Keinginan Aphrodite adalah melenyapkan Elena, namun apa bila Aphrodite melenyapkannya, ia juga akan dilenyapkan oleh Dewa Zeus. Tidak, Zeus tak membela Elena, ia hanyalah seorang Dewa yang mencoba adil soal hukuman.
Ketika Elena kembali ke kastil dan menghadap Zeus, semua Dewa sudah berkumpul di sana menantinya, menatapnya dengan kebencian dan dendam yang sama. Namun semua dewa tak mampu memberikan hukuman, mereka hanya menunggu keputusan Zeus. Kabar kematian Hugo merebak sepenjuru semesta. Matahari dan Bulan berdoa untuk kebaikan Hugo, sementara tak jarang yang mengutuk Elena. Namun ada satu yang biasa saja menyikapi tragedi ini. Calderon.
Elena sempat terenyak karena lelaki itu malah mendekat padanya, dan, oh ya, jangan lupakan fisik lelaki itu yang baik-baik saja. "Baguslah kau tidak mati," ujar Elena lirih.
"Bukannya kau menginginkan aku kalah?" timpal Calderon.
"Tadinya iya, namun jika kau mati di saat begini, hukumanku bakal jadi lebih berat dua kali lipat. Ini tidak menguntungkanku."
"Sudah aku duga kau akan berbicara begitu."
"Kau tidak pulang saat berburu tadi, kan?" tanya Elena lagi.
"Apa masalah itu benar-benar harus dibahas sekarang? Kau dalam keadaan genting, astaga!"
"Ini bukan hanya permainan, tetapi juga pertandingan. Setidaknya sebelum aku berakhir kita harus menentukan siapa yang menang."
"Tidak, tidak, ini tidak benar. Kau gila, bilang saja jika kau ingin membunuhku."
"Aku malah berharap kau menang, setelah mengetahui hukuman apa yang akan diputuskan Zeus nanti, aku ingin kau menang, aku ingin mengejar Hugo sampai ke akhirat dan membalaskan dendamku karena dia membuatku berada di situasi yang sulit ini," racau Elena.
Calderon memijat pangkal hidungnya. Ia benar-benar tak mengerti Elena. "Jadi benar kau yang melenyapkannya?"
Elena mengangguk dengan elegan dan diselingi rasa bangga. "Aku muak melihatnya. Aku benar-benar tidak menyukainya. Dia menjadi simbol kebaikan dan kehangatan, sehingga semua yang berbuat baik selalu disamakan dengan Hugo, seolah isi semesta harus ada yang seperti Hugo saja. Itu tidak adil, memuakkan dan menjijikan, tidakkah kau merasa begitu?"
Calderon sependapat dengan Elena. "Namun haruskah kau membunuhnya?"
Elena mengangguk. "Apa kau merasa dirugikan? kalau iya aku mempersilakanmu untuk membunuhku juga."
"Tidak, tidak, bukan seperti itu. Bagaimana cara kau membunuhnya? Ah, tidak, tidak, kau tidak akan memberitahuku dan jelas kau menggunakan sihirmu. Hanya saja, aku penasaran satu hal, Elena."
"Apa? Katakan saja, berhubung aku masih memiliku waktu untuk menjawabnya."
"Apa kau tidak berpikir pajang ketika hendak membunuhnya? Kau seharusnya tahu jika perbuatanmu ini pastilah mendapat banyak kecaman dari para Dewa."
Elena menatap Hugo dengan senyuman miringnya. "Hei, apa menurutmu seratus tahun untuk mempersiapkan hal ini termasuk dari hasil pikiranku yang tidak panjang? Aku mempersiapkannya matang-matang, Calderon."
Lelaki tersebut menelan saliva getir. Jika begitu, bukankah sudah jelas sebenci apa Elena dengan Hugo? "Tetapi kau hebat juga bisa menahannya selama seratus tahun, maksudku, hidup berdampingan dengan orang yang kau benci. Pasti melelahkan hidup dengan menaha semua itu."
Elena mengangguk-angguk. "Ya, ini adalah hari kebebasan dan kebahagiaanku, tolong berikan selamat padaku."
"Selamat atas hukumanmu, Elena."
Elena menatap Calderon dengan sengit. "Bukan untuk hukuman, tetapi untuk hidupku yang bebas."
Percakapan tak diperlama sebab Zeus datang dan duduk di singgahsananya. Menatap Elena dan Aphrodite bergantian dengan tatapan penuh kecewa. "Hubungan cinta yang rumit, memalukan."
Oh sial, Elena rasanya ingjn terbahak saja. "Seolah kau tidak pernah memalukan?" ujar Elena lirih. "Apa-apan itu hubungan cinta?"
"Maafkan kami." Adalah kata pertama yang diucapkan Aphrodite.
"Kau mengakui kesalahanmu?" tanya Zeus.
"Ya, aku mengakui," jawab Aphrodite dengan cepat.
"Bagaimana dengan kau, Elena?"
Elana menatap Zeus dengan senyum simpulnya. "Tampaknya iya, tampaknya tidak."
"Seseorang bilang kau melenyapkan Hugo Diamond semalam. Dia melihatmu berada di kamar Hugo. Kau yang terakhir kali menemui Hugo."
"Iya, suatu kehormatan karena aku gadis terakhir yang dilihat Hugo. Namun jika hal tersebut cukup dijadikan bukti sebagai aku si pembunuh, apa yang akan kau lakukan sebagai Dewanya para Dewa?"
"Hukuman apa yang sekiranya pantas untukmu, Elena?"
Pertanyaan itu membuat kericuhan, mereka berramai-ramai menyarankan hukuman untuk Elena.
