Hari-hari berlalu, Anya dan Bima semakin sering mengobrol soal anime di sela-sela proyek riset mereka. Kadang, saat lagi suntuk, mereka suka nonton bareng di ruang kelompok.
Suatu sore, Anya sedang menonton episode baru anime favoritnya di laptop. Bima baru saja datang, membawa camilan.
"Eh, nonton apa?" tanya Bima sambil duduk di sebelah Anya.
Anya menunjuk layar. "Episode baru nih. Udah nonton belum?"
Bima menggeleng. "Belum, gue nunggu punya waktu luang buat nonton maraton. Biar puas."
Anya tertawa. "Yaelah, Bim. Kalo gitu, sini aja. Nonton bareng gue."
Mereka pun nonton bareng, sambil ngemil dan sesekali berdebat soal karakter favorit. Anya lebih suka karakter utama yang selalu positif dan gigih, sementara Bima lebih suka karakter yang misterius dan punya masa lalu kelam.
"Lihat tuh, si tokoh utama pasti bisa ngatasi masalah ini," kata Anya dengan yakin.
Bima menyeringai. "Ya ampun, Nya. Kadang-kadang lo terlalu optimis. Si tokoh itu kayaknya bakal kena masalah besar deh."
Anya menyenggol Bima. "Lihat aja nanti, gue yakin dia bisa."
Setelah episode selesai, mereka lanjut ngobrol. Tapi kali ini, pembicaraan mereka lebih santai, lebih terbuka. Bima mulai bercerita soal impiannya buat kerja di industri kreatif, terutama dalam produksi anime. Anya, yang biasanya cuma mendengarkan, mulai merasa tertarik.
"Gue juga pengen kerja di industri kreatif, Bim. Tapi lebih ke desain grafis atau mungkin animasi. Gue suka gambar dari kecil," kata Anya sambil menggambar sketsa kecil di buku catatannya.
Bima melirik sketsa Anya. "Wah, lo berbakat juga ya. Kalo gitu, kenapa nggak coba gabungin kemampuan lo sama minat lo di anime? Siapa tau kita bisa bikin proyek bareng."
Anya tersenyum. "Mungkin itu ide bagus. Tapi kita harus selesaikan proyek riset ini dulu, ya."
Bima mengangguk. "Deal. Kita selesaikan ini dulu, baru mikirin proyek berikutnya."
Seiring berjalannya waktu, mereka mulai melihat sisi-sisi positif satu sama lain yang sebelumnya tidak pernah mereka sadari. Meskipun masih sering berdebat dan saling menyindir, hubungan mereka mulai berubah. Ada rasa saling menghargai yang tumbuh di antara mereka.
Nina, yang melihat perubahan ini, tidak bisa menahan diri untuk menggoda mereka. "Wah, kalian berdua kok jadi akrab banget sekarang? Jangan-jangan beneran bakal jadian nih," kata Nina sambil tertawa.
Anya langsung merah mukanya. "Apaan sih, Nina! Nggak ada hubungannya."
Bima cuma ketawa. "Iya nih, Nina. Jangan bikin gosip nggak jelas."
Meskipun mereka menyangkal, perubahan dalam hubungan mereka terlihat jelas. Mereka mulai saling menghormati dan saling belajar untuk mengerti satu sama lain. Tapi, seperti biasa, mereka masih menyimpan perasaan itu dalam bentuk sindiran dan debat yang akrab.
**
"Nih, gue bawain kopi buat lo. Biar gak ngantuk," kata Bima sambil menyerahkan satu cup ke Anya.
Anya tersenyum. "Wah, tumben baik. Jangan-jangan ada maunya, nih."
Bima ketawa. "Nggak kok, cuma pengen aja. Gue juga lagi butuh kopi buat nyelesaikan tugas."
Mereka duduk berdua, menikmati kopi dan ngobrol santai. Mereka mulai ngomongin berbagai hal, dari tugas kuliah sampai hobi masing-masing. Ternyata, mereka punya banyak kesamaan, terutama soal anime.
"Lo tau nggak, gue lagi nonton ulang 'Attack on Titan'. Seru banget," kata Bima.
Mata Anya langsung berbinar. "Serius? Gue juga lagi nonton ulang! Emang keren sih itu anime."
Bima tersenyum. "Gue suka banget sama karakter Eren. Perjuangannya keren abis."
Anya mengangguk setuju. "Iya, tapi gue lebih suka Mikasa. Dia badass banget!"
Obrolan mereka terus berlanjut, mulai dari anime sampai ke manga yang mereka baca. Mereka saling merekomendasikan judul-judul baru dan berbagi pendapat tentang plot dan karakter.
Setelah kuliah selesai, Anya dan Bima sedang berjalan keluar dari kampus. Mereka lagi asyik ngobrol tentang episode terbaru anime yang mereka tonton. Namun, obrolan santai mereka berubah jadi perdebatan.
