur segar, dan buah-buahan.
Pemandangan itu memicu sesuatu yang panas di dalam perut Prasetyo. Bukan hanya rasa lapar, tapi juga rasa iri yang mulai membusuk menjadi dendam.
Kenapa hidup begitu tidak adil? batinnya menjerit.
Selama sepuluh tahun terakhir, Prasetyo telah mencoba segala cara yang halal. Ia pernah menjadi kuli bangunan hingga punggungnya nyaris bungkuk. Ia pernah menjadi tukang ojek payung di bawah guyuran hujan badai hingga paru-parunya meradang. Ia pernah menjadi buruh cuci piring di restoran mewah, melihat orang-orang membuang makanan sisa yang jumlahnya lebih banyak daripada apa yang ia makan dalam seminggu. Namun, uang seolah selalu punya kaki untuk lari darinya. Penghasilannya selalu habis sebelum bulan berganti minggu kedua.
"Bapak, nasinya habis..." Nadia berbisik, jarinya mengorek sudut piring, mencoba mencari butiran terakhir yang mungkin terselip.
"Masih lapar?" tanya Prasetyo pelan.
Nadia hanya mengangguk pelan, kepalanya tertunduk. Tangisan itu akhirnya pecah. Bukan tangisan keras yang meraung-raung, melainkan isak halus yang jauh lebih menyakitkan untuk didengar. Isak itu menceritakan tentang perut yang perih, tentang tubuh yang lemas, dan tentang keputusasaan seorang anak yang belum mengerti mengapa dunia begitu kejam kepadanya.
Prasetyo berdiri, mendekati putrinya, dan memeluknya erat. Tubuh Nadia terasa begitu ringan, tulang-tulangnya seolah hanya dibalut kulit tipis. Di dalam pelukan itu, Prasetyo memejamkan mata. Di kegelapan di balik kelopak matanya, ia melihat bayangan-bayangan gelap.
Ia teringat percakapannya dengan Herman beberapa Minggu lalu. Tentang jalan pintas. Tentang kekayaan yang tidak masuk akal. Tentang Gunung Kawi.
Dulu ia menganggap hal itu musyrik. Dulu ia menganggap hal itu kotor.
Tapi sekarang, saat ia mencium aroma rambut anaknya yang berbau keringat dan debu, dan mendengar bunyi perut Nadia yang masih meronta, prinsip-prinsip moral itu terasa seperti kemewahan yang tidak bisa ia beli.
Apa gunanya menjadi orang jujur jika anakmu harus menangisi butiran nasi kering yang keras? Apa gunanya menjaga martabat jika setiap malam istrinya, Sari, harus menangis diam-diam di balik bantal karena memikirkan bagaimana caranya membayar kontrakan bulan depan?
Sari masuk ke dapur. Wajahnya pucat, matanya sembab. Ia baru saja pulang dari rumah tetangga, mencoba meminjam segenggam beras, namun hasilnya nihil. Tatapan mata Sari bertemu dengan mata Prasetyo. Tidak ada kata-kata yang terucap, namun komunikasi batin mereka sangat jelas Kita sudah berada di titik nadir.
Sari mengambil piring kosong dari meja dan membawanya ke wastafel. Ia mencucinya dengan gerakan lambat, seolah-olah piring itu adalah satu-satunya benda berharga yang tersisa. Air matanya jatuh menetes ke dalam air sabun.
"Mas," panggil Sari tanpa menoleh. "Tadi pemilik kontrakan datang lagi. Dia bilang kalau sampai lusa kita tidak bayar, kita harus angkat kaki."
Prasetyo terdiam. Tangisan Nadia di pelukannya semakin menjadi. Suara itu memenuhi ruangan sempit tersebut, memantul di dinding-dinding yang lembap, menciptakan simfoni penderitaan yang tak tertahankan. Prasetyo melepaskan pelukannya, menatap Nadia, lalu menatap Sari.
Sesuatu dalam diri Prasetyo patah. Sesuatu yang selama ini ia sebut sebagai "iman" atau "kesabaran" akhirnya runtuh sepenuhnya. Ia tidak bisa lagi hidup seperti ini. Ia tidak bisa melihat sisa nasi kemarin menjadi satu-satunya harapan bagi keluarganya.
"Aku akan pergi, Sari," ucap Prasetyo tiba-tiba. Suaranya dingin, datar, dan penuh tekad yang menakutkan.
Sari menoleh dengan cepat. "Pergi ke mana, Mas? Cari kerja lagi? Tapi ini sudah hampir malam..."
"Ke tempat yang bisa memberi kita lebih dari sekadar nasi sisa," jawab Prasetyo singkat. Ia berjalan menuju pojok ruangan, mengambil tas ransel tua yang talinya sudah nyaris putus.
"Mas, jangan bilang kau mau..." Sari menggantung kalimatnya. Ia tahu apa yang ada di pikiran suaminya. Ia telah melihat perubahan tatapan mata Prasetyo sejak pertemuan dengan Herman tempo lalu.
Prasetyo tidak menjawab. Ia hanya mengambil selembar uang seribuan lusuh dari saku celananya—uang terakhir yang ia miliki—dan meletakkannya di meja. "Belikan Nadia kerupuk atau apa pun agar dia berhenti menangis. Aku akan kembali membawa perubahan."
Prasetyo melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Di belakangnya, ia masih bisa mendengar tangisan Nadia yang mulai mereda karena kelelahan, dan isak tangis Sari yang baru saja dimulai. Ia berjalan menyusuri gang sempit, melewati tumpukan sampah yang baunya menyengat. Ia tidak lagi merasa jijik. Baginya, kemiskinan adalah bau busuk yang sesungguhnya, dan ia sudah muak menghirupnya selama tiga puluh lima tahun hidupnya.
Di kepalanya, gambaran sisa nasi yang kering di piring seng tadi terus berputar. Itu adalah simbol kegagalannya. Namun, itu juga menjadi bahan bakar bagi api kemarahan yang kini berkobar di dadanya.
Ia tidak peduli lagi pada surga atau neraka. Ia tidak peduli lagi pada tuhan atau iblis. Yang ia tahu, ia ingin melihat meja makannya penuh dengan daging, roti, dan buah-buahan. Ia ingin melihat Nadia memakai baju bagus dan tertawa lepas tanpa rasa lapar.
Langkahnya semakin cepat menuju jalan raya. Di sana, banyak bus antar kota menuju arah selatan sedang menunggu penumpang.Dia berjalan di sekitar Bus berharap menemukan sebungkus makanan untuk Nadia.Prasetyo menatap telapak tangannya yang kasar dan pecah-pecah.
"Cukup," bisiknya pada kegelapan. "Ini terakhir kalinya anakku menangisi sisa nasi kemarin."
Di rumah, Sari masih duduk di depan piring seng yang sudah bersih dicuci. Ia menatap piring itu dengan tatapan kosong, merasakan firasat buruk yang mulai menjalar seperti akar pohon tua di dadanya. Ia tidak tahu bahwa piring itu akan segera terisi dengan hal-hal mewah, namun ia juga tidak tahu bahwa setiap butir makanan yang akan datang nantinya, telah dibayar dengan harga yang tidak akan pernah sanggup ia bayangkan.