P R O L O G U E : R E D M O O N
Suatu hari ketika matahari tengah patah hati dan mengurung diri, bulan purnama mendominasi alam semesta. Para penyihir turut berbahagia, mantra-mantra serta ramuan percobaan mereka berhasil. Bulan pun berubah menjadi semerah bara api yang menguar di tungku perapian.
Bagi Elena Blezinsky, gadis yang berhenti menua di usia dua puluh dua tahun itu, sihir adalah satu-satunya jalan agar ia bisa menguasai dunia dan menggantikan posisi ayahnya. Sudah 100 hari ia sedang berkutat dengan pipa-pipa transparan dan kuali besar dengan air berwarna biru yang meletup-meletup. Dan kini, ketika bulan telah semerah sihirnya, Elena meraih buntut naga (alih-alih buntut komodo, sebab cerminnya mengatakan, jika Elena tak yakin, ia bisa menggunakan buntut komodo untuk percobaan dan mengulangnya lagi dengan buntut naga), lantas ia masukkannya ke dalam kuali. Beberapa pipa berisi cairan bunga Edelweis, sari pohon ek, darah puma, selendang bidadari, dan yang terakhir beberapa helai rambut Hugo Diamond yang ia masukkan ke dalam kuali tersebut dan mengaduknya seraya membaca mantra.
“Sepanas surya di atas kepalamu. Biru yang tenang kini mendidih. Bulan purnama menjemput merahnya. Hugo yang malang, Diamond yang tak berlentera. Elena yang kuat mempesona, Blezinsky yang diberkati menguasaimu.” Ia terus mengaduk dan membacakan mantra berkali-kali, ramuan tersebut tak berubah warna. Elena meraih sebuah keris di dalam sakunya dan mencemplungkan benda pusaka tersebut. Lantas ia mulai mengulangi mantranya lagi, kali ini dengan lebih detail.
“Sihirku akan menguasaimu! sepanas surya di atas kepala yang akan membakarmu, seperti air yang tenang di atas tungku sihirku, air yang akan mendidih sepanas kemurkaanku. Bulan purnama akan menjemput dendamnya yang merah menyala. Hugo yang malang, Diamong yang tak lagi berlentera. Elena Blezinsky akan menguasai seluruh ragamu. Wahai merahnya bulan purnama, sihirku akan melenyapkanmu!”
Elena telah mengumpulkan seluruh perasaannya, perasaan dendam untuk melancarkan ramuan serta keampuhan mantranya. Namun ramuan tak kunjung berubah warna. Sementara bulan purnama nyaris habis dan kekuatan sihir akan melemah. Elena murka, mengerang dan melempar penyiduknya hingga mengenai cerminnya. Dalam beberapa sekon, ketika amarahnya tak kunjung mereda, cermin tersebut retak dan mengeluarkan gema suara yang memenuhi ruangan, “Untuk menguasainya, kau perlu memberikan seluruh hidupmu, Elena.”
Elena berjalan dan mendekat, mengamati angkara wajahnya yang retak terpantul di sana. “Apa maksudmu? bicara yang jelas! aku bukan dewi dengan akal sepintar Hugo yang mengerti makna-makna kalimatmu, sialan!”
“Untuk menguasainya, kau harus memberikan sesuatu yang sama berharganya dengan hidupmu,” ulang cermin tersebut.
Elena menarik napas dan nyaris mengumpat. Namun pikirannya melayang pada seratus tahun yang lalu, saat ia mencuri sebuah permata langka yang dinamakan Red Moon oleh ibunya. Elena lantas berdecak, bertanya pada cermin tersebut. “Red Moon? haruskah aku mengganakan itu? Hei! apa kau tahu betapa berharganya permata itu? aku akan abadi karena memilikinya!”
“Bulan Purnama nyaris habis. Kau akan melewati kesempatan berharga ini. Kau harus menunggu seratus tahun lagi untuk melenyapkan Hugo Diamond. Kau sendiri, apa kau tahan menunggu selama itu?”
Maka tak lama cermin tersebut bergemeletuk pecah dan hilang. Elena mendongak, menatap bulan purnama yang tinggal sedikit. Seraya merengek sebal, ia lantas berbalik dan menghilang di ruangan tersebut guna mengambil permata Red Moon. Tak lama, ia muncul di ruangannya lagi dan mendekati kuali yang masih mendidih. Di tangannya, permata merah tersebut bersinar terang, menyala-nyala seolah tengah menunjukkan sekuat apa kekuatannya. Elena masih bimbang, namun ia mendapatkan kilas balik dari kecemburuannya terhadap Hugo. Ibunya berselingkuh dengan Poseidon dan melahirkan Hugo, sialnya, Hugo memiliki wajah yang teramat menawan. Hidungnya yang mancung, matanya yang lebar, bibirnya yang seksi dan tatapan mata birunya teramat mempesona. Bagi Elena, Hugo nyaris memiliki segalanya. Ia menjadi sosok dewa yang dicintai oleh para dewa dewi. Kalau boleh jujur, Hugo memang lelaki yang mampu membuat Elena terkesima dari sekian banyaknya dewa yang ia tolak. Hugo Diamond adalah definisi kesempurnaan yang sesungguhnya.
Namun entah mengapa, Elena merasa kesal setiap kali Aphrodite membandingkannya dengan Hugo. Di mata Elena, jelas sekali bila ibunya mencintai Hugo. Well, meski itu hal yang wajar bagi mereka, namun bagi Elena terlalu memuakkan, mengingat ibunya terlalu banyak berselingkuh dan bersenang-senang dengan lelaki tampan. Elena muak, terlebih ketika ia teringat bila Hugo pernah memberikan taman bunga yang indah untuk Aphrodite dan berkata, “Kau tahu? tak ada yang lebih indah dari parasmu.”
“Hah! apa-apaan? sudah jelas aku lebih indah darinya!” Elena menjerit, tak terima. Elena mencengkeram permata Red Moon itu dan terus mengumpat. Namun, karena kelalaiannya, Elena tak sengaja membiarkan tangannya ceroboh sampai membuat permata tersebut tersedot dan jatuh ke dalam kuali ramuannya. Elena panik, ia berusaha mengambilnya lagi, namun ramuan tersebut telah berubah warna tepat sebelum bulan purnama benar-benar habis.
Dan kini, Elena tidak tahu harus merasa kesal atau senang. Permatanya hilang, cerminnya retak, namun ramuan hebat itu berhasil ia buat. Dalam beberapa sekon, Elena memekik denga raut kesal seolah penuh penyesalan, “Hah! apa-apaan? Apa yang sudah ku lakukan? Aku menghilangkan permatanya, Astaga!” Namun ia juga tersenyum dengan satu sudut bibir yang tersungging seraya membatin, “Tetapi tak masalah, nantikan saja, mari kita lihat, Hugo. Kau dulu selalu mengatakan jika aku tak bisa membuat duniaku sendiri. Namun kini, aku telah memiliki tempat yang akan kau tinggali dan tempat itu telah menanti kematianmu.”