"Menurut gue, ending episode kemarin itu mengecewakan banget. Karakter utamanya terlalu gampang menyerah," kata Anya dengan nada kesal.
Bima menggeleng. "Nggak setuju, Nya. Justru itu nunjukin sisi manusiawi dia. Nggak semua karakter harus selalu kuat dan nggak kenal takut."
Anya memutar mata. "Ya, tapi tetap aja. Gue pengennya dia tetap fight sampai akhir. Kalau gitu kan lebih seru."
Bima berhenti dan menatap Anya dengan tajam. "Lo tuh terlalu idealis. Nggak semua hal bisa sesuai keinginan lo. Terkadang, kita harus terima kenyataan."
Anya menatap balik. "Oh, jadi sekarang gue yang salah? Gue cuma bilang pendapat gue aja."
"Ya, tapi pendapat lo nggak selalu bener. Kadang lo harus lihat dari sudut pandang lain," balas Bima dengan nada menantang.
Mereka berdiri di tengah trotoar, saling tatap dengan ekspresi tegang. Reza, yang kebetulan lewat, langsung mendekat.
"Eh, ada apa nih? Kenapa berantem lagi?" tanya Reza sambil mencoba melerai.
Anya menghela napas. "Bima ini, dia selalu ngebantah pendapat gue. Padahal gue cuma kasih pandangan aja."
Bima menyilangkan tangan di d**a. "Ya, karena pandangan lo kadang terlalu sempit. Coba lebih terbuka sedikit."
Reza menggelengkan kepala. "Udah, udah. Ngapain sih kalian ribut cuma karena anime? Santai aja, dong."
Audrey yang ikut mendekat menambahkan, "Iya, kalian ini. Tiap hari ada aja yang diperdebatin. Padahal intinya sama-sama suka anime."
Anya menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. "Oke, gue nggak mau ribut. Tapi lo juga harus lebih pengertian, Bim."
Bima mengangguk pelan. "Fine, gue ngerti. Tapi lo juga coba lihat dari sudut pandang gue."
Setelah itu, mereka berempat berjalan bersama, mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Meski masih ada sedikit kekesalan, mereka tahu bahwa perdebatan seperti ini adalah bagian dari dinamika hubungan mereka.
"Eh, ngomong-ngomong, ada event anime di akhir pekan ini. Mau pada ikut nggak?" tanya Reza mencoba mencairkan suasana setelah membaca info event di i********:.
Audrey langsung merespon. "Boleh tuh. Hitung-hitung refreshing setelah minggu yang penuh tugas."
Anya dan Bima saling pandang sejenak sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Oke, kita ikut. Siapa tau ada panel diskusi yang seru," kata Anya dengan senyum tipis.
"Setuju, mungkin kali ini kita bisa diskusi tanpa ribut," tambah Bima sambil tersenyum.
Minggu berikutnya, mereka berempat pergi ke event anime di pusat konvensi. Suasana di sana meriah dengan berbagai stan yang menjual merchandise, panel diskusi, dan cosplayer yang berkeliaran.
"Akhirnya sampai juga. Gila, rame banget ya!" seru Reza sambil melihat-lihat sekitar.
Anya mengangguk. "Iya, ini sih lebih rame dari yang gue kira. Tapi seru banget! Kita mulai dari mana nih?"
Audrey, yang sudah memegang peta acara, menjawab. "Kita ke panel diskusi dulu aja. Ada pembicara dari studio anime favorit kita, lho."
Mereka berjalan bersama menuju ruang panel. Sepanjang jalan, Anya dan Bima masih sempat-sempatnya berdebat kecil tentang karakter favorit masing-masing.
"Gue masih nggak ngerti kenapa lo suka banget sama karakter itu, Bim. Dia terlalu flat, nggak ada perkembangan," celetuk Anya.
Bima tertawa kecil. "Justru itu yang gue suka. Dia konsisten, nggak perlu ada perubahan drastis buat jadi keren."
Audrey mencolek Anya. "Nya, udah-udah. Ntar lo malah nggak fokus dengerin pembicaranya."
Anya menghela napas dan tersenyum. "Iya deh, gue diem dulu."
Di dalam ruang panel, mereka duduk berempat di barisan tengah. Pembicara mulai membahas tentang proses kreatif di balik anime yang mereka sukai. Anya dan Bima, yang biasanya ribut, kali ini mendengarkan dengan seksama.
Setelah panel selesai, mereka keluar dengan semangat baru. "Gila, keren banget tadi! Gue jadi makin ngefans sama studio ini," kata Reza dengan antusias.
"Setuju," balas Bima.
"Si Bima itu emang nyebelin, tapi dia juga perhatian," pikir Anya sambil tersenyum kecil.
Sementara itu, Bima juga merenungkan hari mereka bersama. "Anya itu keras kepala, tapi dia selalu punya cara buat bikin gue ketawa," gumamnya.