"Penggal saja kepalanya!"
"Lempar ke neraka!"
"Lenyapkan dia!"
"Beri hukuman paling berat jika dia tidak mampu mengembalikan Hugo."
"Penjarakan dia di kurungan hewan buas, hidupkan lagi jika dia mati, biar dia merasakan kematian berkali-kali lipat."
Oh, siapa itu yang mengeluarkan ide penuh nafsu begitu? Elena tertawa lirih, mendengarkan u*****n dan kutukan yang diujarkan penuh kebencian. Elena terlampau siap untuk menantikannya.
"Kau sama sekali tak takut ya, Elena?" Aphrodite akhirnya berbicara. "Kesiapanmu boleh juga."
"Kau takut? Kalau begitu, kenapa tadi mencoba menebas kepalaku? Apa sekarang kau merasa bahwa kau bukan tandinganku?" Elena tertawa.
Aphrodite tak lagi menjawab, tangannya terkepal. "Kau tahu siapa yang mengurusmu sejak kau bayi?"
"Artemis, bukan?" Elena menjawab, menatap Aphrodite. "Maksudku, dia yang mengurusku dengan benar, dengan kasih sayang yang sebenarnya."
"Aku yang melahirkanmu."
"Iya, aku tahu. Namun bukankah aku ini anak yang tak kau inginkan? Kau berselingkuh dengan Ares dari suamimu, kau juga nyaris membuangku, hei, hei hei, aku baru ingat. Karena aku adalah hasil harammu, untung saja Zeus tak mengutukku menjadi buruk rupa." Elena tersenyum, mendekatkan wajahnya pada Aphrodite. "Kalau saja kedudukanku setingkat denganmu, bukankah kau semakin terancam?"
Aphrodite tak kuasa menahan amarah, ia mengeluarkan pedangnya dan hendak berperang kembali dengan Elena andai Zeus tak menghentikan dan melenyapkan pedang andalan Aphrodite.
"Kenapa kau ingin berperang di tempat suci ini?" ujarnya marah. "Aku tak ingin berlama-lama untuk menentukan hukuman dan melihat kalian saling berperang dan membenci." Zeus menatap keduanya yang kini telah berjarak lumayan jauh. "Aphrodite, kekuatanmu aku hilangkan. Aura kecantikanmu aku padamkan."
Oh, sial, Elena ingkn terbahak saja rasanya. Itu jelas hukuman paling berat bagi seorang Aphrodite. Dia hanya mengangandalkan kecantikannya saja untuk mendapatkan apa yang dia mau.
"Tidak adil." Aphrodite berbicara. "Kau boleh melenyapkan kekuatanku, namun tidak dengan aura kecantikanku. Kesalahanku hanya satu, mengapa kau menghukumku dengan dua hukuman?"
"Kalau begitu, apa yang benar-benar kau inginkan?" Zeus bertanya.
"Aku muak melihat Elena. Aku ingin dia lenyap dari hadapanku seperti dia melenyapkan Hugo kesayanganku!"
Ucapan wanita itu mengundang banyak persetujuan. Hingga akhirnya membuat Elena muak dan berkata, "Aku menurut atas hukuman yang hendak kau berikan, kalau memang sekiranya aku pantas mendapatkannya dari sudut pandangmu sebagai seorang Dewa."
Zeus terdiam sejenak, ia berbicara dengan Apollo. Hingga tak lama, sebuah lubang hitam terbentuk di langit-langit. Tampaknya Elena sudah mengerti apa hukumannya. Itu adalah gerbang untuk pergi dari semesta ini.
"Ini cukup adil untukmu, Elena. Kau tidak lagi diinginkan di sini karena telah melenyapkan simbol kebaikan serta kehangatan. Sebagai gantinya, aku juga akan melemparmu sebagai simbol kejahatan dan penuh dendam."
Sejenak Elena berpikir, ia merutuk dalam hati, bukankah lebih baik dipenjara di antara kawanan hewan buas? Setidaknya Elena masih bisa menggunakan sihirnya untuk membutnya aman. Jika gerbang hitam sudah terbuka, Elena tidak tahu apa yang akan terjadi padanya.
"Jika Hugo bisa kembali, aku akan mengembalikanmu lagi. Namun bersamaan dengan itu, kau harus mengetahui jika hukuman ini tak seringan seperti kelihatannya. Kau pantas mendapatkan hukuman yang telah kupersiapkan dengan bijak. Aku akan melemparmu dari sini."
Kata lempar saja sudah cukup Elena pahami maksudnya. Jelas itu bukan sesuatu yang baik. Tepat ketika Zeus mengangkat tangannya, pijakan Elena tak seimbang, ia merasakan kakinya kebas seolah mati rasa. Pandagannya mengabur, jantungnya berdegup lebih kencang seperti hewan buru yang lari ketakutan. Perasaan nyeri mendadak menusuki setiap inchi tubuhnya. Elena mendadak tak mampu bersuara, seolah malaikat pemcabut nyawa sedang berusaha mencabut nyawanya dengan cara paling menyakitkan. Hanya saja, indra pendengarannya jadi kelewat tajam, bahkan suara hembus napas para dewa seperti angint yang mengamuk di telinganya. Suara pada Dewa seperti hendak memecah gendang telinganya yang terasa semakin berdenyut ngilu dan luar biasa sakit.
"Ini yang Hugo rasakan ketika kau tak lagi ingin melihatnya." Suara tersebut mengelilingi titik kerapuhan Elena. Itu suara terakhir yang mampu Elena dengar sebelum semuanya terasa sakit seperti dihancurkan dan dileburkan berkali-kali.
Elena menjerit.