Garasi itu bau oli, bau hujan kemarin yang belum kering, dan bau sesuatu yang Arumi kenali sejak kecil tapi tak pernah bisa namai—campuran ketumbar tua dan asap kompor. Ia berdiri di pintu seng yang setengah berkarat sambil menggenggam selembar surat dari notaris dan satu kunci yang gerigi-geriginya sudah aus. Di depannya, di bawah lampu neon yang berkedip seperti orang batuk, parkir sebuah truk.
Truk itu lebih kecil dari yang ia bayangkan. Bak belakangnya disulap jadi dapur, dindingnya dicat warna oranye yang sudah pudar jadi cokelat tembakau, dan di sisi badannya ada tulisan tangan: SI SAMBAL. Huruf B-nya mengelupas. Ban depannya kempis sebelah. Satu spion menggantung miring seperti kepala ayam yang patah lehernya.
"Mbak Arumi, ya?" Penjaga garasi, lelaki tua bertopi koran, datang mengelap tangan ke celana. "Yang punya, Pak Banyu, titip ke saya tiga tahun. Sewa garasi nunggak delapan bulan. Terus ada nota bengkel yang belum lunas. Saya simpen semua di laci dalem."
Arumi menelan ludah. Ayahnya, Banyu, meninggal lima minggu lalu di rumah sakit daerah, sendirian, di kota yang bahkan tidak Arumi tahu kenapa ayahnya ada di sana. Mereka sudah lima tahun tidak benar-benar bicara. Kalimat terakhir yang Arumi ingat dari mulut lelaki itu adalah, "Nanti kamu ngerti," dan Arumi waktu itu membalas dengan membanting pintu. Sekarang ayahnya menyisakan ini: truk reyot dan setumpuk angka merah.
"Berapa semuanya, Pak?" tanya Arumi, mencoba membuat suaranya datar.
Penjaga garasi menyebut angka. Arumi merasa lehernya dingin. Itu lebih besar dari sisa pesangon PHK-nya, jauh lebih besar. Empat bulan lalu ia masih mengangkat baki nasi kotak di perusahaan katering tempatnya bekerja delapan tahun, sampai perusahaan itu tutup dan ia pulang membawa kardus berisi celemek dan satu mug. Sejak itu lamarannya tak ada yang disahut. Dan sekarang, warisan.
"Boleh saya lihat dalamnya dulu?"
Pintu belakang truk berderit saat dibuka. Di dalam, dunia ayahnya terbentang sempit: kompor gas dua tungku, wajan besi yang berat dan hitam mengilap karena dipakai puluhan tahun, rak rempah dari kayu dengan toples-toples berlabel tulisan tangan—kemiri, lengkuas, asam kandis, kluwek. Ada bau ikan kering yang samar. Ada keranjang anyaman. Ada satu bangku lipat dan sebuah kasur tipis yang digulung di kolong. Di sini ayahnya tidur. Di sini ayahnya menghabiskan berbulan-bulan tiap tahun, jauh dari rumah, jauh dari Arumi dan ibunya, dan tak pernah cerita untuk apa.
Arumi membuka laci di bawah meja potong. Di situ ada amplop nota seperti kata penjaga garasi. Dan di bawahnya, dibungkus kain batik lusuh, ada sebuah buku.
Buku catatan tebal, sampulnya kulit imitasi yang mengelupas, diikat karet gelang yang sudah getas. Arumi melepas karetnya pelan-pelan, takut bukunya runtuh. Halaman pertama berisi tulisan tangan ayahnya yang ia kenal—miring ke kanan, huruf t-nya selalu kepanjangan. Tapi separuh halaman itu robek. Bukan robek karena tua. Robekannya rata, seperti sengaja disobek dengan penggaris.
Yang tersisa cuma penggalan: "...asam jawa secukupnya, gula merah, terasi bakar yang... " lalu putus. Dan di pojok bawah, di bagian yang masih utuh, tertulis dengan rapi: TEGAL, Maret. Tanpa tahun.
