“Kamu kenapa?” Eyza merasa aneh dengan tingkah laku sang kawan. Seperti sedang menutupi sesuatu. Dan itu pasti berkaitan dengan luka masa lalu.
Luna mengangkat sebelah alisnya. Menatap heran perempuan yang duduk di hadapannya. “Kenapa memangnya?”
“Terbawa emosi?” gadis itu sekadar menebak. Dan kenungkinan itu sangatlah benar. Ekspresi Jedira Luna mudah sekali di baca. Meskipun ia tahu, perempuan di depannya itu selalu memasang wajah biasa saja.
Luna menyadari akan hal itu. Waktu siaran tadi memang emosinya bercampur aduk. Ia benci bila persahabatan harus hancur karena ada orang ketiga. Apalagi berkaitan dengan pasangan. Karena itu sama saja mengorek luka lama. Ia pernah merasakan itu semua. Maka dari ia bisa berbicara seperti itu. Pengalaman mengajarkannya banyak hal. Termasuk tentang persahabatan.
Baginya, buat apa menahan rasa sakit bila mengabaikan akan membuat bahagia. Tak perlu mencari kebahagian di tempat lain. Cukup dalam diri sendiri. Itu lebih berharga dari segalanya, bukan. Karena yang merasakan adalah jiwa ini. Bukan orang lain.
Terlebih lagi, sampai kapan hati ini bisa menampung rasa sakit yang tak ada habisnya. Kalau seperti itu, sendiri dan pergi menjauh bukan pilihan yang salah. Mungkin di lain tempat kebahagian itu akan hadir dengan sendirinya.
“Maaf …”
“Kenapa?”
Luna tersenyum seperti biasa. Berpura-pura kuat untuk menutupi perasaan yang sebenarnya. “Nggak papa.”
Eyza benar-benar benci kalimat itu. Namun mau bagaimana lagi. Percuma saja memakasa Luna untuk berbicara. Karena selama mengenal perempuan itu. Selalu tertutup akan pribadinya. Tapi tak masalah bagi Eyza. Sebab ia yakin, perempuan itu memiliki alasan sendiri. “Habis gini mau ke mana?”
Luna berpikir sejenak. Setelah siaran biasanya ia akan tidur-tiduram. Namun kali ini ia ingin jalan-jalan sebentar. Tapi tak tahu tujuannya mau ke mana. “Memangnya kenapa?”
“Mau ikut aku?” tawar Eyza yang mau ke suatu tempat. “Lumanyan untuk merilekskan pikiran,”
“Ke mana?”
Eyza mengangkat alisnya, “Mau tahu aja.”
Luna mengerucutkan bibir. Eyza adalah perempuan yang ia kenal selama tinggal di sini. Tempat di mana sang ibu dilahirkan. Suasana yang tenang dan juga sejuk. Seketika ia betah berada di sini. Serasa dekat dengan sang mama tercinta yang lebih dulu meninggalkannya.
Hidup sendiri pada kejamnya Dunia sudah ia jalani. Memakai topeng baik-baik saja pernah ia lakukan. Cuek dengan keadaan sekitar yang mencoba melukainya lagi dan lagi. Bertahan karena janjinya pada sang ibu sebelum beliau menutup mata untuk selama-lamanya. Bahwa ia bisa berdiri dengan sendiri tanpa bantuan orang lain. Termasuk sosok ayah yang telah ia anggap sudah tiada.
“Lun …”
“Iya?” Luna mendongak. Menatap Eyza yang terlihat bimbang, “ada apa?”
“Kamu …”
“Apa?” terkadang Luna gemas dengan Eyza. Perempuan itu memang terbuka padanya. Tapi terkadang agak muter-muter kalau mau bicara. Tidak langsung pada intinya. Dan itu sangat menyebalkan. Luna tak pandai membaca sintuasi. Jadi ia lebih suka bicara pokok permasalahan. Tanpa adanya kalimat pembuka tak ada masalah.
“Lupakan.”
Luna menggeleng tak percaya. Sedari tadi ia menuggu apa yang akan dikatakan. Malah jawaban itu yang terlontar. Sedikit menyebalkan. Namun ia sudah biasa seperti itu. Temannya memang aneh. Akan tetapi jauh dalam lubuk hatinya sangat mencintai sosok Aleyza Nalaraputri. Kawan sekaligus rekan dalam siaran.