Arumi membalik halaman demi halaman, dan polanya sama. Tiap halaman cuma separuh resep—kadang cuma daftar bumbu tanpa cara, kadang cuma cara tanpa takaran—lalu nama sebuah kota dan satu bulan. Cirebon, April. Bandar Lampung, Mei. Bukittinggi, sesuatu. Ada kota-kota yang Arumi bahkan tak yakin letaknya. Halaman-halaman makin ke belakang makin banyak yang hilang, sampai di bagian akhir buku tinggal sobekan-sobekan kecil yang menempel di jilidan, seperti gigi yang dicabut paksa.
Ini bukan resep yang rusak. Ini resep yang dipotong. Dengan sengaja.
"Bapak kamu itu," kata penjaga garasi dari balik pintu, "tiap pulang dari jalan, dia bawa rempah-rempah aneh. Pernah dia masak buat saya di sini. Sambelnya itu, Mbak..." Ia menggeleng, seperti kehilangan kata. "Saya nggak pernah makan yang kayak gitu lagi."
Arumi tidak menjawab. Ia menatap satu halaman yang masih cukup utuh, yang tulisannya menyebut TEGAL. Sambal. Asam pesisir. Sesuatu di dadanya mengeras—bukan rindu, ia menolak menyebutnya rindu. Lebih ke marah yang tak ada sasaran. Ayahnya pergi tanpa penjelasan, lalu mati tanpa penjelasan, dan sekarang meninggalkan teka-teki yang sengaja dirobek-robek seolah Arumi punya waktu dan uang untuk main tebak-tebakan.
Ia menutup buku itu. Ia akan menjual truknya. Itu rencananya. Jual besi tua, bayar sebagian utang, sisanya ia cicil dari kerja apa pun yang datang. Logis. Bersih. Tidak melibatkan perasaan.
Tapi malam itu, di indekos sempit tempatnya tinggal sekarang, Arumi tak bisa tidur. Ia membuka lagi buku catatan itu di bawah lampu meja. Tangannya, yang sejak kecil bisa membedakan gula aren asli dari yang dioplos hanya dengan menjilat ujung jari, gatal pada penggalan resep TEGAL. Asam jawa, gula merah, terasi bakar. Ia bisa membayangkan rasanya di lidah—asam yang tajam dulu, lalu manis yang menyusul, lalu gurih terasi yang menutup. Tapi ada yang kurang. Ada satu bahan yang membuat semuanya nyambung, dan justru bagian itulah yang dirobek.
Ia menelepon teman lamanya di sebuah rumah lelang kendaraan. "Truk dapur tahun segitu, kondisi gitu," temannya berkata setelah Arumi mendeskripsikan, "paling laku buat besi tua, Mbak. Dapurnya nggak ada nilainya."
Angka yang disebut temannya tak sampai sepertiga utang.
Arumi menutup telepon dan duduk lama dalam gelap. Menjual truk tidak menyelamatkannya dari utang. Itu hanya menukar utang besar dengan utang sedikit lebih kecil, dan kehilangan satu-satunya hal yang masih bergerak dalam hidupnya. Tapi menjalankan truk—berdagang masakan yang bahkan ia tak tahu resepnya, di jalan yang tak ia kenal, mengikuti peta bumbu yang dirobek-robek ayahnya—itu gila.
Keduanya gila. Hanya saja yang satu gila tanpa harapan, dan yang satu lagi gila yang mungkin, mungkin saja, bisa melunasi semuanya kalau orang benar-benar antre untuk masakan yang tak ada di mana-mana lagi.
Ia membuka halaman pertama lagi. TEGAL, Maret. Tegal cuma tiga jam dari kota ini.
"Bukan karena kangen," Arumi berkata pelan, pada dirinya sendiri, pada ayahnya yang sudah tak ada, pada huruf-huruf miring di halaman yang robek. "Aku cuma nggak punya pilihan lain."
Besok paginya ia kembali ke garasi, membawa pompa ban dan satu kaleng cat oranye. Penjaga garasi tua itu menyambutnya dengan alis terangkat saat melihat Arumi memanjat ke kabin, menemukan kunci kontak, dan memutarnya. Mesin truk batuk tiga kali, mengeluarkan asap hitam, lalu—setelah Arumi menahan napas—menyala, bergetar kasar tapi hidup. Bau ketumbar tua dan asap kompor itu kembali, naik dari dapur di belakang, seolah Si Sambal baru saja terbangun dari tidur tiga tahun dan mengenali siapa yang memegang kuncinya.