Mereka siaran kembali dengan sausana yang agak tenang. Luna dapat menguasai emosi. Terlebih lagi mereka hanya membaca pesan yang masuk. Dan memutar beberapa lagu trakhirt. Karena beberapa menit lagi waktu mereka siaran telah habis.
Setidaknya itu lah kerjaan yang dilakukan Jedira Luna selama ini. Menjadi penyiar yang memang menjadi hobi perempuan tersebut. Bisa menghibur dan bercerita dengan banyak orang adalah kegemaran sejak dulu. Ia dikenal perempuan yang mudah bergaul dengan siapa saja. Akan tetapi tidak untuk saat ini. Yang lebih memilih sendiri dari pada berteman dengan banyak orang.
Biasanya kalau dulu ada sang ibu yang selalu menunggunya selesai siaran. Kalau nggak teman karib yang selalu ada untuknya. Selepas siaran mereka pasti makan bersama. Meskipun sudah malam juga. Namun itulah kebiasaan mereka. Akan tetapi saat ini. Hanya ada dirinya seorang. Tanpa ada yang menunggu kedatangan untuk pulang.
Hidup ini terus berputar. Dan caranya ia bertahan hanya dengan pura-pura tidak tahu. mengabaikan semua rasa yang bersarang dalam diri. Menekan apapun yang menimbulkan gejolak amarah. Menjadikannya perempuan yang dingin dan anti sosial. Karena sampai detik ini hanya Eyza teman yang ia terima. Gadis itu sedikit mengingatkannya dengan sosok kawan masa lalu. Semoga dia yang berada di sana baik-baik saja.
Luna memejam mata sejenak. Menikmati beberapa lagu yang ia putar sebagai penutup siaran sore hari ini. Jiwanya terasa lelah. Dipaksa untuk tetap berdiri meskipun banyak luka yang tergores pada kaki. Selalu tersenyum agar luka hatinya tak ada yang mengetahuui. Pura-pura baik-baik saja sangat membutuhkan banyak energi. Maka dari itu pantas saja bila berat tubuhnya turun drastis.
Segala masalah yang hadir dalam hidupnya menciptakan pribadi yang baru. Membangun tembok bagi orang lain. Sebab ia tak ingin terluka untuk kesekian kali. Satunya cara adalah membatasi diri sendiri.
“Lun …”
Luna membuka mata perlahan. Seharusnya ada waktu setengah jam untuknya bersantai sebelum ada orang lain yang siaran. “Kenapa?”
“Jadi ikut, ‘kan?”
“Tentu saja,” Luna mengangguk. Mulai bangkit dari tempat duduknya. Membereskan beberapa kertas yang ia gunakan tadi. Tanpa sengaja netranya menemukan sesuatu dalam tas. Sebuah benda yang mengingatkannya akan masa lalu. Dan itu sedikit membuatnya sakit.
“Luna!”
“Iya,” Luna mengerjap pelan. Eyza sudah menunggu di luar. Tak seharusnya memikirkan masa lalu. Sudah cukup berada dalam ingatan. Tidak untuk berada dalam kenyataan sekarang ini. “Bentar!”
Mereka berdua pergi sama-sama. Hanya dengan Eyza ia mau untuk keluar. Tidak dengan penyiar lainnya. Luna memilih tertutup. Karena dalam diri Eyza mengingatkannya pada sosok sahabatnya dulu. Visa, nama yang akan selalu bersemanyam dalam doa. Agar kelak mereka bisa bertemu kembali dan menjalin pertemanan lagi seperti dulu. Tidak untuk saat ini. Yang sama-sama saling menghindar dan bermusuhan.
Namun, Luna yakin. Akan tiba saatnya ia bersatu dengan para teman-temannya tercinta. Dengan Visa dan juga Yaga. Dua orang yang selalu ada untuknya. Mereka memang sedang ada jarak. Tapi, bukan berarti selamanya akan terpisah. Suatu saat mereka akan mengulang kisah pertemanan yang baru. Dan Luna percaya akan hal itu.
Meskipun ia sadar itu sebatas angan yang sulit tersampaikan. Karena sampai detik ini, Luna masih mengingat jelas keinginan Visa. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan menyerahkan semua pada waktu. Kelak biar yang menjawab semuanya. Menjadi akhir yang bahagia untuk dirinya.